Beranda blog Halaman 234

Zakat Cerdaskan Kehidupan Bangsa dan Kiprah Pengembangan Masyarakat Pesisir

0

BELUM lama ini, tepatnya 30 November 2023, Laznas BMH menerima anugerah sebagai “Filantropi Indonesia dengan Pengembangan Masyarakat Pesisir” dalam Anugerah Syariah Republika (ASR) 2023 di Jakarta.

Penghargaan itu tepat 12 jam selepas penulis berkunjung ke masyarakat pesisir yang ada di Desa Suliliran, Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Sebagaimana jamak dipahami, Kabupaten Paser merupakan daerah yang memiliki 205 km garis pantai yang memanjang dan berkelok dari selatan ke utara.

Penulis sendiri memerlukan waktu 7 jam perjalanan dengan mobil dari Kota Balikpapan ke Desa Suliliran. Satu jam perjalanan di antaranya mesti ditempuh dengan menyeberangi teluk Balikpapan dari Pelabuhan Kariangau menuju Pelabuhan Penajam.

Geliat Dakwah

Setiba di Desa Suliliran, penulis langsung bertemu masjid dan sebuah ruangan yang disebut menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an anak-anak dan remaja di desa tersebut.

Menariknya, anak-anak dan remaja itu tidak saja berasal dari daerah masjid yang berada di tepi Sungai Suliliran. Sebagian juga ada yang berasal dari desa seberang.

Jadi mereka datang mengaji setiap hari dengan diantar dan dijemput oleh orang tua, kakek atau tetangga dengan perahu kayu.

Kepada anak-anak itu, penulis bertanya, tidak takut mengaji pakai perahu. Mereka menggelengkan kepala. “Sudah biasa,” kata sebagian yang lain.

Belum lama berlangsung pemandangan itu, jelang adzan Maghrib berkumandang tidak kurang dari 7 warga datang dengan perahu masing-masing.

Mereka hendak mendirikan shalat berjama’ah Maghrib dan Isya. Kata dai BMH, Ustadz Abdul Rahim, masyarakat sekarang mulai konsisten sholat berjamaah lima waktu.

Padahal saat penulis datang ke lokasi itu, suasana gerimis dan bagi penulis, suasana sungai dengan arus yang deras itu sangat tidak bersahabat. Namun, bagi warga setempat, itu pemandangan yang biasa saja.

Dukungan BMH

Ustadz Abdul Rahim yang telah berdakwah di Desa Suliliran sejak 2013 merasa sangat terbantu sejak hadirnya Laznas BMH.

“Saya dahulu berdakwah memang, tapi sendiri. Alhamdulillah ada BMH sejak 2019, dakwah terasa lebih ringan, ada temanlah. Jadi sekarang saya dibantu motor dakwah, perahu dakwah dan dukungan dakwah lainnya. Terasa sekali sangat membantu ini dakwah kami di desa begini,” ungkap pria 44 tahun itu.

Ayah dari enam anak itu pun mengaku dakwah semakin semangat. Sekarang ada tujuh titik lokasi dakwah yang setiap bulan sudah menanti kehadirannya.

Ada majelis taklim, ada pengajian, ada belajar membaca Al-Qur’an dan ada pengajian rutin.

“Sekarang semua saya datangi dengan lebih mudah. Ada motor dari BMH, ada perahu juga dari BMH. Dahulu saja sendiri semangat saya dakwah, apalagi sekarang ada teman, ada BMH,” ungkapnya berseloroh.

Kekuatan Zakat

Kalau kita cermati, zakat dengan gaya kelola Laznas BMH telah memberdayakan masyarakat pedalaman dan pesisir. Zakat jadikan dakwah kian menggeliat.

Melalui zakat dakwah Islam dapat terus eksis dan diperluas cakupannya, bahkan dapat membantu pemerintah menegakkan amanah konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana tidak kala dana zakat diberdayakan untuk dai dalam berdakwah, kemudian warga dan anak-anak yang tak terjangkau teknologi dan SDM unggul secara kognitif itu tetap bisa mengakses tempat belajar membaca dan menulis Al-Qur’an. Itu satu wujud konkret pendidikan yang sangat mendasar bagi warga negara Indonesia, yang semestinya jadi layanan pemerintah atas nama konstitusi kepada warga negara.

Dalam kata yang lain dana zakat telah memudahkan pemerintah menjalankan amanah konstitusi satu sisi. Kemudian sisi lain, zakat juga menyelamatkan anak bangsa dari kegelapan dalam arti kebodohan dan ketertinggalan.

Menariknya, semakin umat Islam yang masuk kategori sebagai orang yang wajib membayar zakat (muzakki) sadar akan perintah penting ini, mereka akan semakin tumbuh menjadi insan produktif, punya etos kerja yang baik, memiliki etika atau akhlak kerja yang bagus, serta mendorong tersedianya sumber dana pembangunan umat. Demikian seperti dituliskan oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin dalam bukunya “Agar Harta Berkah & Bertambah.”

Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa penghargaan dari Anugerah Syariah Republika kepada Laznas BMH sebenarnya adalah sisi pembuktian bahwa umat Islam yang sadar zakat telah mendorong geliat dakwah dan kemajuan pendidikan umat di wilayah pesisir. Penghargaan itu milik umat Islam semua.

Dan, BMH hanya satu dari sekian banyak lembaga amil zakat yang menjadi pilihan umat Islam menunaikan zakat, infak dan sedekah.*

*) Imam Nawawi, penulis Kepala Humas BMH Pusat

Selamat Jalan Ustadz Hanif Al Ma’ruf, Dai Tangguh yang Pantang Mengeluh

Tampak Ustadz Hanif Al Ma’ruf (tanda strip panah) saat turut menggawangi sukses pengibaran bendera Merah Putih di Pantai Lamaru, Balikpapan, Selasa (21/5/2013), yang kemudian menorehkan penghargaan rekor dunia yang dicatat Record Holders Republic.

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah kembali kehilangan salah satu dai terbaiknya yang bernama Ustadz Hanif Al Ma’ruf. Pria berdarah Bengkulu ini meninggal dunia di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sekitar pukul 22:47 WITA pada hari Selasa, 21 Jumadil Awal 1445 (5/12/2023).

Sebelum dipanggil ke kharibaan Ilahi, almarhum diuji dengan sakit menahun karena mengalami patah tulang.

Patah tulang yang dialaminya saat sedang memperbaiki bagian atap salah satu bangunan Yayasan Albayan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar itu hingga menyebabkan dirinya mengalami gangguan saraf. Akibatnya, almarhum hanya bisa beraktifitas dari atas kursi roda.

Beberapa kali dilakukan tindakan medis, terapi, dan berbagai upaya treatment. Sempat ada kemajuan, namun Allah Ta’ala berkehendak lain. Ustadz yang pernah tugas di Cilodong, Depok, itu akhirnya dipanggil ke pangkuan Ilahi.

Ustadz Hanif Al Ma’ruf dikenal sebagai kader dai tangguh yang pantang mengeluh. Itulah yang diakui oleh sahabat sahabanya. Seperti disampaikan oleh anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. H. Akib Junaid Kahar Syuaib.

“Hanif Al Ma’ruf adalah sosok pekerja keras yang pantang mengeluh. Senyum merekah dengan sikap akrab dan senantiasa merendah, ketika bertemu dengan siapa saja, tanpa membedakan status orang yang ditemuinya. Seperti itulah kesan yang tertanam pada siapapun yg mengenalnya,” kata Akib dalam keterangannya yang didapatkan media ini, Rabu, 22 Jumadil Awal 1445 (6/12/2023).

Hanif Al Ma’ruf, disamping sebagai dai ia juga aktif dalam aksi sosial kemanusiaan bersama SAR Hidayatullah. Termasuk mengemban pernah diamanahi berkhidmat untuk kaum muslimin di berbagai tempat dan berbagai tugas tambahan lainnya seperti di Bengkulu, Palu, Poso, Depok, dan terakhir di Makassar.

“Kecintaan saudara seiman dan khususnya keluarga dekat, akhirnya harus ikhlas menerima takdir ketentuan Ilahi, semalam waktu pengabdiannya di dunia telah berakhir, kami semua merasa sangat kehilangan,” imbuh Akib.

Sejak kabar hembusan napasnya yang terakhir tersebar, berbagai grup medsos Hidayatullah ramai memberitakan yang dilengkapi dengan doa doa terbaik termunajatkan agar sang Mujahid diampuni segala khilafnya sebagai manusia biasa, dan diterima serta mendapatkan ganjaran terbaik dari Allah atas amal soleh yngg ditorehkan.

Didampingi Istri

Selama dalam perawatan, almarhum didampingi sang istri, Siti Aminah, yang penuh dedikasi. Sang istri yang menjadi pendampingnya adalah sosok wanita tangguh dan sangat penyayang.

Kesetiaan dan ketekunannya benar-benar teruji, saat suami jatuh sakit dalam rentang waktu yang tidak dapat dikatakan singkat. Terlebih harus pula mengurus sekian anak yang masih sangat butuh perhatian sang ibu tercinta.

“Aminah adalah santri ‘istimewa’ bagi kami yang bertugas di Hidayatullah Palu ketika itu, khususnya saat anak kedua kami dilahirkan, sementara anak pertama masih sangat butuh perhatian,” kata Akib mengisahkan, yang pernah bertugas di Palu bersama almahum.

Akib menceritakan, ketika anak keduanya tersebut lahir, ia mendadak harus ke Balikpapan untuk membesuk sang paman yaitu almarhum Ustadz Abdullah Said yang juga pendiri Hidayatullah.

Kala itu Ustadz Abdullah Said baru kali pertama jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pertamina di tahun 1996, yang sakitnya itu terus berkelanjutan hingga beliau wafat.

Akib mendoakan Hanif Al Ma’ruf terkhusus buat keluarga almarhum (istri dan putra putrinya) diberi kekuatan menjalani salah satu episode kehidupan yg tidak mungkin bisa dielakkan ini.

“Dan semoga Allah mempertemukan mereka kembali dan kita semua, di surga firdaus-Nya. Allahumma Aamiin,” doanya.

Rasa kehilangan yang sangat mendalam juga dirasakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Irwan Harun Nurdiansyah.

Irwan Harun masih terkenang jelas bagaimana kiprah almarhum Hanif Al Ma’ruf yang terlibat secara aktif dalam mempersiapkan pengibaran bendera Merah Putih di Pantai Lamaru, Selasa (21/5/2013), yang kemudian menorehkan penghargaan rekor dunia yang dicatat Record Holders Republic.

Pengibaran bendera Merah Putih dalam tajuk kegiatan “Berkibarlah Benderaku 1.000 M2” yang digagas oleh SAR Hidayatullah ini dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional sekaligus menyambut Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2013.

“Allahummaghfirlahu warhamhu. Selamat jalan pejuang, Bang Hanif saudaraku, sahabat kita semua, engkau purna tugas dengan predikat terbaik sebagai syuhada. Kami bersaksi engkau adalah hamba Allah yang shaleh, lurus tegak dalam prinsip untuk kebenaran. Syurga adalah tempat terbaikmu, Allahumma aamiin,” kata Irwan mendoakan. (ybh/ hidayatullah.or.id)

Gencarkan Dakwah Al Qur’an, Posdai Inisiasi Gerakan “Teman Tilawah”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai ikhtiar dalam rangka menggencarkan dakwah Al Qur’an agar semakin mendekatkan umat pada mukjizat dan kitab suci tersebut, Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) meluncurkan gerakan “Teman Tilawah”.

Mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca dan menyelami kalam-Nya merupakan jalan yang paling dekat untuk menggapai ketenangan batin yang menjadi dambaan setiap insan.

Teman tilawah hadir untuk menemani Anda dan membantu agar dapat membaca kalam Ilahi dengan baik sesuai dengan waktu yang Anda pilih sendiri.

Layanan Posdai bekerjasama dengan Grand MBA ini dapat dimanfaatkan dengan menghubungi nomor telepon 082140035293 melalui platform Default Call, Whatsapp Call, atau bisa juga Whatsapp Video Call.

Ketua Posdai Pusat, Ust. Abdul Muin, mengatakan melalui program “Teman Tilawah”, diharapkan semakin menebarkan nilai-nilai Al Qur’an dan mendekatkannya pada masyarakat sebagai pedoman hidup bagi umat Islam.

“Dalam Al Qur’an terkandung petunjuk-petunjuk untuk menjalani kehidupan yang benar, adil, dan bermartabat. Dengan mendekatkannya pada masyarakat, program Teman Tilawah dapat membantu individu memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” kata Abdul seperti dikutip media ini dari laman Posdai.or.id, Rabu, 22 Jumadil Awal 1445 (06/12/2023).

Al Qur’an yang mengajarkan prinsip-prinsip moral dan etika yang tinggi. Sehingga program “Teman Tilawah” menyebarkan pemahaman tentang ketenangan batin, integritas, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan yang dapat membentuk karakter positif dalam masyarakat.

Terlebih di era informasi saat ini, Al Qur’an mengandung petunjuk untuk mencapai kesejahteraan mental dan emosional.

Karena itu, lanjut Abdul, melalui program Teman Tilawah, masyarakat dapat menyerap ajaran-ajaran tersebut untuk meningkatkan kesehatan mental dan emosional mereka.

Disamping itu, Al Qur’an yang mengajarkan nilai-nilai ibadah dan ketaatan kepada Allah adalahj sarana untuk mengajarkan dan memotivasi masyarakat dalam melaksanakan ibadah, memperkuat hubungan spiritual mereka, dan merasakan manfaat positif dari ketaatan kepada Tuhan.

Lebih jauh, Abdul menyampaikan, diharapkan dari gerakan Teman Tilawah ini semakin menguatkan upaya pemberdayaan masyarakat dari aspek kesehatan mental dan emosional. Sehingga, masyarakat makin berdaya untuk mengambil peran aktif dalam membangun komunitas yang lebih baik.

“Dengan gerakan Teman Tilawah ini diharapkan masyarakat dapat semakin akrab dengan nilai-nilai Al Qur’an, membentuk individu yang berkarakter baik, dan menghasilkan komunitas yang lebih harmonis dan berdaya,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Posdai Dorong Terus Dikuatkan Kiprah Dai Mengabdi di Pedalaman

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Ust. Abdul Muin, mendorong untuk terus dikuatkannya kiprah dai yang mengabdi mencerdaskan kehidupan bangsa di daerah pedalaman yang terpencil, tertinggal, dan rentan.

“Kehadiran pendakwah atau pendidik agama Islam di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, memiliki alasan penting dalam membangun masyarakat yang beragam dan tersebar di berbagai pulau,” kata Abdul Muin.

Menurut Abdul, ada beberapa alasan mengapa kiprah para dai mengabdi perlu terus didukung dan dikuatkan karena perannya sangat penting dalam pembangunan sebagaimana tagline Posdai, “Bersamai Dai Membangun Negeri”.

Pertama, Abdul menyebutkan, dai adalah informal leader yang berperan sebagai pemimpin di masyarakat atau pada komunitas yang mereka bina untuk membimbing dan mendekatkan umat kepada ajaran Islam dengan konteks lokal.

“Pendakwah atau pendidik agama Islam dapat memahami konteks lokal, budaya, dan tradisi yang mungkin berbeda di setiap daerah kepulauan. Hal ini memungkinkan mereka menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat setempat,” jelas Abdul seperti dikutip media ini dari laman Posdai.or.id, Rabu, 22 Jumadil Awal 1445 (06/12/2023).

Kedua, lanjut Abdul, peran penting dai mengabdi adalah mengatasi tantangan akses pendidikan. Dia menjelaskan, daerah pedalaman dan terpencil seringkali menghadapi tantangan akses terhadap pendidikan.

Karena itu, menurut Abdul, kehadiran dai sebagai pendidik agama Islam dapat membantu meningkatkan akses pendidikan, khususnya pendidikan agama, sehingga masyarakat di daerah tersebut dapat memperoleh pemahaman agama yang lebih baik.

Ketiga, dai pedalaman memiliki peran penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Melalui pendekatan ini, dai pedalaman dapat memainkan peran dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di daerah pedalaman.

“Para dai ini dapat memberikan pemahaman agama yang mendukung prinsip-prinsip keadilan sosial, keberdayaan ekonomi, dan ketahanan masyarakat,” kata Abdul.

Keempat, dai pedalaman berperan dalam pembangunan karakter dan etika. Disadari bahwa pendidikan agama Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek ritual, tetapi juga melibatkan pembangunan karakter dan etika.

Oleh sebab itu, jelas Abdul, dai yang mengabdi di daerah pedalaman dapat membantu membentuk karakter positif dalam masyarakat, mempromosikan nilai-nilai moral, dan mendukung pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Kelima, lanjut Abdul, dai yang mengabdi di pedalaman juga turut melakukan pencegahan sikap ekstremisme atau sikap beragama yang berlebih lebihan yang tak diajarkan dalam Islam.

“Karena itu, kehadiran dai yang membawa nilai nilai wasathiyah sebagaimana jatidiri Hidayatullah dengan pemahaman agama yang benar berperan dalam mempromosikan pemahaman Islam yang luhur,” imbuhnya.

Keenam, dai mengabdi memiliki peran utama dalam pengentasan kemiskinan dan pelayanan sosial. Dalam hal ini dai sebagai pendidik agama Islam membantu dalam upaya pengentasan kemiskinan dengan memberikan pelayanan sosial, seperti bantuan keuangan, pendidikan, dan kesehatan terutama kepada masyarakat muallaf yang membutuhkan di daerah pedalaman.

Yang tak kalah penting, menurut Abdul, adalah peran dai pedalaman dalam membangun solidaritas dan toleransi antarumat beragama.

Abdul mengatakan, dengan memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam, dai sebagai penyuluh ajaran agama Islam berkontribusi pada membangun solidaritas dan toleransi antarumat beragama di daerah pedalaman.

Hal tersebut menurut Abdul sangat penting mengingat Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama yang tinggi.

“Kiprah dai di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia dapat membantu membangun masyarakat yang lebih berdaya, adil, dan harmonis, serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat,” imbuhnya.

Mendukung Dai Pedalaman

Lebih jauh Abdul mengemukakan beberapa hal yang perlu ditopang dalam menjalankan dakwah Islam di pedalaman Indonesia sebagai negara kepulauan.

Menurutnya, beberapa aspek dan inisiatif dai pedalaman perlu didukung untuk memastikan keberhasilan dakwah yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif pada masyarakat.

Diantaranya, kata dia, adalah menopang gerakan para dai dalam menjalankan inisiatif pendidikan inklusif yang memahami konteks lokal dan memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya setempat yang mencakup aspek-aspek kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman dan terpencil.

Dalam kiprahnya, ketersediaan sumber daya dai amat penting. Karena itu, menurut Abdul, perlunya untuk terus mendukung pelatihan pendakwah lokal agar dapat memahami kebutuhan dan tantangan masyarakat setempat baik itu mencakup pemahaman terhadap budaya lokal, bahasa, dan konteks sosial ekonomi.

Seiring dengan itu, Abdul menilai aspek pemberdayaan ekonomi sejatinya juga menjadi perhatian para dai di pedalaman.

Upaya pemajuan ekonomi ini sebagai ikhtiar mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat pedalaman, termasuk pelatihan keterampilan dan dukungan keuangan, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam Islam.

“Hal ini misalnya sudah dijalankan Posdai di Kampung Koya Barat, Distrik Muaratami, Kota Jayapura. Bersinergi dengan YBM BRILiaN dijalankan program dukungan ekonomi produktif bagi para dai dan masyarakat berupa peternakan kambing,” kata Abdul.

Abdul menjelaskan, sinergi yang terjalin tersebut merupakan upaya dai mengabdi dalam meneguhkan kemitraan dengan pemerintah dan lembaga sosial untuk mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat di daerah pedalaman yang melibatkan program-program kerja sama untuk pemberdayaan ekonomi dai dan masyarakat, kesehatan, dan pendidikan.

Abdul melihat, dai juga perlu didukung dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk menyerap sumber sumber inspirasi dan menyampaikan pesan dakwah secara efektif di daerah pedalaman dengan penggunaan media sosial, aplikasi seluler, atau platform daring lainnya.

Karena itu, Abdul menilai, peningkatkan infrastruktur komunikasi di daerah pedalaman akan memudahkan akses informasi dan komunikasi dengan penduduk setempat. Ini dapat mencakup penyediaan akses internet dan teknologi komunikasi lainnya.

Demikian pula untuk daerah daerah tertentu seperti pembinaan masyarakat miskin dan muallaf di titik titik rentan dan jauh.

Di daerah seperti ini, lanjut Abdul, masyarakatnya relatif belum mengenal tata cara membersihkan diri atau bersuci (thaharah) dan juga tak cakap memahami pentingnya kesehatan lingkungan.

Karena itu, dai pedalaman perlu didukung dalam melakukan pencerahan keagamaan terutama pada aspek penyuluhan kesehatan.

Peran dai mengabdi tersebut perlu didukung dalam menyediakan penyuluhan kesehatan yang disertai dengan nilai-nilai Islam, termasuk pemahaman tentang kebersihan, nutrisi, dan perawatan kesehatan lainnya.

“Harapannya, dengan dukungan kita kepada para dai mengabdi, dakwah Islam di daerah pedalaman Indonesia dapat menjadi lebih relevan, berdaya tahan, dan memberikan kontribusi positif pada pembangunan masyarakat yang berperadaban Islam dan berkelanjutan,” tandas Abdul. (ybh/hidayatullah.or.id)

Berorganisasi yang Membahagiakan

0

BERORGANISASI itu sejatinya bukan hanya sekedar sarana untuk berkumpul, kemudian menjalankan rutinitas mekanis yang cenderung membosankan.

Bukan pula, hanya sebatas untuk mengisi waktu luang semata, tanpa visi, tujuan dan target yang jelas. Sehingga tak ubahnya seperti robot yang bergerak dan dikendalikan oleh serangkaian peraturan dalam organisasi, yang pada akhirnya hanya sebatas menjalankan SOP (Standar Operation Procedure) semata. Sekali lagi, bukan itu.

Padahal, kehidupan tanpa kerja sama dan keterlibatan dalam suatu organisasi ibarat sebuah kapal yang terdampar di tengah lautan tanpa layar.

Berorganisasi bukanlah sekadar kewajiban atau rutinitas, melainkan sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan, sehingga bisa membawa dalam suasana yang membuat tidak nyaman, jika salah menjadi bagian dari organisasi.

Tetapi, di sisi lain, akan membahagiakan, serta mengukir dan menorehkan sejarah tak terlupakan, bahkan membuka pintu menuju kebahagiaan yang sejati.

Oleh karenanya, berada dalam sebuah organisasi, entah itu di lingkungan sosial, kemasyarakatan, atau profesional, sesungguhnya memberikan peluang yang seluas luasnya untuk berinteraksi dengan beragam individu yang membentuk mozaik warna dalam kehidupan kita.

Kita menjadi bagian dari satu narasi yang lebih besar, menjalin hubungan dengan berbagai komponen yang melampaui batas-batas kemampuan dan bahkan dengan apa yang kita bayangkan sehari-hari.

Karena sejatinya, dalam berorganisasi itulah lahir kolaborasi dan sinergi yang dahsyat, dimana muaranya bukan sekedar mengikuti deret hitung, melainkan dalam sekala deret ukur.

Dengan demikian, maka, kebahagiaan dalam berorganisasi juga melekat pada kesempatan untuk terus belajar, sehingga membuka peluang untuk terus tumbuh dan berkembang.

Setiap program dan proyek, setiap tanggung jawab yang diemban, adalah peluang untuk mengasah keterampilan, mengeksplorasi potensi tersembunyi, dan menemukan ruang bagi kreativitas untuk mekar. Bahkan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari menguji idealisme dan komitmen.

Seiring perjalanan, kita tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian yang kuat. Sehingga menjadi bagian dari mereka yang membuat sejarah, dengan sejumlah legacy yang dihasilkan.

Namun, kebahagiaan sejati dalam berorganisasi tak hanya dirasakan oleh diri sendiri. Memberikan kontribusi bagi orang lain, mendukung tujuan bersama, dan merayakan kesuksesan bersama merupakan bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan ini.

Melihat dampak positif yang dihasilkan dari kerja keras dan kolaborasi tim adalah sebuah pencapaian yang memberikan kepuasan yang luar biasa.

Apalagi jika kemudian jejak-jejak yang ditinggalkan memberikan sumbangsih bagi dinamika kehidupan umat manusia sebagai bagian dari menyemai dan menegakkan peradaban.

Sehingga, tidak terelakkan, disamping aspek yang membahagiakan tersebut, pada saat yang bersamaan juga berhadapan dengan tantangan dan rintangan yang akan selalu mewarnai perjalanan berorganisasi.

Akan tetapi, ketika kita mampu menghadapinya bersama, saat itulah kebahagiaan sejati tumbuh kembali. Sebab tantangan dan rintangan bukan sebuah hambatan untuk meraih kebahagiaan dalam berorganisasi, melainkan merupakan peluang dan kesempatan yang menantang untuk direalisasikan.

Adalah melalui proses bersama ini kita sekali lagi dapat belajar, tumbuh, dan menjadi lebih kuat. Sebuah kesatuan yang kokoh, seperti batang pohon yang mampu bertahan melawan badai.

Di sisi lain, kemampuan untuk menjalankan regulasi organisasi yang sudah ditetapkan dan menjadi kesepakatan bersama dalam berorganisasi, juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berorganisasi.

Kekuatan melakukan inovasi serta kreatifitas, yang dikombinasikan dengan resources yang dimiliki organisasi dalam berbagai tingkatan, untuk menghasilkan karya-karya besar, sesuai dengan sekalanya, serta tahapan yang ditetapkan, sehingga darinya menghasilkan reward yang sepadan, adalah sisi lain bahwa berorganisasi itu memang membahagiakan.

Sebagai manusia, kita diciptakan untuk berhubungan dengan sesama. Dalam berorganisasi, kita menemukan panggilan untuk saling mendukung, saling menguatkan, saling menghargai, saling mengingatkan, dan bersama-sama dalam mengarungi lautan kehidupan melalui organisasi. Oleh karena itu, mari terus bersatu, bergerak, dan berorganisasi, karena di sanalah letak kebahagiaan yang sejati.

Akhirnya, untuk mencapai level berorganisasi yang membahagiakan, jika dalam struktur di atas jangan pernah menekan tanpa ukuran yang jelas, dan ketika berada di struktur yang lebih bawah jangan pernah merasa tertekan, atau berat dalam menjalankan aktifitas di level dan struktur apapun ketika menjadi bagian di sebuah organisasi.

Kuncinya adalah nawaitu yang benar, kemudian menyamakan visi dalam berorganisasi. In Syaa Allah berorganisasi akan menyenangkan dan membahagiakan. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

PT Mitra Harmoni Insurance Broker Serahkan Donasi untuk Palestina Melalui BMH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — PT Mitra Harmoni Insurance Broker (MHIB) terbilang sangat serius dalam usaha mencari mitra yang dapat jadi kepercayaan dalam menyalurkan donasi untuk warga Palestina.

“Dahulu kami punya mitra yang tidak jauh dari tempat kami. Namun belakangan sudah off. Akhirnya kami mencari mitra yang tepat dan ketemulah BMH,” ungkap perwakilan PT MHIB, Fiki, Jum’at, 17 Jumadil Awal 1445 (1/12/2023).

Perwakilan PT MHIB pun datang langsung ke Kantor BMH Pusat di Kalibata Office Park, Jakarta Selatan.

“Terimakasih kepada PT MHIB, usaha yang luar biasa,” ungkap amil BMH di Jakarta, M. Amin.

Ia berharap dan mendoakan semoga PT MHIB yang juga telah menjadi anggota Asosiasi Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonsia (APPARINDO) ini terus eksis dan membawa dampak perubahan kepada kebaikan bangsa dan dunia, terutama dalam hal membantu saudara kita di Palestina.*/Herim

Selamat Jalan, Wahai Kawan kawanku!

SETELAH epicentrum gerakan spiritual dan moral, berikutnya adalah menjadikan kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia sebagai epicentrum gerakan keilmuan.

Karena itu, di kampus pusat Ummul Qura ini mulai kita kembangkan perpustakaan dengan biaya yang tidak sedikit, sekira 800 juta dialokasikan untuk membangun perpustakaan.

Harapan kita ke depan, para santri dapat mengembangkan wawasan dan keilmuan sehingga menguasai berbagai disiplin ilmu dan dapat berdialog dalam bidang apa saja.

Target ini in sya Allah bisa dicapai oleh generasi supra-struktur di lembaga ini. Sebab, jika ingin memimpin dunia maka harus bisa berdialog dalam berbagai aspek; politik, ekonomi, budaya dan lainnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengangkat kita untuk mengemban amanah ini, bukan siapa-siapa, mungkin bayangan ini terlihat sederhana, Ust. Abdullah Said rahimahullah mengatakan, mungkin orang menganggap ini hanya mimpi, dalam kesempatan lain beliau mengatakan, klise ini sudah mau dicetak agar bayang-bayang itu menjadi dhohir atau menjadi kenyataan.

Ini tantangan untuk para kader, siapa yang siap untuk mencetak kader seperti ini, kader yang mampu menangkap irfan, bayanah, burhan, dan furqon-nya wahyu, inilah santri atau kader yang ditunggu-tunggu zaman.

Gerakan Infrastruktur

Selain membangun epicentrum supra-struktur kita juga perlu membangun epicentrum infra-struktur. Ada perkembangan dan kemajuan pada fasilitas berupa bangunan dan lainnya, jangan sampai ada bangunan yang sudah mau roboh tidak diperbaiki.

Kader harus berpikir maju, sehingga terasa ada perkembangan, ada kesejukan dan keramahan di tempat itu.

Membentuk Tim Tawajjuh

Pernah ada wacana dalam diskusi saya dengan Ust. Mannan, Ust. Abdul Rahman, Ust. Aziz Qahhar, Ust. Hamim Thohari, untuk membentuk tim tawajjuh di Masjidil Haram dan disepakati Ust. Mannan yang dikirim untuk duduk di sana sebagai tim tawajjuh difasilitasi Ust. Dzikrullah tetapi qadarullah, beliau lebih dulu wafat.

Wacana ini mengemukan karena kita harus selalu menyiapkan diri untuk mengaplikasikan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎وَا ذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا

“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 8)

Ayat yang kita maknai sebagai perintah untuk melakukan kontemplasi atau bergua hira’, untuk membuka wawasan kepemimpinan global.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎رَبُّ الْمَشْرِقِ وَا لْمَغْرِبِ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَا تَّخِذْهُ وَكِيْلً

“(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 9)

Sebuah wawasan kepemimpinan global yang meliputi timur dan barat di atas landasan tauhid “Laa ilaha illallah.”

Intinya, profil Hidayatullah ke depan adalah sebagai epicentrum identitas gerakan spiritual, moral dan keilmuan. Karena itu mari kita berlomba mengaplikasikan apa yang Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan di dalam al Qur’an;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi” (QS. Fatir 35: Ayat 29)

Dengan membaca al Qur’an, shalat, dan berinfaq maka kita tidak akan pernah merugi. Inilah kunci kebahagiaan dan pencerahan, termasuk di antaranya mengerjakan amalan sunnah seperti sholat dhuha.

Karena, berdasarkan pengalaman, saya sering mendapat banyak inspirasi dan harapan (munajat) ketika shalat lail, ternyata semuanya harus diverifikasi dalam sholat dhuha.

Mengambil Peran

Kalau Ust. Abdurrahman dari Surabaya kemarin mengatakan, kita jangan menjadi beban, jangan menjadi bagian dari masalah, maka saya perlu tambahkan, kita harus mengangkat beban, harus mengambil bagian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎اِنْفِرُوْا خِفَا فًا وَّثِقَا لًا وَّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 41)

Ketaatan dalam mengambil peran dalam perjuangan merupakan indikator bahwa kita memiliki iman.

Dengan tekad ini maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan mencerahkan kita sebagaimana disebutkan di dalam surah Al Insyirah ayat 1-8.

Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengangkat sebutan, derajat dan izzah (kemuliaan) siapa yang mau memikul beban perjuangan, baik skala pribadi dan keluarga maupun skala jamaah.

Semakin banyak beban yang dipikul maka semakin tinggi izzah atau kemuliaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan, di antaranya diberikan wawasan dan sikap mental “Rahmatan lil ‘alamin kaffatalinnas” (menjadi rahmat bagi seluruh alam dan manusia secara keseluruhan).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَا مُوْا عَلَى الطَّرِ يْقَةِ لَاَ سْقَيْنٰهُمْ مَّآءً غَدَقًا

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (air minum yang banyak, rezeki dan berbagai kenikmatan).” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 16)

Masya Allah, ternyata berjihad itu adalah puncak keimanan; iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, iman kepada Rasul-Nya, dan beriman untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Selamat Jalan, Kawan-kawan!

Alhamdulillah sudah empat hari kita menjalani Silatnas, selamat jalan para kader Hidayatullah, kita datang bersilaturrahim di sini in sya Allah keberadaan kita di sini Allah Subhanahu wa ta’ala akan balas paling tidak sepuluh kali lipat, tetapi saya yakin Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan lebih dari sepuluh hal kepada kita semua.

Sehingga jalan perjuangan menuju “Asyaratul kiram” dan termasuk jalan perjuangan menuju pembebasan Palestina yang saat ini sedang berjihad menghadapi kaum zionis semakin terbuka, karena tidak ada yang lebih baik hari ini kecuali berniat untuk menjadi bagian dari pembebasan Palestina. Silatnas ini diadakan untuk mempersiapkan generasi yang siap untuk “Li ‘ilaa’i kalimatullah hiyal ‘ulya.”

Itu yang dapat saya sampaikan, selamat jalan wahai kawan-kawanku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bersabarlah dalam perjalanan jihad ini. Allahu Akbar!

*) Taujih Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad pada penutupan Silatnas Hidayatullah 2023 di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad, 12 Jumadil Awal 1445 (26/11/2023). Disarikan oleh Mujahid Mansur Salbu.

Bila Nama Allah Ta’ala Disebut, Bagaimana Reaksi Hati Kita?

0

PERASAAN yang dipendam di dalam hati atau hasrat yang disimpan di dalam pikiran seringkali tampil keluar dengan rupa yang bermacam-macam.

Misalnya, penggemar durian bisa langsung ‘ngiler’ begitu mendengar nama buah kesukaannya disebut-sebut, tetapi pembenci durian justru bisa langsung muntah hanya dengan mencium aromanya.

Gemar dan benci adalah perasaan yang tidak berwujud, tetapi manifestasinya sangat mudah dibedakan.

Demikian pula iman dan keyakinan, atau kekafiran dan pengingkaran. Semua ini adalah hakikat-hakikat abstrak di dalam jiwa manusia, tidak berwujud benda yang bisa dipegang dan diindra.

Akan tetapi, jika iman benar-benar eksis di dalam jiwa seseorang, maka tanda dan alamatnya bisa diketahui. Sama halnya dengan kekafiran.

Oleh karenanya, ada sangat banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang merinci tanda-tanda keimanan maupun kekafiran, agar kita – sebagai mukmin – mengerti dan orang lain pun bisa mengetahuinya. Mari kita kaji sebagian darinya.

Diantara firman Allah yang menceritakan ciri-ciri keimanan adalah ayat-ayat yang dimulai dengan kata-kata “innamal mu’minun”, artinya: “sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah….”

Ayat seperti ini hanya ada empat dalam Al-Qur’an, dan satu diantaranya – yang akan kita bahas sekarang – terdapat dalam surah al-Anfal: 2. Tiga tempat yang lain adalah surah an-Nur: 62, lalu al-Hujurat: 10 dan 15.

Allah berfirman dalam surah al-Anfal: 2, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini sifat seorang mukmin sejati, yaitu seseorang yang hatinya bergetar bila nama Allah disebut (maksudnya: merasa takut), sehingga ia pun melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.”

Oleh karenanya pula, dalam Tafsir al-Baghawi dinukil pernyataan Umair bin Habib (seorang Sahabat), yang terkait ayat ini. Beliau berkata, “Iman itu bisa bertambah dan berkurang.”

Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang bisa menambahnya?” Beliau menjawab, “Bila kita mengingat Allah dan memuji-Nya, maka itulah pertambahannya; dan bila kita lupa dan lalai terhadap Allah maka itulah pengurangannya.”

Memang benar, jika kita senantiasa mengingat Allah, maka kita akan terdorong untuk melaksanakan syariat-Nya dan menjauhi kemaksiatan. Akan tetapi, bila kita lalai dan teledor terhadap Allah, pasti banyak maksiat yang terlanggar dan amal shalih yang terlantar.

Sebaliknya adalah kondisi orang-orang kafir ketika mendengar nama Allah. Mereka langsung jengkel dan mendongkol.

Allah berfirman dalam surah az-Zumar: 45, “Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”

Karena kebencian telah membanjiri bahkan menenggelamkan hati mereka, maka sekedar mendengar nama Allah pun sudah muak dan jijik. Seperti orang yang membenci buah durian, pasti tidak nyaman bila diajak membicarakannya, apalagi mendekat dan mencicipi.

Hatinya berpaling, pikirannya mengkerut, bibirnya maju lima senti, dan mungkin sebentar lagi akan muntah atau kabur menyelamatkan diri.

Bila kedua ayat di atas ditarik ke realitas kontemporer, kita akan menyaksikan hal-hal yang mengejutkan. Betapa banyak orang yang berteriak histeris begitu melihat artis pujaannya dalam sebuah konser.

Sebagian mereka bahkan menangis terharu, melonjak-lonjak kegirangan, atau bereaksi melebihi kewajaran dan norma kesopanan. Saat itu, hatinya telah terbenam dalam “kebahagiaan” dan kepuasaan, hanya dengan melihat sang idola hadir di depannya.

Akan tetapi, apakah nama Allah Ta’ala dan kehadiran tanda-tanda kekuasaan-Nya di segala penjuru jagad raya juga mereka sikapi sehebat itu? Mungkin, bukan kita yang harus menjawabnya.

Tanda lain seorang mukmin adalah semakin bertambah keimanannya bila mendengar bacaan ayat-ayat Allah. Telinganya sejuk, jiwanya terasa lapang, dan seluruh tubuhnya khusyu’ penuh takzim kepada firman Tuhannya. Setiap ayatnya akan menginspirasi, dan seluruh nasihatnya menjadi panduan kehidupan.

Sebaliknya, orang-orang kafir akan merasa terhina bila ayat-ayat Allah diperdengarkan. Telinganya panas, dadanya sesak, dan tidak lama kemudian marah besar bahkan melakukan tindakan-tindakan gila.

Al-Qur’an menggambarkannya dalam surah Yunus: 15: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia…!”

Akan tetapi, di zaman ini banyak orang yang sikapnya sangat ganjil. Mereka tidak marah bila mendengar bacaan ayat-ayat Allah, tetapi anehnya juga tidak bereaksi sedikit pun. Kalam Allah tidak menimbulkan efek apa-apa di hatinya, hanya berdesir di telinga lalu lenyap terbawa angin.

Sepertinya, tepatlah apa yang disindir oleh Allah dalam firman-Nya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Sebaliknya, bila nyanyian dan musik didendangkan maka seketika itu pula matanya berbinar, jantungnya berdegup penuh semangat, dan hatinya terhanyut dalam iramanya.

Tidak ketinggalan kakinya bergoyang dan kepalanya pun mengangguk-angguk penuh kenikmatan. Tampaknya, Al-Qur’an telah mendapat saingan, bahkan pengganti. Astaghfirullah!

Pertanyaannya sekarang: bagaimana reaksi hati kita ketika nama Allah disebut dan ayat-ayat-Nya dibacakan? Termasuk kelompok manakah kita? Apakah hati kita menjadi tergetar dan semakin bersemangat beramal shalih?

Atau, jangan jangan justru menjadi jengkel dan semakin terbenam dalam kemaksiatan? Atau, diam membatu dan tidak bereaksi apa-apa? Kita harus memeriksanya sendiri-sendiri. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis pengasuh YPI Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur

Laznas BMH Bangun MCK dan Sanitasi Pesantren Rahmatul Ulum di Pulau Sabuntan

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali kuatkan peran dan kiprahnya mengembangkan kehidupan masyarakat pesisir.

Terbaru, Laznas BMH membangun MCK dan sanitasi untuk kehidupan santri di Pesantren Rahmatul Ulum di Pulau Sabuntan, Sumenep, Jawa Timur.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, menyebutkan sekalipun telah berdiri sejak 2015, pesantren ini belum memiliki sarana MCK dan sanitasi yang memadai.

“Jadi selama ini mereka mandi dalam kamar mandi yang terbuat dari sekatan terpal plastik saja. Posisinya juga di ruang terbuka. Sementara untuk kebutuhan MCK, mereka harus menyusuri hutan bakau di tepian pantai,” terang Imam Muslim dalam keterangannya kepada media ini, Ahad, 19 Jumadil Awal 1445 (3/12/2023).

Namun, kini 102 santri di pesantren tersebut tidak lagi harus seperti dahulu. Bantuan BMH berupa pembangunan MCK dan sanitasi menjadi solusi atas permasalahan yang selama ini mereka alami.

“Terimakasih kepada BMH yang telah memberikan bantuan yang sangat kami butuhkan untuk kesehatan dan kelangsungan pendidikan adik-adik santri di sini,” ungkap pengasuh pesantren, Ustadz Sumardi.

Sebagai informasi, Pulau Sabuntan berada cukup jauh dari Kota Sumenep. Tim BMH harus menyeberangi lautan dengan kapal selama 23 jam.

Mayoritas penduduk di Pulau Sabuntan bekerja sebagai nelayan dengan rata-rata ekonomi menengah ke bawah.*/Herim

Ketua Panitia: Terima Kasih Semua Pihak Pendukung Silatnas Hidayatullah 2023

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Panitia Silatnas Hidayatullah 2023 menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut mendukung suksesnya Silatnas Hidayatullah kali ini.

Di antaranya, panitia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah RI, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Balikpapam, Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Komando Daerah Militer VI/Mulawarman, seluruh insur Forkopimda Kaltim dan kota Balikpapan, dan semua pihak yang telah turut mensukseskan Silantas Hidayatullah.

“Juga terima kasih kepada Kalla Group dalam dukungan armada untuk mobilisasi peserta dari dan ke pelabuhan menuju arena Silatnas,” ujar Ketua Panitia Silatnas, Dr Arfan, pada Penutupan Silatnas di Masjid Ar-Riyadh Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad, 12 Jumadil Awal 1445 (26/11/2203).

Pada acara yang dihadiri Wakil Presiden ke-12 Jusuf Kalla (JK) itu, Arfan melaporkan, kegiatan ekonomi bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) selama rangkaian pelaksanaan Silaturrahim Nasional (Silatnas) turut bergeliat.

Ia juga melaporkan, Silatnas Hidayatullah 2023 diikuti lebih dari 20.000 orang peserta dengan peserta terbanyak dari Sulawesi Selatan berjumlah 1.200 orang.

Sementara peserta dengan lonjakan terbanyak dari 5 tahun lalu adalah DPW Hidayatullah Maluku Utara.

Panitia juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta silatnas yang datang dari berbagai daerah.

Arfan melaporkan, selama rangkaian silatnas itu, serapan untuk konsumsi yang berputar sebesar Rp 5.212.130.000.

Menutup sambutannya, ia menyampaikan harapan berkenaan rencana tindak lanjut dari pertemuan nasional itu yaitu agenda skala internasional.

Yakni rencana diadakannya International Islamic Scout Jambore Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatulah bersama dengan Sako Ma’arif NU, Sako Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SIT), dan Sako Pendidikan Al Azhar, yang sedang dikomunikasikan dengan Wakil Ketua Kwarnas/Ketua Komisi Kerjasama Dalam dan Luar Negeri Kak Ahmad Rusdi.

Silatnas Hidayatullah 2023 mengusung tema “50 Tahun Bersama Umat Membangun NKRI yang Beradab”. Digelar selama 4 hari (23-26/11/2023) di Gunung Tembak.*/