Beranda blog Halaman 212

BMH Gelar Upgrading Dai Tangguh Nasional Menyambut Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1445 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar kegiatan Upgrading Dai yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dai dalam menyampaikan dakwah.

Upgrading Dai Tangguh Nasional ini diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta, 20-22 Sya’ban 1445 atau 1 hingga 3 Maret 2024.

Acara ini dihadiri oleh para dai tangguh dari 25 provinsi di seluruh Indonesia, yang turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembaharuan dan pembelajaran teknik-teknik dakwah yang efektif.

Salah satu sesi penting dalam acara ini adalah pemaparan teknik berdakwah yang disampaikan oleh Ust. Drs. Nursyamsa Hadis, yang memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya peran seorang dai dalam menyebarkan ajaran Islam.

“Berdakwah adalah tugas bagi semua umat Islam, namun sebagai seorang dai, kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menekuni dunia dakwah dengan penuh perhatian dan energi,” tutur Nursyamsa.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran spiritual, ketahanan mental, fokus yang tinggi, serta kemauan untuk selalu berproses dan berprasangka baik dalam menjalankan dakwah.

Menyambut bulan Ramadhan, Nursyamsa juga menegaskan pentingnya ikhlas dalam berdakwah serta tekad untuk memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat.

“Dakwah harus dijadikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tambahnya dengan tegas.

Salah satu peserta, Furadi Mansur, seorang dai asal Bangka Belitung, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan semangat dan keterampilan komunikasinya dalam berdakwah.

Furadi berharap melalui acara ini, para dai dapat lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat luas.

Acara Upgrading Dai Tangguh Nasional ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang besar dalam peningkatan kualitas dakwah di Indonesia, serta mempersiapkan para dai untuk menyambut bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan semangat pengabdian kepada agama dan bangsa.

Kadep Implementor Program BMH Pusat, Syamsuddin, menilai bahwa even yang bekerjasama dengan DPP Hidayatullah ini memiliki urgensi yang sangat strategis, terutama dalam upaya ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dakwah.

“Dakwah adalah jalan mulia yang jika dikuatkan dengan hadirnya dai yang kapabel dalam banyak sisi, terutama komunikasi dakwah tentu akan berdampak efektif juga terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.*/Herim

Sukses Perkaderan Tegak Peradaban, Membangun Generasi Penerus Pencerahan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah suasana tenang dan penuh khidmat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Rakornas Peraderan Hidayatullah berjalan secara pasti, sesi demi sesi.

Setiap sesi berlangsung penuh semangat dan menggelora.

Pada tanggal 1 Maret 2024, tepat pukul 14.00 WIB, suasana ruangan begitu terasa hidup dengan kehadiran Dr. Arfan AU, seorang pembicara yang dikenal dengan senyum ramahnya.

Dalam sesi kedua Rakornas Perkaderan Hidayatullah itu, peserta tidak hanya hadir untuk mendengarkan, tetapi juga aktif untuk berkontribusi.

Dipandu oleh Ketua Departemen Sumberdaya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini, teknik terbuka diterapkan dengan penuh cermat.

Setiap peserta diberi kesempatan luas untuk memberikan analisis dan pandangan tajam mengenai peran organisasi sebagai wadah perjuangan.

Antusiasme peserta begitu luar biasa, sehingga tidak satupun di antara mereka yang terkena ‘serangan’ kantuk. Tidak sulit memahami, mengingat isi dari pembicaraan yang begitu memikat.

Dr. Arfan AU dengan penuh kefasihan mengingatkan bahwa esensi sebuah organisasi terletak pada penguatan kadersiasi.

“Kita butuh sistem pantau dan sistem rawat kader, terutama setelah Marhalah Ula menjadi masif dan mudah dilakukan,” ujarnya dengan tegas, sementara senyumnya masih terukir di wajahnya.

Beliau menambahkan, “Dedikasi kita harus sebesar Ustadz Abdullah Said, agar estafet pencerahan umat melalui Hidayatullah dapat terus berlanjut sepanjang zaman.”

Sesi berakhir pada pukul 15.45 WIB, namun semangat dan inspirasi yang tercipta dari pertemuan tersebut seakan enggan untuk padam begitu saja.

Beberapa peserta masih antusias menyampaikan pandangan dan usulan serta gagasan.

Rakornas Perkaderan Hidayatullah 1445 H dengan ini telah menjadi momentum penting dalam membangun generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan besar ini. Seperti tagline kegiatan kali ini, “Sukses Perkaderan Tegak Peradaban”.(ybh/hidayatullah.or.id)

Nashirul Haq Dorong Semangat Tak Terbatas dalam Perkaderan untuk Kemajuan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, memberi materi perkaderan dalam sesi pembukaan Rakornas Perkaderan Hidayatullah di Jakarta hari ini, Jum’at, 20 Sya’ban 1445 (1/3/2024).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para peserta untuk menghidupkan semangat yang tak terbatas dalam mencapai kemajuan.

Nashirul Haq menekankan bahwa meskipun tubuh kita menua, namun jiwa kita dapat tetap muda dan dipenuhi dengan semangat untuk berbuat kebaikan.

“Kunci untuk mencapai kemajuan adalah memiliki manhaj yang jelas, yang terdiri dari konsep dan metode yang tepat,” ungkapnya.

Dia juga menegaskan bahwa dengan mengikuti manhaj yang benar, setiap individu dapat mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.

“Kita harus memiliki energi yang besar dan semangat yang tak terbatas dalam mengasah diri untuk mencapai kemajuan,” tambahnya.

Nashirul Haq juga menyampaikan di hadapan peserta agar tidak terbebani oleh kesalahan masa lalu, melainkan bangkit, berpikir ke depan, dan bertindak untuk meraih kesuksesan.

“Jika tidak ada kesempatan, kita harus menciptakannya. Tetapkanlah target dan bersungguh-sungguhlah dalam meraihnya, karena keyakinan dan ketekunanlah yang akan membawa kita menuju kesuksesan,” tuturnya.

Dengan pesan-pesan inspiratif dan semangat yang membara, sesi pembukaan Rakornas Perkaderan Hidayatullah ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik bagi para peserta untuk membangun masa depan yang lebih baik dan progresif.

Nashirul sendiri menerangkan bahwa sesi pertama untuk mendongkrak kesadaran kader kemudian selanjutnya masuk ke materi-materi yang di dalamnya ada unsur pelatihan dan manajerial.

“Inilah fungsi kita bertemu secara offline agar pulang paham dengan apa yang akan kita lakukan,” ungkapnya.

“Katakan padaku dan aku akan tahu, tunjukkan padaku dan aku akan ingat. Namun, libatkanlah aku dan aku akan dapat melakukannya,” sambung Nashirul Haq, seraya menegaskan bahwa pengalaman nyata adalah kunci untuk membangun pemahaman yang kuat.

Karenanya, dia mendorong peserta ketika kembali ke tempak berkhidmatnya masing masing nanti untuk terus berbuat, ciptakan kesempatan, dan berani untuk mencoba. Jika pun gagal, dia menegaskan, maka coba lagi dan coba lagi.

“Karena kunci keberhasilan dan pencerahan ada pada tindakan. Jika kita dapat menunjukkan apa yang kita yakini melalui tindakan kita, maka kita akan membantu orang lain untuk melakukannya juga,” katanya.(ybh/hidayatullah.or.id)

Rakornas Perekonomian Hidayatullah Bidik Penguatan Kemandirian Ekonomi Umat

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Bidang Perekonomian Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dalam rangka menguatkan kemandirian ekonomi umat, jamaah, dan organisasi, selama 2 hari di Yogyakarta, 18-19 Sya’ban 1445 (28-29/2/2024).

Mengangkat tema “Membangun Kemandirian Ekonomi Jamaah dan Organisasi”, Rakornas ini dihadiri oleh para pengurus, pengurus badan dan amal usahat tingkat pusat, dan aktivis bidang ekonomi Hidayatullah dari seluruh Indonesia.

Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Wahyu Rahman, menyampaikan beberapa rekomendasi hasil Rakornas, yang dirumuskan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi umat dan organisasi.

Salah satu poin penting adalah memperkuat peran departemen ekonomi di wilayah dan kampus Hidayatullah.

Departemen ekonomi, terang Wahyu, diamanahkan untuk menjalankan dan mensukseskan seluruh program nasional bidang perekonomian.

“Serta turut berkontribusi dalam pencapaian target organisasi, yaitu terwujudnya kemandirian jamaah dan organisasi menuju tegaknya peradaban Islam,” kata Wahyu Rahman, dalam keterangannya diterima media ini, Jum’at, 20 Sya’ban 1445 (1/3/2024).

Rakornas menghasilkan beberapa langkah konkrit untuk mencapai kemandirian ekonomi, di antaranya, membuat laporan perkembangan kegiatan perekonomian secara berkala dan mendirikan Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO).

“BUMO dapat didirikan dengan metode duplikasi BUMO Pusat, keagenan BUMO Pusat, atau melakukan kegiatan usaha sesuai potensi yang dimiliki,” imbuhnya.

Selanjutnya, melaporkan perkembangan BUMO secara berkala, meliputi kelembagaan, manajemen, bisnis, dan keuangan.

Langkah berikutnya adalah mendirikan satu ekonomi berbasis halaqoh di setiap wilayah dan kampus serta menyelenggarakan training bisnis secara berkala bekerjasama bersama APHIDA Academy seraya terus melakukan pendataan anggota pengusaha.

Forum Rakornas juga merekomendasikan adanya alokasi dana investasi dari keuangan dan kekayaan organisasi untuk meningkatkan sumber-sumber penerimaan APBO, disamping melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk akses penyediaan modal usaha bagi pengembangan bisnis organisasi.

Selain itu, langkah kongkrit yang direkomendasikan adalah mewujudkan Hidayatullah menjadi pelopor halal dengan terlibat aktif dalam penjaringan auditor dan pendamping halal di wilayah dan daerah.

Rakornas juga menekankan optimalisasi peran Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Baitul Wakaf Hidayatulllah (BWH) dalam pengembangan ekonomi Hidayatullah.

“Ketiga lembaga ini memiliki peran penting dalam mengelola keuangan serta menyalurkan kepada yang membutuhkan sebagaimana telah diatur dalam regulasi negara dan organisasi,” imbuhnya.

Wahyu menambahkan, Rakornas Bidang Perekonomian Hidayatullah merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian ekonomi umat dan organisasi.

“Dengan komitmen dan kerja keras seluruh elemen Hidayatullah, diharapkan target ini dapat tercapai dalam waktu dekat,” tutupnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Generasi Masa Kini Terjun ke Politik Mesti Teladani Agus Salim

Haji Agus Salim

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, mengajak generasi masa kini yang memiliki kapasitas memadai untuk terjun berpolitik.

Politik adalah sisi hidup yang kini siapapun mulai memiliki perhatian. Karena sejatinya setiap mata memandang, kaki melangkah, bahkan ketika ke dapur pun, kita tak bisa lepas dari hasil keputusan politik, naiknya harga beras misalnya.

Oleh karena itu, Ust. Dr. Ir. Abdul Aziz selaku pemateri dalam gelaran temu kader yang bertajuk “Implementasi Jati Diri dalam Politik” mengajak menekuni politik dengan bekal diri yang memadai.

Disamping itu, dia mendorong untuk meneladani Agus Salim sebagai sosok politisi Tanah Air yang berkelas, berkharisma, dan sangat mumpuni.

“Kalau mau jadi politisi, coba belajar kepada Agus Salim,” kata Aziz dalam acara yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Kamis malam Jum’at, 19 Sya’ban 1445 (29/2/2024).

Aziz mengatakan, sebuah catatan yang ia baca menyebutkan, Kyai Haji Agus Salim itulah yang menyusun pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

“Dan, lihat alinea ke-4-nya. Itu luar biasa sekali, bagaimana nuansa nilai Islam menjadi nafas dari Pembukaan UUD 45,” katanya.

Aziz menilai, bangsa Indonesia hari ini amat membutuhkan lebih banyak lagi politisi sekaligus agamawan yang negarawan sekaliber Agus Salim.

“Seperti itu yang kita mau, sosok cerdas dan mampu berkomunikasi secara inklusif dan universal,” tuturnya bersemangat.

Milliki Dua Modal Penting

Lebih jauh mantan senator 15 tahun di Senayan itu melihat bahwa sebagian kader dari umat ini sudah harus ada yang terjun ke politik, terutama yang punya social capital dan cost capital.

“Kalau memang punya modal sosial dan modal kapital, serta merasa diri mampu membawa nilai kebaikan, turunlah ke dunia politik,” tekannya.

“Modal kapital, finansial dalam hal ini bukan money politic, ya. Beda itu money politic dengan cost politic,” terangnya lagi.

“Jadi, sebaliknya kalau tidak memiliki dua modal itu, jangan coba-coba masuk politik, kecuali punya ideologi yang sangat kuat,” kata suami Sabriati itu lagi yang mengundang tawa hadirin.

Dalam acara yang dimoderatori oleh Sekretaris Perkaderan DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, itu tampak hadirin yang berasal dari seluruh Indonesia sangat antusias mendengarkan kajian politik tersebut.

“Jika tidak dibatasi, diskusi akan berlangsung hingga larut malam. Dan, baru saat ini ada diskusi dimana saya sebagai moderator mau menutup acara, tapi peserta tidak bisa dibendung untuk menyampaikan pertanyaan kepada Ustadz Aziz,” tutur Imam dengan tersenyum.

Kegiatan temu kader sekaligus tarhib Ramadhan ini merupakan salah satu rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengkaderan Hidayatullah yang akan digelar pada pada tanggal 1-3 Maret 2024 ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

Rakornas Pengkaderan menjadi momen strategis di mana arah dan langkah-langkah kedepan akan ditetapkan, serta potensi-potensi baru dalam pengembangan kader akan dijajaki. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakornas Perkaderan Hidayatullah 1445 Dihangatkan dengan Diskusi Politik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Politik adalah sisi hidup yang kini siapapun mulai memiliki perhatian. Karena sejatinya setiap mata memandang, kaki melangkah, bahkan ketika ke dapur pun, kita tak bisa lepas dari hasil keputusan politik, naiknya harga beras misalnya.

Oleh karena itu, Ust. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar selaku pemateri dalam gelaran temu kader yang bertajuk “Implementasi Jati Diri dalam Politik” mengaku senang dengan diskusi soal politik.

“Saya senang dan saya rindu forum-forum seperti ini,” ungkap Aziz menghangatkan suasana, di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Kamis malam Jum’at, 19 Sya’ban 1445 (29/2/2024).

Lebih jauh mantan senator 15 tahun di Senayan itu melihat bahwa sebagian kader dari umat ini sudah harus ada yang terjun ke politik, terutama yang punya social capital dan cost capital.

“Kalau memang punya modal sosial dan modal kapital, serta merasa diri mampu membawa nilai kebaikan, turunlah ke dunia politik,” tekannya.

“Modal kapital, finansial dalam hal ini bukan money politik, ya. Beda itu money politik dengan cost politik,” terangnya lagi.

“Jadi, sebaliknya kalau tidak memiliki dua modal itu, jangan coba-coba masuk politik, kecuali punya ideologi yang sangat kuat,” kata suami Sabriati itu lagi yang mengundang tawa hadirin.

Dalam acara yang berlangsung di Auditorium Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Aziz juga menerangkan perihal sosok politisi yang cerdas. Ia menyebut nama pahlawan nasional, Agus Salim.

“Kalau mau jadi politisi, coba belajar kepada Agus Salim. Sebuah catatan yang saya baca menyebutkan, Kyai Haji Agus Salim itulah yang menyusun pembukaan UUD 45. Dan, lihat alinea ke-4-nya. Itu luar biasa sekali, bagaimana nuansa nilai Islam menjadi nafas dari Pembukaan UUD 45. Seperti itu yang kita mau, sosok cerdas dan mampu berkomunikasi secara inklusif dan universal,” tuturnya bersemangat.

Dalam acara yang dimoderatori oleh Sekretaris Perkaderan DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, itu tampak hadirin yang berasal dari seluruh Indonesia sangat antusias mendengarkan kajian politik tersebut.

“Jika tidak dibatasi, diskusi akan berlangsung hingga larut malam. Dan, baru saat ini ada diskusi dimana saya sebagai moderator mau menutup acara, tapi peserta tidak bisa dibendung untuk menyampaikan pertanyaan kepada Ustadz Aziz,” tutur Imam dengan tersenyum.

Kegiatan temu kader sekaligus tarhib Ramadhan ini merupakan salah satu rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengkaderan Hidayatullah yang akan digelar pada pada tanggal 1-3 Maret 2024 ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

Rakornas Pengkaderan menjadi momen strategis di mana arah dan langkah-langkah kedepan akan ditetapkan, serta potensi-potensi baru dalam pengembangan kader akan dijajaki. (ybh/hidayatullah.or.id)

KH Arif Marzuki: Pendiri Darul Istiqamah & Hidayatullah Telah Tiada tapi ‘Masih Hidup’

0
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maros, Sulsel, KH Arif Marzuki memegang buku tentang Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Senin (26/2/2024) malam, 17 Sya’ban 1445 H.* [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah, KH Achmad Marzuki Hasan, dan Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, diyakini ‘masih hidup’.

Keyakinan itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maros, Sulawesi Selatan, KH Arif Marzuki, saat menyambangi Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah.

Oleh karena itu, Kiai Arif Marzuki mengajak warga Darul Istiqamah dan warga Hidayatullah untuk terus meneladani perjuangan para pendahulu tersebut.

Di mana keduanya masih dirasakan hidup lewat warisan-warisan kebaikannya melalui kedua pergerakan Islam itu.

“(Para) Pendiri kini telah tiada tapi masih hidup,” ujar Kiai Arif Marzuki di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah di Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin bakda maghrib, 17 Sya’ban 1445 H (26/2/2024).

Ia menambahkan, lebih baik sudah tiada di dunia tapi masih hidup, “Daripada masih ada tapi sudah tiada.”

Orang hidup yang sudah tiada, menurutnya, adalah orang yang tidak berkembang, yaitu orang yang tidak ber-Qur’an.

Sebab, jelasnya, seorang Muslim yang ber-Qur’an, maka hidupnya akan berkembang.

Dalam kata lain, untuk menjadi manusia yang berkembang, maka harus ber-Qur’an.

“Hidup dengan Al-Qur’an adalah hidup yang berkembang,” ujarnya yang berceramah sembari duduk di atas kursi.

Kalau hidup tidak berkembang, kata Kiai Arif Marzuki, sama saja dengan orang mati.

“Mari menjadi manusia Qur’ani,” pesan kiai penghafal 30 juz Al-Qur’an ini, maka, “Baca Al-Qur’an!”

Ia juga berpesan agar kaum Muslimin menjadi tujuan atau alamat untuk orang-orang mencari kebaikan.

“Insya Allah seluruh warga Hidayatullah dan (Darul) Istiqamah akan selalu menjadi alamat, baik sekarang maupun yang akan datang,” ujarnya di depan ratusan warga dan jamaah Hidayatullah beberapa hari jelang Ramadhan 1445 H itu.

Kiai Arif Marzuki tiba di Gunung Tembak pada Senin sekitar pukul 15.55 WITA. Dalam rombongannya, hadir pula dua putra Kiai Arif Marzuki yaitu Muzayyin Arif (Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan) dan Dr Muthahhir Arif (imam masjid sekaligus pimpinan pesantren Nusantara di Amerika).

Kehadiran rombongan dari Ponpes Darul Istiqamah itu disambut hangat oleh para pengurus Hidayatullah.

Mulai dari Pemimpin Umum KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Dr Nashirul Haq, Anggota Dewan Mudzakarah Ustadz Akib Junaid Kahar, Pembina Kampus Induk Hidayatullah Ustadz Abdul Latief Usman, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar, dan lain sebagainya.

Pada Selasa sore, rombongan Kiai Arif Marzuki bersilaturahim dengan para pengurus di Kantor YPPH.

Usai itu, silaturahim dilanjutkan di Masjid Ar-Riyadh. Rombongan Darul Istiqamah melaksanakan shalat maghrib berjamaah bersama ratusan warga Hidayatullah. Shalat magrib ini diimami oleh Dr Muthahhir.* (SKR/Media Center Ummulqura Hidayatullah)

Sarasehan Dakwah Jawa Barat Soroti Sistem dan Penguatan Program

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — “Dakwah itu harus tersistem dan terprogram, ada juga data base-nya. Karena itu, jadikan Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) ini bukan hanya sebuah program, tetapi sebagai sebagai amal usaha. Ada ketua, sekretaris dan bendaharanya,” ujar Iwan Abdullah, dalam pemaparannya di acara Sarasehan Dakwah Da’i Hidayatullah Jawa Barat.

Acara yang bertema “Konsolidasi Dakwah, Inovatif dan Mencerahkan” ini berlangsung di aula Yayasan Hayatan Thayyibah Hidayatullah Bandung, Jalan R. Edang Suwanda No. 18A Bandung, Rabu, 18 Sya’ban 1445 (28/2/2024).

Departemen Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat sebagai pemangku program ini menghadirkan pembicara yaitu Iwan Abdullah, Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah dan Samani Harjo, Direktur Sekolah Dai Hidayatuillah.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jabar, Hidayatullah, mengapresiasi acara ini. “Luar biasa, KMH Jabar yang baru dilaunching sudah bisa menghadirkan acara ini,” ujarnya.

Asep Juhana, Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jabar mengatakan bahwa acara ini merupakan sinergi antara departemen dakwah DPW, KMH, dan Pos Da’i. “Semoga bisa memenuhi kebutuhan dai di masyarakat,” katanya.

Menurut Iwan, tupoksi KMH adalah melayani kepada masyarakat umum, seperti taklim, berkaitan fardu kifayah, dan khatib. “Sifatnya layanan dakwah,” katanya. Sementara Pos Dai , lanjutnya, “mencetak da’i, memberikan kesejahteraan pada da’i, dan mengirim da’i ke berbagai pelosok negeri,” ujar Iwan yang juga Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah.

Sementara Samani Harjo, menyampaikan bahwa Pos Da’i sebagai ujung tombak dalam dakwah, karenanya akan terus mencetak para da’i yang militan dan menampilkan Islam yang indah.

Sebagai contoh, misalnya, kata Samani, pada perhelatan sepak bola piala dunia di Qatar. Menurutnya, Qatar bisa memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

“Qatar berhasil menampilkan Islam yang indah sehingga banayk yang hadir dari berbagai negara eropa tertarik dan akhirnya masuk Islam,” ungkapnya.

Begitu juga di Gaza, lanjut Samani, banyak tahanan dari Israel yang bersimpatik kepada masyarakat dan tentara Hamas.

“Mereka memperlakukan tahanan dengan baik, dengan akhlak yang terpuji, sehingga para tahanan yang kemudian keluar dari Gaza menceritakan kebaikan tersebut,” papar Samani.

Pada kesempatan itu, Dadang Abu Hamzah, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar mengatakan bahwa Hidayatullah terkenal dengan militansi da’inya.

“Semangat menyampaikan dakwah, baik itu di kapal laut, di masyarakat kota maupun pedalaman, masjid, dan majelis taklim,” ujarnya.

Namun katanya, di era digital sekarang ini, seorang da’i bisa berdakwah secara online. “Bisa disebut dakwah digital karena bisa menjangkau wilayah yang luas, tidak terbatas dengan tempat dan waktu,” katanya.

Menurutnya, seorang da’i itu tidak usah menunggu panggilan, karakter da’i itu mengajak, “atau dengan istilah Simatupang, siang malam menunggu panggilan,” imbuhnya.

Acara ini dihadiri oleh pengurus DPD, Pos Da’i, KMH, dan aktivis dakwah.(ddk/hidayatullah.or.id)

[Khutbah Jum’at] Menyambut dan Meraih Sukses Bulan Suci Ramadhan 1445

0

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Jama’ah Jum’ah rahimakumullaah

Dalam beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga doa kita dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

“اللهم بارك لنا ف رجب و شعبان و بالغنا رمضان

“Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan”

Pada bulan Rajab ada peristiwa sangat besar dan mendasar yakni ‘Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Inti hikmahnya adalah bahwa tujuan hidup manusia adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, yang dicapai dengan menegakkan shalat dan pusat peradaban manusia adalah masjid.

Adapun budaya hidup yang harus ditanamkan pada setiap muslim adalah menjadikan shalat berjamaah di masjid sebagai kendali arah kehidupan dan sekaligus solusi mendasar berbagai macam masalah kehidupan.

Kata kuncinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, Shalat, dan Masjid.

Kemudian di Bulan Sya’ban, hikmah yang kita petik adalah disamping memperkuat ibadah shalat berjamaah di masjid, ditambah pula dengan banyak berpuasa sunnah.

Hal tersebut menandakan bahwa umat Islam akan segera memasuki bulan mulia yakni Bulan Ramadhan dimana mesti betul-betul memaksimalkan amal shalih, infaq, shadaqah, zakat, berakhlaq mulia, dan khususnya betul-betul menjaga ibadah shalah berjamaah di masjid, shalat tarawih, shalat tahajjud, dan berpuasa sebulan penuh.

Apa hakekatnya itu semua?

Bahwa hidup ini harus digunakan sepenuhnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala baik dalam ibadah mahdhah (ritual) maupun ibadah ghairu mahdhah (muamalah/inreraksi sosial). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Surat Adz-Dzariyat: 56)

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullaah

Dalam menyambut bulan suci Ramadhan marilah kita perhatikan dengan seksama beberapa arahan Allah Subhanahu wa ta’ala seperti tercantum dalam 5 surah Al Qur’an yang pertama diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hal ini sangat penting agar kita memiliki paradigma, cara pandang, dan pola pikir yang benar dan kuat dalam meraih potensi bulan Ramadhan yang sangat luar biasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

“Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan” (HR Ahmad)

Agar lebih mudah merencanakan dan mengevaluasi kualitas amal shalih dan ibadah di bulan Ramadhan maka hendaknya kita memperhatikan 5 hal mendasar sebagai betikut:

Pertama, Ramadhan adalah bulan Tauhid

Sejatinya setiap pribadi harus mengorientasikan hidupnya dan segala kegiatannya adalah untuk Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bahkan jika sebenarnya dan idealnya setiap insan mempersembahkan dirinya dan hidupnya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sehingga, selama hidup di dunia akan mencapai kebahagiaan dan di akhirat kelak akan mengedepankan puncak kebahagiaaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala yakni di surga Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَشۡرِی نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَاۤءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ (207) یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (QS. Surat Al-Baqarah: 207-208)

Jadi ketauhidan, kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallaah, Tiada Tuhan selain Allah, adalah yang pertama dan utama ditanamkan dalam hati kaum muslimin dalam memasuki bulan suci Ramadhan.

Spirit dan kesadaran itulah yang akan mampu membuat diri seorang mukmin sangat bersemangat mengisi bulan suci Ramadhan dari awal sampai akhir Ramadhan sehingga menggapai Idul fitri (fithrah).

Jangan sampai melemah selama Ramadhan bahkan semakin semangat dan meningkat. Nawaitu jihad di Bulan Ramadhan harus dipasang kuat-kuat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَـٰهِدُوا۟ فِی ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَیۡكُمۡ فِی ٱلدِّینِ مِنۡ حَرَجࣲۚ مِّلَّةَ أَبِیكُمۡ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَۚ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. Millah (agama) bapak kalian Ibrahim” (QS. Surat Al-Hajj: 78)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullaah

Kedua, Ramadhan adalah bulan Al Qur’an

Penanaman nilai Al Qur’an menjadi sangat penting. Al Qur’an adalah petunjuk dan nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan Al Qur’an maka hidup seorang mukmin akan selamat selama-lamanya

{ شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ }

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`ān, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” [QS. Surat Al-Baqarah: 185]

Pada zaman yang sangat maju, dan akan semakin maju dimana banyak pemikiran yang gila dan tersesat maka Al Qur’an adalah menjadi obat dan rahmat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{ وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَاۤءࣱ وَرَحۡمَةࣱ لِّلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَا یَزِیدُ ٱلظَّـٰلِمِینَ إِلَّا خَسَارࣰا }

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian” [QS. Surat Al-Isra’: 82]

Oleh itu hendaknya semua muslimin semakin semangat mempelajari dan mengkaji Al Qur’an.

Hendaknya dikhatamkan membaca lafadz arabnya, dikhatamkan terjemahnya dan kemudian pelan-pelan membaca tafsirnya.

Begitu seterusnya diulang kembali jika sudah tuntas. Dengan demikian pikiran dan hati kita disinari dengan nilai-nilai Al Qur’an.

Jama’ah rahimakumullaah

Ketiga, Ramadhan adalah bulan ibadah

Hendaknya setiap muslim shalat berjamaah di masjid atau musholla di awal waktu. Menambah shalat sunnah sebanyak mungkin antara lain shalat tarawih, shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat rawatib dan shalat tahiyatul masjid.

Shalat adalah kegiatan yang paling utama dan pertama harus disambut dengan gembira dan penuh semangat. Shalat adalah kunci kebaikan amalan. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

“Amal ibadah yang pertama yang akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya yang lain dan jika shalatnya rusak maka rusaklah seluruh amalannya yang lain” [HR Thabrani].

Shalat adalah solusi dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Shalat adalah sarana mendapat pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala. Shalat adalah tiang agama.

Shalat adalah pencegah perbuatan keji dan munkar. Shalat adalah dzikrullah yang paling formal. Shalat adalah sarana minta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, firman-Nya:

{ وَٱسۡتَعِینُوا۟ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِیرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِینَ }

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” [QS. Surat Al-Baqarah: 45]

Disamping shalat, ibadah khusus yg perlu diperkuat di bulan Ramadhan adalah dzikrullah. Puncak dzikrullah di bulan Ramadhan adalah i’tikaf 10 malam terakhir.

Sehingga semua mesti memprogramkan untuk beriktikaf di masjid pada 10 malam terakhir dalam waktu pendek atau panjang, sebagiannya atau seluruhnya. Suasana tersebut mesti pernah dirasakan.

Jamaah Jum’ah rahimakumullaah

Keempat, Ramadhan adalah bulan syiar dan dakwah

Hendaknya seluruh ulama, muballigh, da’i, masjid, institusi pemerintah, institusi swasta dan juga keluarga-keluarga membuat syiar sebagai tanda menyambut dan mengisi Ramadhan dengan bahagia dan semarak.

Saat hati dan pikifan umat manusia dekat dengan Tuhannya maka ajaklah berbuat baik, shalih, bermanfaat, dan meninggalkan perbuatan munkar dan maksiyat.

Khususnya anak-anak remaja dan pemuda baik putra maupun putri hendaknya diarahkan dan di-support untuk memakmurkan masjid, membuat kajian kajian dan acara acara yang islami serta cocok dengan usia mereka. Karena pemuda adalah generasi penerus, شبان ئان رجال غاد pemuda waktu kini adalah orang dewasa waktu nanti.

Yang harus sangat diarahkan dan diawasi adalah penggunaan teknologi untuk mengakses dunia maya, dunia digital.

Hendaknya para orang tua bermusyawarah untuk merencanakan kegiatan Ramadhan termasuk mengatur penggunaan media sosial dan media digital.

Bagaimana agar waktu tidak mubadzir untuk hanya melihat media sosial, Youtube, Tiktok dan entertainment lain yang tidak bermanfaat.

Semua waktu, pikiran, perasaan, dan tenaga hendaknya dicurahkan untuk hal hal yang bermanfaat. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, خير الناس انفعهم للناس (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia) bahkan Nabi juga memberi arahan bahwa:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara yang termasuk bagusnya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tak berguna (bermanfaat) baginya.”

Kaum muslimin rahimakumullaah

Kelima, Ramadhan adalah bulan hidup berjamaah dan berkepemimpinan

Hendaknya setiap diri menyadari bahwa tidak bisa hidup sendiri. Bahkan harus menyadari bahwa dirinya lemah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman خلق الإنسان من علق (Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari segumpah darah), dan وخلق الإنسان ضعيفا (dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah).

Maka manusia harus menyadari kesetaraan di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala dan harus hidup berjamaah sekaligus hidup berkepemimpinan yang mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, Ramadhan sebagai momen menyerap spirit untuk berumpul, berjamaah, berkepemimpinan, bersuku, berbangsa, dan bernegara dengan kepemimpinan yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Karena yang paling mulia adalah karena ketakwaan sebagaimana firman Subhanahu wa ta’ala, ان اكرمكم عند الله اتقاكم (sesungguhnya yang paling mulia di di sisi Allah diantara kalian adalah kalian yang paling bertakwa kepada Allah).

Oleh itu kehidupan kita ini harus dimaknai dengan nilai-nilai jamaah dan kepemimpinan yang Islami.

Komunitas dan kepemimpinan dalam sistem yang selalu mengajak untuk beriman, bertakwa, jujur, amanah, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran.

Kesimpulan yang dapat diambil dari tema ini adalah bahwa agar berhasil meraih keberkahan Ramadhan harus dimulai dari menata cara pandang dan paradigma berfikir berdasar wahyu Ilahi.

Paradigma berfikir berdasar wahyu meliputi 5 komponen dasar yakni, Pertama, hidup adalah dari Allah, milik Allah, menurut Allah dan menuju Allah Subhanahu wa ta’ala.

Paradigma Kedua adalah hidup yang benar mesti menggunakan petunjuk wahyu Al Qur’an yang dibaca, dipahami, dihayati, dan diamalkan sebagai sistem nilai dan sistem hukum.

Paradigma Ketiga, hidup adalah untuk beribadah baik secara spiritual, kultural, fungsional, dan profesional. Olehnya itu, beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kebutuhan sekaligus kewajiban utama dan pertama.

Keempat, hidup adalah arena perjuangan dalam membela, menyebarkan, serta mempertahankan kebenaran dan keadilan agar mengalahkan kebatilan, kezaliman, dan kemaksiyatan.

Paradigma terakhir, atau yang Kelima, adalah hidup harus berjamaah dan berkepemimpinan yang baik dan benar agar kesejahteraan, keadilan, dan kemajuan bisa berjalan dengan baik.

Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, kiranya melimpahkan kesehatan, kesempatan, dan keberkahan kepada kita semua dalam meraih potensi potensi Bulan Suci Ramadhan kali ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Tak Hanya Bekal Rohani, Siapkan Juga Jasmani Menuju Bulan Ramadhan

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Kemeriahan menyambut bulan Ramadhan tahun ini terasa di berbagai penjuru negeri, termasuk di Pesantren Hidayatullah Kebumen.

Pada Sabtu, 14 Sya’ban 1445 (24/2/2024), masjid Darul Iman pesantren tersebut diramaikan dengan gelaran “Sehat Sambut Ramadhan” dengan tema “Raih Kemuliaan Ramadhan dengan Thibbunnabawi”.

Kegiatan ini diikuti oleh santri putra SMP Integral Hidayatullah Kebumen dan segenap kader di amal usaha Yayasan Al-Iman Pesantren Hidayatullah Kebumen.

Antusiasme terpancar dari raut wajah para peserta yang ingin mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan dengan kondisi jasmani yang prima.

Ketua panitia kegiatan, Muslim, menyampaikan bahwa tujuan utama “Sehat Sambut Ramadhan” adalah membekali para santri dan Asatiizah pengetahuan dan praktik hidup sehat.

“Kesehatan jasmani menjadi kunci utama dalam memaksimalkan ibadah, terutama di bulan Ramadhan yang penuh dengan amalan istimewa,” katanya.

Sebagai narasumber utama, Andi Prapta Mulya, Ketua Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI) Kebumen, hadir untuk berbagi ilmu tentang pola hidup sehat dan seimbang.

Andi menekankan pentingnya mengamalkan pola hidup sehat dan seimbang berdasarkan Sunnah Rasulullah SAW untuk menunjang tumbuh kembang para santri dan menjaga kesehatan Asatiiz di usia produktif maupun dewasa.

Lebih istimewa lagi, kegiatan “Sehat Sambut Ramadhan” kali ini juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para peserta.

Acara juga diiringi dengan rekomendasi pola hidup sesuai diagnosa awal kondisi kesehatan, diharapkan para santri dan Asatiizah dapat menerapkan kebiasaan hidup sehat secara lebih personal dan konsisten.

“Semangat menyambut Ramadhan dengan jiwa dan raga yang sehat ini sejalan dengan salah satu tujuan utama pesantren, yaitu mencetak generasi Qur’ani yang berwawasan luas dan berakhlak mulia,” katanya.

Dengan tubuh yang bugar dan mental yang kuat, para santri dan Asatiizah siap menyambut bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan optimisme, serta meraih kemuliaan-Nya dengan optimal.

Diharapkan “Sehat Sambut Ramadhan” menjadi langkah awal yang positif dalam membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan pesantren. Kebiasaan ini tidak hanya bermanfaat untuk menyambut bulan Ramadhan, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.

Muslim menambahkan, kegiatan ini merupakan upaya dari komitmen Pesantren Hidayatullah Kebumen dalam memberikan pendidikan holistik bagi para santrinya. Bukan hanya ilmu agama yang ditekankan, tetapi juga kesehatan jasmani dan rohani yang menjadi perhatian utama.

“Mari jadikan Sehat Sambut Ramadhan sebagai inspirasi untuk menyambut bulan suci dengan penuh persiapan dan optimisme,” pesan Andi, seraya berpesan bahwa dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat, kita siap meraih kemuliaan Ramadhan dan menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah SWT.*/Yusran Yauma