MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Seperti apa perasaan orang yang mendapatkan hadiah, tentu sangat semringah. Begitupun perasaan dari santri putri Pesantren Hidayatullah Mentawai, Sumatera Barat, Jum’at, 6 Jumadil Awal 446 (8/11/2024).
Apalagi hadiah itu benar-benar menjadi penantian panjang. Hadiah itu adalah MCK baru, yang berhasil Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) renovasi. Sewindu lamanya mereka menanti memiliki fasilitas MCK yang lebih memadai.
“Sebelum ini, selama 8 tahun, kamar mandi kami rusak. Dindingnya jebol, atap bocor, bahkan kayu-kayunya lapuk semua. Kini saya merasa bahagia karena MCK kami jadi lebih baik usai direnovasi oleh BMH,” ucap Dinda, salah seorang santri dengan ekspresi wajaih yang sangat bahagia.
Bukan hanya Dinda dan teman-temannya yang bersyukur. Ust. Muslimin pun selaku pemimpin pesantren juga menyampaikan hal yang sama.
“Alhamdulillah, terimakasih kepada sahabat dan donatur BMH, upayanya merenovasi MCK santri benar-benar menjawab keinginan kami semua,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala BMH Perwakilan Sumatera Barat, Prawira Dijaya menyampaikan bahwa semua kebahagiaan itu adalah buah dari kesadaran umat dalam zakat, infak dan sedekah melalui BMH.
“Ini adalah hadiah umat untuk santri di sini. Mari kita doakan para donatur sehat dan terus dalam rahmat Allah. Selain ini juga bukti bahwa dana zakat, infak dan sedekah yang dikelola dengan baik, didayagunakan tepat sasaran, benar-benar menjawab permasalahan yang ada di tengah-tengah umat,” tutupnya menjelaskan.*/Herim
ISTIGHFAR bukan sekedar Allah memaafkan kesalahan-kesalahan seorang hamba, bukan memutihkan noda-noda dosa, bukan hanya menghapus dan menutupi aib-aib hamba. Tapi ada hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat Ibnu Abbas sebagaimana berikut.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kegundahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan Dia memberikan rezeki untuknya dari jalan yang tidak terduga”
Jaminan Rasulullah ini diperuntukkan kepada siapa saja yang beristighfar, entah berdosa ataupun tidak berdosa maka janji Allah luar biasa di hadist di atas. Jadi istighfar bukan khusus untuk pendosa tapi bagi semua hamba yang ingin mendapatkan kelapangan, jalan keluar dari problematika kehidupannya dan rezeki yang datangnya tidak terduga.
Kemudian, membahas tentang istighfar pada waktu sahur, ada dua ayat yang diabadikan Allah dalam firman-Nya; Surat Ali Imran ayat 17,
“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”
Surat Adz-Dzariyat ayat 18:
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”
Kedua ayat ini sama-sama menyebutkan salah satu amalan orang yang dijanjikan surga; beristighfar pada waktu sahur. Tentu bagi orang beriman mengundang penasaran dan pertanyaan, apa rahasia dari istighfar di waktu sahur sehingga beristighfar pada waktu itu berbuah surga.
Syaikh Al-Sa’di –dalam tafsirnya- menjelaskan tentang prakteknya, “Maka mereka memperpanjang shalat sampai waktu sahur. Kemudian mereka menutup shalat malamnya dengan duduk beristighfar kepada Allah layaknya istighfar seorang mudznid (pendosa) untuk dosanya. Istighfar di waktu sahur ini memiliki keutamaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki waktu selainnya.”
Anjuran untuk memperbanyak istighfar di waktu sahur juga selaras dengan sabda Nabi berikut:
“Pada setiap malam, Allah ta’ala turun ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, semoga kita tidak sia-siakan kesempatan besar ini. Allah telah menawarkan diri-Nya kepada para hamba-Nya untuk memberikan ampunan kepada siapa yang memohon ampun kepada-Nya di waktu sahur.
Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas,
أن آخر الليل أفضل للدعاء والاستغفار ويشهد له قوله تعالى والمستغفرين بالأسحار وأن الدعاء في ذلك الوقت مجاب
“Bahwa akhir malam sangat afdhal untuk berdoa dan beristighfar. Dalilnya firman Allah (yang artinya) ‘yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur.’ Dan bahwa doa di waktu sahur itu mustajab.” (Fathul Bari, 3/31).
Sebenarnya istighfar bisa kapan saja, tidak ada batasan waktu tapi ada waktu khusus dan Istimewa untuk istighfar yaitu waktu sahur. Tepatnya waktu sahur dan Allah secara khusus di dua ayat di atas.
Dinamakan Sahur sebab ia berada pada waktu Sahar (سحر). Kata sahar satu akar dengan kata sihir, yang bermakna memperdaya. Sebab pada waktu tersebut terjadi peralihan waktu antara malam dan pagi secara sangat samar, sehingga dapat memperdaya mata siapapun yang tak jeli melihatnya. Tak heran apabila ada orang yang mengira waktu masih malam namun sebenarnya fajar telah menyingsing.
Waktu sahur dimulai dari waktu tengah malam hingga menjelang shalat Subuh. Bukan awal malam seperti setelah shalat Isya, tapi dari tengah malam. Ada yang mengatakan awal waktu sahur adalah sepertiga malam terakhir.
Kemudian tentang akhir waktu sahur, empat Imam madzhab berpendapat waktu sahur itu berakhir ketika telah terbit fajar shadiq (thulu’ al-fajr al-shadiq).
“Kata الْأَسْحَار menurut Sayyid Qutb memiliki makna pada waktu sahur itu sendiri yang mengambarkan situasi pada waktu malam menjelang fajar. Saat yang sepi dan hening, menimbulkan nuansa kelembutan hati dan ketenangan jiwa, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran kerinduan yang tertahan dalam hati.
Nashir Makarim Asy-Syairazi dalam kitabnya ‘Al-Amtsal fî Tafsîri KitâbillÂh Al-Munazzal’ juga menjelaskan dengan mengawali sebuah pertanyaan, mengapa orang-orang beriman diisyaratkan oleh Allah untuk istighfar khususnya pada waktu sahur, dari semua sepanjang hari dari siang-malam, padahal istighfar dan dzikir itu dituntut pada tiap waktu? Itu disebabkan oleh keistimewaan dari waktu sahur yang berbeda dengan waktu-waktu yang lain.
Waktu sahur adalah waktu tenang, hening, dan jauh dari aktivitas-aktivitas yang bersifat materi, dan juga karena semangat yang dirasakan seseorang setelah bangun dari istirahat dan tidurnya. Waktu yang jauh dari kebisingan dan kerumitan hidup.
Waktu sahur menjadikan seseorang lebih siap menghadap Allah. Inilah yang bisa dicerna sesuai dengan pengalaman. Sehingga beberapa ulama ada yang mengoptimalkan waktu sahur ini untuk memecahkan masalah-masalah ilmiah.
Jadi, cahaya berfikir dan ruh manusia itu lebih berpendar dan memancar pada waktu tersebut, dibanding waktu kapan pun. Dan, juga karena ruh ibadah dan istighfar adalah menghadapkan dan menghadirkan hati, maka ibadah dan istighfar pada waktu ini lebih agung dari waktu kapan pun.
Keutamaan istighfar pada waktu sahur ini karena saat itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun di langit dunia. Allah membuka selebar-lebarnya pintu rahmah, ampunan, dan kemurahan-Nya bagi hamba yang mau berdoa dan memohon ampun.
Waktu sahur adalah waktu yang istimewa karena banyak orang terlelap dengan tidurnya, terlalaikan dengan istirahatnya dan sebagian ada terburu-buru mengejar aktifitas kehidupan dunia. Maka di waktu sahur inilah yang paling tepat untuk intropeksi atau muhasabah diri atas segala dosa dan kesalahan, lalu disempurnakan dengan istighfar.
Jika dianalogikan dengan jalan raya, istilah waktu sahur adalah ibarat jalan tol transportasi khusus di tengah malam yang tidak banyak halangan. Jalannya halus dan mulus, tidak banyak tikungan dan nyaman berkendara. Tentu tidak semua kendaraan bisa lewat jalan tol kecuali punya e-Toll.
Ibarat sinyal, maka di waktu sahur bisa komunikasi tanpa batas dengan Allah dan tanpa gangguan sinyal. Ketika calling atau kirim pesan maka langsung dijawab karena sangat jelas panggilan dan pesannya.
Menyala cahaya hati orang-orang yang istighfar di waktu sahur. Meskipun berada di malam yang gelap gulita dan sepi sunyi. Istighfar di waktu sahur sangat mengena dan mendapatkan perhatian khusus dari Allah.
Perpaduan istighfarnya sendiri sebagai amalan yang istimewa, waktunya juga Istimewa, suasana hati kondusif untuk khusyuk, alam semesta juga mendukung.
Rumus normalnya, setiap amalan yang memiliki kedudukan istimewa dan memberikan banyak faedah maka tantangan dan godaannya pasti berat. Demikian juga istighfar di waktu sahur sebagai kesempatan emas (golden time), tidak banyak orang yang bisa komitmen dan konsisten kecuali yang diberikan hidayah dan mau bermujahadah.
Langkah Langkah
Agar bisa istiqomah dalam memperbanyak istighfar di waktu sahur, berikut ikhtiar langkah-langkah yang dapat diterapkan:
1. Mendalami Keutamaan Istighfar
Mulailah dengan memahami keutamaan dan manfaat istighfar agar hati tergerak untuk rutin melakukannya. Istighfar bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga membuka pintu rezeki dan ketenangan jiwa. Pelajari ayat-ayat dan hadis terkait seperti dalam QS. Ali Imran: 17 yang menyebut keutamaan beristighfar di waktu sahur.
2. Mengingat Dosa dan Kesalahan yang Pernah Dilakukan
Refleksi atas dosa masa lalu dapat meningkatkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Ini akan memperdalam rasa penyesalan yang menjadi motivasi untuk beristighfar lebih banyak dan tulus.
3. Menentukan Target Istighfar
Buat target harian atau mingguan yang jelas, misalnya membaca istighfar 100 kali saat sahur. Target ini akan memberi dorongan khusus untuk mencapainya, menjadikannya bagian dari rutinitas yang lebih terstruktur dan konsisten.
4. Menyiapkan Alat Bantu
Gunakan alat seperti tasbih fisik atau digital untuk membantu menghitung dan meningkatkan konsistensi. Beberapa orang merasa lebih nyaman menghitung dengan jari, tetapi menggunakan alat tasbih dapat memudahkan pencapaian target istighfar yang tinggi.
Dengan konsistensi dalam langkah-langkah ini, diharapkan istighfar di waktu sahur bisa menjadi kebiasaan yang berkelanjutan, memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.[]
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Pada awal November 2024, Sekolah Pemimpin Pendidikan Integral Hidayatullah Depok menggelar acara tahunan Super Leader Camp XI (SLC) yang berlangsung selama tiga hari, 2-4 Jumadil Awal 1446 (4-6/11/2024).
Bertemakan “Tangguh Bersama Alam: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan dan Keberanian,” kegiatan ini membawa lebih dari 110 santri SMP hingga Madrasah Aliyah (MA) ke alam bebas di Bukit Kabayan, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat.
Super Leader Camp tidak hanya bertujuan sebagai kegiatan rekreasi di alam, tetapi juga memiliki misi penting dalam pendidikan karakter. Melalui tausiyah yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMP-SMA Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, pada ba’da subuh hari kedua, dijelaskan bahwa SLC diadakan sebagai bentuk edukasi untuk pembentukan jiwa pemimpin yang tangguh, tegas, dan adaptif pada santri.
“Sebagai santri dan anak Indonesia yang kuat, generasi muda seperti kalian harus bisa survive dalam keadaan apapun. Nama kegiatannya Super Leader Camp, pasti isi dari kegiatan tersebut berkaitan dengan leadership. Disinilah santri dilatih untuk menjadi pemimpin dalam membangun masa depan yang diwarnai dengan nilai nilai Islam,” jelas Amin.
Rangkaian Kegiatan
Sejak awal, acara ini telah diagendakan sebagai bagian dari program sekolah. Persiapan formal telah dimulai sejak H-3 dengan keterlibatan Organisasi Pelajar Hidayatullah (OP3H) bersama para ustadz yang berperan sebagai panitia.
Setelah resmi dibuka pada 4 November pukul 07.30 oleh Ust. Amin Fawaid di lapangan Sekolah Pemimpin Hidayatullah, rombongan santri dilepas untuk memulai perjalanan menuju lokasi camping yang membutuhkan waktu sekitar satu jam empat puluh menit.
Setiba di lokasi, rangkaian kegiatan dimulai dengan berbagai kompetisi dan kegiatan kreatif, seperti lomba “paku botol” dan kreativitas mendirikan tenda. Kegiatan ini dirancang untuk membangun keterampilan teknis dan memperkuat kerja sama di antara santri.
Di hari pertama, para peserta juga melakukan trekking ke Curug Ciampea, air terjun di kawasan tersebut, yang menjadi sarana pelatihan ketahanan fisik dan mental mereka.
Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan sholat tahajud dan subuh berjamaah, diikuti tausiyah oleh Ust. Akhmad Syahid, S.E. yang memberikan arahan tentang keberanian dalam menghadapi tantangan.
Agenda utama hari itu meliputi senam pagi bersama, kegiatan outbond seperti flying fox yang dipandu langsung oleh Tim SAR Hidayatullah, serta perlombaan voli sarung. Semua kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk melatih keberanian, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan dan kepercayaan diri di antara para santri.
Di hari terakhir, kegiatan kembali dimulai dengan sholat lail dan subuh berjamaah, diikuti tausiyah penutup oleh Ust. Amin Fawaid. Para peserta kemudian mengikuti senam pagi dan lomba yel-yel yang tertunda dari hari sebelumnya.
Lomba yel-yel ini memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengekspresikan kreativitas dan semangat mereka dalam menciptakan yel-yel yang unik dan bermakna.
Acara ditutup dengan sholat dzuhur yang di-jamak dengan ashar, pembagian hadiah bagi para pemenang lomba, dan perpisahan. Rombongan santri kembali ke pondok, tiba pukul 16.30 setelah perjalanan dua jam.
Pengalaman dan Kesempatan Belajar
Kegiatan Super Leader Camp ini memberikan pengalaman unik bagi para santri dalam hal keterampilan hidup mandiri. Selama di lokasi, mereka diberikan bahan makanan mentah seperti sosis, nugget, beras, tempe, dan telur yang harus mereka masak sendiri.
Para santri membawa peralatan memasak seperti wajan, panci, dan penanak nasi dari pondok, yang kemudian digunakan untuk memasak bersama kelompok masing-masing di lokasi camping. Hal ini dirancang agar mereka belajar mengelola kebutuhan sehari-hari secara mandiri dan bertanggung jawab.
Ahnaf, seorang peserta kelas IX berusia 14 tahun, menyatakan pengalamannya dengan antusias. “Kegiatan ini menurut saya sangat beragam, apalagi ini adalah pengalaman pertama saya sejak dari kelas tujuh. Walaupun ada beberapa kejadian yang kita semua tidak harapkan, tapi dari kejadian tersebut kita bisa mendapatkan pelajaran untuk kegiatan ini selanjutnya,” ujarnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Sekolah Pemimpin Hidayatullah berharap mampu memupuk jiwa kepemimpinan yang berkarakter, kuat, dan berani pada setiap santri. Selain itu, pengalaman berinteraksi dengan alam diyakini mampu menanamkan rasa syukur dan kepekaan terhadap lingkungan.
“SLC juga memberikan kesempatan bagi santri untuk belajar menghargai satu sama lain dalam keragaman, baik dari aspek fisik, mental, maupun pemikiran,” ketua panitia Dwi Adi Nugroho yang juga ketua Organisasi Pelajar Hidayatullah (OP3H) Depok.
Dengan keberhasilan pelaksanaan SLC tahun ini, panitia berharap kegiatan ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di masa depan. Kegiatan yang menggabungkan pendidikan karakter, spiritualitas, dan kemandirian seperti SLC diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi para peserta dalam mempersiapkan mereka sebagai generasi pemimpin masa depan.
(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024 yang juga peserta Super Leader Camp XI 2024)
DALAM kehidupan sehari-hari, kebaikan menjadi satu hal yang tidak hanya menjadi dasar hubungan antar-manusia, tetapi juga fondasi bagi ketenangan batin dan kedamaian hati. Kebaikan yang sejati bukan hanya ditampilkan dalam ucapan, tetapi juga dalam tulisan yang menginspirasi, dan tindakan nyata yang menggambarkan isi hati.
Ciri-ciri orang baik, sebagaimana disebutkan, yaitu lisannya yang menyampaikan kebaikan, tulisannya yang mengabarkan kebaikan, dan perilakunya yang mencerminkan kebaikan dalam hatinya, menjadi penanda bagi seseorang yang menjalani hidup dengan penuh integritas dan keikhlasan.
Dalam Islam, konsep ini sangat erat dengan ihsan, yang mencakup kualitas tertinggi dalam berbuat baik dan beribadah kepada Allah SWT dengan penuh kesungguhan seakan-akan melihat-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, ihsan adalah puncak dari perbuatan baik yang perlu kita capai dalam setiap aspek kehidupan.
Sifat Ihsan
Ihsan adalah konsep dalam Islam yang artinya berbuat baik dengan kesungguhan yang tulus, baik dalam ibadah khusus kepada Allah maupun dalam hubungan kita dengan sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 83:
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil: ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa perintah untuk berbuat baik (ihsan) tidak terbatas hanya pada sesama manusia tetapi juga pada Allah melalui ibadah. Sikap ihsan diharapkan menjadi dasar dalam interaksi sosial serta ibadah sehari-hari kita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“(Ihsan) adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.”
Dari hadis ini, kita memahami bahwa ihsan mengajarkan kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakan kita. Orang yang menghayati konsep ihsan akan selalu berusaha berbuat baik dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari manusia.
Lisan Menyampaikan Kebaikan
Lisan atau ucapan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan. Kata-kata yang diucapkan bisa menjadi penguat yang menyejukkan hati atau, sebaliknya, bisa merusak hubungan antar-manusia.
Orang baik menggunakan lisannya untuk menyampaikan kebaikan, bukan hanya untuk menyampaikan kabar baik tetapi juga untuk menghibur, menginspirasi, dan memberi motivasi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9:
“Dan hendaklah mereka takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Ayat ini mengajarkan kita pentingnya berkata baik dan benar, terutama dalam membimbing dan menguatkan generasi penerus. Lisan yang penuh dengan kebaikan mampu membangun kepercayaan, memberikan nasihat yang bermanfaat, dan menjadi sumber ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.
Mengabarkan Kebaikan
Di zaman keterbukaan teknologi informasi seperi saat ini, menuliskan kebaikan adalah salah satu cara untuk menebarkan pengaruh positif yang lebih luas.
Tulisan yang penuh makna, seperti artikel, pesan, atau karya ilmiah, dapat menyentuh hati banyak orang dan menginspirasi mereka untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Abu Mas’ud:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” [HR. Muslim]
Dengan menulis kebaikan, kita berpotensi menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama atau bahkan lebih besar lagi. Tulisan dapat mengabadikan pesan kebaikan dan menginspirasi generasi mendatang. Dalam era digital saat ini, tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membentuk pemikiran dan perilaku masyarakat.
Kebaikan dalam Perilaku
Kebaikan dalam perilaku merupakan bukti nyata dari kebajikan dalam hati. Orang yang hatinya penuh dengan kebaikan akan memperlihatkannya dalam tindakan sehari-hari, seperti sikap empati, kedermawanan, dan kesabaran.
Nabi kita Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan contoh teladan dalam perilaku yang penuh kasih sayang, bahkan terhadap orang yang memusuhinya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini menjadi landasan penting dalam berperilaku adil dan baik kepada semua orang, tanpa membedakan latar belakang atau status sosial. Ketika hati seseorang dipenuhi kebaikan, maka segala tindakan yang dilakukannya menjadi refleksi dari keikhlasan hati.
Menjaga Prasangka
Selain berbuat baik, Islam juga menganjurkan untuk menjaga prasangka baik (huznudzon) baik kepada Allah, diri sendiri, maupun sesama manusia. Tidak ada ruginya untuk selalu berprasangka baik yang secara otomatis pasti akab diiringi dengan perbuatan baik.
Dalam kehidupan, sering kali kita dihadapkan pada situasi yang mengundang prasangka negatif. Namun, orang yang berihsan akan selalu berusaha menilai sesuatu dari sisi positifnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”
Prasangka baik memungkinkan seseorang untuk melihat sisi terbaik dari setiap peristiwa dan orang di sekitarnya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa menjaga prasangka baik adalah cara kita berbaik sangka terhadap ketetapan Allah, bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang baik. Dengan bersikap demikian, seseorang akan terhindar dari kekecewaan dan prasangka buruk yang bisa merusak hati dan hubungan sosial.
Selalu Berbuat Baik
Berbuat baik tidak mengenal batas waktu dan tempat. Sikap ihsan, dalam segala bentuknya, seharusnya menjadi karakter yang terus-menerus kita pelihara. Baik dalam ucapan, tulisan, maupun tindakan, kita dianjurkan untuk selalu menjadi penebar kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)
Dengan menjadikan kebaikan sebagai bagian dari karakter kita, maka kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah tetapi juga memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.
Terlepas dari apa pun tantangan yang kita hadapi, sikap ihsan dan kebaikan akan menjadikan kita pribadi yang lebih kuat, tenang, dan bijaksana.
Mari kita terus menjaga hati agar selalu dipenuhi dengan niat baik, lisan yang menyampaikan kebaikan, tulisan yang menginspirasi, dan tindakan yang membawa manfaat.
Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing dan teguhkan hati dalam ikhtiar kita menjadi cerminan kebaikan itu sendiri, berpegang teguh pada ihsan dan huznudzon, tanpa mengenal waktu dan tempat.[]
*) Ust. Amun Rowie, M.Pd.I, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Jawa Timur
MALUKU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Perjalanan panjang yang ditempuh untuk membawa kebaikan sering kali penuh tantangan. Namun, setiap lelah yang dirasakan akan terbayar lunas dengan senyum penerima manfaat yang menyambut bantuan dengan penuh rasa syukur. Inilah yang dialami oleh tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Maluku saat mereka menapakkan kaki di Dusun Tanjung, Desa Liang, Kabupaten Maluku Tengah.
Kedatangan mereka pada Rabu, 4 Jumadil Awal 1446 (6/11/2024) ini bertujuan menyerahkan mushaf Al-Qur’an untuk ibu-ibu anggota Majelis Taklim Nurul Iman, suatu bentuk sinergi kebaikan antara BMH, Kang Maman Suherman, dan Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN).
“Kebahagiaan dari kebaikan ini luar biasa. Kami dapat menyapa masyarakat yang membutuhkan Al-Qur’an berkat sinergi BMH, Kang Maman, dan YBM BRILiaN,” ujar Zulkarnain, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Maluku.
Perjalanan ini juga menjembatani harapan masyarakat kepulauan yang jauh dari akses buku dan Al-Qur’an. Bagi mereka yang hidup di daerah terpencil, sebuah mushaf Al-Qur’an simbol keberkahan dan penghubung dengan Sang Pencipta yang menginspirasi mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketua Majelis Taklim Nurul Iman, Nurlia Ode, menyampaikan rasa syukur dan bahagianya. “Saya mewakili ibu-ibu sangat berterima kasih kepada BMH dan mitra kebaikan ini. Kami benar-benar bahagia karena Al-Qur’an yang selama ini kami gunakan sudah tidak layak lagi. Sekarang kami punya Al-Qur’an baru,” ungkapnya sambil tersenyum haru.
Bagi ibu-ibu majelis taklim tersebut, kehadiran mushaf baru tidak hanya memudahkan mereka dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sumber semangat untuk terus mendalami nilai-nilai kebaikan yang diajarkan agama.
Pentingnya bantuan Al-Qur’an ini kerap disampaikan oleh Kang Maman, seorang tokoh dan influencer kebaikan yang turut berperan dalam sinergi ini. Kang Maman mengungkapkan bahwa keberadaan satu mushaf Al-Qur’an mungkin dianggap biasa bagi masyarakat perkotaan, terutama di kota besar seperti Jakarta. Namun, bagi masyarakat di daerah perbatasan dan pedalaman yang akses terhadap buku dan Al-Qur’an sangat terbatas, kehadiran satu mushaf sangatlah berharga dan menjadi penerang dalam kehidupan mereka.
Kang Maman dan BMH tak henti-hentinya menjalin sinergi dalam menyebarkan mushaf Al-Qur’an ke berbagai daerah perbatasan, kepulauan, dan pedalaman.
“Dalam upaya menyebarkan Al-Qur’an inilah, BMH dan Kang Maman terus bersinergi mengirimkan Al-Qur’an ke masyarakat perbatasan, kepulauan, dan pedalaman,” tambah Zulkarnain.
Zulkarnain menerangkan, program penyaluran mushaf Al-Qur’an ini kian menyemai harapan dan inspirasi. Melalui program ini, BMH dan mitra kebaikannya berhasil mewujudkan berkelanjutan di tengah masyarakat dengan turut berperan aktif dalam menjangkau dan memberdayakan masyarakat di daerah terpencil.
“Keberkahan dari setiap bantuan yang diberikan, terlebih di daerah terpencil, sangat besar artinya. Harapannya, program ini terus berlanjut dan mampu menjadi solusi berkelanjutan bagi banyak orang,” ujar Zulkarnain menandaskan.*/Herim
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi semangat berbagi. Nilai-nilai kebaikan ini semakin hari semakin kuat dan mendarah daging di berbagai lapisan masyarakat.
Salah satu bukti nyata dari antusiasme untuk saling membantu terlihat dalam kolaborasi antara PT Medeg Mandiri Utama Indonesia dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang bersama-sama membangun sumur bor untuk mendukung kebutuhan air bersih di Pesantren Al-Ishlah, Desa Majang Tengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Sumur bor ini, yang diresmikan pada tanggal 2 November, bukan hanya menjadi infrastruktur vital, tetapi juga simbol komitmen terhadap kesejahteraan dan pendidikan generasi muda Indonesia.
Menurut Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, sumur bor ini menjadi yang ke-177 BMH hadirkan kepada masyarakat, satu di antaranya lembaga pendidikan pesantren.
“Sumur bor ini menjadi yang ke-177 BMH hadirkan kepada masyarakat, satu di antaranya lembaga pendidikan, pesantren,” tutur Imam Muslim seperti dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 5 Jumadil Awal 1446 (7/11/2024).
Hadirnya sumur bor ini telah membawa kebahagiaan bagi sekitar 570 santri yang belajar di pesantren tersebut. Bagi para santri, kehadiran akses air bersih tidak hanya mengatasi masalah kebutuhan dasar, tetapi juga memungkinkan mereka untuk fokus pada kegiatan belajar dan ibadah tanpa terganggu oleh kekurangan air.
Sebelum sumur bor ini diresmikan, para santri sering menghadapi kesulitan dalam mendapatkan air bersih, yang tentu berdampak pada kenyamanan dan konsentrasi mereka dalam belajar. Kini, kebutuhan air untuk mandi, wudhu, mencuci, dan bahkan untuk konsumsi sehari-hari dapat terpenuhi dengan lebih mudah dan efisien.
Seorang santri bernama Asyifa, yang kini duduk di kelas 7 dan telah hafal 12 Juz Al-Qur’an, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya. “Alhamdulillah, terima kasih. Kesulitan mendapat air bersih sudah teratasi. Terima kasih kepada BMH, sekarang kami lebih mudah memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ucap Asyifa penuh haru.
Kolaborasi antara PT Medeg Mandiri Utama Indonesia dan BMH ini adalah wujud dari sinergi sektor swasta dan lembaga sosial dalam menciptakan solusi berkelanjutan bagi masyarakat. Di balik langkah besar ini, terdapat visi bersama untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan memastikan bahwa setiap anak bangsa dapat menikmati akses dasar yang layak.
“Dengan air bersih yang mudah diakses, kegiatan belajar, beribadah, dan keseharian santri di pondok pesantren ini semakin lancar dan nyaman,” kata Imam.
Air bersih, yang kerap dianggap sebagai hal yang biasa di sebagian besar wilayah perkotaan, merupakan kebutuhan yang sangat krusial dan sering kali sulit diakses di daerah terpencil. Pesantren Al-Ishlah adalah salah satu dari sekian banyak lembaga pendidikan yang menghadapi tantangan ini.*/Herim
TRANSFORMASI kepemimpinan adalah keniscayaan dalam setiap organisasi Islam. Sebagai bagian dari sunnatullah, proses ini didesain untuk memastikan keberlangsungan dan relevansi organisasi dalam menghadapi tantangan zaman. Tantangan ini tidak hanya terkait perubahan struktural, tetapi juga tentang bagaimana organisasi Islam dapat mempertahankan visi dan misinya di tengah perkembangan zaman. Dalam hal ini, penting untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin muda yang mampu mengemban amanah dan melanjutkan estafet perjuangan.
Ustaz Abdullah Said Rahimahullah, pendiri Hidayatullah, menggarisbawahi pentingnya kesinambungan dalam kepemimpinan dengan satu kalimat “melanjutkan estafet perjuangan.” Sebuah diksi yang sarat dengan makna. Di mana menegaskan bahwa peran kepemimpinan yang visioner tidak hanya dituntut untuk menjaga prinsip dan identitas organisasi, tetapi juga harus dapat memandu organisasi menuju arah yang lebih baik dan relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan pijakan pada prinsip Islam yang hakiki dan memiliki kesinambungan dalam gerakan.
Kepemimpinan Sebagai Amanah: Hirasatud Dien dan Siyasatud Dunya
Al-Mawardi, seorang pemikir besar dalam politik Islam, dalam kitabnya al-Ahkan al Sultaniyah, menekankan bahwa pemimpin Muslim memiliki dua tugas besar: hirasatud dien (menjaga agama) dan siyasatud dunya (mengatur urusan dunia). Dalam konteks ini, pemimpin organisasi Islam tidak hanya bertanggung jawab atas pengembangan organisasi secara internal, tetapi juga bertanggung jawab untuk membangun kekuatan moral yang akan menjadi cahaya di tengah masyarakat.
Pemimpin yang menjaga agama berperan dalam memastikan organisasi berjalan sesuai prinsip syariat, mempertahankan nilai-nilai jatidiri organisasi, dan membangun generasi yang memiliki pemahaman Islam yang komprehensip dan kuat. Di sisi lain, pemimpin yang mengatur dunia harus mampu mengarahkan organisasi untuk aktif berkontribusi pada persoalan umat, seperti pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial.
Grand Design Organisasi sebagai Pedoman Transformasi
Transformasi kepemimpinan dalam organisasi Islam harus berlandaskan visi, misi, dan jatidiri organisasi yang telah disusun dengan matang. Grand desain organisasi yang lengkap ini adalah peta jalan yang memandu generasi pemimpin berikutnya, memastikan mereka tidak kehilangan arah di tengah arus perubahan. Dalam setiap peralihan, visi dan misi ini harus dipertahankan sebagai pedoman utama agar organisasi tetap relevan sekaligus teguh pada prinsip-prinsip Islam.
Kepemimpinan yang kokoh harus berakar pada visi, misi, dan jati diri yang tertuang dalam grand design organisasi. Rancangan besar ini menjadi pedoman utama yang akan menuntun setiap elemen organisasi agar tetap dalam jalur yang sama, meskipun kepemimpinan beralih dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Grand design organisasi tidak hanya sebatas dokumen administratif yang kaku; ia adalah kompas moral dan strategis yang menuntun setiap langkah organisasi yang sangat memungkinkan dilakukan adjustment ketika lingkungan internal dan eksetrnal mengalami perubahan. Dari visi, misi, hingga strategi implementasi, semua harus dirancang secara komprehensif agar setiap pemimpin yang datang dapat melanjutkan langkah sesuai landasan yang telah ditetapkan, namun dengan adaptasi yang disesuaikan dengan tuntutan masa kini. Dengan demikian, gap antar-generasi kepemimpinan dapat diminimalisir.
Memadukan Prinsip Kepemimpinan Islam dengan Gaya Kepemimpinan Kontemporer
Kaderisasi dalam organisasi Islam bukan hanya mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat spiritualitas, komitmen, dan integritas calon pemimpin. Mereka perlu dibekali dengan wawasan yang luas, kesadaran sosial yang tinggi, serta kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman. Dalam era yang serba cepat ini, kepemimpinan Islam memerlukan sosok yang tidak hanya kuat dalam keilmuan, tetapi juga fleksibel dalam merespon dinamika dunia. Para kader muda harus memahami nilai-nilai Islam yang mendalam dan mampu mengkomunikasikannya dengan bahasa modern yang dapat diterima oleh masyarakat luas.
Demi memastikan efektivitas dalam setiap kepemimpinan, prinsip-prinsip modern dapat menjadi pelengkap bagi nilai-nilai Islam klasik. John Maxwell menekankan bahwa seorang pemimpin adalah mereka yang “know the way, show the way, and follow the way.” Seorang pemimpin harus memiliki kejelasan arah, memberikan panduan yang nyata bagi pengikutnya, dan konsisten dalam menjalankan visi tersebut.
Lebih jauh, konsep Level 5 Leadership yang dikemukakan oleh Jim Collins juga relevan dalam membentuk karakter pemimpin masa depan organisasi Islam. Level 5 Leadership mengajarkan perpaduan antara kerendahan hati yang mendalam dan keberanian untuk mencapai hasil yang berdampak besar. Pemimpin level 5 tidak haus kekuasaan untuk kepentingan pribadi, tetapi memiliki dedikasi kuat pada kemajuan organisasi dan kemaslahatan umat. Prinsip ini sejalan dengan nilai Islam yang menempatkan amanah sebagai tugas berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Model Kepemimpinan Rasulullah SAW dan Para Pemimpin Islam yang Unggul
Tidak ada teladan kepemimpinan yang lebih baik selain Rasulullah SAW. Kepemimpinan beliau adalah model sempurna bagi setiap pemimpin Islam. Dalam setiap keputusan, Rasulullah SAW selalu mendasarkan pada keseimbangan antara keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Rasulullah tidak hanya menjadi pemimpin bagi para sahabatnya, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual yang membangun peradaban Islam di awal sejarahnya.
Para penerus beliau, seperti Khulafaur Rasyidin, generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga tokoh-tokoh besar Islam lainnya, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kokoh adalah yang mampu menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi. Mereka memegang teguh prinsip Islam, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan zamannya.
Para pemimpin Islam masa kini juga mesti mengambil pelajaran dari khulafaur rasyidin, tabiin, tabiut tabiin, serta generasi salaf dan para khalifah sesudahnya. Misalnya, Khalifah Abu Bakar yang tegas dalam menjaga kemurnian agama, Khalifah Umar yang terkenal dengan ketegasan dan keadilan, Khalifah Utsman yang dermawan dan penuh kebijaksanaan, serta Khalifah Ali yang arif dan bijaksana dalam mengatasi perpecahan. Selain itu, figur-figur pemimpin Islam masa lalu yang sukses di masanya menunjukkan bagaimana adaptasi dan fleksibilitas tanpa kehilangan prinsip dasar Islam adalah kunci keberhasilan.
Menyiapkan Kader Pemimpin yang Berorientasi Masa Depan
Transformasi kepemimpinan bukan hanya tentang mengganti figur pemimpin, melainkan juga tentang membangun pondasi kepemimpinan yang kuat untuk generasi berikutnya. Calon pemimpin muda perlu dilatih untuk memahami grand design organisasi dan mampu melihat relevansinya terhadap konteks zaman. Pelatihan kader-kader pemimpin masa depan harus mencakup:
Pertama, Pemahaman Visi dan Misi : Setiap calon pemimpin harus memahami visi dan misi organisasi secara menyeluruh, sehingga mereka dapat mengarahkan setiap keputusan dan tindakan mereka sesuai dengan cita-cita besar organisasi.
Kedua, Pendidikan Berbasis Syariat dan Strategi Modern : Pemimpin masa depan harus memiliki pemahaman mendalam terhadap syariat Islam dan strategi manajemen modern. Keseimbangan ini akan memungkinkan mereka untuk menjaga prinsip agama sambil tetap relevan dengan perkembangan manajemen organisasi kontemporer.
Ketiga, Praktik Kepemimpinan Langsung: Calon pemimpin perlu diberi kesempatan untuk memimpin proyek atau program nyata sebagai sarana pembelajaran. Dengan demikian, mereka akan terlatih dalam menghadapi tantangan dunia nyata dan mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan.
Keempat, Skill dan Kompetensi: Calon pemimpin masa depan harus memiliki multiple skill, tidak hanya skill, melainkan juga termasuk soft skill, sehingga dapat memimpin orgnaisasi dengan kecakapan yang memadai. Selain itu, meski memiliki kompetensi sebagai pemimpin yang akan mengatur dan menggerakkan organisasi menuju visi dan misinya.
Tantangan dan Peluang Transformasi Kepemimpinan dalam Organisasi Islam
Mempersiapkan transformasi kepemimpinan dalam organisasi Islam bukanlah hal mudah. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi antara lain adanya ketergantungan pada figur tertentu, adaptasi dengan kebutuhan zaman, serta harmonisasi antara prinsip Islam dengan perkembangan teknologi dan manajemen. Di sisi lain, peluang besar menanti ketika transformasi kepemimpinan dilakukan dengan baik, yaitu:
Pertama, Identifikasi Kader Potensial Sejak Dini : Organisasi perlu melakukan identifikasi calon pemimpin potensial dengan mengamati bakat, komitmen, dan ketulusan mereka dalam menjalankan tugas organisasi. Para calon pemimpin ini sebaiknya disiapkan sejak dini dengan program pembinaan yang holistik.
Kedua Regenerasi yang Kuat: Regenerasi yang sukses memastikan keberlanjutan organisasi tanpa harus bergantung pada individu tertentu. Ketika setiap pemimpin baru mampu melanjutkan estafet dengan pemahaman yang matang, organisasi akan lebih solid dalam menghadapi tantangan.
Ketiga, Adaptasi dengan Kebutuhan Zaman: Kepemimpinan yang transformatif memungkinkan organisasi untuk terus relevan dan dapat memenuhi kebutuhan umat di era digital, sekaligus tetap memegang teguh prinsip-prinsip Islam.
Keempat, Memperluas Jangkauan Pengaruh Organisasi: Pemimpin yang cakap akan mampu memperluas pengaruh organisasi ke berbagai sektor, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun pendidikan, sehingga organisasi Islam dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi umat.
Kelima, Mentoring dan Pengembangan Diri:Setiap calon pemimpin sebaiknya mendapatkan mentor yang dapat membimbing mereka dalam memahami kompleksitas organisasi, meningkatkan keterampilan manajerial, dan memperdalam spiritualitas.
Keenam, Evaluasi Berkala dan Peningkatan Kompetensi:Organisasi perlu mengadakan evaluasi berkala untuk mengukur kemajuan calon pemimpin dalam berbagai aspek. Jika diperlukan, mereka perlu mendapatkan pelatihan lanjutan sesuai kebutuhan organisasi.
Membangun Harmonisasi Kepemimpinan Antar Generasi
Transformasi kepemimpinan adalah amanah besar bagi setiap organisasi Islam yang bercita-cita menciptakan perubahan positif di tengah masyarakat. Persiapan yang matang dalam membina kader pemimpin masa depan, berdasarkan nilai-nilai Islam yang kuat dan keterampilan kepemimpinan yang modern, adalah kunci keberhasilan transformasi ini..
Salah satu tantangan besar dalam transformasi kepemimpinan adalah menciptakan harmonisasi antara generasi. Organisasi yang baik adalah organisasi yang tidak hanya bertahan dengan satu generasi, tetapi bisa menghadirkan kesinambungan kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, tidak terjadi gap antar generasi yang bisa menghambat pertumbuhan organisasi.
Agar harmonisasi ini tercipta, penting bagi organisasi untuk menerapkan pendekatan regenerasi berkesinambungan. Setiap pemimpin perlu mendorong kader-kader muda untuk belajar dan terlibat aktif dalam berbagai aktivitas organisasi, agar mereka memahami budaya, nilai, dan prinsip organisasi dengan baik.
Selain itu, proses mentoring dari pemimpin senior kepada generasi penerus juga menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan visi dan misi organisasi. Para senior hendaknya memainkan peran sebagai mentor, pembimbing, dan pemberi nasihat yang membantu generasi baru dalam memahami dinamika organisasi. Dalam suasana seperti ini, organisasi dapat terus tumbuh secara organik, memperbarui dirinya dengan semangat yang baru tanpa terpecah akibat perbedaan pandangan atau kepentingan.
Penutup
Mempersiapkan transformasi kepemimpinan dalam organisasi Islam adalah tugas besar yang memerlukan kesungguhan, strategi, dan komitmen penuh. Transformasi ini tidak hanya berkisar pada penunjukan pemimpin baru, tetapi juga menyangkut transfer nilai-nilai, penguatan karakter, dan peningkatan kapasitas.
Dengan melibatkan prinsip-prinsip Islam yang mendalam, wawasan manajemen modern, serta teladan dari Rasulullah SAW dan para pemimpin Islam terdahulu, proses regenerasi kepemimpinan akan melahirkan generasi pemimpin yang tangguh, relevan, dan berkomitmen penuh untuk menjaga agama serta memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Organisasi Islam yang berhasil melakukan transformasi kepemimpinan yang baik akan selalu siap menghadapi berbagai tantangan dan terus relevan sepanjang masa. Dengan pemimpin yang memahami jalan, menunjukkan jalan, dan mengikuti jalan (know the way, show the way, and follow the way) sebagaimana ditegaskan John Maxwell, organisasi akan menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih tangguh.
Pada akhirnya, inilah yang akan membawa organisasi Islam menuju visi besar membangun peradaban Islam yang kaffah. Wallahu a’lam
*) ASIH SUBAGYO,penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambal berbaring karena kendala kesehatan
MASJID merupakan tempat ibadah yang sakral bagi umat Islam. Namun, dalam lingkungan pendidikan, terutama di tingkat sekolah dasar (SD) dan menengah (SMP/SMA), seringkali terjadi bahwa masjid kehilangan kesakralannya akibat kurangnya kesadaran dan adab yang ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.
Banyak siswa yang memandang masjid hanya sebagai tempat berkumpul atau bermain, sehingga tidak jarang saat memasuki waktu shalat, seperti waktu zuhur dan Asar, suasana menjadi kurang kondusif.
Kurangnya pemahaman ini boleh jadi disebabkan oleh minimnya pengarahan yang diberikan oleh pihak sekolah dalam mengenalkan pentingnya menghormati dan menjaga kesucian masjid sebagai rumah Allah.
Masjid adalah simbol keagungan dan kehormatan agama Islam. Sakralisasi masjid di lingkungan sekolah dasar bertujuan agar anak-anak memahami pentingnya menghormati tempat ibadah ini.
Tanpa adanya rasa hormat ini, anak-anak dapat kehilangan kesadaran tentang perbedaan antara tempat umum dan tempat ibadah, dan berpotensi mengganggu kekhusyukan beribadah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim sebagai tempat shalat.”
Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat 125 ini menunjukkan bahwa tempat ibadah adalah tempat yang harus dihormati dan dijaga dari gangguan yang dapat mengurangi kesuciannya.
Dalam Al-Qur’an, banyak ayat lainnya yang juga menekankan pentingnya menjaga tempat ibadah dan berperilaku sopan di dalamnya. Salah satunya adalah ayat berikut:
“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin: 18).
Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa masjid adalah milik Allah SWT dan harus dijaga kesuciannya dari segala bentuk kegiatan yang tidak sejalan dengan tujuan ibadah.
Mengajarkan Adab Terhadap Masjid
Penanaman adab di masjid perlu dilakukan sejak dini agar anak-anak terbiasa dengan perilaku yang sesuai dengan norma keagamaan. Adab memasuki masjid mencakup beberapa hal, seperti masuk dengan kaki kanan, menjaga kebersihan, dan berbicara dengan suara pelan. Dalam Islam, adab di masjid sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia melakukan shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini, terlihat jelas bahwa masjid memiliki etika tertentu yang perlu diikuti, seperti melaksanakan shalat tahiyyatul masjid sebagai bentuk penghormatan. Mengajarkan adab ini sejak kecil akan membangun karakter anak yang mampu memahami makna dan pentingnya menghormati tempat ibadah.
Selain itu, anak-anak yang mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesucian masjid akan lebih mampu terlibat dalam menjaga lingkungan masjid dari tindakan-tindakan yang mengganggu ketenangan. Misalnya, mereka akan terbiasa tidak berlari-lari, bermain, atau berbicara keras di dalam masjid, terutama saat waktu shalat. Jika setiap siswa sekolah dasar memiliki kesadaran ini, maka suasana di masjid akan menjadi lebih kondusif dan khusyuk.
Disamping itu, sangat penting meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kemakmuran masjid. Kebersihan adalah bagian dari iman, dan menjaga kebersihan masjid merupakan salah satu wujud dari iman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak yang terbiasa menjaga kebersihan masjid akan memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga kerapian dan kebersihan tempat ibadah ini. Rasulullah SAW bersabda:
اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim)
Penerapan ajaran ini dapat dilakukan dengan mengajak anak-anak untuk ikut serta dalam kegiatan gotong-royong membersihkan masjid atau memperindah masjid dengan menata sandal di tempatnya. Dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan semacam ini, mereka akan belajar untuk mencintai masjid dan merawatnya sebagai bagian dari iman.
Masjid bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi lebih jauh, dia juga sebagai pusat pendidikan karakter dan moral. Melalui pengenalan adab di masjid, anak-anak diajarkan tentang nilai-nilai moral seperti kesopanan, penghormatan, dan kesabaran.
Di banyak sekolah, mushola atau masjid sudah dimanfaatkan untuk mengadakan kegiatan yang mendidik karakter religius siswa. Namun tak cukup sampai di situ, anak anak juga harus dihantar menyelami dengan baik bahwa masjid adalah tempat suci sehingga kita tak boleh mengotorinya dengan hal hal yang tidak diajarkan agama kita.
Penanaman Adab Masjid di Sekolah Dasar
Untuk menciptakan lingkungan masjid yang sakral dan kondusif, perlu ada strategi dan metode yang tepat dalam mengajarkan adab kepada siswa sekolah dasar. Beberapa metode yang dapat diterapkan antara lain:
Pertama, guru agama atau pengasuh/ pembina kegiatan keagamaan di sekolah perlu membiasakan siswa untuk mengikuti aturan dan norma yang berlaku di masjid. Pembiasaan ini dapat dilakukan dengan memberi contoh langsung dan memperingati siswa dengan cara yang bijak saat mereka melakukan tindakan yang tidak sesuai.
Kedua, pemberian materi tentang pentingnya masjid dan adab di dalamnya. Karena itu, materi pembelajaran agama di sekolah dasar sebaiknya juga mencakup penjelasan tentang pentingnya masjid dan bagaimana seharusnya berperilaku di dalamnya. Anak-anak dapat diajarkan mengenai sejarah masjid dan fungsi masjid dalam kehidupan umat Islam.
Ketiga, mengajak anak-anak dalam kegiatan penghormatan terhadap masjid. Kegiatan seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, dan gotong-royong membersihkan masjid bisa dijadikan sebagai kegiatan rutin di sekolah. Dengan seringnya anak-anak berinteraksi dengan masjid dalam konteks yang positif, diharapkan mereka lebih menghargai dan menjaga kesucian masjid.
Pada akhirnya, setiap muslim hendaknya menyadari bahwa sakralisasi masjid termasuk yang berada di lingkungan sekolah dasar adalah upaya penting dalam membentuk karakter anak-anak sejak dini.
Masjid adalah pusat peradaban Islam, pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, serta sebagai pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat. Oleh karena itu, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi media pendidikan yang memperkenalkan anak-anak pada nilai-nilai Islam yang luhur.
Penanaman adab dalam masjid mengajarkan mereka untuk bersikap tertib, hormat, dan sadar akan fungsi masjid sebagai rumah ibadah yang suci. Implementasi ini membutuhkan kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua agar anak-anak mendapatkan pemahaman yang holistik.
Dengan pendidikan ini, insya Allah, masjid akan tetap menjadi tempat yang sakral dan mulia serta kondusif bagi setiap jamaah yang ingin beribadah, sekaligus menciptakan generasi muda yang berakhlak baik dan cinta pada masjid.[]
*) Adam Sukiman, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta
BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mendukung kemandirian dan keterampilan para santri di Pondok Pesantren Al Kahfi Putri, Ujan Mas Atas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) telah memberikan bantuan berupa ternak.
Bantuan ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung ekonomi pesantren, tetapi juga memberikan peluang edukasi yang mendalam kepada para santri mengenai peternakan sebagai salah satu sektor produktif. Langkah ini diharapkan dapat membuka wawasan, memberikan keterampilan, dan melatih jiwa kewirausahaan para santri sejak dini.
Ustadz Salman Alghifari, pengasuh pondok pesantren, menyatakan rasa terima kasihnya kepada BMH atas inisiatif tersebut. Menurutnya, bantuan ternak ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi bagi pondok pesantren, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi para santri.
“Ternak ini sangat membantu kami dalam memberikan pembelajaran praktis kepada para santri kami,” ujar Ustadz Salman, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Rabu, 4 Jumadil Awal 1446 (6/11/2024).
Melalui pembelajaran peternakan ini, para santri memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari praktik nyata, yang diharapkan dapat memberikan mereka pemahaman menyeluruh mengenai tata cara merawat dan mengelola ternak.
Program bantuan ternak dari BMH ini juga mendapat sambutan hangat dan penuh gembira dari para santri. Fatima, salah satu santri kelas 3 SMP yang saat ini telah berhasil menghafal delapan juz Al-Qur’an, menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan yang diberikan BMH.
“Bantuan ini juga memberikan kami pengalaman untuk belajar peternakan,” ungkapnya.
Bagi Fatima dan teman-temannya, kesempatan untuk terlibat langsung dalam peternakan memberikan pengalaman praktis yang jarang mereka dapatkan di lingkungan pendidikan formal lainnya.
Aktivitas peternakan ini melatih para santri untuk belajar merawat makhluk hidup, mengembangkan rasa tanggung jawab, dan menumbuhkan etos kerja yang baik.
Irwan, Ketua BMH Bengkulu, menyampaikan bahwa program bantuan ternak ini adalah bagian dari komitmen BMH untuk meningkatkan kemandirian dan pemberdayaan para santriwati di pesantren.
“Bantuan ini sangat penting dalam menopang kemandirian dan pemberdayaan pondok termasuk menjadi media edukasi bagi para santri. Kami berharap bahwa program ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi tetapi juga dapat mencetak generasi santri yang mandiri dan memiliki keterampilan hidup yang kuat,” ujar Irwan.
Menurutnya, keterampilan dalam bidang peternakan adalah keterampilan praktis yang dapat membantu para santri dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan. Dengan pelatihan ini, para santri diharapkan tidak hanya memiliki keahlian agama, tetapi juga keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Secara sosial, program ini juga menunjukkan nilai kepedulian masyarakat yang diwujudkan melalui zakat, infak, dan sedekah yang dikelola oleh BMH. Partisipasi masyarakat melalui BMH telah menjadi kekuatan pendorong bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang mendukung pemberdayaan ekonomi sekaligus menanamkan karakter mandiri dan bertanggung jawab pada generasi muda.
Program bantuan ini, lebih lanjut menurut Irwan, adalah contoh nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah dapat digunakan untuk membangun pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Ia berharap agar program ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam pendidikan berbasis pemberdayaan seperti ini.
“Kemandirian ekonomi, keterampilan hidup, dan pendidikan karakter yang ditekankan dalam program ini diharapkan menjadi bekal bagi para santri untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan,” harap Irwan menandaskan.*/Abdul Malik Almandari
SECARA etimologi (bahasa) istighfar berasal dari turunan bahasa Arab yaitu ghafara – yaghfiru – ghafran – ghufrānan – maghfiratan, yang berarti menutupi atau menyembunyikan.
Dalam bahasa Arab benda yang digunakan untuk menutupi kepala disebut mughfar. Sedangkan al-mighfar sendiri merupakan penutup kepala yang terbuat dari besi, biasanya digunakan oleh seorang yang ingin berperang untuk menutupi (melindungi) kepala dan leher.
Dalam kamus bahasa Indonesia (KBBI), istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah SWT. Yakni dengan cara membaca doa kepada-Nya. Sedangkan beristighfar ialah bermohon (memohon) ampunan-Nya dengan mengucapkan lafadz Astaghfirullāh (Saya memohon ampun kepada Allah yang maha agung).
Sebagian ulama memaknai istighfar sebagai upaya agar dosa yang sudah terlanjur dikerjakan bisa ditutupi bukan dihapus. Setiap dosa akan berimplikasi kepada keburukan, sedangkan istighfar menutupi jalan munculnya imbas buruk dari dosa tersebut. Salah satu cara untuk menutupi dosa adalah dengan beristighfar (memohon ampun kepada Allah SWT).
Manusia yang berbuat dosa seperti orang menanam benih tumbuhan jika dibiarkan tumbuh begitu saja, maka konsekuensinya akan menghasilkan tumbuhan yang rusak. Namun di saat manusia beristighfar, secara tidak langsung ia meminta kepada Allah Swt supaya menutupi benih dosa tersebut agar tidak berkembang menjadi sesuatu yang merusak.
Istighfar berarti memoan maghfirah (penutup) atau perlindungan kepada Allah Swt. dari konsekuensi dosa, akibat-akibat dosa, atau hal-hal buruk yang terjadi dikarenakan dosa tersebut. Bahkan orang yang beristighfar tidak lain meminta kepada Allah agar dijaga dari akibat-akibat dosa yang pernah dilakukan. Baik dosa kecil atau besar, dosa rahasia ataupun terang-terangan, disengaja ataupun tidak.
Istighfar bukan hanya untuk pendosa atau orang yang pernah melakukan perbuatan dosa. Artinya istighfar tidak harus menunggu berbuat dosa terlebih dahulu tapi sebagai dzikir tameng atau benteng untuk melindungi dari terjebak ataupun terjerumus dari perbuatan dosa.
Istighfar adalah amalan yang dahsyat dan kebutuhan orang beriman, Allah SWT dalam ayat-Nya banyak memerintahkan kepada orang-orang beriman agar bersegera atau bersemangat untuk istighfar. Karena hakekat istighfar bisa mengantar kepada surga yang suci diperuntukkan bagi hamba-hamba yang suci dari dosa-dosa dan kesalahan. Allah berfirman dalam surat Ali Imron ayat 133.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“
Pada hakikatnya istighfar (memohon ampun) kepada Allah Swt dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
Permohonan ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan, tetapi masih temporer dan belum disertai dengan taubat nasuha. Artinya, terkadang masih kemungkinan mengulanginya lagi di lain waktu. Entah karena khilaf, lupa atau lalai
Permohonan ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan, diiringi dengan penyesalan yang sangat dan taubat. Artinya, ada komitmen kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, baik dosa yang sama, sejenis ataupun yang lain.
Permohonan ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan, disertai dengan tidak mengulangi lagi dan disertai dengan perbaikan diri. Artinya, melaksanakan segala bentuk perintah-Nya dengan bersungguh- sungguh dan istiqamah, meninggalkan semua dosa-dosa yang telah dilakukan maupun dosa-dosa lainnya.
Istighfar juga bisa dimaknai zikrullāh yaitu sarana untuk mengingat Allah yang dilakukan setiap saat. Tujuannya agar mereka tidak terjatuh dalam perbuatan dosa, atau menjadi benteng terjadinya dosa dalam bentuk kemaksiatan dan kedhaliman.
Istighfar Kuncinya
Ketika istighfar sudah menjadi kebiasaan atau karakter maka di mana dan kapan saja bisa refleks untuk mengucapkan istighfar. Banyak sekali faedah dari istighfar, sebab istighfar adalah perintah Allah yang niscaya banyak kebaikan di dalamnya. Setiap melaksanakan perintah Allah pasti mengandung hikmah dan kebaikan. Sebaliknya bagi yang melalaikan perintah Allah maka tidak mendapatkan kebaikan.
“Artinya “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“
Mendapati Allah dengan segala ampunan-Nya adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa. Allah maha pengampun atas segala dosa yang dilakukan oleh siapa pun yang bertobat kepada-Nya, maha penyayang dengan mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka yang bertobat.
Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Tiga ayat surat Nuh di atas, memberikan informasi yang sangat jelas bahwa buah dari istighfar minimal ada empat.
Menurunkan hujan lebat, hujan sebagai lambang turunnya rezeki yang melimpah dan berkah
Memberikan harta yang banyak atau kebutuhan yang cukup dalam kehidupannya sehari-hari
Dimudahkan mendapatkan keturunan, sebagaimana harapan setiap pasangan suami istri
Disediakan kebun-kebun dan sungai-sungai. Keduanya sebagai lambang kenikmatan dunia
Ibnu Abbas r.a. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang senantiasa beristighfar maka Allah menjadikan kesedihannya berubah bahagia, tiap kesempitannya ada jalan keluar, dan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)”.
Pada hadits di atas dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menjanjikan 3 hal yang akan diberikan kepada orang yang senantiasa beristighfar.
Pertama, Allah menjadikan kebahagiaan dalam setiap kesedihan. Jika ada musibah apa saja bisa memaknai sebagai nikmat dari Allah yang menenangkan
Kedua, Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan. Bisa memaknai kesulitan dan kesempitan sebagai jalan untuk dekat dengan Allah sehingga ada solusi
Ketiga, Allah memberikan rezeki yang datangnya dari arah yang sama sekali tidak terduga-duga, tidak diharapkan dan tidak terlintas dalam benaknya.
Istighfar tidak hanya dengan ucapan atau lisan tapi diiringi dengan perbuatan dan usaha (ikhtiar) untuk menyesali, tidak mengulangi dan menambah amal kebaikannya.
Rabiah Adawiyah, wanita sufi dalam sejarah Islam mempertegas dalam ucapannya, “Istighfar kita kepada Allah membutuhkan istighfar yang banyak.”
Dengan memperbanyak istighfar, selain sebagai sarana mengingat kepada Allah sang Maha Pencipta juga untuk memohon ampun kepada-Nya; dapat mengingatkan hakikat diri sebagai makhluk-Nya yang lemah, tiada terlepas dari salah dan dosa; memberikan jalan keluar dari segala bentuk kesusahan dan kesempitan; dan mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Orang yang suka beristighfar akan menyala hatinya. Ada rasa bahagia dan tenang, hilang rasa khawatir dan takut, tumbuh keyakinan dan optimism. Orang yang mendapatkan remisi hukuman apalagi dibebaskan dari penjara dunia, bahagia sekali. Apalagi jika dosa-dosa dan kesalahan diampuni oleh Allah Sang Maha Pengampun. Luar biasa, Allahu Akbar akan menyala hati orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah