AdvertisementAdvertisement

Posdai Dorong Terus Dikuatkan Kiprah Dai Mengabdi di Pedalaman

Content Partner

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Ust. Abdul Muin, mendorong untuk terus dikuatkannya kiprah dai yang mengabdi mencerdaskan kehidupan bangsa di daerah pedalaman yang terpencil, tertinggal, dan rentan.

“Kehadiran pendakwah atau pendidik agama Islam di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, memiliki alasan penting dalam membangun masyarakat yang beragam dan tersebar di berbagai pulau,” kata Abdul Muin.

Menurut Abdul, ada beberapa alasan mengapa kiprah para dai mengabdi perlu terus didukung dan dikuatkan karena perannya sangat penting dalam pembangunan sebagaimana tagline Posdai, “Bersamai Dai Membangun Negeri”.

Pertama, Abdul menyebutkan, dai adalah informal leader yang berperan sebagai pemimpin di masyarakat atau pada komunitas yang mereka bina untuk membimbing dan mendekatkan umat kepada ajaran Islam dengan konteks lokal.

“Pendakwah atau pendidik agama Islam dapat memahami konteks lokal, budaya, dan tradisi yang mungkin berbeda di setiap daerah kepulauan. Hal ini memungkinkan mereka menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat setempat,” jelas Abdul seperti dikutip media ini dari laman Posdai.or.id, Rabu, 22 Jumadil Awal 1445 (06/12/2023).

Kedua, lanjut Abdul, peran penting dai mengabdi adalah mengatasi tantangan akses pendidikan. Dia menjelaskan, daerah pedalaman dan terpencil seringkali menghadapi tantangan akses terhadap pendidikan.

Karena itu, menurut Abdul, kehadiran dai sebagai pendidik agama Islam dapat membantu meningkatkan akses pendidikan, khususnya pendidikan agama, sehingga masyarakat di daerah tersebut dapat memperoleh pemahaman agama yang lebih baik.

Ketiga, dai pedalaman memiliki peran penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Melalui pendekatan ini, dai pedalaman dapat memainkan peran dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di daerah pedalaman.

“Para dai ini dapat memberikan pemahaman agama yang mendukung prinsip-prinsip keadilan sosial, keberdayaan ekonomi, dan ketahanan masyarakat,” kata Abdul.

Keempat, dai pedalaman berperan dalam pembangunan karakter dan etika. Disadari bahwa pendidikan agama Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek ritual, tetapi juga melibatkan pembangunan karakter dan etika.

Oleh sebab itu, jelas Abdul, dai yang mengabdi di daerah pedalaman dapat membantu membentuk karakter positif dalam masyarakat, mempromosikan nilai-nilai moral, dan mendukung pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Kelima, lanjut Abdul, dai yang mengabdi di pedalaman juga turut melakukan pencegahan sikap ekstremisme atau sikap beragama yang berlebih lebihan yang tak diajarkan dalam Islam.

“Karena itu, kehadiran dai yang membawa nilai nilai wasathiyah sebagaimana jatidiri Hidayatullah dengan pemahaman agama yang benar berperan dalam mempromosikan pemahaman Islam yang luhur,” imbuhnya.

Keenam, dai mengabdi memiliki peran utama dalam pengentasan kemiskinan dan pelayanan sosial. Dalam hal ini dai sebagai pendidik agama Islam membantu dalam upaya pengentasan kemiskinan dengan memberikan pelayanan sosial, seperti bantuan keuangan, pendidikan, dan kesehatan terutama kepada masyarakat muallaf yang membutuhkan di daerah pedalaman.

Yang tak kalah penting, menurut Abdul, adalah peran dai pedalaman dalam membangun solidaritas dan toleransi antarumat beragama.

Abdul mengatakan, dengan memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam, dai sebagai penyuluh ajaran agama Islam berkontribusi pada membangun solidaritas dan toleransi antarumat beragama di daerah pedalaman.

Hal tersebut menurut Abdul sangat penting mengingat Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama yang tinggi.

“Kiprah dai di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia dapat membantu membangun masyarakat yang lebih berdaya, adil, dan harmonis, serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat,” imbuhnya.

Mendukung Dai Pedalaman

Lebih jauh Abdul mengemukakan beberapa hal yang perlu ditopang dalam menjalankan dakwah Islam di pedalaman Indonesia sebagai negara kepulauan.

Menurutnya, beberapa aspek dan inisiatif dai pedalaman perlu didukung untuk memastikan keberhasilan dakwah yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif pada masyarakat.

Diantaranya, kata dia, adalah menopang gerakan para dai dalam menjalankan inisiatif pendidikan inklusif yang memahami konteks lokal dan memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya setempat yang mencakup aspek-aspek kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman dan terpencil.

Dalam kiprahnya, ketersediaan sumber daya dai amat penting. Karena itu, menurut Abdul, perlunya untuk terus mendukung pelatihan pendakwah lokal agar dapat memahami kebutuhan dan tantangan masyarakat setempat baik itu mencakup pemahaman terhadap budaya lokal, bahasa, dan konteks sosial ekonomi.

Seiring dengan itu, Abdul menilai aspek pemberdayaan ekonomi sejatinya juga menjadi perhatian para dai di pedalaman.

Upaya pemajuan ekonomi ini sebagai ikhtiar mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat pedalaman, termasuk pelatihan keterampilan dan dukungan keuangan, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam Islam.

“Hal ini misalnya sudah dijalankan Posdai di Kampung Koya Barat, Distrik Muaratami, Kota Jayapura. Bersinergi dengan YBM BRILiaN dijalankan program dukungan ekonomi produktif bagi para dai dan masyarakat berupa peternakan kambing,” kata Abdul.

Abdul menjelaskan, sinergi yang terjalin tersebut merupakan upaya dai mengabdi dalam meneguhkan kemitraan dengan pemerintah dan lembaga sosial untuk mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat di daerah pedalaman yang melibatkan program-program kerja sama untuk pemberdayaan ekonomi dai dan masyarakat, kesehatan, dan pendidikan.

Abdul melihat, dai juga perlu didukung dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk menyerap sumber sumber inspirasi dan menyampaikan pesan dakwah secara efektif di daerah pedalaman dengan penggunaan media sosial, aplikasi seluler, atau platform daring lainnya.

Karena itu, Abdul menilai, peningkatkan infrastruktur komunikasi di daerah pedalaman akan memudahkan akses informasi dan komunikasi dengan penduduk setempat. Ini dapat mencakup penyediaan akses internet dan teknologi komunikasi lainnya.

Demikian pula untuk daerah daerah tertentu seperti pembinaan masyarakat miskin dan muallaf di titik titik rentan dan jauh.

Di daerah seperti ini, lanjut Abdul, masyarakatnya relatif belum mengenal tata cara membersihkan diri atau bersuci (thaharah) dan juga tak cakap memahami pentingnya kesehatan lingkungan.

Karena itu, dai pedalaman perlu didukung dalam melakukan pencerahan keagamaan terutama pada aspek penyuluhan kesehatan.

Peran dai mengabdi tersebut perlu didukung dalam menyediakan penyuluhan kesehatan yang disertai dengan nilai-nilai Islam, termasuk pemahaman tentang kebersihan, nutrisi, dan perawatan kesehatan lainnya.

“Harapannya, dengan dukungan kita kepada para dai mengabdi, dakwah Islam di daerah pedalaman Indonesia dapat menjadi lebih relevan, berdaya tahan, dan memberikan kontribusi positif pada pembangunan masyarakat yang berperadaban Islam dan berkelanjutan,” tandas Abdul. (ybh/hidayatullah.or.id)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hafidz Muda Hidayatullah Sumut Ditugaskan Mengabdi Hingga Daerah Terluar

MEDAN (Hidayatullah.or.id) -- Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) melalui Pondok Tahfidz Baitul Quran Hidayatullah Medan menggelar...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img