DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Bagi masyarakat muslim yang ingin menunaikan ibadah Qurban yang menjadi anjuran Islam, kini ada cara mudah untuk berqurban yaitu melalui Simpanan Qurban. Inisiasi ini lahir atas kerjasama Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).
Bertempat di Kantor BTH di GDC Kota Depok, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah dan Baitut Tamwil Hidayatullah sepakat menandatangani MoU Simpanan Qurban tersebut, Jum’at, 24 Jumadil Awal 1445 (8/12/2023).
Acara ini dihadiri langsung oleh Direktur Utama Laznas BMH Ustadz Supendi dan Direktur Utama BTH Saiful Anwar, SE, M.E.
“Kami berharap program simpanan qurban ini dapat diserap secara maksimum oleh masyarakat dan kaum muslimin di Indonesia,” tutur Saiful Anwar.
Senada dengan itu, Direktur Utama Laznas BMH juga berharap kerjasama ini dapat menguatkan dan mengalirkan kebaikan.
“ Kami berharap kolaborasi ini menguatkan dan mengalirkan kebaikan yang lebih banyak kepada umat,’’ sambung Supendi.
“Kami mewakili Baitul Maal Hidayatullah mengucapkan terima kasih kepada BTH, dan semoga keberkahan keberkahan bagi umat semakin dirasakan lewat BMH maupun lewat BTH,” tegas Supendi.
Dalam kesempatan itu BTH juga memberikan hibah sebuah mobil untuk menjadi operasional Laznas BMH dalam melayani umat.*/Herim
LAMONGAN (Hidayatullah.or.id) — Kebahagiaan warga Dusun Ngelo, Desa Jatipayak, Kecamatan Modo, Lamongan, Jawa Timur terukir dari senyum dan raut wajah yang berseri-seri. Hal itu tersaji kala semua berkumpul mengadakan syukuran atas diresmikannya bantuan sumur bor, sinergi PT Samudera dan BMH, Rabu, 22 Jumadil Awal 1445 (6/12/2023).
“Ini menjadi kebahagiaan kita semua. Terlebih moment ini hadir di saat HUT PT Samudera yang ke-74. Terimakasih BMH dan terimakasih semua, semoga sumur bor ini menjadi berkah bagi warga di sin,” ungkap Komisaris PT Samudera, Agus Prabowo.
Sumur bor ini kata Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, mengakhiri kisah sulit mendapatkan air bersih.
“Kami dari BMH juga berterimakasih atas sinergi dari PT Samudera. Dengan hadirnya sumur bor ini, semua kisah dan pengalaman berat kemarin tidak lagi terjadi. Semoga kita semua senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang terus mengalirkan nikmat-nikmat kebaikan kepada kita semua,” tuturnya.*/Herim
Tampak kafilah Maluku Utara halaqah bersama usai menunaikan shalat shubuh berjamaah di masjid KM Dorolonda dalam pelayaran menuju Namlea (FOTO: Istimewa/ hidayatullah.or.id)
BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 memang telah berlalu. Namun masih “berlangsung” bagi mereka yang hingga kini belum sampai ke tempat tugas. Begitulah yang dilakoni kafilah dari Provinsi Maluku Utara.
“Alhamdulillah Silatnas usai, kami masih dalam pelayaran,” ungkap Arif Ismail Hanafi, Selasa, 21 Jumadil Awal 1445 (5/12/23).
Mengarungi laut Jawa, selat Makassar dan seterusnya dengan KM Dorolonda, perjalanan Arif Ismail bersama ratusan peserta kafilah lainnya hari itu baru saja tiba di Baubau, Sulawesi Tenggara.
“Sekarang lanjut pelayaran, dari Baubau ke Namlea, Pulau Buru, Maluku. Baru selanjutnya menuju ke Ternate,” tuturnya melalui aplikasi percakapan.
“Alhamdulillah berangkat 1 Desember dan sekarang 5 Desember telah tiba di Bau Bau,” imbuhnya.
Inti Perjalanan
Melakukan perjalanan melalui laut memang butuh stamina dan tentu saja mental yang kuat. Karena amalan penting dalam hidup begitu perlu kita hadirkan. Misalnya sabar.
Siapa yang bisa melakukan perjalanan laut tanpa kesabaran?
Namun, dalam pelayaran kita bisa merasakan langsung kekuasaan Allah Ta’ala. Terlebih saat kapal meninggalkan pelabuhan dan tengah berada jauh dari daratan.
Sejauh mata memandang, kemanapun mata ini menyapu sudut kehidupan, yang terpapar hanya satu air laut seakan bertemu dengan langit.
Saat seperti itu biasanya hati kita akan mudah tergerak betapa tidak ada harapan yang bisa jadi andalan, selain daripada Allah Ta’ala.
Dan, inilah inti perjalanan luar biasa. Berlayar bisa kita sebut sebagai miniatur perjalanan hidup manusia itu sendiri.
Tebar Bekal
Arif Ismail tentu saja lelah dengan perjalanan menuju dan kembali dari Silatnas. Namun ia punya energi mengapa bisa bertahan dan menikmati perjalanan panjangnya.
“Kami membawa bekal yang harus kami tebar nanti di tempat kami tugas. Inilah energi pelayaran kami,” ungkapnya.
Dalam kata yang lain, hanya orang-orang yang punya visi, cita-cita dan misi hidup mulia yang mau mengarungi lautan sedemikian panjang.
Terlebih Arif Ismail tidak sedang berjalan sendirian, ia membawa istri, keluarga dan jama’ah Hidayatullah Maluku Utara.
Terbayang betapa itu tidak mudah. Namun sungguh itu bukan sebuah perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan para pejuang yang ingin dirinya terus meningkat kebermanfaatannya bagi sesama.
TAMPAKNYA hanya manusia yang dalam 24 jam hatinya selalu dalam pertarungan. Seorang Muslim yang shalat saja, setiap dalam gerakan shalat ada itu pertarungan.
Cepat-cepat saja shalatnya. Ruh mengatakan, jangan. Kita nikmati saja shalat ini. Dan, ada pula hati manusia yang bentuk konfrontasinya adalah antara mendirikan shalat atau meninggalkan shalat.
Secara hakikat, manusia memang ciptaan bebas. Allah memberikan fitrah di dalam dirinya, kemudian menurunkan Islam sebagai jalan fitrah itu hidup.
Namun, manusia punya kebebasan memilih tindakan. Mau menjaga fitrah itu atau membiarkannya rusak dengan menolak kebaikan dan kebenaran.
Ketika seseorang mengikuti petunjuk Al Qur’an, maka fitrahnya akan terurus. Seperti kesukaan pada kebaikan, keindahan, dan kebenaran (Islam).
Disfungsi
Akan tetapi begitu manusia memilih ingkar, maka fitrah di dalam dirinya akan mengalami disfungsi. Psikologisnya pun dalam menjalani kehidupan akan memikul beban tak terkira. Karena jiwa manusia sekali lagi, tidak senang pada keburukan dan kerusakan, serta kepalsuan.
Menurut Sayyid Qutb, orang yang mengingkari Islam akan mengalami disfungsi fitrah, sehingga ia memilih ingkar terhadap nilai-nilai transendental, hal-hal baik, benar dan indah.
Bahkan, semua jenis problematika kehidupan manusia, garis startnya dimulai dari permasalahan disfungsi fitrah dalam diri manusia.
Pesan Gus Baha
Oleh karena itu Gus Baha mendorong umat Islam jangan sampai tidak shalat. Selain pertama itu adalah tiang agama. Kedua, siapa yang memilih tidak shalat sama dengan mengundang kerugian.
Bahkan sekiranya ada orang yang shalat dan belum berjilbab atau akhlaknya belum baik, tetap harus menegakkan shalat. Karena mendirikan shalat adalah kesuksesan manusia menjauhi kemungkaran.
Lebih jauh shalat, terutama pada level tertentu, seperti shalat Tahajud itu memberi efek positif luar biasa.
“Shalat Tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit.” (HR. Tirmidzi).
Begitu pentingnya shalat Tahajud, Gus Baha memberikan ilustrasi menarik.
Jika seseorang mau tidak tahajud karena dingin, lihatlah kelompok maling. Yang dalam gulita, melawan dingin dan risiko nyawa tetap menjalankan aksinya mencuri.
Lah, apatah lagi kita, yang ingin Allah ridha. Apa iya, melawan dingin saja tidak mampu?
Dengan demikian pilihlah untuk mendirikan shalat. Orang yang shalat akan terhindar dari stres (lihat buku Prof Dr Moh Sholeh dengan judul “Terapi Shalat Tahajud, Menyembuhkan Berbagai Penyakit”).
Kalau sudah bebas dari stres akan selamat dari kerentanan terhadap infeksi, menghambat sel kanker. Pendek kata, shalat, terutama tahajud dapat menjadikan jiwa dan raga kita sehat wal afiat dengan izin Allah. (MIN)
LEMBAGA Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali mendapatkan penghargaan dari Republika sebagai Lembaga Filantropi Terbaik dalam “Pengembangan Masyarakat Pesisir” pada ajang Anugerah Syariah Republika (ASR) pada, Kamis (30/11/2023) di Jakarta.
Entah ini penghargaan ke berapa yang sudah diterima oleh BMH, sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (LASNAS) atau Filantropi. Ini menunjukkan BMH telah melakukan tugas serta fungsinya dengan baik dan benar, terutama dalam hal penyaluran dana ZIS kepada para mustahiq (orang yang berhak).
Beberapa hari sebelumnya, Laznas BMH juga meluncurkan dua buku di arena Silaturrahim Nasional Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang dihadiri oleh ratusan peserta dari seluruh Nusantara.
Buku pertama berjudul, “Lembaga Zakat Lebih dari Sekadar Filantropi,” yang ditulis oleh Drs. Wahyu Rahman, Ketua Dewan Pengawas BMH. Buku kedua berjudul, “Dai Tangguh Merajut Hati untuk Negeri,” yang ditulis oleh 35 dai dari seluruh pelosok negeri dan berisi cerita atau gambaran dakwah mereka di daerah masing-masing.
Dua agenda ini, penghargaan dan kegiatan, menggambarkan bahwa Laznas BMH benar-benar hadir di tengah-tengah umat melakukan pemberdayaan sekaligus pengembangan, khususnya masyarakat pesisir dan pedalaman di seluruh pelosok negeri.
Bagaimanapun, sekelas media Republika memberikan penghargaan itu bukan tanpa pertimbangan dan penilaian, lebih dari itu pasti mereka juga melakukan penelitian. Apa temuannya? Masyarakat pesisir berdaya dan berkembang dengan hadirnya Laznas BMH di tengah-tengah mereka.
Nah, masyarakat pesisir sendiri secara geografis adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut.
Pekerjaan atau profesi utama mereka adalah nelayan yang sekaligus menjadi sumber utama penyokong ekonomi mereka.
Dan bila membicarakan masyarakat pesisir hampir pasti isu yang selalu muncul adalah masyarakat marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik secara sosial, ekonomi maupun politik.
Bila kita berkunjung ke wilayah masyarakat pesisir, kita akan menyaksikan langsung realitas di lapangan. Infrastruktur yang kurang memadai, akses pendidikan dan kesehatan yang begitu sulit serta kualitas sumber daya manusia yang terbatas menjadi sorotan pertama dan utama.
Tentu saja, hal ini menjadi perhatian serius bagi semua kalangan, bukan saja pemerintah tapi juga kita. Mereka semua adalah para dhuafa yang sedang menunggu sentuhan tangan kita, agar bisa berdaya dan berkembang sama dengan masyarakat pada umumnya.
Tempat dan masyarakat seperti inilah Laznas BMH hadir, membawa titipan amanah Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) dari para pecinta kebaikan dan orang-orang kaya yang menyalurkan sebagian hartanya melalui BMH.
Memberikan beasiswa pendidikan, bantuan modal usaha, membangun fasilitas umum, memberdayakan para dai, guru dan ustad agar mereka bisa terus berkhidmat, memberikan pengajaran serta pencerahan kepada masyarakat. Menghidupkan kembali surau-surau, musholla, masjid, TPA dan tempat-tempat belajar lainnya.
Dari sinilah dana Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) betul-betul dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang berhak mendapatkannya.
Benar apa yang dikatakan oleh M. Natsir bahwa, zakat merupakan salah satu instrumen menciptakan keadilan sosial. Ia mampu mengurangi kesenjangan ekonomi dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Apakah hanya penerima zakat saja yang merasakan manfaatnya? Tentu saja tidak, para pemberi zakat justru lebih banyak mendapatkan manfaat dari sisi Allah SWT.
Oleh karenanya, penting juga bagi kita untuk sama-sama mengetahui bahwa zakat ini bukan hanya sekadar sumbangan sukarela, tapi kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu dan mencapai nishab.
Zakat merupakan bagian integral dari praktek keagamaan dan sosial dalam ajaran Islam. Artinya, mengeluarkan zakat selain karena faktor peduli dan empati, kita juga dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Spirit integralisasi inilah yang perlu kita sampaikan kepada handai taulan melalui literasi tentang zakat.
Akhirnya, apa yang dilakukan Laznas BMH sejatinya hanya sebagai kepanjangan tangan dari para Muzakki yang mungkin tidak sempat berkunjung serta menemui masyarakat pesisir dan pedalaman.
Pada saat yang sama, BMH melihat masyarakat pesisir perlu segera mendapatkan perhatian dari segala sektor.
Menyisir masyarakat pesisir adalah langkah konkret Laznas BMH dalam upaya mengembangkan masyarakat pesisir. Mendistribusikan dana zakat kepada umat, menghidupkan dakwah dan membantu masyarakat keluar dari kemiskinan panjang.
*) BUSTANOL ARIFIN,penulis adalah pegiat dakwah dan pemberdayaan pemuda, saat ini berkecimpung di lembaga Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)
DALAM era dunia yang terus berubah dengan cepat dan penuh ketidakpastian, konsep “Agile Organization” semakin menjadi kunci untuk kelangsungan dan kesuksesan bagi sebuah organisasi.
Sebagai suatu paradigma organisasional, maka Agile Organization bukan hanya sekadar tren, melainkan suatu kebutuhan mendesak untuk beradaptasi dengan perubahan yang konstan dan memanfaatkannya sebagai peluang, dan kemudian menjadi organisasi yang memimpin ke masa depan.
Ada sebuah anggapan jika struktur organisasi yang lengkap bahkan cenderung “gemuk” menunjukkan bahwa organisasi itu di urus secara serius, dan dapat menjalankan banyak program-programnya. Namun kenyataan yang didapat, kerapkali malah sebaliknya.
Justru kemampuan organisasi melakukan transformasilah yang seringkali menjadi kunci. Bahkan dengan struktur yang minimalis sekalipun, namun telah melawiliki fungsi dalam organisasi.
Sudah jelas bahwa pemilihan struktur organisasi ini, tetap dalam koridor untuk mengikuti sekaligus menyongsong perkembangan zaman. Namun dengan tetap mempertahankan nilai-nilai inti dari organisasi.
Sehingga, memilih struktur yang tepat, akan menjadi sebuah jawaban logis, untuk terus menjaga eksistensi organisasi, bahkan sebagai bagian yang tak terpisahkan untuk mempersiapkan masa depan organisasi untuk menjadi pemenang.
Apa itu Agile Organization?
Agile Organization adalah pendekatan inovatif dalam pengelolaan organisasi yang menekankan fleksibilitas, adaptabilitas, dan responsivitas terhadap perubahan.
Dibangun berdasarkan prinsip-prinsip agile yang pertama kali diterapkan dalam pengembangan perangkat lunak (software development), di mana Agile Organization berupaya menerapkan kerangka kerja tersebut ke seluruh struktur dan budaya organisasi.
Di dalam Agile Organization, perubahan dianggap sebagai suatu konstan, bukan sekadar tantangan. Ini melibatkan perubahan paradigma dari model manajemen tradisional menjadi lebih terbuka terhadap kolaborasi, eksperimen, dan iterasi berkelanjutan.
Organisasi yang mengadopsi pendekatan ini berusaha untuk menciptakan lingkungan yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika eksternal yang berubah dengan cepat, merespon umpan balik direspon secara cepat, dan menghasilkan solusi inovatif dengan memanfaatkan kekuatan tim dalam organisasi.
Agile Organization memberikan penekanan pada pembentukan tim lintas-fungsi yang mandiri, mampu bekerja secara kolaboratif dan mengambil keputusan di tingkat yang paling dekat dengan tindakan.
Penerapan prinsip-prinsip agile, seperti iterasi, tanggapan cepat terhadap perubahan, dan komunikasi terbuka, membantu organisasi mengurangi birokrasi, meningkatkan efisiensi operasional, dan menciptakan budaya inovasi yang dinamis.
Dengan fokus pada nilai dan kebutuhan stakeholder, transparansi, dan keterlibatan seluruh elemen organisasi, maka Agile Organization menciptakan fondasi untuk kesuksesan jangka panjang di tengah ketidakpastian dan persaingan antar organisasi yang intens, baik organisasi bisnis maupun organisasi nirlaba.
Mengapa Harus Memilih Agile Organization?
Sebagaimana diuraikan di atas, pemilihan struktur dalam sebuah organisasi, sesungguhnya dapat mencerminkan eksistensi organisasi itu sendiri.
Dan, alat ukur yang dapat dijadikan indikator apa dan bagaimana sebuah organisasi dalam mencapai visi, misi dan tujuannya, sebenarnya dapat di lihat dengan bagaimana mereka menetapkan struktur organisasinya.
Dengan demikian alasan mengapa organisasi memilih struktur yang “agile” dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, Adaptasi terhadap Perubahan Cepat, dalam dunia yang terus berubah dengan cepat dan bahkan tidak jelas (uncertainty), maka organisasi perlu bisa beradaptasi dengan cepat dan tepat. Agile Organization memungkinkan perubahan struktural dan strategis tanpa mengorbankan produktivitas dan tanpa meninggalkan nilai-nilai inti (jatidiri) organisasi.
Kedua, Peningkatan Inovasi, struktur yang lebih terbuka dan proses yang fleksibel merangsang kreativitas dan inovasi di antara anggota tim atau elemen organisasi. Hal ini akan membantu organisasi untuk merumuskan program dan strategi implementasi yang tetap relevan dan kompetitif.
Ketiga, Peningkatan Kepuasan Pelanggan/Anggota, dalam organisasi bisnis maupun organisasi nirlaba, dengan fokus pada responsivitas terhadap kebutuhan pelanggan/anggota, maka Agile Organization mampu memberikan produk dan layanan yang selalu inovatif, sehingga lebih sesuai dengan harapan pelanggan/anggota.
Keempat, Efisiensi Operasional, melalui pendekatan yang terus-menerus diperbarui dan disesuaikan dengan dinamika internal dan eksternal organisasi, maka organisasi dapat fokus pada tujuan, sehinnga dapat mencapai efisiensi operasional yang lebih tinggi.
Tantangan
Tidak ada perubahan yang selamanya berjalan mulus tanpa ada kendala dan tantangan. Demikian halnya ketiuka model “agile” ini menjadi pilihan bagi sebuah organisasi. Beberapa tantangan tersebut dapat dijelaskan sebagaimana dibawah ini:
Pertama, Perubahan Kultur Organisasi, mengadopsi budaya kerja yang terbuka terhadap perubahan dan inovasi dapat menjadi tantangan, terutama dalam organisasi dengan sejarah tradisional. Bisa jadi menimbulkan resistensi, karena sudah nyaman dengan struktur sebelumnya. Resistensi bisa berasal dari level bawah, bahkan hingga ke top manajemen. Maka diperlukan sosialisasi yang memadai untuk menjelaskan prubahan yang ada.
Kedua, Kesulitan dalam Pengukuran Kinerja, dengan adanya perubahan maka, metrik yang relevan untuk mengukur keberhasilan Agile Organization mungkin berbeda dari metrik tradisional, yang biasa dilakukan, sehingga dapat menyulitkan evaluasi kinerja. Oleh karenanya metrik yang disusun untuk mengukur kinerja, juga disesuaikan dengan perubahan yang ada, sehingga memudahkan dalam melakukan penilaian.
Ketiga, Pengelolaan Ketidakpastian, setiap perubahan yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan ketidak jelasan dan ketidakpastian. Sehingga lingkungan yang berubah dengan cepat seringkali penuh ketidakpastian, dan beberapa organisasi mungkin merasa sulit untuk mengelola ketidakpastian tersebut. Oleh karenanya merumuskan change management (manajemen perubahan) menjadi salah satu kunci penting.
Beberapa tantangan yang lain bisa jadi dihadapi oleh organisasi. Dan, tantangan tantangan tersebut sangat mungkin untuk diatasi jika sejak awal sudah dirumuskan framework (kerangka kerja) untuk melakukan perubahan menjadi Agile Organization ini. Bahkan sejak awal juga perlu dilakukan mitigasi risiko yang memadai, sehingga tidak menimbulkan goncangan (instabilitas) dalam organisasi.
Implementasi Agile Organization
Salah satu hal yang krusial untuk menerapkan Agile Organization adalah berkenaan dengan strategi implementasi. Sehingga dalam proses implementasi perlu disiapkan dengan matang dan terukur, sehingga kedepannya dapat dievaluasi dengan baik, jika terjadi kendala. Bahkan bisa jadi lesson learned pada setiap tahapanya.
Secara garis besar, tahapan implementasi dapat dirumuskan sebagi berikut:
Pertama, Pelatihan dan Pengembangan Staff/Anggota, menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip Agile dan membangun keterampilan yang diperlukan. Hal iini sebagai upaya untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan dan berbagai dampak yang akan dihadapi.
Kedua, Tim yang Berfokus pada Proyek, untuk menjamin proses perubahan berjalan dengan baik, maka perlu membentuk tim lintas-fungsi dan lintas departemen/bidang yang fokus pada tujuan tertentu yang sudah ditetapkan. Pada saat yang bersamaan juka mempromosikan model kerja yang mengedepankan kolaborasi dan kreativitas.
Ketiga, Penerapan Metode Agile, seara bertahap tim juga mulai mengadopsi metode Agile seperti Scrum atau Kanban untuk mengatur pekerjaan dan memastikan kelancaran proses. Sehingga didapatkan quick win, sebagai pencapaian awal, untuk dijadikan barometer dalam pencapaian implementasi berikutnya.
Keempat, Komunikasi Terbuka dan Kolaborasi, dalam setiap perubahan komunikasi, justru menjadi kunci utama, dibandingkan hal-hal yang sifatnya teknis dan praktis/pragmatis. Sehingga perlu untuk mendorong komunikasi terbuka di seluruh elemen organisasi serta mendorong kolaborasi lintas departemen, untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Kelima, Iterasi dan Pembelajaran Berkelanjutan, dalam sebuah perubahan sesungguhnya tidak ada yang sifatnya statis, atau tetap, melaainkan dia terus berkembang, sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu, melakukan iterasi terus-menerus pada proses dan memanfaatkan pembelajaran dari setiap iterasi yang ada, dalam meningkatkan kinerja.
Dengan demikian maka, Agile Organization bukanlah sekadar konsep, tetapi suatu pilihan dan keharusan bagi organisasi yang ingin tetap relevan di tengah perubahan yang cepat.
Tinggalkan model struktur yang gemuk, yang berpotensi lamban dan tak lincah merespon dinamika perubahan yang semakin cepat.
Selanjutnya, dengan berfokus pada adaptabilitas, inovasi, dan kolaborasi, organisasi dengan mudah dapat mengambil langkah-langkah menuju ketangguhannya, dan kemudian akan mendapati diri mereka memiliki daya saing yang lebih baik di dunia yang selalu berubah.[]
*) ASIH SUBAGYO,penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Terbaru Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Fatwa ini merekomendasikan umat Islam semaksimal mungkin menghindari penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel.
“Umat Islam dihimbau untuk semaksimal mungkin menghhindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta yang mendukung penjajahan dan zionisme, ” tegas Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, saat membacakan fatwa terbaru MUI tersebut di Kantor MUI, Jakarta, Jumat lalu (10/11/2023).
Melalui fatwa tersebut, MUI juga merekomendasikan agar pemerintah mengambil langkah tegas dalam membantu perjuangan Palestina.
Langkah itu berupa diplomasi di PBB maupun kepada negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) agar menekan Israel menghentikan agresi. Diplomasi itu juga untuk mendorong PBB memberikan sanksi kepada Israel.
“Fatwa ini juga merekomendasikan agar umat Islam mendukung perjuangan Palestina seperti penggalangan dana kemanusiaan dan perjuangan, mendoakan kemenangan, serta melakukan shalat ghaib untuk syuhada di Palestina, ” ujar Kiai Niam membacakan fatwa tersebut.
Selain rekomendasi, inti dari fatwa ini menyatakan bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib. Dukungan tersebut bisa berupa distribusi zakat, infak, maupun sedekah untuk kepentingan perjuangan rakyat Palestina.
Dukungan itu bisa berupa pendistribusian zakat, infak, maupun sedekah untuk kepentingan perjuangan rakyat Palestina. Pada umumnya, dana zakat harus didistribusikan kepada mustahik yang berada di lokasi sekitar muzakki.
“Dalam keadaan darurat dan mendesak, dana zakat boleh didistribusikan ke mustahik yang berada di tempat yang lebih jauh, seperti untuk perjuangan Palestina, ” ungkap dia seperti dilansir laman resmi MUI.
“Sementara itu, mendukung agresi Israel terhadap Palestina atau pihak yang mendukung Israel baik langsung maupun tidak langsung hukumnya haram, ” tegas Pengasuh An Nahdlah Depok itu membacakan isi fatwa.
Konferensi Pers tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Miftahul Huda, serta Bendahara MUI KH Rahmat Hidayat. (Junaidi/Azhar)
Berikut ini naskah (pdf) lengkap Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ar Tahfidz Putra Imamul Ummah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Malang menggelar acara keren yaitu Seminar Motivasi dan Talkshow bertajuk “Self-development and Grow up to Be a Leader”, Rabu, 23 Jumadil Awal 1445 (6/12/2023).
Kegiatan ini makin terasa istimewa karena menghadirkan sosok technopreneur yang juga dikenal luas sebagai tokoh milenial nasional yang penuh inspirasi yaitu dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed.
Gamal Albinsaid adalah seorang dokter, inovator kesehatan, wirausahawan sosial, yang juga inspirator kebanggaan Indonesia.
Intelektual muda ini ini menempuh pendidikan dokter dan berhasil lulus dar Universitas Brawijaya (Unibraw) dengan predikat sangat memuaskan. Hingga kini ia terus berkarya dan telah banyak mendulang prestasi sejak usia beliau.
Di masa kuliahnya, Gamal Albinsaid telah meraih 12 penghargaan ilmiah dari berbagai universitas ternama di Indonesia.
Penggagas berdirinya Klinik Asuransi Sampah dan Bank Sampah ini juga terus menginspirasi dengan menginisasi berbagai terobosan sosial entrepeneurship.
Dalam kesempatan seminar tersebut, inovator muda yang pernah mendapat apresiasi dari Presiden Rusia, Vladimir Putin tersebut mengajak santri Ar Tahfidz Putra Imamul Ummah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Malang selalu semangat dalam berproses untuk selanjutnya bertumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berpengaruh.
Ia kemudian memberi contoh bagaimana ketekunan seorang Thomas Alfa Edison, penemu lampu, yang tidak pernah lelah dalam berlatih dan belajar hingga kemudian ia berhasil membuat karya yang amat bermanfaat bagi kehidupan.
Dia pun mendorong santri agar menghadapi berbagai cibiran dengan senyuman. Kata dia, sebagai seorang muslim, harus selalu teguh dan percaya diri menjadikan iman Islam sebagai pegangan.
“Jalani berbagai proses yang ada dengan semangat. Untuk menjadi orang hebat, kita harus mau merasakan ketikdanyamanan. Misalnya, Anda pernah dihina dengan sadis, responlah itu dengan belajar keras,” katanya.
Gamal Albinsaid mengimbuhkan, setiap muslim hendaknya bisa menjadi teladan yang mendorong orang lain melakukan kebaikan. Karena, sejatinya seorang muslim, ia memiliki kebaikan yang mempesona.
“Yakinlah, di balik kehebatan orang orang besar mereka senantiasa ada amal kebaikan yang mempesona. Mari menjadi santri terbaik, kita raih prestasi dunia,” pesannya.
Ia pun mengajak para santri untuk selalu percaya diri, karena kepercayaan diri yang baik akan menopang diri kita dalam setiap langkah kebaikan yang diambil. Namun, ia menegaskan, kepercayaan diri seorang muslim selalu bertumbuh karena Tuhan yang memberikan kekuatan tersebut.
“Orang yang percaya diri bukanlah orang yang sekedar yakin kepada kemampuannya, tetapi orang yang yakin bahwa Allah Ta’ala itu bersamanya,” tandasnya.
Seminar Motivasi dan Talkshow yang digelar di Aula Utama LPI Ar Tahfidz Putra Imamul Ummah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Malang ini juga turut dihadiri segenap jajaran pengurus pondok diantaranya Kepala Madrasah Al-Qur’an Ar-Rohmah Tahfidz Ust. Marzan Safrudin.
Hadir juga Ketua Departemen Kehumasan Ust. Shohibuttijar, S.Pd. Ketua Departemen Pengembangan Ust. H. Muhtadin, Ketua Departemen Kerumahtanggaan Ust. Drs. H. Mahzum Syuhada, dan segenap dewan asatidz/ asatidzah, serta pengasuh, dan staf. (ybh/hidayatullah.or.id)
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kematian dengan kuasaNya yang abadi. Dia juga Dzat yang menciptakan kehidupan dan berkuasa di atasnya supaya kalian dapat bermuamalah, untuk menguji siapa di antara kalian yang amalnya paling baik , ibadahnya paling baik dan paling taat kepada-Nya.
Dialah Dzat yang Maha Kuat dan Maha Perkasa sehingga tidak ada satupun yang lebih perkasa dariNya. Dzat yang Maha Besar ampunanNya bagi orang-orang yang bertaubat.
Menjadi menjadi manusia terbaik, adalah dambaan setiap insan, dan setiap menusia berlomba lomba menjadi manusia terbaik, ingin juara kelas, ingin menang dalam pertandingan, ingin juara nasional bahkan juara international. Semua ini menunjukkan bahwa manusia ingin tampil menjadi terbaik dalam setiap aktivitasnya.
KEPEMIMPINAN yang efektif bukan lagi sekadar penguasaan keterampilan tradisional; sebaliknya, era yang terus berubah menuntut transformasi mendalam dalam gaya dan pendekatan kepemimpinan.
Transformasi kepemimpinan bukan hanya suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan yang mendefinisikan keberlanjutan dan keberhasilan suatu organisasi di tengah dinamika dunia yang terus cepat berubah.
Organisasi yang terlambat melakukan transformasi kepemimpinan, dapat dikatakan sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Apalagi jika tidak melakukan transformasi kepemimpinan, maka tinggal menunggu lonceng kematian.
Salah satu aspek penting dari transformasi kepemimpinan adalah kesadaran akan perubahan eksternal terutama perubahan global yang signifikan, terutama dalam konteks teknologi, budaya kerja, dan tuntutan kehidupan modern.
Kepemimpinan harus melebur dengan kecepatan revolusi teknologi, memahami implikasi etika dan dampaknya pada organisasi.
Dalam era di mana transformasi digital menjadi arus utama, seorang pemimpin harus memimpin organisasinya melalui gelombang inovasi dan adaptasi teknologi terkini. Akan tetapi tetap berpijak pada tata nilai dan jatidiri organisiasi itu sendiri.
Selain itu, kepemimpinan yang efektif juga mengakui pentingnya keterlibatan seluruh elemen organisasi dalam membangun budaya organisasi yang semakin inklusif.
Transformasi kepemimpinan menuntut pemimpin untuk menjadi fasilitator pengembangan keterampilan dan potensi seluruh stakeholder, dalam membentuk tim yang kuat dan berkolaborasi.
Kepemimpinan yang inklusif juga menciptakan lingkungan di mana setiap suara dihargai, meningkatkan produktivitas, dan membangun komitmen jangka panjang, sebagai bagian yang tak terpisahkan merealisasikan visi, misi dan tujuan organisasi yang implementatif dan mampu menjawab tantangan kekinian dan masa depan.
Kepemimpinan yang benar semestinya mampu menunjukkan dimana posisi sekarang, kemana arah yang akan dituju dan dengan apa untuk mencapai tujuan itu. Hal ini berkenaan dengan keberlanjutan organisasi yang sejalan dengan tanggung jawab sosial, sebagai salah satu poin sentral dalam transformasi kepemimpinan modern.
Pemimpin harus mampu melihat gambaran besar, yang bisa jadi masih berupa puzzle yang masih berserakan, selanjutnya menyatukan dan mengintegrasikannya melalui prinsip-prinsip keberlanjutan dalam keputusan strategis, dan selanjutnya memimpin organisasi ke arah yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan umat.
Menyiapkan Transformasi Kepemimpinan
Transformasi kepemimpinan dalam sebuah organisasi adalah sebuah keniscasyaan. Oleh karenanya, menyiapkan transformasi kepemimpinan dalam organisasi, tidak dapat dilakukan secara serampangan, melainkan mesti melibatkan serangkaian langkah strategis yang terukur dan dirancang untuk memastikan pemimpin serta semua elemen organisasi siap menghadapi perubahan.
Berikut adalah langkah-langkah kunci untuk mempersiapkan transformasi kepemimpinan
Pertama, Evaluasi Kebutuhan Transformasi, dalam tahap awal ini peru dilakukan identifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi. Pada saat yang bersamaab juga mekakukan evaluasi kebutuhan transformasi kepemimpinan melalui analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Kedua, Pemahaman Visi dan Nilai, merumuskan dan mendefinisikan visi baru untuk kepemimpinan yang mencerminkan arah yang diinginkan, yang sejalan sekaligus mengelaborasi visi yang telah ditetapkan. Dibarengkan dengan mengklarifikasi nilai-nilai inti, sebagai manifestasi jatidiri organisasi, yang akan membimbing kepemimpinan dan perilaku di seluruh organisasi.
Ketiga, Komunikasi yang Efektif, pemimpin harus menyampaikan visi dan strategi implementasi disertai dengan alasan transformasi secara jelas kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) organisasi. Dalam hal ini, perlu mengunakan berbagai saluran (kanal) komunikasi untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh dan sampai kepada semua pihak tersebut.
Keempat, Pendidikan dan Pelatihan, proses tranformasi kepemimpinan membutuhkan pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dengan melakukan identifikasi keterampilan kepemimpinan baru yang diperlukan. Sehingga perlu disediakan pelatihan dan program pengembangan untuk membangun keterampilan yang sesuai dengan visi kepemimpinan baru.
Kelima, Pemberdayaan Anggota/Kader, secara intensif perlu mendorong partisipasi dan keterlibatan anggota/kader dalam proses transformasi. Salah satu kuncinya adalah dengan melakukan inovasi untuk membangun budaya organisasi yang mendorong keterlibatan dan kolaborasi.
Keenam, Pemilihan dan Pengembangan Pemimpin, dengan berbasiskan data dan merit system, melakukan identifikasi (calon) pemimpin yang memiliki kualitas dan kompetensi yang sesuai dengan visi baru. Dimana perlu diberikan dukungan dan pengembangan khusus kepada calon-calon pemimpin untuk memastikan kesuksesan transformasi.
Ketujuh, Modelkan Perilaku yang Diinginkan, keberhasilan transformasi kepemimpinan juga ditentukan oleh keteladanan, sehingga pemimpin kunci harus menjadi contoh sekaligus raw model, bagi perilaku yang diinginkan. Sehingga, perlu menunjukkan keterbukaan terhadap perubahan dan kemauan untuk terus belajar.
Kedelapan, Implementasi Bertahap, proses transformasi tidak berlangsung secara instan, sebagaimana semudah membuka telapak tangan. Akan tetapi perlu direncanakan dan implementasikan pola transformasi kepemimpinan secara bertahap untuk menghindari resistensi yang berlebihan. Sehingga perlu mempertahankan fleksibilitas untuk menyesuaikan rencana jika diperlukan.
Kesembilan, Sistem Penghargaan dan Pengakuan, secara sunnatullah dan kodrati, manusia sangat senang dengan adanya pengakuan dan penghargaan, oleh karenanya perlu dilakukan penyesuaian sistem penghargaan dengan perilaku yang mendukung transformasi. Dalam hal ini, perlu diberikan pengakuan kepada individu dan tim yang aktif berkontribusi.
Kesepuluh, Evaluasi dan Penyesuaian Berkelanjutan, tidak selalu sebuah proses berjalan mulus sesuai dengan perencanaan, sehingga perlu dilakukan monitor progres melalui pengukuran kinerja dan umpan balik. Oleh karenanya penting untuk melakukan evaluasi berkala dan menyesuaikan strategi transformasi sesuai dengan kebutuhan dan perubahan kontekstual.
Kesebelas, Komitmen pada Kesejahteraan Anggiota/Kader, tujuan dari proses transformasi kepemimpian selain pada tataran nilai juga pada aspek kesejahteraan lahir dan batin. Sehingga perlu diperhatikan aspek kesejahteraan karyawan dalam proses transformasi. Dimana perli disediakan sumber daya dan dukungan untuk membantu anggota dalam mengatasi stres dan ketidakpastian, sekaligus memberikan jaminan atau setidaknya gambaran atas kesejahteraan yang bersumber dari komitmen terhadap kepemimpinan.
Keduabelas, Peningkatan Keterbukaan terhadap Umpan Balik, inklusifitas dalam sebuah organisasi adalah sebuah keniscasyaan. Sehingga perlu mendorong budaya umpan balik yang terbuka dan konstruktif di seluruh elemen dan level organisasi. Oleh karenanya perlu diterapkan perubahan berdasarkan umpan balik yang diterima dari berbagai tingkatan.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, setidaknya organisasi dapat membangun landasan yang kuat untuk sukses dalam menghadapi transformasi kepemimpinan.
Penting untuk memastikan bahwa proses transformasi tidak hanya menciptakan perubahan struktural tetapi juga meresap ke dalam budaya dan nilai-nilai yang membentuk inti organisasi.
Akhirnya secara keseluruhan, transformasi kepemimpinan bukanlah hanya tentang perubahan gaya kepemimpinan semata, melainkan suatu perubahan budaya yang melibatkan seluruh elemen organisasi.
Pemimpin yang mampu memimpin transformasi dengan visi, keterbukaan terhadap perubahan, dan komitmen terhadap kesejahteraan bagi semua pemangku kepentingan akan membawa organisasi menuju keunggulan di era yang terus berubah ini.
Transformasi kepemimpinan bukan lagi sekadar aspirasi, melainkan sebuah keharusan yang tak terelakkan bagi kelangsungan dan pertumbuhan sebuah organisasi di masa depan.[]
*) ASIH SUBAGYO,penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)