BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menyambut Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 yang semakin dekat, santri putri dan ummahat Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan terlibat aktif dalam berbenah.
Mereka melakukan kerja bakti membersihkan asrama dan area sekitar setiap hari. Kerja bakti ini bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga sebagai bentuk semangat dan antusiasme santri putri dan ummahat untuk menyambut tamu-tamu istimewa yang akan datang ke kampus peradaban ini.
“Alhamdulillah hari ini panitia silatnas bidang tiga mengadakan kerja bakti di gedung baru yang akan menjadi tempat tinggal para tamu. Dalam kerja bakti tersebut, santri putri, ummahat, dan panitia silatnas bahu-membahu membersihkan gedung baru,” terang Ustadzah Dinul Q, Kamis, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (9/11/2023).
“Ummahat harus semangat, biar santrinya juga lebih semangat,” lanjut Koordinator Lapangan (Korlap) Silatnas Hidayatullah Putri ini.
“Kita harus memberikan yang terbaik untuk menyambut seluruh tamu yang akan datang di kampus tercinta kita ini,” ucap Ustadzah Dinul melanjutkan dengan penuh bersemangat.
Kerja bakti yang dilakukan santri putri dan ummahat ini menunjukkan semangat dan kekompakan mereka dalam menyambut Silatnas Hidayatullah 2023. Mereka berharap agar Silatnas Hidayatullah 2023 dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
“Meski tiap hari bekerja bakti, kalau ada misi, kami akan selalu siap sedia,” ungkap seorang mahasiswi STIS Hidayatullah, Maghfirah.*/Mujtahidah M. Salbu
Pelantikan Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) periode 2023-2028 oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Jhon Wempi Wetipo di Kantor Gubernur PKK Provinsi Papua Barat, Manokwari, Kamis, 9 November 2023. (FOTO: Tangkapan layar Antara Video/ Hidayatullah.or.id)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah kembali meneguhkan khidmat pengabdiannya untuk Provinsi Papua Barat dengan dilantik salah satu kadernya yaitu Zainuddin Namudat sebagai Anggota Pokja Agama Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) periode 2023-2028.
Putra asli Fakfak ini dilantik oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Jhon Wempi Wetipo bersama dengan 29 Anggota MRPB lainnya di Kantor Gubernur PKK Provinsi Papua Barat, Manokwari pada Kamis, 25 Rabi’ul Akhir 1445 (9/11/2023 ).
Pelantikan MRPB ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 100.2.2.2-4228 tahun 2023 tentang Pengesahan Pengangkatan Anggota MRPB periode 2023-2028.
Sebagaimana diketahui, Provinsi Papua Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia bagian timur yang mempunyai otonomi khusus.
Pada Bab V Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, pilar utama dalam penyelenggaraan pemerintah Provinsi Papua Barat juga terdapat tiga komponen, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPRPB), Pemerintah Daerah (Gubernur beserta perangkatnya), dan Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB).
MRP/MRPB merupakan rekan kerja dari DPRP/DPRPB dan Pemerintah Daerah, sehingga dalam menjalankan tugasnya lebih menekankan kepada kepentingan masyarakat Papua Barat.
Anggota MRPB terdiri dari orang-orang asli Papua yang terdiri atas wakil-wakil adat, wakil-wakil agama, dan wakil-wakil perempuan di Provinsi.
Masa keanggotaan MRPB adalah selama 5 tahun. Pengisian keanggotaan lembaga MRPB dilaksanakan melalui mekanisme pemilihan secara demokratis.
Salah satu nama yang dilantik dari 29 anggota MRPB adalah Zainuddin Namudat yang terpilih dari jalur Agama. Pria asli Kabupaten Fakfak yang berasal dari ormas Hidayatullah.
Anggota Pokja Agama Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) periode 2023-2028 Zainuddin Namudat (FOTO: Miftahuddin/ Hidayatullah.or.id)
Pesan Wamendagri
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Jhon Wempi Wetipo setelah melakukan pelantikan 29 anggota MRPB periode 2023-2028 ini mengingatkan anggota majelis untuk tidak terlibat dalam aktivitas politik praktis, terutama menjelang Pemilu 2024.
“Sudah ambil sumpah dan janji, jadi tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik praktis,” kata Wempi Wetipo seperti dilansir kantor berita Antara.
Ia menuturkan anggota MRPB merupakan perwakilan dari pokja adat, agama, dan unsur perempuan yang diamanatkan untuk mengawal kebijakan serta perlindungan terhadap hak orang asli Papua.
Oleh sebabnya, setiap anggota MRPB wajib menjaga muruah lembaga representasi kultural orang asli Papua sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Papua.
“Kalau ada keluarga yang jadi caleg atau calon kepala daerah, jangan terang-terangan beri dukungan. Harus jaga keseimbangan,” tegas Wempi.
Ia menuturkan sebagai salah satu unsur dalam penyelenggaraan roda pemerintahan di daerah, MRPB memiliki peran strategis dengan sejumlah kewenangan sesuai undang-undang otonomi khusus.
Pertama, memberikan pertimbangan dan persetujuan terhadap bakal calon gubernur dan wakil gubernur dalam penyelenggaraan Pilkada.
“Bakal calon gubernur dan wakil gubernur harus memperoleh rekomendasi dari MRPB terkait keaslian suku,” ucap dia.
Kedua, kewenangan MRPB adalah memberi pertimbangan dan persetujuan atas rancangan peraturan daerah khusus (perdasus) yang diajukan oleh DPR tingkat provinsi bersama gubernur.
Ketiga, memberi saran, pertimbangan, dan persetujuan terhadap rencana perjanjian kerja sama antara pemerintah provinsi dan pihak ketiga khususnya menyangkut hak-hak orang asli Papua.
“Amanat sudah sangat jelas, kalau ada investasi yang masuk ke Papua Barat, anggota MRPB harus dilibatkan,” kata Wempi.
Menurut dia, anggota MRPB wajib mendorong pemerintah daerah agar implementasi perdasus berjalan maksimal sesuai ekspektasi masyarakat adat Papua.
Selama lima tahun ke depan, tantangan yang dihadapi MRPB semakin kompleks dalam memproteksi hak-hak orang asli Papua atas perumusan program kebijakan dari pemerintah daerah.
“Pelajari Peraturan Pemerintah Nomor 106 dan 107 Tahun 2021 sebagai aturan turunan UU 2 Tahun 2021. Ada banyak hak-hak orang asli Papua,” ucap Wempi.
Ia menyarankan MRPB meningkatkan sinergi kolaborasi dengan pemerintah daerah dan anggota legislatif, sehingga segala permasalahan yang dialami orang asli Papua dapat terselesaikan.
MRPB wajib menindaklanjuti setiap pengaduan yang disampaikan oleh masyarakat asli Papua dari kelompok adat, agama, maupun perempuan.
“Supaya masalah di daerah bisa diselesaikan di daerah,” ucap Wempi Wetipo menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Hubungan Antar Lembaga Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) menggelar Webinar Kajian Ukhuwah Muslimat Hidayatullah yang bertajuk “Sosialisasi UU yang Berkaitan dengan Ketahanan Keluarga” menyoroti kerentanan keluaga dan merebaknya perzinahan, Sabtu,20 Rabi’ul Akhir 1445 (4/11/2023).
Direktur Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) DKI Jakarta, Nurul Amalia, sebagai narasumber dalam webinar ini mengungkapkan banyaknya permasalahan keluarga yang menyebabkan keluarga di Indonesia berada dalam kondisi keluarga yang rentan.
Menurutnya, upaya “meliberalkan” keluarga dalam sebuah kebijakan salah satunya dengan adanya revisi usia perkawinan dalam UU Perkawinan dimana usia perkawinan menjadi 19 tahun.
“Penyimpangan dengan dispensasi kawin melalui Penetapan Pengadilan dampak merebaknya zina,” kata Nurul Amalia paparan materinya berjudul “Mengenal Aspek Hukum Ketahanan Keluarga dan Hukum Seputar Rumah Tangga.”
Dia menyebutkan, potret permasalahan keluarga juga dapat dilihat melalui data statistik tahun 2018 yang mencatat ada 419.268 pasangan bercerai dari sekitar 2 juta pernikahan.
Di masa pandemi, Nurul menambahkan, angka perceraian meningkat, dengan alasan yang paling banyak karena faktor ekonomi, adanya pertengkaran dan perselisihan terus menerus, KDRT, dan perselingkuhan.
Dalam uraiannya yang merujuk pada data, Nurul menyebutkan bahwa angka perceraian semakin naik sejak Undang-undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT) disahkan.
Disamping itu dengan disahkannya UU tersebut, istri lebih berani mengajukan gugat cerai dan sedikit yang berupaya mempertahankan rumah tangganya. Hal ini, menurut Nurul, menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan angka perceraian tertinggi se-Asia Pasifik.
“Yang harus menjadi perhatian, seks bebas dan pornografi juga menjadi permasalahan keluarga. Maraknya seks bebas yang dibuktikan dengan adanya pemberitaan bahwa 237 anak di bawah umur mengajukan dispensasi nikah di Kabupaten Blora. Penyebabnya karena pergaulan bebas,” kata Nurul dilansir Mushida.org.
Penulis buku saku Perceraian dan Akibat Hukumnya ini menilai untuk mengurai permasalahan keluarga yang kian merebak, UU Ketahanan Keluarga diperlukan dalam rangka mengatur secara khusus tentang Ketahanan Keluarga yang diharapkan akan melengkapi berbagai Undang-undang yang sudah ada.
“Negara harus hadir dalam memberi dukungan pada ketahanan keluarga sehingga terbentuk kebijakan pembangunan ramah keluarga,” pungkasnya.
Kejahatan Seksual
Tak kalah menarik, materi kedua dalam webinar ini berjudul, “Menguatkan Ketahanan Keluarga Muslim dari Kejahatan Seksual” yang disampaikan oleh Anggota Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Reni Susilowati.
Menurut Reni, saat ini kekerasan seksual berupa pelecehan seksual non fisik, intimidasi seksual, penyiksaan seksual dan lainnya terus mengintai keluarga muslim.
Menurut Doktor lulusan Universitan Ibnu Khaldun Bogor ini di antara faktor pemicu kejahatan seksual adalah tidak mendapatkan rasa aman, kurangnya rasa percaya diri, penelantaran, penyalahgunaan obat terlarang, KDRT, kegagalan akademis, dan norma budaya terkait agresi.
Reni kemudian menegaskan pentingnya peran sinergis dalam membangun ketahanan keluarga, seraya itu dia menukil kitab suci Al Quran surah At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
Reni menjelaskan, memelihara dalam ayat tersebut bermakna membesarkan, termasuk memenuhi semua kebutuhan fisik anak. Melindungi dan menjamin kesehatan anak, baik jasmani maupun rohani.
“Mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi anak dalam mengarungi kehidupan. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat,” tuturnya dengan mengutip perkataan cendekiawan muslim, Prof Zakiyah Darajat.
Meminjam istilah Euis Sunarti, seorang Pakar Ketahanan Keluarga, Reni menyebutkan bahwa ketahanaan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk mengelola sumber daya dan masalah yang dihadapi keluarga agar keluarga sejahtera, yaitu terpenuhinya seluruh kebutuhan seluruh anggota keluarga.
“Pencegahan kejahatan seksual untuk menguatkan ketahanan keluarga dapat diupayakan melalui ketahanan spiritual, ketahanan psikologi, ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan fisik,” ujarnya.
Sedangkan mencegah penyimpangan seksual pada anak salah satunya dengan menciptakan kedekatan dengan anak, sehingga anak terbuka dan nyaman curhat masalah pribadinya (menjadi pendengar yang baik).
“Sebagai orang tua yang menjadi pendidikan pertama bagi anak, mari kita memberikan contoh dan teladan yang baik khususnya dalam pemakaian gadget. Kita menguatkan keluarga dengan aqidah, akhlak, dan adab untuk menuju keluarga yang berketahanan,” ajaknya pada 96 partisipan yang hadir.
Sebelumnya Ketua Umum PP Mushida, Hani Akbar dalam sambutannya menyampaikan latar belakang digelarnya webinar ini.
Kata Hani, adalah tugas kita menjaga ketahanan keluarga agar tidak rentan. Dia menegaskan, di antara upaya yang dapat dilakukan seorang muslim adalah harus memiliki ilmu dan pengetahuan. Kemudian, upaya kedua ialah memahami cara bersikap dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.
“Kajian ukhuwah ini diadakan untuk menambah wawasan ketahanan keluarga sehingga diri kita dan keluarga bisa menjadi peraga dakwah,” kata Hani menandaskan sambutannya.
Selain dihadiri oleh Muslimat Hidayatullah, kegiatan ini turut dihadiri oleh unsur pengurus maupun anggota dari organisasi wanita Islam lainnya seperti Muslimah Wahdah, Teras Al Quds Brebes, Lembaga Pernikahan dan Keluarga Sakinah, PP Salimah, Wanita PUI, dan PP Muslimat Al Washliyah. (ybh/hidayatullah.or.id)
BANYUASIN (Hidayatullah.or.id) — Infrastruktur jalan sangat diperlukan di lingkungan Kampus Madya Hidayatullah Sumsel (Pondok Pesantren Hidayatullah Banyuasin).
Pasalnya, jalan merupakan akses utama bagi para santri, guru, dan masyarakat sekitar untuk melakukan berbagai aktivitas, utamanya pendidikan maupun mobilitas dakwah.
Untuk menunjang aktivitas pendidikan dan dakwah tersebut, telah dilaksanakan perkerasan jalan (rigid pavement) di Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin.
Pengerasan jalan sepanjang 165 meter dan lebar 3 meter ini terealisasi berkat dukungan dana aspirasi dari H. Askweni, S.Pd, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Sabtu, 20 Rabi’ul Akhir 1445 (04/11/2023).
Pengerasan jalan ini disambut baik oleh para santri, guru, dan masyarakat sekitar. Mereka berharap pengerasan jalan ini dapat meningkatkan akses pendidikan dan dakwah di Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dengan pengerasan jalan ini. Dengan adanya pengerasan jalan ini, akses pendidikan dan dakwah di kampus kami semakin baik,” ujar Ustadz Sriyono, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Banyuasin.
H. Askweni, S.Pd, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Provinsi Sumatera Selatan, mengatakan bahwa pengerasan jalan ini merupakan bentuk komitmennya untuk memajukan pendidikan dan dakwah di Sumatera Selatan.
“Saya berharap agar pengerasan jalan ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah di Sumatera Selatan,” ujar H. Askweni.
Pengerasan jalan ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan dan dakwah. Semoga pengerasan jalan ini dapat memberikan manfaat bagi para santri, guru, dan masyarakat sekitar.
Pembukaan Jalan Pesantren Hidayatullah Muara Enim
Sebelumnya, Pesantren Hidayatullah Muara Enim yang berlokasi di Kampung Sosial Dusun 7, Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim juga meluncurkan proyek pembukaan jalan baru untuk memperbaiki akses ke lokasi Pesantren, Senin, 2 Rabi’ul Awal 1445 (18/09/2023).
Pembukaan jalan ini terlaksana berkat kerja sama dengan CV Baru Tama Wijaya, dalam upaya meningkatkan infrastruktur di sekitar pesantren, kolaborasi ini diharapkan akan membawa manfaat signifikan bagi komunitas dan para penghuni pesantren.
Pembukaan jalan ini merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas akses ke Pesantren Hidayatullah Muara Enim, yang akan memudahkan akses bagi para penghuni pesantren, tamu, serta penduduk sekitar.
Pembukaan jalan ini diharapkan akan memberikan layanan terbaik kepada masyarakat dan para santri yang datang untuk belajar (ybh/hidayatullah.or.id)
DALAM organisasi, narasi besar adalah landasan filosofis yang memberikan arti dan arah pada semua yang dilakukan. Ini adalah gagasan yang membawa organisasi pada perjalanan menuju kemajuan dan kesuksesan yang berkelanjutan.
Urgensi narasi besar adalah bagian tak terpisahkan dari visi dan misi yang memandu langkah-langkah strategis dan keputusan penting organisasi kedepan.
Di bawah cahaya narasi besar yang tepat, organisasi akan mampu mengubah tujuan menjadi tindakan yang kuat, membentuk budaya organisasi yang mendukung inovasi, kretatifitas, dan memotivasi seluruh elemen organisasi untuk memberikan karya yang terbaik.
Narasi besar, juga dikenal sebagai “grand narrative” atau “meta-narrative,” sesungguhnya merupakan sebuah konsep yang naratif, luas, mendalam, dan seringkali universal yang membentuk dasar pemahaman manusia tentang dunia, nilai, dan tujuan kehidupan.
Narasi besar memberikan kerangka ideologis yang bersifat makro untuk memahami peristiwa dan fenomena di dunia dan memengaruhi cara manusia berpikir, bertindak, dan merasakan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Oleh karena itu, narasi besar dalam sebuah organisasi akan membantu dan mendeterminasi organisasi dalam menavigasi perubahan dengan lebih mudah. Saat organisasi berhadapan dengan perubahan internal dan juga pengaruh eksternal yang cepat dan tidak terduga, maka narasi besar akan memberikan kerangka yang dinamis dan fleksibel untuk beradaptasi.
Hal ini, akan membantu mengatasi ketidakpastian dan memungkinkan organisasi untuk tetap berfokus pada tujuannya dan mencegah terjadinya distorsi maupun disorientasi.
Selain itu, narasi besar mendorong terciptanya kohesi yang kuat antar elemen organisasi. Ketika seluruh organisasi memahami dan bersatu di sekitar cerita yang sama, terciptalah rasa solidaritas dan ukhuwah yang kuat. Ini memungkinkan kolaborasi dan sinergi yang lebih baik, pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat, serta kemampuan untuk mengatasi hambatan dan rintangan dengan lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya, narasi besar adalah alat yang sangat efektif untuk memotivasi seluruh elemen organisasi. Saat semua elemen orgaisasi merasa terhubung dengan cerita yang lebih besar yang jelas dan terukur tentang bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi pada kemajuan organisasi, mereka menjadi lebih bersemangat dan berdedikasi. Mereka menyadari bahwa peran mereka memiliki arti dan penting yang dapat menghasilkan hasil luar biasa.
Tidak hanya itu, narasi besar juga menjadi alat penting dalam memikat bakat dan juga lingkungan sekitar. Orang-orang cenderung tertarik pada organisasi yang memiliki visi yang jelas, terukur, dan bermakna. Dengan cara ini, narasi besar membantu membangun brand yang kuat dan memungkinkan organisasi untuk mengumpulkan berbagai jenis sumberdaya yang lebih besar.
Namun, narasi besar bukan sekadar kata-kata yang indah, berbunga-bunga, namun kosong atau nir-makna. Narasi besar merupakan platform perjuangan yang bersumber dari jatidiri organisasi dan selanjutnya menjadi energi yang mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi, bahkan untuk melakukan perubahan dan lompatan ke depan.
Untuk benar-benar efektif dan mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi dan berimbas kepada lingkungan sekitar, maka narasi besar harus tercermin dalam tindakan sehari-hari dan kebijakan organisasi. Ini harus menjadi panduan moral, ideologis sekaligus operasional yang mengarahkan keputusan etis organisasi dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, maka, narasi besar adalah peta jalan menuju kemajuan organisasi. Ini memberikan arti dan tujuan, membantu organisasi beradaptasi dengan perubahan, memotivasi anggota, dan memikat bakat dan lingkungan sekitasr.
Dengan narasi besar yang kuat, organisasi memiliki landasan yang kuat untuk mencapai tujuan-tujuan besar dan menjadi agen perubahan (agent of change) yang berarti dalam dunia yang terus berubah. Wallahu a’lam.
*) Asih Subagyo, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
PERUBAHAN seperti hembusan angin yang tak dapat dihindari. Ia sebuah konstanta dalam kehidupan setiap organisasi. Sebagaimana seorang navigator atau nakhoda yang bijak akan memanfaatkan arus dan angin untuk mencapai tujuannya.
Navigator tidak bisa mengubah arah angin, atau melawan arah angin, akan tetapi dia selalu dapat mengubah layar, untuk mengerakkan kapal hingga mencapai tujuan.
Begitu pula organisasi yang berhasil adalah yang memahami betapa pentingnya merangkul dan berdamai dengan perubahan sebagai alat untuk mencapai pencapaian yang maksimal.
Perubahan bukan permasalahan takdir sehingga hadirnya tidak hanya diterima sebagai suatu keharusan dengan pasrah. Tetapi, ia juga harus dijadikan sebagai peluang untuk menjadi energi perubahan menuju kebaikan, pada saatnya akan mencapai pertumbuhan dan peningkatan.
Organisasi yang mampu beradaptasi dan berselancar di atas perubahan lingkungan, teknologi, pasar, dan kebutuhan di sekitarnya adalah yang akan bertahan dan berkembang.
Selain itu pada saat yang bersamaan, perubahan memberi organisasi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, meresapi ulang visi, misi, dan tujuan, sehingga dapat merumuskan strategi baru yang lebih efektif dan efisian. Sehingga hal ini merupakan saat yang tepat untuk melepaskan diri dari kebiasaan lama yang mungkin sudah usang dan tertinggal oleh zaman, selanjutya dapat mendorong kretaifitas dan inovasi yang akan memberikan daya saing yang lebih kuat bagi organisasi.
Kendati demikian, perubahan juga dapat menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran di kalangan internal organisasi. Jika salah strategi, maka bukan tidak mungkin akan terjadi instabilitas dan disharmoni di organisasi karena terjadi kebingungan dalam menghadapi perubahan. Tidak jarang berakibat salah arah yang berlanjut dalam kehancuran organisasi, baik dalam sekala kecil maupun sekala yang lebih besar.
Kepemimpinan Kuat
Oleh karena itu, salah satu kunci dalam menghadapai perubahan adalah adanya kepemimpinan yang kuat. Sebab, eksistensi sebuah kepemimpinan yang kuat dan dibarengi dengan komunikasi yang jelas sangat penting dalam mengelola perubahan.
Memberikan pemahaman yang mendalam tentang alasan di balik sebuah perubahan, mengakomodasi berbagai masukan dari struktural dan angota, serta melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan dalam berbagai tingkatan, akan membantu mengurangi resistensi dan menciptakan suasana yang kondusif untuk perubahan yang sukses.
Perubahan adalah pelajaran yang tak terelakkan dan organisasi yang mampu memeluknya dengan penuh semangat dan visi yang jelas akan muncul sebagai pemenang. Ini adalah salah satu faktor penting untuk mencapai pencapaian yang terbaik, karena hanya melalui perubahan kita dapat terus bergerak maju, tumbuh, dan berkembang, menciptakan organisasi yang tangguh dan relevan di masa depan.
Dengan demikian maka perubahan adalah salah satu aspek fundamental dalam perjalanan sukses setiap organisasi. Seperti perjalanan hidup manusia yang dipenuhi oleh beragam peristiwa, perubahan adalah keniscayaan bagi suatu entitas untuk mencapai potensi terbaiknya.
Tanpa perubahan, suatu organisasi akan terjebak dalam keadaan stagnasi, mandeg, dan jumud, yang bisa menghambat kemajuan, pertumbuhan, dan daya saingnya. Perubahan bukanlah musuh, melainkan mitra dalam pencapaian keunggulan. Dan, hal ini sejalan dengan firman Allah ta’ala:
“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Q.S. Al-Ra’du, 13:11)
Akhirnya, dalam dinamika kehidupan yang terus berubah, maka organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan cerdas untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih besar. Oleh karena itu, perubahan harus diterima dengan keterbukaan dan disambut dengan strategi yang tepat.
Sebuah organisasi yang siap berubah adalah organisasi yang siap meraih pencapaian yang terbaik dalam upaya mencapai tujuannya, saat ini maupun di masa depan. Dan, menjadi tepat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa berubah atau punah. Wallahu a’lam.
*) Asih Subagyo,penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Sebagai gerakan dan organisasi Islam yang masih belia dan minim pengalaman, Hidayatullah senantiasa terbuka belajar dan bersemangat menyerap ilmu dari organisasi sejenis, terutama kepada dua organisasi massa Islam terbesar di Tanah Air yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Berangkat dari spirit tersebut, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan silaturahim kepada kedua organisasi tersebut.
Kunjungan silaturrahim pertama dilakukan ke kantor Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumsel pada Selasa, 23 Rabi’ul Akhir 1445 (7/11/2023).
Silaturahim tersebut diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel, KH. Drs. Amiruddin Nahrawi dan jajaran pengurus PWNU Sumsel di Kantor PWNU Sumsel, Jl. Mayor Salim Batubara Lorong Nurul Huda No.1988, Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning, Kota Palembang.
Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, Ust. Lukman Hakim, M.H.I, mengatakan bahwa silaturahim ini bertujuan untuk menjalin hubungan baik antara Hidayatullah Sumsel dengan PWNU Sumsel.
“Kami berharap dengan silaturahim ini, kita dapat saling mengenal dan bekerja sama untuk kemajuan umat Islam di Sumsel,” ujar Ustadz Lukman seperti dilansir laman hidayatullahsumsel.com.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel, Drs. KH. Amiruddin Nahrawi, menyambut baik silaturahim tersebut. Ia berharap, silaturahim ini dapat menjadi awal dari kerja sama yang baik antara Hidayatullah Sumsel dengan PWNU Sumsel.
“Kami menyambut baik silaturahim ini, semoga Hidayatullah Sumsel diberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umat,” ujar KH. Amiruddin.
Selain Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, turut hadir dalam silaturahim tersebut jajaran pengurus DPW lainnya yaitu Sekretaris Sriyono, S.Pd, Bendahara Dwi Agung, S.Pd, dan Kadep Ekonomi Aset DPW Hidayatullah Sumsel, Kosim.
Kunjungan ke PW Muhammadiyah
Hari berikutnya, Selasa, 24 Rabi’ul Akhir 1445 (8/11/2023), Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sumatera Selatan melakukan silaturahim ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWMU) Sumsel di Kantor PW Muhammadiyah Sumsel, Jl. Jenderal Ahmad Yani, 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang.
Silaturahim tersebut diterima oleh Ketua PW Muhammadiyah Sumsel, KH. Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H. dan jajaran Pengurus PW Muhammadiyah Sumsel.
Dalam silaturahim tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, Ust. Lukman Hakim, M.H.I. menyampaikan bahwa silaturahim ini merupakan langkah awal untuk terus menjalin kerja sama antara kedua organisasi.
“Kami berharap melalui silaturahim ini, kedua organisasi dapat saling mengenal dan bersinergi dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, dan keagamaan,” ujar Lukman.
Sementara itu, Ketua PW Muhammadiyah Sumsel, KH. Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H. menyambut baik kedatangan pengurus DPW Hidayatullah Sumsel.
“Kami sangat mengapresiasi silaturahim ini. Kami berharap silaturahim ini dapat terus berlanjut dan dapat menjadi jembatan untuk menjalin kerja sama yang lebih erat antara kedua organisasi,” ujar Ridwan.
Dalam kunjungan tersebut, Pengurus Harian DPW Hidayatullah Sumsel yang hadir meliputi Ketua, Lukman Hakim, M.H.I, Sekretaris Sriyono, S.Pd, dan Bendahara Dwi Agung, S.Pd.
Silaturahim ini merupakan langkah positif dalam memperkuat hubungan antara kedua organisasi yang memiliki peran penting dalam pengembangan agama dan sosial di Sumatera Selatan.
Seperti diketahui, Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan.
Adapun NU berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 oleh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari, atau memiliki julukan Hadratussyaikh yang berarti Maha Guru. (ybh/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Kepesantrenan (Deptren) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Training Nasional Kepemimpinan Santri Pengurus Pandu Hidayatullah bertajuk “Menjadi Kader Pemimpin Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Visioner” dimulai pada Selasa, 23 Rabiul Akhir 1444 (7/11/2023).
Acara yang berlangsung selama 4 hari ini dibuka langsung oleh Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah KH. Muhammad Syakir Syafi’i di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I No.14, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, DKI Jakarta.
Kegiatan ini terselenggara bersinergi dengan Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) dan Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah Tingkat Nasional.
Hadir pula dalam pembukaan anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Ust. Drs. H. Zainuddin Musaddad dan Ust. Muhammad Nur Fuad, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) dan Wakil Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi dan Ust. Drs. H. Aghis Mahruri.
Hadir pula Ketua Pimpinan Sako Pramuka Hidayatullah Kak Syarif Daryono serta unsur Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) Pusat Kak Ahmad Hamim dan Kak Najibullah yang sekaligus menjadi instruktur kegiatan ini.
Pandu Hidayatullah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkomitmen untuk membangun agama dan bangsa.
Dengan menggunakan pendekatan holistik, Pandu Hidayatullah tidak hanya fokus pada aspek keislaman, tetapi juga memperhatikan perkembangan intelektual, emosional, dan sosial para santri.
Metode pembinaan itu dengan melibatkan pengajaran nilai-nilai agama, pembinaan karakter, serta pemberian pengetahuan yang luas agar mereka dapat berkontribusi secara positif dalam membangun agama dan bangsa.
Selain itu, juga ada pembinaan keterampilan praktis dan kepemimpinan untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan dunia modern.
Cerdas dan Visioner
Berkenaan dengan tema acara yang mengangkat tajuk “Menjadi Kader Pemimpin Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Visioner”, menyiapkan pemimpin masa depan yang cerdas dan visioner merupakan suatu keharusan yang mendesak dalam menghadapi kompleksitas dan dinamika zaman.
Dalam konteks ini, Pandu Hidayatullah memiliki peran krusial sebagai wadah penempaan para santri agar mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki visi yang jelas terhadap masa depan.
Pandu Hidayatullah, sebagai organisasi kepanduan, bukan hanya sekadar tempat untuk memperoleh keterampilan dasar dan kemahiran bertahan hidup. Lebih dari itu, Pandu Hidayatullah menjadi arena dimana nilai-nilai kepemimpinan, kemandirian, serta kecintaan pada agama dan bangsa ditanamkan secara mendalam pada para santri.
Proses penempaan ini tidak hanya berfokus pada aspek keislaman, tetapi juga melibatkan pengembangan intelektual, emosional, dan sosial.
Pertama-tama, pendidikan agama yang diberikan oleh Pandu Hidayatullah memberikan dasar moral yang kuat bagi para santri. Keberpihakan pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kepedulian menjadi landasan untuk membangun pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Dalam pada itu, Pandu Hidayatullah turut aktif mengembangkan kapasitas intelektual para santri melalui pendidikan formal dan informal. Mereka tidak hanya diajarkan tentang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga diberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas sosial, ekonomi, dan budaya yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Hal ini membantu para santri untuk memiliki wawasan yang luas dan kritis, memungkinkan mereka menjadi pemimpin yang mampu menghadapi berbagai tantangan kompleks.
Visi masa depan yang jelas juga menjadi fokus utama dalam penempaan pemimpin di Pandu Hidayatullah. Melalui berbagai kegiatan, seperti diskusi, pelatihan kepemimpinan, dan proyek-proyek komunitas, para santri diajak untuk mengembangkan visi mereka terhadap kemajuan bangsa dan masyarakat dimana ia berada.
Dengan memiliki visi yang kuat, pemimpin yang dihasilkan oleh Pandu Hidayatullah diharapkan kelak dapat menjadi penggerak perubahan yang positif dan proaktif.
Lebih jauh diterangkan pentingnya menyiapkan pemimpin masa depan yang cerdas dan visioner melalui Pandu Hidayatullah tidak hanya berkaitan dengan kepentingan organisasi itu sendiri, tetapi juga merupakan investasi dalam keberlanjutan dan kemajuan agama dan bangsa.
Pemimpin yang cerdas dan visioner mampu membawa perubahan positif, merespon perubahan zaman, dan mengatasi berbagai tantangan kompleks.
Oleh karena itu, peran Pandu Hidayatullah sebagai wadah penempaan pemimpin yang cerdas dan visioner menjadi sangat strategis dan memberikan kontribusi nyata dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi kehidupan secara luas. (ybh/hidayatullah.or.id)
MUNTILAN (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Hidayatullah Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, bersolek indah menyambut gelaran Silatnas Hidayatullah 2023 yang akan diselenggarakan di Pesantren Hidayatullah Balikpapan pada 23-26 November 2023.
Spanduk-spanduk ucapan silatnas berkibar di berbagai sudut kampus, menunjukkan semangat para santri dan pengurus untuk menyukseskan acara akbar tersebut.
Ketua Pesantren Hidayatullah Muntilan, Muhammad Arifin, mengatakan bahwa mempercantik kampus dengan spanduk ucapan silatnas merupakan bentuk dari semangat bergerak berjamaah mengukir sejarah.
“Kami ingin menunjukkan kepada seluruh umat Islam bahwa kami siap berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang ideal untuk Indoensia yang adil dan beradab. Ini pesan moral kepada warga dan siapapun yang datang ke kampus kami, sehingga mereka juga kesetrum oleh semangat kebaikan Silatnas Hidayatullah 2023 ini,” ujarnya, Rabu, 24 Rabi’ul Akhir 1445 (8/11/2023).
Arifin menambahkan, Pesantren Hidayatullah Muntilan akan mengutus 10 perwakilan untuk mengikuti Silatnas Hidayatullah 2023. Para perwakilan telah mengikuti berbagai persiapan, baik secara fisik maupun mental.
“Kami berharap Silatnas Hidayatullah 2023 dapat menjadi momentum bagi para kader muda Hidayatullah untuk terus bergerak mengukir sejarah melalui gerakan pendidikan dan dakwah,” kata pria jebolan STAIL Surabaya itu semringah. (min/hidayatullah.or.id)
MAKKAH (Hidayatullah.or.id) — Setelah sempat tertunda karena amukan badai pandemi corona virus disease 19 (covid 19) yang berdampak cukup serius hampir semua sektor tak terkecuali biro perjalanan, sebanyak 7 dai Hidayatullah yang mengabdi di pedalaman akhirnya dapat diberangkatkan umrah tahun ini.
Program ini merupakan bagian dari benih kebaikan Travel Fatimah Zahra Semarang yang terpanggil untuk memberangkatkan umrah para dai Hidayatullah yang sudah berjalan beberapa tahun.
Namun, karena pandemi covid 19 berkepanjangan yang melanda seantero negeri, program tersebut ikut terdampak dan akhirnya terhenti. Pada tahun 2023 inilah khidmat tersebut dapat berjalan kembali melalui Saibah Travel.
Saibah Travel adalah biro perjalanan haji dan umrah milik adik dari owner travel Fatimah Zahra Ust. H. Bambang Riyanto dan Hj Aisyah Abdillah.
“Alhamdulillah ada tujuh dai Hidayatullah diberangkatkan setelah memenuhi kriteria. Diantaranya umur di atas umur 40 tahun, belum pernah umrah, dan kecil kemungkinan bisa umrah,” kata Wasekjen DPP Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi, saat melepas rombongan dari Wisma Pusat Dakwah Hidayatullah beberapa waktu lalu.
Mereka diberangkatkan dari Jakarta pada tanggal 21 Rabi’ul Akhir 1445/ 5 November 2023 dan akan menjalani rangkaian ziarah dan umrah ini selama 17 hari, yaitu hingga 8 Jumadal Awal 1445/ 22 November 2023 mendatang.
Adapun para dai yang diberangkatkan umrah itu adalah Ust. Ali Imran dari Kalimantan Barat (Kalbar), Ust. Martopo Abdul Wahab dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Ust. Muslih dari Sumatera Utara (Sumut), Ust. Mustamir dari Sulawesi Tenggara (Sultra), Ust. Sukirman dari Balikpapan, Ust. Thoriqul Fajri dari Kampus Induk Gunung Tembak, dan Ust. Bukhari dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelumnya, para peserta menjalani karantina sekaligus manasik umrah di Pusat Dakwah Hidayatullah yang dibimbing oleh Ust. Abdul Ghofar Hadi dan mendapatkan pesan pesan dari perwakilan travel yaitu Ustadz Widodo.
Abdul Ghofar mengatakan para peserta sangat berbahagia dan bersyukur bisa ibadah umrah.
“Semua orang beriman rindu bisa ibadah di Haramain, baik haji maupun umrah. Termasuk para dai Hidayatullah yang berdakwah di pedalaman, namun kondisi ekonomi tidak memungkinkan,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)