SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, menyerukan persatuan warga dunia dalam rangka membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel.
“Dalam menghadapi situasi global saat ini, khususnya terkait tragedi kemanusiaan di Palestina. Hidayatullah menyerukan kepada warga dunia yang memiliki hati nurani, untuk bersatu menghentikan penjajahan Zionis Israel, serta mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina demi mendapatkan kembali hak-hak mereka,” kata Nashirul.
Demikian seruan tersebut disampaikan pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Tengah di Gedung Balai Besar Pengembangan Mutu Pendidikan (BBPMP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 28 Jumadil Awal 1445 (13/12/2023).
Pada kesempatan tersebut, Nashirul kembali menegaskan dengan menyerukan umat Islam untuk mendukung sepenuhnya pembebasan Masjid al Aqsa, Kota Baitul Maqdis, dan Tanah Palestina yang dirampas.
“Dukungan kita dalam bentuk doa, donasi harta, aksi bela Palestina dan upaya diplomasi. Pembelaan dan perjuangan kita tanpa batas, tanpa tapi dan tanpa henti hingga Palestina Merdeka. Allahu Akbar,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan seru bertajuk literasi dan inkubasi zakat digelar di Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada Rabu-Kamis, 29 Jumadil Awal – 1 Jumadil Akhir 1445/ (13-14/12/2023).
Auditorium Ternate ASEEC Tower Unair tersebut menjadi saksi bagi kegiatan bermakna, “Zakat Goes to Campus 2023”. Program ini hadirkan energi penuh inspirasi dan kolaborasi, dengan nuansa positif di lingkungan kampus.
Profesor Dr. Tika Widiastuti, SE., M, Si., seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi Syariah, memberikan testimoni yang memperkaya acara.
Prof. Tika juga mengunjungi stand Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang berada di lokasi.
Guru besar murah senyum itu mengatakan, “Saya tertarik dengan program dari BMH, yaitu sumur bor. Insyaallah, saya juga ingin berpartisipasi dalam program sumur bor.”
Jalannya kegiatan terdiri dari dua hari penuh semangat. Hari pertama mengusung tema “Peran Zakat dalam Mencapai SDG’s di Jawa Timur”, menciptakan ruang diskusi yang mendalam.
Sedangkan, pada hari kedua, acara bertajuk “Preparing Your Stepping Stone” mengajak semua peserta untuk bersiap dalam perjalanan menuju kesejahteraan.
BMH turut serta dalam kegiatan tersebut dengan mengenalkan produk UMKM dari mitra kebaikan yaitu Sakinah Mart.
Keberadaan BMH tidak hanya menjadi bagian dari acara tetapi juga menyumbangkan nuansa kebersamaan dalam upaya bersama membangun kesejahteraan.
“Dengan semangat kolaborasi dan antusiasme yang tinggi, “Zakat Goes to Campus 2023″ bukan hanya sebuah kegiatan, melainkan momentum berharga yang memperkuat kontribusi positif dalam mencapai tujuan bersama,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim.
Imam Muslim menambahkan Laznas BMH sangat bersyukur momentum ini bisa dilaksanakan dengan baik.*/Herim
SEMARANG (Hidayatullah.or.id) –– Pada helatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) ditekankan pentingnya penguatan gerakan mainstream Hidayatullah yakni dakwah dan tarbiyah.
Penekanan tersebut disampaikan Ketua Bidang (Kabid) Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, mewakili Ketua Umum untuk mengawal acara dan memberikan arahan-arahan kepada seluruh peserta Rakerwil ini.
“Galakkan rekruitmen anggota, dakwah, dan pembinaan kader, tarbiyah, sebagai mainstream gerakan dengan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya insani di tingkat Wilayah dan Daerah,” kata Wahyu saat membuka acara di Gedung Balai Besar Pengembangan Mutu Pendidikan (BBPMP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 28 Jumadil Awal 1445 (13/12/2023).
Ia juga menekankan agar dilakukan tindaklanjut pembinaan lulusan SLTA di Lembaga Pendidkan Hidayatullah yang sedang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi non-Hidayatullah di berbagai kota dan daerah.
Disamping itu, perlu kelengkapan database anggota dan kader melalui SISTAHID untuk perencanaan sumberdaya insani (SDI) di struktural dan non-struktural yang kompeten, profetik dan profesional di berbagai bidang.
Berikutnya, Wahyu menyampaikan agar dilakukan tindaklanjut penetapan amal usaha wilayah dan daerah dengan penunjukan Badan Pembina untuk amal usaha wilayah dan daerah. Serta melanjutkan program legalisasi asset atas nama Badan Hukum Perkumpulan Hidayatullah.
“Mengoptimalkan potensi aset dan memanfaatkan tanah milik organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing serta mengimplementasikan nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha, dan badan usaha,” lanjutnya.
Wahyu juga menyampaikan terkait dengan pelaksanaan komitmen konstribusi kepada organisasi dan amal usaha sesuai Peraturan Keuangan, termasuk DPW/DPD/amal usaha yang belum memenuhi komitmen konstribusi atas gedung dakwah dan Silatnas/masjid Ar Riyadh.
Selanjutnya, ia juga menyegarkan kembali amanah Silatnas 2023 di Balikpapan berupa Pakta Integritas yang telah diikrarkan bersama, yaitu menjadikan rumah tangga sebagai rumah al Qur’an untuk anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
“Menjadikan silaturrahim sebagai gerakan dakwah dan rekruitmen jamaah dalam kerangka besar membangun peradaban. Menjadikan halaqah sebagai model pengembangan komunitas Masyarakat Madani yang mandiri, berkeadaban, dan unggul,” katanya.
Pakta Integritas juga mendorong dan menfasilitasi generasi muda, khususnya mahasiswa, professional, dan cendekiawan untuk berperan dan mengambil bagian dalam pergerakan Hidayatullah.
Amanah Silatnas berupa Pakta Integritas menekankan bagi segenap keluarga Hidayatullah untuk menjalankan semua peraturan Hidayatullah, baik visi dan misi, Pedoman Dasar Organisasi, kebijakan Pemimpin Umum dan organisasi, serta Grand Design Hidayatullah.
“Komitmen tersebut merupakan janji setia kepada kepemimpinan organisasi yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari perjuangan Islam,” tandasnya.
Rakerwil Pertama
Dalam agenda ini dibahas evaluasi program kerja selama setahun ke belakang dan rencana program kerja untuk satu tahun ke depan.
Hidayatullah Jawa Tengah menjadi wilayah yang pertama kali menyelenggarakan Rakerwil di antara 38 provinsi se-Indonesia. Belum genap satu bulan sejak diselenggarakannya Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Hidayatullah di Balikpapan (20/12/2023).
Rakerwil Hidayatullah Jawa Tengah dilaksanakan di Gedung BBPMP (Balai Besar Pengembangan Mutu Pendidikan) Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang, pada tanggal 12-13 Desember 2023.
Hadir dalam agenda ini seluruh unsur organisasi; mulai dari DMW (Dewan Murabbi Wilayah), DPW (Dewan Pengurus WIlayah), Orpen (Organisasi Pendukung) tingkat wilayah, hingga Amal usaha & Badan usaha tingkat wilayah yang dihadiri perwakilan tidak kurang dari 70 peserta.*/Eviq Erwiandy
GAMBAR: Kompleks sebagian dari kawasan Al-Aqsa (Foto: REUTERS/Ammar Awad)
SEORANG mukmin tentu akan berjuang, menjadikan hatinya senantiasa terkoneksi dengan apa yang menjadi petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Salah satunya perihal masjid, ya, Masjidil Aqsha di Palestina.
“Jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi),” (HR Bukhari).
Hadits itu tampaknya menjadi energi yang benar-benar menjadikan pikiran, kebugaran, dan semangat Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad, terus menjadi prima.
“Bahwa pusat spiritual yaitu Al-Aqsha dan kita sekarang. Saya sampaikan bahwa tidak ada infak dan tidak ada jihad yang lebih utama hari ini kecuali mengarahkan diri ke Al-Aqsha.”
Ustadz Abdurrahman Muhammad melanjutkan paparan yang beliau sampaikan dalam ceramah pasca Silatnas, Ahad, 26 Jumadil Awal 1445 (10/12/2023) di Masjid Ar-Riyadh, Ummul Qura Hidayatullah Indonesia, Balikpapan.
“Sebenarnya saya agak lelah juga menghadapi acara Silatnas (Silatnas Hidayatullah, 23-26/11/2023) kemarin. Tapi itu keberkahan Al-Aqsha, ternyata membuat saya terjadi proses percepatan.”
Lebih jauh, Pemimpin Umum menegaskan. “Saya saja yang akan memimpin pergerakan kafilah menuju Al-Aqsha.”
Gelombang Kemenangan
Semangat Pemimpin Umum itu harus menjadi address terang bagi segenap kader dan jama’ah bahwa detik-detik perubahan zaman kian menjelang.
Era penjajahan “Zionis Israel” yang telah berlangsung sejak 1923 yang ditandai dengan hadirnya mandat Inggris untuk memfasilitasi migrasi massal orang Yahudi secara bergelombang datang ke Palestina sampai 1948, sepertinya telah menemui titik senja di tahun-tahun belakangan ini.
Dan, sebagaimana pergiliran siang dan malam, Masjid Al-Aqsha pada akhirnya akan kembali ke pangkuan umat Islam.
Sebagaimana dahulu Perang Hattin pada Juli 1187 telah menjadikan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi mampu memukul pasukan Salib.
Pada akhirnya pada 2 Oktober 1187 Masehi, sukses memasuki Baitul Maqdis dan menunaikan sholat Jum’at di dalamnya.
Hari ini publik dunia melihat bagaimana pembantaian brutal dan sadis telah dipertontonkan oleh penjajah Palestina.
Jumlah korban dari kalangan sipil terus meningkat di antaranya wanita dan anak-anak. Kini telah tercatat 18.205 warga Palestina menjadi korban keganasan serangan militer “Israel.”
Dengan fakta seperti itu adalah mustahil bagi “Israel” memperbaiki citra negaranya sebagai entitas yang berhak dan dapat dibenarkan.
Dan, cara demikian itu memang pola yang berulang dari setiap penjajah yang menguasai Palestina.
Dalam kata yang lain, kekejaman itu pada akhirnya akan bertemu dengan sakaratul mautnya. Oleh karena itu banyak pihak yang tersadar dan menjadi simpati bahkan bergerak maju membela Palestina.
Spirit Warga Palestina
Dan, bagaimana kita tidak bersemangat, terdongkrak antusiasme untuk jihad dan infaq membela Masjidil Aqsha sedangkan warga Palestina dengan segenap ketidakberdayaannya tidak pernah kehilangan spirit.
Megan Rice, sosok aktivis sekaligus TikToker Amerika pun takjub dengan keteguhan rakyat Palestina yang dibombardir oleh Israel. Ia bahkan tercerahkan dan masuk Islam, mendapatkan hidayah Allah.
Satu fakta ini cukup menjadi bukti kepada kita bahwa dalam ketidakberdayaan, warga Palestina dengan spiritnya mampu memendarkan dakwah, sehingga menjadi sebab orang kagum dan tercerahkan.
Kalau boleh saya rangkai sebuah kalimat yang menjadi penggerak kekuatan Pemimpin Umum Hidayatullah kira-kira seperti ini, bahwa, inilah saat untuk bangkit dan meraih kemenangan. Mari berikan yang terbaik dari yang kita miliki, meski sebatas infaq, diskusi, pencerahan, dan kalau perlu public paper.
Bahkan mulai dari sekarang, beliau mengajak kita songsong detik-detik perubahan zaman, dengan semangat ibadah, muamalah dan dakwah yang lebih gencar. Insha Allah umat Islam akan kembali membebaskan Masjid Al-Aqsha.
Jangan sampai kita ketinggalan momentum yang tidak lama lagi benar-benar membahagiakan seluruh umat Islam di dunia dan memakmurkan alam semesta.[]
*) Mas Imam Nawawi,penulis adalah Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) | Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Periode 2020-2023.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, mendorong Hidayatullah terus memberikan sumbangsihnya yang lebih bermakna untuk menuju Indonesia Emas.
“Saya tunggu gerakan yang lebih bermakna, yang lebih memberikan manfaat kepada umat dan kepada bangsa demi menuju Indonesia Emas,” ujar Menko PMK dalam pesannya kepada segenap pengurus dan warga Hidayatullah belum lama ini seperti dilansir laman Ummulqurahidayatullah, Senin, 27 Jumadil Awal 1445 (11/12/2023).
Menko PMK mengapresiasi peran Hidayatullah dalam membangun NKRI. Ia menilai Hidayatullah sejauh ini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar kepada umat dan bangsa Indonesia.
Menko PMK pun berharap, ke depan Hidayatullah mampu memberikan sumbangsih yang lebih besar dan baik lagi.
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tiga periode (2000–2016) ini pun menyampaikan pesan berupa pepatah Arab, yang ia jelaskan maksudnya:
“Apa yang terjadi hari ini adalah impian kemarin dan tugas kita semuanya ini adalah membangun impian untuk hari esok.”
Tentunya, pesan dari pepatah Arab tersebut, kata Muhadjir, juga berlaku untuk ormas Hidayatullah dengan segenap kekuatan dan gerakannya.
“Selamat atas terselenggaranya Silaturahmi Nasional (Hidayatullah),” ujar Menko PMK juga dalam video sambutannya secara virtual pada acara Pembukaan Silatnas Hidayatullah yang digelar di Kampus Induk Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis (23/11/2023) lalu.
Silatnas Hidayatullah bertema “50 Tahun Bersama Umat Membangun NKRI yang Beradab” diikuti 20 ribu lebih peserta, berdasarkan laporan resmi panitia. Puncak silatnas berlangsung empat hari (23-26/11/2023), disiarkan langsung melalui channel Youtube Ummulqura Hidayatullah.* (SKR/Media Silatnas Hidayatullah/MCU)
DUNIA terus berubah dengan kecepatan, ketidakteraturan, kompleksitas yang tinggi, dan lain sebagainya. Hal ini menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Sehingga, siapapun yang tidak berubah ia akan punah, kalah dan hilang dari peredaran.
Dalam perspektif organisasi, baik profit maupun non-profit, mau tidak mau juga terbawa oleh arus ini. Realitas ini tidak dapat dianggap sepele, atau hanya mengikuti arus, namun perlu direncanakan secara baik semenjak dari awal.
Dalam kaitannya dengan ini, berkenaan dengan organisasi maka ada sebuah pendekatan dan istilah baru yang disebut dengan Organisasi 5.0.
Untuk dipahami bahwa, Organisasi 5.0 menciptakan paradigma baru dalam tata kehidupan baik pemerintahan, organisasi non-profit maupun dunia bisnis. Di mana landasan utamanya terletak pada integrasi manusia, teknologi, dan nilai-nilai sosial untuk mencapai transformasi menyeluruh.
Dalam konteks ini, Organisasi 5.0 mengambil inspirasi dari revolusi industri 4.0 yang menekankan pada otomasi, konektivitas, dan pengolahan data. Namun, yang membedakannya adalah fokus pada dimensi manusiawi, di mana teknologi tidak hanya diimplementasikan untuk efisiensi operasional, tetapi juga untuk meningkatkan keterlibatan dan perkembangan individu.
Dalam konsep ini, manusia bukan hanya sebagai pengguna atau pemakai teknologi, tetapi sebagai elemen integral dalam proses pengambilan keputusan, kolaborasi, dan inovasi.
Untuk menuju Organisasi 5.0, sesungguhnya terkait erat dengan visi Society 5.0 yang digagas oleh pemerintah Jepang. Society 5.0 menciptakan gambaran masyarakat yang terhubung secara digital (smart society), tetapi juga berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan, dan sangat terbuka untuk memasukkan nilai-nilai agama yang universal.
Organisasi 5.0 berperan sebagai mesin penggerak transformasi ini, karena mencoba untuk menghadirkan manfaat teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari, memberdayakan individu, dan menciptakan dampak positif dalam masyarakat.
Konsep ini membawa keselarasan antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan sosial, di mana organisasi tidak hanya bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dan atau alasan yang bersifat material semata, akan tetapi juga berkomitmen pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan.
Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, Organisasi 5.0 menjadi pandangan masa depan yang holistik dan berkelanjutan, menangkap semangat perubahan yang diusung oleh era industri 4.0 dan Society 5.0.
Tantangan
Untuk menuju Organisasi 5.0, tidak semudah membalik telapak tanga. Di dalamnya terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar transformasi menjadi lebih baik dan efektif.
Tantangan-tantangan ini, bisa terjadi saat ini dan akan terus berkembang pada tahapan berikutnya. Beberapa hal yang dapat menjadi tantangan diantaranya adalah:
Pertama, Adaptasi Terhadap Teknologi, perkembangan teknologi yang cepat dan kompleks dari era industri 4.0 menjadi suatu kendala. Organisasi perlu terus meningkatkan literasi digital dan kemampuan teknologi karyawan agar dapat mengoptimalkan penggunaan alat dan sistem yang baru.
Kedua, Integrasi Teknologi dan Manusia, sebagai inti dari konsep Organisasi 5.0, juga menimbulkan tantangan dalam mengubah budaya organisasi yang mungkin telah terpola. Menciptakan lingkungan di mana teknologi dan manusia saling melengkapi dan berkolaborasi memerlukan perubahan sikap dan praktek kerja.
Ketiga, Manajemen Data dan Keamanan Informasi, dengan penggunaan teknologi yang lebih besar, organisasi perlu memastikan bahwa data yang dikumpulkan dan digunakan dengan bijak, etis, dan aman. Perubahan ini juga menantang organisasi untuk mengembangkan kebijakan privasi yang kuat dan keamanan siber yang efektif guna melindungi informasi sensitif.
Keempat, Keberlanjutan dan Dampak Sosial, dimana hal ini juga menjadi fokus utama dalam Organisasi 5.0. Organisasi perlu bergerak lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi dan mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat dan lingkungan. Ini melibatkan tantangan dalam mengukur dan melaporkan dampak sosial, serta mengembangkan strategi bisnis yang berkelanjutan.
Kelima, Persaingan Global, Mau tidak Mau, kehadiran Organisasi 5.0 mesti mampu bersaing di level global. Sementara itu persaingan global akan semakin ketat di mana membutuhkan organisasi untuk mampu beradaptasi dengan cepat dan terus berinovasi untuk tetap mampu bersaing level global.
Keenam, Perubahan Budaya Organisasi, mengubah budaya organisasi dari model tradisional ke Organisasi 5.0 dapat menjadi tantangan. Ini melibatkan mengatasi resistensi terhadap perubahan, membangun kesadaran, dan membentuk sikap positif terhadap inovasi.
Ketujuh, Infrastruktur dan Investasi, Organisai 5.0 mesti membangun infrastruktur yang mendukung konektivitas dan integrasi teknologi memerlukan investasi yang signifikan. Baik dengan membangun infrastruktur mandiri maupun berkolaborasi dan memanfaatkan infrastruktur yang telah ada. Tantangan ini memungkinkan organisasi juga mesti berorientasi terhadap profit yang mencakup bagaimana mengelola anggaran dan memastikan return on investment yang sesuai.
Kedelapan, Perubahan Model Bisnis, Organisasi 5.0 seringkali membutuhkan perubahan pada model bisnis tradisional. Dalam perspektif organisasi non-profit, maka perlu mengubah berbagai casra dalam menjalankan organisasi yang disesuaikan dengan dinamika nternal dan eksternal organisaisi.
Tantangan melibatkan identifikasi dan adaptasi terhadap model bisnis dan juga layanan yang baru dan inovatif, dengan memanfatkan sumberdaya (resources) internal dan eksternal organisasi.
Kesembilan, Kolaborasi dan Keterbukaan, tantangan terkait kolaborasi antara organisasi, terutama dalam ekosistem organaisasi yang memiliki visi dan misi yang sejenis. Organisasi perlu bersedia untuk berbagi informasi dan berkolaborasi untuk menciptakan nilai tambah bersama.
Sehingga, secara keseluruhan, tantangan menuju Organisasi 5.0 bukan hanya sebatas perubahan teknologi, tetapi juga melibatkan perubahan budaya, manajemen informasi, dan penekanan pada aspek keberlanjutan dan dampak sosial. Organisasi perlu bersiap menghadapi dinamika kompleks ini untuk mencapai transformasi yang sukses.
Pintu Terbuka Menggapai Organisasi 5.0
Berdasarkan realitas di atas, maka menuju Organisasi 5.0 adalah perjalanan yang dinamis, di mana mencakup transformasi mendalam dalam cara organisasi beroperasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam upaya mencapai Organisasi 5.0, tantangan-tantangan seperti perubahan budaya, pengelolaan data yang aman, dan keterlibatan anggota aktif, menjadi landasan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pentingnya mengatasi tantangan ini bukan hanya sekadar menerapkan teknologi canggih, tetapi juga menciptakan ekosistem di mana manusia dan teknologi dapat berkolaborasi secara sinergis.
Organisasi 5.0 menjanjikan keberlanjutan bisnis yang berkesinambungan dan dampak positif dalam masyarakat, menciptakan lingkungan di mana nilai-nilai etika, inovasi, dan kesejahteraan bersama menjadi fokus utama.
Pada akhirnya, Organisasi 5.0 memandang teknologi sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih luas, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia dan memberikan kontribusi positif dalam skala yang lebih besar.
Keberhasilan implementasi Organisasi 5.0 tidak hanya diukur dari efisiensi operasional atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan organisasi untuk menciptakan dampak yang berarti dalam masyarakat sambil menjaga integritas nilai-nilai manusiawi.
Disisi lain, dan ini menjadi kunci serta sangat penting adakah menjadikan dan menerapkan nilai-nilai agama sebagai basis dari Organisasi 5.0.
Dan inilah sesungguhnya yang menjadikan tantangan sekaligus peluang, sehingga Organisasi 5.0 adalah wajah lain dari organisasi yang semakin religius, apapun bentuknya.
Dengan semakin merajut keterlibatan manusia, penggunaan teknologi cerdas, dan kesadaran akan keberlanjutan, Organisasi 5.0 mencerminkan evolusi positif dalam cara kita memandang dan mengelola organisasi di era modern ini.[]
*) ASIH SUBAGYO,penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Semangat umat Islam membantu masyarakat Palestina tidak kenal kata lemah.
Terbaru Jamaah Majlis Taklim Annisa Malang menyerahkan donasi senilai Rp. 54.535.000 melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Gerai Malang, Kamis, 23 Jumadil Awal 1445 (7/12/2023).
Koordinator Majelis Taklim Annisa Malang, Ibu Farhan, mengatakan, “Ini sebagai bentuk dukungan kepada kaum muslim yang berada di Palestina yang sedang dijajah dan dihancurkan pemukimannya oleh Israel,” tuturnya.
“Alhamdulillah setiap jamaah antusias mengisi kencleng yang diberikan oleh panitia. Setelah 4 tahap dilakukan, terhimpun dana ini,” sambugnnya.
Atas upaya serius jamaah Majelis Taklim Annisa itu Laznas BMH menyampaikan rasa syukur dan bangga.
“Kami dari keluarga besar Laznas BMH bersyukur sekaligus bangga dengan jamaah majelis taklim semuanya. Ini upaya luar biasa yang semoga Allah balas dengan pahala berlipat ganda,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim.*/Herim
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Malang menyalurkan donasi untuk Palestina melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Jum’at, 24 Jumadil Awal 1445 (8/12/2023).
Donasi itu merupakan bagian dari penggalangan dana yang dilaksanakan saat gelaran “Sekolah Karakter Belajar Bersama Ahli (SK BBA)” yang menghadirkan narasumber dari ESQ, yakni dr. Arief Alamsyah.
Kepala Sekolah SMAN 7 Malang, Dr Basuki Agus Priyana Putra, M.Pd mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian bangsa Indonesia kepada Palestina.
Atas kepercayaan SMAN 7 Malang itu Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim menyampaikan rasa syukur dan bangga.*/Herim
ORGANISASI sebagaimana organisme, dia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Secara alamiah organisasi senantiasa mengalami evolusi, yang sangat erat dengan perkembangan zaman yang disertai dengan perubahan diberbagai aspek kehidupan yang membersamai.
Sehingga, organisasi menjadi tidak statis, sebab ia mampu merespon dinamika peradaban. Dan, respon inilah yang kemudian mengantarkan organisasi mampu survive di sepanjang masa.
Organisasi mengalami evolusi sesungguhnya dapat dijelaskan sebagai respons terhadap dinamika yang terus berubah dalam lingkungan eksternal dan internalnya.
Perubahan teknologi, tuntutan konsumen/anggota dan masysrakat yang terus berkembang, persaingan global, dan perkembangan sosial ekonomi merupakan beberapa faktor yang mendorong organisasi untuk beradaptasi dan berkembang.
Sehingga, evolusi organisasi bukan hanya suatu keharusan untuk bertahan hidup di era yang terus berubah ini, tetapi juga suatu strategi untuk menciptakan keunggulan kompetitif.
Transformasi ini melibatkan restrukturisasi model bisnis, inovasi produk dan layanan, serta peningkatan efisiensi operasional.
Dengan mengalami evolusi, organisasi dapat mempertahankan relevansinya, meningkatkan daya saing, dan memenuhi harapan pemangku kepentingan.
Kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman menjadi kunci dalam menjalani perjalanan evolusi organisasi untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan dan kesejahteraan jangka panjang.
Tahapan Evolusi Organisasi
Menurut beberapa ahli, maka tahapan evolusi organisasi seringkali dikaitkan dengan yang terjadi di dunia bisnis. Akan tetapi dengan menjelaskan definisi dan ciri-cirinya, maka akan mempermudah untuk mengidentifikasi bagaimana proses evolusi itu berlangsung.
Pertama, Organisasi 1.0
Organisasi 1.0 mencirikan model organisasi tradisional yang hierarkis dan sangat terpusat pada struktur dan peran yang tetap. Keputusan utama dibuat di tingkat puncak, dan komunikasi terbatas.
Secara umum ciri-ciri Organisai 1.0 ini adalah : struktur hierarkis yang kaku, keputusan terpusat (tersentral), komunikasi hierarkis dan formal, dan fokus pada efisiensi operasional.
Kedua, Organisasi 2.0
Organisasi 2.0 melibatkan penggunaan teknologi untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi. Ada peningkatan dalam fleksibilitas dan responsivitas terhadap perubahan pasar.
Ciri-ciri dari Organisasi 2.0 ini meliputi: sudah memanfaatkan teknologi informasi, komunikasi lebih terbuka, struktur organisasi yang lebih fleksibel serta peningkatan adaptasi terhadap perubahan.
Ketiga, Organisasi 3.0
Organisasi 3.0 menekankan kolaborasi dan kreativitas. Ada peningkatan fokus pada inovasi dan respons cepat terhadap kebutuhan pasar yang berkembang.
Yang menjadi ciri utama Organisasi 3.0 adalah: kolaborasi tim dan proyek, mendorong inovasi dan kreativitas dan struktur organisasi yang adaptif, orientasi pasar yang kuat.
Keempat, Organisasi 4.0
Organisasi 4.0 mewakili era revolusi industri keempat dengan penekanan pada otomatisasi, konektivitas, dan analitika data.
Ciri-ciri pokoknya adalah: keterkaitan perangkat dan sistem otomatis, analitika data untuk pengambilan keputusan, transformasi digital menyeluruh serta fleksibilitas dan kecepatan dalam proses.
Saat ini, berdasarkan ciri-ciri dan kriteria sebagaimana tersebut di atas, semestinya kita berada di era Organiasi 4.0.
Akan tetapi, realitasnya, masih banyak organisasi yang secara praktiknya masih berada pada tahapan Organisasi 3.0 atau bahkan sebelumnya Organisasi 2.0 atau bisa jadi Organisasi 1.0. Sebuah fakta yang menjadi indikator untuk memetakan sekaligus melakukan positioning, organisasi kita berada di level mana.
Tantangan
Evolusi organisasi terus bergerak, mengikuti dinamika dan perkembangan jaman. Sehingga tahapan sebagaimana tersebut di atas akan mengalami perguliran.
Dalam evolusi organisai, setidaknya terdapat empat tantangan utama yang perlu diatasi untuk mencapai transformasi organisasi yang sukses:
Pertama, Perubahan Budaya
Tantangan terbesar adalah mengubah budaya organisasi secara mendalam. Organisasi perlu menggugah kesadaran dan membangun sikap positif terhadap inovasi, keterlibatan karyawan, dan kreativitas. Ini melibatkan pembentukan norma-norma baru, memecahkan resistensi terhadap perubahan, dan membentuk lingkungan yang mendorong eksperimen dan pembelajaran terus-menerus.
Kedua, Pengelolaan Data yang Etis dan Aman
Dalam era Organisasi 5.0 yang sangat terhubung, pengelolaan data menjadi kunci. Tantangan ini mencakup memastikan pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data dilakukan secara etis dan aman. Organisasi harus mematuhi regulasi privasi, mengelola risiko keamanan siber, dan membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan terkait pengelolaan data mereka.
Ketiga, Keterlibatan Anggota
Meningkatkan keterlibatan anggota menjadi tantangan kritis. Organisasi perlu merancang strategi untuk memberdayakan dan melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan, kolaborasi tim, dan inovasi. Ini memerlukan pembangunan keterampilan, penyediaan peluang partisipasi, dan penciptaan lingkungan yang mendukung perkembangan profesional dan keterlibatan aktif.
Keempat, Adaptasi terhadap Teknologi Canggih
Implementasi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), dan analitika data memerlukan penyesuaian dan investasi yang signifikan. Tantangan ini mencakup memastikan bahwa organisasi memiliki infrastruktur teknologi yang memadai, sumber daya manusia dengan keterampilan yang sesuai, dan strategi implementasi yang terencana dengan baik.
Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan kepemimpinan yang visioner, komitmen organisasi, dan pendekatan holistik yang melibatkan seluruh anggota organisasi.
Dengan berhasil mengatasi tantangan-tantangan ini, organisasi dapat mewujudkan visi untuk menuju evolusi organisasi, setidaknya dapat dijadikan acuan untuk menuju Organisasi 5.0 yang sudah di depan mata.
Menuju Organisasi 5.0
Sebagaimana lazimnya hukum perubahan, maka yang kekal adalah perubahan itu sendiri. Sehingga evolusi organisasi ini sebuah keniscayaan yang tidak pernaah berhenti, ia masih terus bergerak.
Organisasi 5.0 akan muncul sebagai konsep baru yang menandai integrasi holistik antara manusia dan teknologi. Konsep ini menekankan pentingnya keterampilan digital, kolaborasi, dan transformasi digital dalam membangun organisasi yang efektif dan efisien.
Organisasi 5.0 memerlukan komitmen dan dukungan dari seluruh elemen dan manajemen organisasi. Dengan mengikuti langkah-langkah strategis yang tepat, organisasi dapat membangun organisasi yang efektif dan efisien di era digital.
Tantangan Organisasi 5.0 tidak sederhananya, sebab mencakup perubahan budaya yang mendalam, pengelolaan data yang analitik dan etis, serta keterlibatan karyawan/anggota yang lebih aktif.
Dengan mengejar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial, Organisasi 5.0 menciptakan ekosistem yang responsif, inovatif, komprehenship dan berkelanjutan.
Dalam perjalanannya, evolusi organisasi mencerminkan upaya berkelanjutan untuk mengatasi tantangan setiap era, dari efisiensi dan inovasi hingga keseimbangan antara manusia dan teknologi.
Ke depan, organisasi harus tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan lingkungan yang cepat, memperkuat keterlibatan karyawan/anggota, dan mempertahankan integritas nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi era modern yang semakin dinamis.
Dengan demikian, evolusi organisai ini menjadi sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Bukan hanya tentang mengikuti tren teknologi, tetapi juga tentang membentuk organisasi yang mampu menciptakan dampak positif dalam masyarakat dan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan kemajuan. Dan, hal ini memerlukan persiapan yang matang dan sistematis bagi setiap organisasi untuk memasuki ke level Organisasi 5.0.
*) ASIH SUBAGYO,penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
PEMIMPIN Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, memberikan sebuah pernyataan menarik dalam ceramah evaluasi panitia Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah pada Ahad, 19 Jumadil Awal 1445 (3/12/2023).
“Saya sangat menjaga diri supaya dapat prima melaksanakan tugas, mengendalikan acara di masjid dan menyampaikan apa yang bisa saya sampaikan. Karena semua penyampaian saya itu harus dari tetesan shalat malam. Saya tidak berani mencoba keluar dari itu”.
Ada beberapa diksi penting yang bisa kita garis bawahi. Mulai dari menjaga diri, prima melaksanakan tugas, mengendalikan acara, dan menyampaikan sesuatu dengan basis shalat malam.
Tentu saja ungkapan itu bukan sekadar kalimat yang memukau. Tetapi sarat pesan dan makna, yang sudah semestinya kita memperhatikan dan menguatkannya sebagai kesinambungan penguatan jati diri dalam kiprah dakwah dan tarbiyah.
Spirit Al Qur’an
Bagi sebagian orang, kata menjaga diri, mungkin merupakan implementasi aspek goal dalam sebuah rangkaian penerapan teori manajemen.
Namun, lebih dari sekadar tinjauan parsial, Pemimpin Umum sedang memberikan isyarat bahwa setiap kader itu sejatinya adalah episentrum gerakan. Maka harus benar-benar pandai menjaga diri.
Secara bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) episentrum adalah titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus di atas pusat gempa yang ada di dalam bumi. Itulah titik pusat gempa yang mengguncang bumi.
Dalam konteks gerakan, episentrum, bisa kita maknai sebagai pusat kendali, pusat perhatian, pusat gerakan, yang memberi warna, pengaruh dan mendorong kemajuan signifikan terhadap pelaksanaan sebuah agenda, program, atau bahkan visi.
Dalam konteks Al Qur’an, perintah menjaga diri perlu persiapan. Persiapan butuh perencanaan dan seterusnya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS. Al-Anfal: 60).
Ungkapan Pemimpin Umum Hidayatullah bahwa perlu menjaga diri agar prima dalam menjalankan tugas, supaya dapat mengendalikan acara di masjid, menunjukkan kepada semua kader dan jama’ah bahwa perencanaan, manajerial yang baik, harus menjadi kultur yang inheren dalam gerak langkah Hidayatullah ke depan. Mulai dari sekarang!
Shalat Malam
Diksi berikutnya adalah tidak bicara melainkan ada tetesan shalat malam.
“Pada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS. Al-Isra: 79).
Jadi, kalau seseorang berbicara dan ia telah melaksanakan tahajud, besar kemungkinan ia akan dapat memendarkan cahaya iman dan keyakinan untuk melangkah lebih rapi, tertib, dan terpimpin.
Sebab orang yang shalat malam ia sudah sempat merayu, merengek, dan meminta dengan sangat kepada Allah akan kebaikan.
Dan, seperti yang sebagian orang rasakan usai mendirikan shalat malam. Mereka memiliki rasa tenang, kecintaan terhadap iman yang semakin tumbuh dan keinginan menjadi insan yang bermanfaat yang lebih kuat.
Jadi, poin pertama dalam evaluasi panitia Silatnas yang Pemimpin Umum Hidayatullah tekankan adalah bagaimana semua kader semakin rapi, tertib, terpimpin, dan tercerahkan dengan shalat malam.
Dan, ini adalah bentuk tasbih dalam wujud perilaku harian yang harus terus dilakukan. Wallahu a’lam.*
*) Mas Imam Nawawi,penulis adalah Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) | Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Periode 2020-2023.