Beranda blog Halaman 249

Perluas Jangkauan Dakwah, Mushida Selenggarakan Rihlah Ruhiyah untuk Lansia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Saat ini, Hidayatullah sedang menggalakkan program Dakwah melalui Rumah Quran (RQ) untuk usia SD-SMA dan Majlis Quran (MQ) untuk usia dewasa. Begitupun Muslimat Hidayatullah turut serta menyukseskan program RQ dan MQ.

Dalam hal ini, Muslimat Hidayatullah masih fokus menangani program untuk anak-anak keputrian dan ummahat yang berusia produktif dan belum menyentuh dakwah di tingkat lanjut usia (lansia).

Pembagian kelompok lansia berdasarkan batasan umur, menurut WHO, lansia dibagi menjadi empat kelompok, yaitu: usia pertengahan (middle age): usia 45-59 tahun, lanjut usia (elderly): usia 60-74 tahun, lanjut usia tua (old): usia 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old): usia diatas 90 tahun.

Oleh karena itu, untuk melengkapi dakwah Mushida yang sudah ada, Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan kegiatan Rihlah Ruhiyah untuk lanjut usia, dengan batasan minimal usia 45 tahun.

Kegiatan ini dilaksanakan 2 hari pada Sabtu – Ahad, 13-14 Rabi’ul Akhir 1445 / 28-29 Oktober 2023 di Kantor Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta.

“Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengajak peserta merenungi kehidupan agar semakin dekat kepada Allah melalui aktivitas ruhiyah yang dijalankan,” tutur Ketua Umum PP Mushida, Hani Akbar, dalam sambutannya.

Di antara materi yang diberikan yaitu Life Journey, Kematian Sebuah Kepastian, Fitrah Manusia, Ma’rifatullah, Deklarasi Keimanan, Menuju Keindahan Islam.

Tujuan dari kegiatan Rihlah Ruhiyah yang diikuti oleh 25 peserta ini untuk memberikan pelatihan Bina Aqidah untuk ummahat lanjut usia dan mengajarkan Al Quran.

Ketua Departemen Dakwah PP Mushida sebagai penyelenggara, Sudaryani, berharap semoga kegiatan ini banyak memberi manfaat untuk menambah imunitas dan keimanan sehingga selalu menautkan hati kepada Allah.

Salah seorang peserta bernama Nunung mengaku bersyukur telah diberikan kesempatan mengikuti kegiatan ini.

“Kami bisa menimba ilmu, jiwa kami yang kosong ditambah lagi ruhiyahnya. Kami yang terlalu disibukkan dengan duniawi pada kesempatan ini bisa kembali mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, kami dapat muhasabah, menginstropeksi diri, belajar, dan silaturahim,” ungkap Nunung dalam memberikan testimoninya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Baitul Maqdis Palestina Tuntut Keterlibatan Kita dalam Al Ghazwul Al Fikri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Saat ini tengah berkecamuk serangan fisik dan militer (al ghazwul al askari) secara brutal dan membabi buta dilakukan penjajah zionis Israel ke tanah Baitul Maqdis, Palestina. Data terakhir menyebutkan jumlah korban meninggal dunia akibat serangan udara Israel di Palestina kini mencapai angka 8.000 orang.

AP News yang mengutip laporan Kementerian Kesehatan di Gaza memberitakan bahwa pada Senin, 30 Oktober 2023, dari ribuan korban meninggal di Palestina itu, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Di sisi lain, tak henti hentinya komplotan media Barat menyemburkan kebohongan dan propaganda menyesatkan ihwal tragedi yang sangat menyayat hati ini. Kendati demikian, berbagai upaya tersebut selalu mampu dipukul balik dengan fakta yang disajikan oleh jurnalis independen, pekerja kemanusiaan, dan koalisi masyarakat internasional pemerhati Palestina.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq Marling, MA, pun melihat pentingnya keterlibatan publik dalam meluruskan berbagai disinformasi yang berkembang tentang Palestina yang dijajah zionis Israel.

“Sekarang ada dua perang yang terjadi dalam masalah Baitul Maqdis Palestina yaitu perang militer atau fisik al ghazwul al askari dan perang opini, al gazhwu al fikri. Selain mendoakan, kita bisa ikut terlibat dalam al gazhwu al fikri dengan menyebarkan kebenaran tentang Palestina,” katanya.

Hal itu disampaikan Nashirul Haq pada sambutannya ketika mengantar forum Briefing Nasional Pemuda Hidayatullah tentang Baitul Maqdis bertajuk “Framework Sistem Wahyu tentang Baitul Maqdis, Pembebasannya dan Geopolitik Dunia“, Ahad malam, 14 Rabi’ul Akhir 1445 (29/10/2023).

“Perkara Baitul Maqdis Palestina ini adalah masalah aqidah dan masalah kemanusiaan, maka kita lihat manusia seluruh dunia terlibat,” kata Nashirul.

Lebih jauh, dia menegaskan, isu Palestina pun sesungguhnya bukan hanya masalah aqidah dan masalah kemanusiaan tetapi juga merupakan tanggung jawab konstitusi yang dibebankan pada bangsa kita dan setiap pundak pundak kaum muslimin.

“Kemudian ini juga tanggung jawab konstitusi, maka kita perlu memahami secara global persoalan Palestina, Baitul Maqdis, dan Masjidil Aqsha,” terangnya.

Nashirul lantas menguraikan perihal keutamaan Baitul Maqdis Palestina dan penduduk Syam yang disebut Nabi sebagai penduduk yang teguh dalam keimanan sampai tiba kiamat.

“Baitul Maqdis adalah kiblat pertama umat Islam. Dia adalah tanah suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Masjid yang diperintahkan oleh Nabi kita untuk dikunjungi meskipun saat ini kita belum bebas untuk mengunjunginya,” katanya.

Ia juga menjelaskan ihwal bangsa Yahudi mengenai sejarah dan kehidupannya yang banyak termaktub dalam Al Qur’an baik mengenai ciri ciri dan wataknya.

Nashirul menyebutkan, Yahudi adalah sebuah bangsa. Adapun zionis, adalah gerakan politik untuk berdiri sendiri sehingga menjadi penjahat perang.

“Yahudi yang juga identik dengan Bani Israil memang telah diabadikan dalam Qur’an, seperti dalam surah Al Maidah, dimana Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa sungguh akan didapati orang orang yang permusuhan dan kebenciannya kepada Islam sangat tinggi,” katanya sambil mengutip kitab suci Al Qur’an surah al-Isra ayat 4-6 yang memotret kesombongan golongan ini.

“Maka kita melihat kesombongan Israel meremehkan resolusi PBB untuk gencatan senjata. Inilah kesombongan yang besar,” kata Nashirul.

Selain sombong, kaum Bani Israil juga gemar membunuh. Seperti membunuh nabi nabi dan mereka juga berusaha membunuh orang orang yang suci yang mengajak kepada keadilan. “Maka mereka pun sangat memusuhi pihak pihak yang pro Palestina,” katanya.

Membantu Palestina

Lebih jauh Nashirul menegaskan bahwa pembelaan kita untuk Palestina terutama karena dilandasi keimanan aqidah Tauhid. Pembelaan itu juga karena dilandasi oleh persamaan keyakinan (ukhuwah islamiyah) dan persaudaraan antar sesama manusia (ukhuwwah fi al-insaniyah basyariyyah) yang menghendaki keamanan dan keadilan.

“Apa yang dilakukan oleh penjajah zionis Israel sudah keterlaluan, tidak manusiawi, brutal, dan kebablasan,” cetusnya.

Atas kesadaran itu pula, ia pun menyerukan agar selalu mendoakan saudara saudara kita Palestina yang berdiri di garis depan dalam membela kehormatan dan kemuliaan kaum muslimin dan Baitul Maqdis. Selain doa, tidak kalah penting adalah membantu dengan harta (amwal).

“Kita doakan terus Palestina dengan qunut nazilah. Di masjid Baitul Karim DPP Hidayatullah sendiri sudah lima waktu qunut nazilah,” katanya.

Nashirul juga mengemukakan pentingnya untuk terus membela Palestina melalui jalur diplomasi politik dengan terus mendorong pemerintah untuk melakukan pembelaan terhadap Palestina yang lebih kuat lagi.

“Kita apresiasi pernyataan tegas dan terang menteri luar negeri kita ibu Retno Marsudi berbicara di depan podium Majelis Umum PBB di New York yang menegaskan posisi Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina,” katanya.

Nashirul menukaskan, sejatinya Baitul Maqdis Palestina tidak butuh kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya.

Namun, persoalan utamanya, tegas dia, adalah jangan sampai Palestina dibebaskan lalu kemudian kita tidak masuk menjadi bagian dari perjuangan ini.

“Mari kita menjadikan kebaikan ini sebagai wasilah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala dan membuktikan jihad kita secara ruhiyah, maaliyah, dan jasadiyah,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Semarak Pengajian Umum dan Launching Rumah Quran di Palu Sulteng

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Semarak dan suasana khidmat tersaji dalam pelaksanaan kegiatan Pengajian Umum dan peluncuran (launching) Rumah Qur’an (RQ) Al Qalam yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah bersama Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah (Sulteng) di Kota Palu, Ahad, 14 Rabi’ul Akhir 1445 (29/10/2023).

Kegitan pengajian umum ini menghadirkan Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Kahhar, M.Si, selaku Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Pusat yang didampingi Ustadz Suhardi, S.Th.i selaku Pembina Pondok Tahfidz Global Jayakarta, DKI Jakarta.

Dalam sambutan tausyiahnya, Ust. Aziz mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Pengajian Umum sekaligus launching Rumah Qur’an Al-Qalam Kota Palu, Sulawesi Tengah ini.

Dia menyampaikan Rumah Qur’an ini adalah bagian upaya Hidayatullah untuk meng-Qur’an-kan masyarakat dan memasyarakatkan Al-Qur’an.

Aziz menyampaikan bahwa Rumah Qur’an yang ada dijalankan Hidayatullah terbuka untuk semua kalangan, tidak seperti TPA yang hanya menerima anak-anak.

“Di sini juga terbuka untuk semua usia. Maka di rumah Qur’an ini semua yang sudah bisa belajar Al-Qur’an namun belum belajar tajwid juga bisa belajar di rumah Qur’an ini,” kata Aziz.

Kemudian beliau sampaikan bahwa ada beberapa kewajiban kita kepada Al-Qur’an dimana ia sangat mendasar sekali yaitu pertama meyakini, lalu mengilmui, mengajarkan, dan mendakwahkan Al-Qur’an.

“Kemudian, yang terakhir, kita harus memperjuangkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari hari, sekurang kurangnya menerapkannnya pada diri sendiri dan lingkungan,” katanya.

Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan sembari mengajak jamaah pengajian umum untuk hendaknya selalu menjadikan Al Quran sebagai orientasi dalam kehidupan dalam rangka meraih ridha dan menyerap berkah Allah Ta’ala.

“Saya selalu menyampaikan kepada ummat Islam selagi masih hidup wajib hukumnya belajar. Ayo kita belajar Al-Qur’an,” ajaknya menegaskan.

Turut hadir dalam acara ini Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah yang juga Pembina Rumah Qur’an Al-Qalam Hidayatullah Ust Mahmud Iqbal, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah Suaib Sudirman, S.Pd, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Palu Ust. Firaus, tokoh agama dan tokoh masyarakat Pak Hamdan, S.Sos, Lurah Tanamodindi, bersama Majelis Taklim se Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. (ybh/hidayatullah.or.id)

Baitul Wakaf dan Fundex Tandatangani Kerjasama Kemitraan Strategis Dalam ISEF

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Baitul Wakaf turut memeriahkan acara Islamic Syariah Economic Syariah (ISEF) 2023 ke-10. Acara ini digelar mulai 25 hingga 29 Oktober 2023 di Jakarta Cention Center (JCC).

Selain itu, Baitul Wakaf juga hadir untuk memperkuat relasi dan kemitraan dengan PT Dana Investasi Bersama (Fundex) selaku securties crowdfunding dalam salah satu pagelaran even ISEF Bussiness And Financial Deals.

Pada pagelaran bertema “Optimizing Strategic Sinergy and Resilient Collaboration For Inclusive And Sustainable Growth” ini, kedua pihak melakukan MOU yang langsung ditandatangi Rama Wijaya selaku Direktur Baitul Wakaf dan Agung Wibowo selaku Direktur Utama Fundex.

“Alhamdulillah, pada ISEF tahun ini secara nyata kolaborasi bisa dilakukan lintas sektor dengan harapan pertumbuhan wakaf bisa secara optimal dilakukan,” kata Rama selaku Direktur Baitul Wakaf, Jumat, 12 Rabi’ul Akhir 1445 (27/10/2023).

Kata Rama, perpaduan sinergi social dan komersial saat ini semakin mudah dilakukan, seperti halnya Baitul Wakaf dan Fundex.

“Semoga mampu memberikan kontribusi pada pertumbuhan wakaf secara signifikan,” tuturnya.

Rama menuturkan Baitul Wakaf sebagai nazhir wakaf yang tergabung dalam Forum Wakaf Produktif (FWP) secara aktif berupaya menjadi bagian dalam syiar, edukasi, dan literasi wakaf dalam berbagai kesempatan. Beberapa kerjasama bahkan tidak hanya pada sisi literasi namun juga sinergi program dilapangan.

Selain itu inisiatif kerjasama startegis yang dilakukan Baitul Wakaf dengan Fundex juga merupakan upaya untuk menggiatkan wakaf agar lebih dikenal dan menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat luas untuk menunaikannya dengan segala fasilitas dan kemudahan yang ada.

“Dengan hadirnya kolaborasi ini menjadi harapan selain memberikan informasi literasi dan kemudahan wakaf juga memberikan akses kemudahan untuk menunaikannya untuk memajukan ekonony syariah,” tutur Rama lagi.

Dalam ISEF ke 10 yang dibuka Wakil Presiden (Wapres) Indonesia Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin yang mengusung tema ‘Accelerating Sharia Economy and Finance Through Digitalization For Inclusive and Sustainable Growth’, pameran ini menghadirkan sebanyak 793 exhibitor dari Indonesia serta 20 negara sahabat.

Dalam acara pagelaran tahunan ekonomi syariah terbesar ini, ISEF menjadi wadah integrasi berbagai kegiatan di sektor ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar).

Baitul Wakaf hadir dalam International Halal Showcase berkolaborasi dengan berbagai nazhir wakaf dalam Forum Wakaf Produktif membuka booth layanan dan informasi wakaf. (ybh/hidayatullah.or.id)

Bacalah Al Qur’an agar Mantap dan tak Bingung di Belantara Informasi Soal Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ada muslim yang apatis bahkan sinis pada tanah Baitul Maqdis, Palestina, yang tak kenal lelah berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Pihak pihak yang sinis ini beranggapan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis hanya masalah ‘politik’ berkepanjangan dan bisa selesai dengan solusi dua negara (two-state solution).

Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah, Babeh Dzikrullah W. Pramudya, menegaskan penilaian semacam itu keliru dan salah kaprah.

“Tidak boleh ada pemuda Hidayatullah yang mengatakan ini kok masalah Palestina lama banget. Ini pernyataan orang yang tidak baca Al Qur’an,” kata Babeh.

Hal itu disampaikan Babeh pada forum Briefing Nasional Pemuda Hidayatullah tentang Baitul Maqdis bertajuk “Framework Sistem Wahyu tentang Baitul Maqdis, Pembebasannya dan Geopolitik Dunia“, Ahad malam, 14 Rabi’ul Akhir 1445 (29/10/2023).

“Kalau baca Al Quran, baca sejarah para sahabat, baca sejarah para mujahidin, kamu tidak akan memandang bingung dan ragu apa yang sedang terjadi. Kalau kamu baca media sosial, baca berita yang ada di WA (Whatsapp), itu pasti akan makin bingung,” katanya.

Mantan wartawan The Brunei Times dan editor senior Majalah Hidayatullah ini menyampaikan bahwa sumber sumber informasi primer tentang Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis, Palestina, sudah tersaji dengan lengkap di dalam Al Qur’an, sejarah Nabi dan para sahabat.

Karena itu, tegas dia, jika tak mau bingung atau tersesat mengenai wacana atau pemberitaan mengenai Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina, maka bacalah Al Qur’an dan sejarah (shirah) Nabi dan sahabat.

“Saya wartawan 30 tahun di majalah Hidayatullah dan berbagai media yang lain. Saya mau menyampaikan, makin banyak kita baca berita dari koran, makin bingung. Kalau kita bacanya dari Qur’an, makin mantap,” kata salah satu pendiri Hidayatullah.com ini.

Palestina Bisa Merdeka Kapanpun

Sebelumnya pada pertemuan Webinar Pendidikan betajuk “Memahamkan Keluarga tentang Kondisi Palestina” yang digelar Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Sabtu, 6 Rabi’ul Akhir 1445 (21/10/2023), Babeh menyampaikan bahwa dengan kekuasaan-Nya, Allah Ta’ala bisa memerdekakan Palestina kapanpun Dia kehendaki.

“Allah Ta’ala yang berkuasa atas segala sesuatu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Allah Ta’ala bisa memerdekan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis dalam waktu satu hari, dalam waktu enam jam, bahkan dalam waktu satu jam,” imbuhnya.

Lalu, kenapa Allah Ta’ala memperpanjang dan mengulur ulur sampai 106 tahun sejak Palestina dijajah oleh Israel pada bulan 11 Desember 1917?

“Supaya kaum muslimin mendengarkan penjelasan tentang Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis dan ikut membebaskannya. Supaya kaum muslimim bangkit membebaskan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis. Nggak ada alasan lain,” terangnya.

Babeh menjelaskan, Allah Ta’ala punya kekuasaan untuk memerdekakan Palestina. Namun, kenapa Allah ulur sampai 106 tahun adalah supaya kita semua membicarakan tentang surah At Tiin, surah Al Isra, surah Al Maidah, membicarakan surah Ar Ruum, membicarakan tentang surah Al Qomar. “Agar kita mendengar pesan pesan kitabullah tersebut,” katanya.

“Supaya dalam shalat kita terus mengangkat tangan kita dan berdoa kepada Allah semoga dimenangkan para mujahidin. (Supaya) kita mengeluarkan tabungan kita untuk jihad Palestina. Supaya kita menyebarkan informasi ini kepada orang orang. Informasi tentang Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis adalah amanah di pundak pundak kita, di handphone handphone kita,” serunya.

Babeh menerangkan bahwa masalah Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina, tidak mungkin dipisahkan dari politik karena dengan wasilah itulah perjuangan memerdekakan tanah Palestina terus dilakukan. Sebagaimana dulu Indonesia berjuang merebut kemerdekananya melalui jalur politik.

“Kalau ada yang menyebut ini isu politik, memang politik. Indonesia juga merdeka dengan politik, dengan perundingan politik. Memang harus saling mendukung antara politik, militer, ekonomi, sosial budaya, dalam melawan penjajahan itu,” tukasnya.

Relawan yang ikut dalam konvoi kapal Mavi Marmara untuk misi Freedom Flotilla tahun 2010 ini menekankan bahwa isu Palestina pertama tama adalah masalah aqidah, selain sebagai masalah kemanusiaan dan hak asasi manusia.

“Insya Allah, nashrun minallahi wa fathun qorib wa bassyiril mu’minin. Pertolongan Allah dan kemenangan itu sangat dekat. Sangat dekat. Sangat dekat,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hadirkan RQ di Mantikulore Kuatkan Gerakan Berantas Buta Aksara Al Quran

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) meresmikan Rumah Quran di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 15 Rabi’ul Akhir 1445 (29/10/2023).

Peresmian RQ Al Qalam ini dilakukan oleh dai yang juga anggota Wantim Hidayatullah Ust. Dr. Ir. Abdul Aziz, M.Si dan turut dihadiri oleh Ustadz Rifqi, dai tangguh, dan senior BMH yang beralangsung di lokasi Rumah Quran Al-Qalam, di Jl. Nuri, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Dalam sambutannya, Ustadz Rifqi menyampaikan peresmian salah satu RQ di Kota Palu ini dalam rangka untuk semakin menguatkan ikhtiar BMH dengan simpul sinergi yang ada untuk memberantas buta aksara Al Qur’an.

Rifqi menegaskan bahwa program Rumah Quran ini akan berhasil dengan dukungan dari masyarakat dan BMH.

Ia juga mengajak umat Islam untuk tidak ragu dalam menjalankan program besar, karena Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Besar.

“Dengan dukungan dari masyarakat dan BMH, program ini akan berhasil. Kita tidak boleh ragu mengangkat program besar, sebab Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Besar, kita berniat semoga 100 Rumah Quran dapat kita hadirkan,” tegas Ustadz Rifqi.

Rumah Quran ini diharapkan dapat mendukung laju sukses besar dakwah dan pendidikan di Kota Palu. Selain itu, Rumah Quran ini juga diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu agama.

Program ini berjalan dengan baik berkat sinergi Laznas BMH dengan PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah.

“Launching ini menandai bahwa gerakan pendidikan Alquran akan mulai berjalan dan menggerakkan masyarakat gemar belajar,” ungkap Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah, Syuaib Sudirman.*/Herim

Pemuda dan Umat Aksi Depan Kedubes AS Tuntut Hentikan Pembantaian Israel di Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ratusan ribu pemuda dan umat Islam lainnya dari berbagai perkumpulan menggelar aksi damai di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jakarta, Sabtu, 15 Rabi’ul Akhir 1445 (29/10/2023).

Aksi ini digelar bertepatan dengan momen Sumpah Pemuda, sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan penghentian kebiadaban Israel yang melalukan pembantaian di Palestina.

Dalam aksinya, para pengunjuk rasa membawa berbagai poster dan spanduk bertuliskan dukungan terhadap Palestina. Mereka juga meneriakkan slogan-slogan seperti “Palestina Merdeka” dan “Israel Teroris.”

Kondisi di Palestina kian terisolir karena seluruh fasilitas umum seperti listrik, internet, air bersih dimatikan oleh Israel. Akibatnya saat ini rakyat Palestina hidup dalam kondisi sangat-sangat kesulitan.

Sampai detik ini tercatat 7. 200 orang meninggal dunia akibat agresi Israel sejak tanggal 7 Oktober 2023. Dunia bertanya sampai kapan pembantaian ini akan terus berlanjut.

Puncaknya kaum muda dalam aksi itu mendorong 4 hal dalam bentuk Ikrar Pemuda pada momentum sumpah pemuda yang dibacakan bersama oleh Presidium Pemuda Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis (KIBBM).

Ikrar Sumpah Pemuda Indonesia lawan pembantaian di Palestina:

1. Kami pemuda Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina
2. Kami pemuda Indonesia memperjuangkan kedaulatan Palestina
3. Kami pemuda Indonesia menuntut keadilan untuk Palestina
4. Kami pemuda Indonesia memuliakan kemanusiaan bangsa Palestina

BMH Gelar Forum Refleksi Sumpah Pemuda Bela Kemerdekaan Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama simpul sinergi mengadakan refleksi Hari Sumpah Pemuda mengangkat tema “Pemuda, ZIS, dan Palestina Kekuatan Nyata Umat Islam” yang digelar hybrid pada Sabtu petang, 13 Rabi’ul Akhir 1445 (28/10/2023).

Forum ini menghadirkan narasumber yaitu Humas Forum Zakat (FOZ) Novi Nusaibah, pendakwah milenial yang juga mantan Ketum DPP Pemuda Al Irsyad Ust. Fahmi Faishal Bahreisy, Lc., MA, Humas Laznas BMH Imam Nawawi, dan dipandu Ainuddin Chalik dari Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) sebagai moderator.

Sebagai pemapar pertama, Novi Nusaibah, meletakkan generasi muda pertama tama sebagai agen perubahan (agent of change). Peristiwa Sumpah Pemuda salah satunya kemudian meneguhkan positioning tersebut.

“Di setiap zaman dan peradaban dunia, peranan generasi muda selalu menempati posisi penting dan strategis baik dalam melakukan perubahan maupun menghadirkan terobosan,” kata Novi.

Karena itu, Novi lantas memantik putra putri bangsa untuk menyelami makna Sumpah Pemuda sebagai semangat yang mendenyuti gerakan keswadayaan nasional dalam menguatkan sesama.

“Meskipun zakat dilakukan karena motivasi agama yang diperintahkan Allah Ta’ala, namun zakat sejatinya hadir secara inklusi menjawab problem dalam setiap sendi sendi kehidupan alam semesta,” katanya.

Oleh sebab itu, masalah Palestina pun mendapat perhatian dengan porsi besar dalam pendayagunaan zakat.

Dengan keswadayaan masyarakat Indonesia melalui kesadaran akan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS), ikhtiar pembelaan terhadap Palestina terus dilakukan diantaranya dengan mendirikan pusat pusat kesehatan dan pemenuhan kebutuhan mendesak lainnya.

Sementara itu, Ust. Fahmi Faishal Bahreisy, menekankan keberadaan tanah Palestina pusat kemuliaan dan keberkahan umat Islam yang, karena itu, hendaknya perhatian terhadapnya tak boleh lekang.

“Kalau umat Islam abai terhadap Baitul Maqdis, Palestina, maka ia akan abai pada Baitullah,” kata Fahmi Faishal Bahreisy mewanti wanti.

Oleh sebab itu Fahmi Faishal berharap pemahaman terhadap Palestina adalah hal penting dan mendasar yang sangat perlu bahkan wajib diilmui oleh setiap muslim.

Sebab, terangnya, ketidakfahaman terhadap posisi Baitul Maqdis Palestina bisa membuat pemuda Islam justru akan mendekonstruksi berbagai upaya dukungan dan solidaritas terhadap negeri Syam itu.

“Bahkan ada yang salah kaprah menyebut masalah Palestina hanya masalah politik dan konflik kemanusiaan, padahal ini masalah agama dan aqidah kita,” pungkasnya.

Iqra Bismirabbik

Sementara itu, pembicara terakhir, Imam Nawawi, menegaskan bahwa salah satu problem utama Islam adalah reaktif dan tak memiliki agenda gerakan yang kolosal, massif, dan sistematis.

“Kita umat Islam seringkali hanya reaktif. Setelah situasi mereda, seperti dalam masalah Palestina, gerakan pun melemah dan tak ada lagi fokus dan agenda yang jelas. Padahal musuh terus bergerak tanpa lelah bahkan ketika kita sedang tidur,” imbuhnya.

Karenannya, menurut Imam, masalah tersebut perlu sama disadari dan dientaskan dengan membangun budaya baru yaitu gerakan iqra’ bismirabbik sebagai transformasi ilmu dan wacana melalui penegakan tradisi baca dengan penuh ketekunan.

Ia lantas mencontohkan Indonesia pra kemerdekaan. Dalam waktu pra kemerdekaan itu kaum muda Islam Indonesia aktif membaca, sehingga mereka bisa menakar dengan tajam perihal apa yang akan terjadi dalam konstelasi global dan apa yang perlu mereka lakukan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

“Bagaimana anak muda Indonesia kala itu, yang listrik belum ada, buku terbatas, tetapi gairah membacanya sangat tinggi. Lebih dari itu mereka hidup dengan cita-cita, bukan pragmatisme pribadi,” imbuhnya.

Sementara pemuda masa kini, sebagiannya, kalau ada kesempatan, lebih baik segera duduk di jabatan tinggi dengan gaji besar. Padahal, sebagai pemuda masa kini kita punya PR, bagaimana kejayaan dahulu kita kembalikan.

“Kemudian, bagaimana kita mampu mengentaskan umat dari kemunduran, ilmu dan teknologi. Dan, mampu menjawab tantangan keumatan, dari ekonomi, sosial, hingga peradaban,” ujarnya.

Dia menegaskan, bagaimanapun pemuda masa kini harus sadar dan bergerak. Karena perubahan hanya mungkin hadir dari gerakan kesadaran, bertumbuhnya pengetahuan, dan perjuangan kaum muda. “Sejarah mencatat selalu begitu,” tegasnya.

Kegiatan ini turut didukung Forum Zakat (FOZ), PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, dan lembaga studi dan pengembangan pemuda Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect).*/ (ybh/hidayatullah.or.id)

BMH Gelar Pembinaan, Dorong Amil Jadi Profesional Profetik dan Manhaji

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar pembinaan amil di pelataran Rumah Kreatif BMH, Depok, Jum’at, 13 Rabi’ul Akhir 1445 (27/10/2023).

Pembinaan amil merupakan program utama yang harus diikuti oleh amil BMH yang biasa dilaksanakan pada hari Jumat di setiap akhir bulan.

Pada pembinaan amil kali ini, kegiatan pembinaan amil diisi oleh Ketua Dewan Pengawas BMH, Wahyu Rahman yang mengusung tema “Menjadi Amil Profesional, Profetik yang Manhaji.”

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadikan amil lebih professional, profetik yang manhaji.

“Kita sebagai amil itu bukan sekadar sebagai pekerja, tetapi amil ini merupakan suatu profesi yang mulia karena mendapat tugas langsung dari Alquran. Untuk itu bukan sekadar professional, tetapi juga profetik yang manhaji,” ujar Ketua Dewan Pengawas BMH, Wahyu Rahman.

Hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Utama BMH, Supendi, yang mengatakan bahwa “manusia bukanlah mesin produksi.”

Maka dengan diadakannya program pembinaan amil ini BMH terdepan dalam menjadikan amilnya memiliki nilai spiritual dalam bekerja dan menjalankan amanah di dalam kelembagaan.

Salah seorang peserta pembinaan amil, Nu’man mengatakan bahwa kegiatan amil yang dilaksanakan hari ini mampu mendorong amil menjadi lebih professional dalam bekerja dan memiliki perilaku profetik yang manhaji.

“Pembinaan amil hari ini sangat menarik. Karena kita didorong untuk menjadi seorang amil yang professional, profetik, dan mampu menjalankan amanahnya sesuai dengan manhaj yang ada di lembaga BMH. Selain itu dengan mengikuti program pembinaan amil kita diberikan pemahaman untuk menjadikan pekerjaan kita ini sebagai ibadah dan bagian dari menjalankan visi Hidayatullah, yaitu membangun peradaban Islam,” ujar Nu’man selaku peserta pembinaan amil.

Direktur SDM BMH Pusat, Marsono, menerangkan bahwa langkah ini merupakan bagian penting dari upaya kebaikan dalam performa BMH sebagai Laznas.

“Pembinaan sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas kinerja organisasi. SDM yang berkualitas akan mampu bekerja secara efisien, efektif, dan proporsional. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan daya saing organisasi dengan basis bersungguh-sungguh dalam kebaikan,” urainya.

“Upaya ini bertujuan meningkatkan pemahaman, kesadaran para amil, sehingga terus mengasah keterampilan dan pengetahuan,” tutupnya.*/Herim

Peduli Palestina Jamaah Masjid Kawasan Industri Jakarta Infak Melalui Laznas BMH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerjasama dengan masjid di kawasan industri di Jakarta melakukan aksi peduli Palestina.

“Alhamdulillah jama’ah masjid antusias, walaupun aksi itu dilakukan selepas sholat dhuhur,” tutur Koordinator Marketing BMH Jakarta, Ahmadi, Kamis, 11 Rabi’ul Akhir 1445 (26/10/2023).

“Namun ternyata jama’ah antusias mengikuti rangkaian aksi ini, terutama saat paparan kajian tentang kita butuh membantu Palestina yang disampaikan oleh Kepala Humas BMH Pusat, Ustadz Imam Nawawi,” imbuh Ahmadi.

Dalam momen tersebut terkumpul infak senilai Rp. 5.600.000 dari para jama’ah yang tampak begitu peduli kepada saudara kita di Palestina.

Dalam kajiannya, Ustadz Imam Nawawi menerangkan bahwa kita sebagai umat Islam butuh membantu Palestina, karena masyarakat di sekitar Masjid Aqsha adalah tempat yang termasuk orang yang mencintai masjid itu mendapatkan berkah dari Allah.

“Kita bisa belajar dari orang Palestina tentang apa itu arti kehidupan. Anak-anak di sana sekarang menuliskan nama masing-masing di betis, lengan dan bagian tubuh lainnya. Agar kala serangan Israel mengenai mereka dan mereka gugur, mereka bisa dikenali dengan segera. Sebuah sikap yang begitu luar biasa dalam menyambut perpisahan dengan dunia yang fana ini. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua,” urainya.*/Herim