Beranda blog Halaman 281

Pemuda Hidayatullah DKI Dukung FGD Raperda Berantas Narkotika

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta bersama dengan sejumlah organisasi pemuda lainnya menghadiri undangan rapat persiapan Forum Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dan Prekursor Narkotika di Provinsi Jakarta.

Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat Bakesbangpol Provinsi DKI Jakarta yang terletak di lantai 15 Gedung Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Dzulqa’idah 1444 (6/6/2023).

Kehadiran elemen pemuda tersebut menandai komitmen mereka dalam memerangi penyalahgunaan narkotika yang semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, Adam Sukiman Langgu, mengatakan pihaknya siap untuk turut mensukseskan kegiatan yang menurutnya sangat positif tersebut.

Adam mengamini bahwa masalah narkotika menjadi ancaman serius bagi generasi muda terutama di Jakarta. Oleh sebab, kata dia, melibatkan unsur pemuda dalam pengentasannya merupakan terobosan menarik dan sangat progresif dari pemerintah kota dalam hal ini Kesbangpol.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Kesbangpol DKI Jakarta dalam menyelenggarakan kegiatan ini,” kata Adam.

Adam yang juga dai muda di Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) mengatakan penyalahgunaan narkotika di negeri ini terutama di Ibukota Jakarta telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan terutama di kalangan remaja.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengadakan regulasi yang memadai guna mencegah dan membatasi peredaran dan penggunaan narkotika,” katanya.

Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta bergabung dengan berbagai organisasi pemuda lainnya, seperti Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta, Pemuda Melayu DKI Jakarta, Pemuda Batak Bersatu DKI Jakarta, Srikandi Pemuda Pancasila DKI Jakarta, dan Wanita Kosgoro DKI Jakarta, dalam upaya bersama merumuskan naksah akademis Perda P4GN dan Prekursor Narkotika di Provinsi DKI Jakarta.

Adam menjelaskan, rapat persiapan FGD ini menjadi langkah awal yang penting dalam rangka menyusun rancangan peraturan daerah yang akan menjadi acuan dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Jakarta.

“Dengan kolaborasi antara berbagai organisasi pemuda yang berkomitmen dalam melawan narkotika, diharapkan langkah-langkah konkret dapat diambil untuk mengatasi masalah ini dan melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkotika,” imbuh guru madrasah ini.

Proses penyusunan Perda ini juga akan melibatkan stakeholder lainnya, termasuk unsur pemerintahan, lembaga penegak hukum, masyarakat, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Diharapkan dengan kerjasama antarorganisasi pemuda yang kuat, diharapkan langkah-langkah pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika di Jakarta dapat berhasil dilaksanakan.*/Yacong B. Halike

Meminta, Bersandar, dan Mengeluh Hanya kepada Allah

0

“ALLAH adalah Tuhan yang kepada-Nya segala sesuatu bergantung”. Demikianlah kurang lebih terjemahan dari kalimat singkat yang terdapat pada ayat ke-2 dari surah al-Ikhlas, yaitu ‘allahus shamad’. Kita pun pasti sudah sangat akrab dengannya.

Tampaknya, surah ini bersama surah al-Fatihah dan al-Mu’awwidzatain, termasuk bacaan yang paling sering dilafalkan kaum muslimin di seluruh dunia. Makna surah ini memang luar biasa, sehingga dalam Riwayat Bukhari dari Abu Sa’id, dan Muslim dari Abu Hurairah surah ini disebut sebagai sepertiga Al-Qur’an oleh Rasulullah.

Menurut Abu Bakr Ibnul Anbari (seorang pakar bahasa Arab, w. 328 H), kata ash-shamad berarti sayyid (tuan, pemimpin) yang tidak ada lagi yang lebih tinggi di atasnya, dimana semua orang bersandar kepadanya dalam segala urusan dan kebutuhan mereka.

Demikianlah pengertiannya secara bahasa. Alhasil, ketika sifat tersebut dilekatkan kepada Allah, berarti tidak ada lagi siapa pun atau apa pun di atas-Nya, dimana semua makhluk melabuhkan seluruh pengharapan dan keperluan mereka.

Dialah Allah Ta’ala sebagai puncak tertinggi, harapan utama dan terakhir, satu-satunya yang senantisa bisa diandalkan pada saat semua telah menyerah. Dan, sungguh siapa saja yang bersandar kepada-Nya tidak akan kecewa.

Ayat yang hanya terdiri dari dua kata tersebut mengajarkan kepada kita satu nilai penting yang tidak ada duanya dalam Islam. Bahwa semestinya hanya kepada Allah-lah kita bersandar, bergantung, menjadikan andalan.

Bukan bersandar kepada yang lain, entah yang kasat mata maupun gaib. Inilah inti tauhid. Ini pulalah yang semestinya kita pertajam dari waktu ke waktu, dan kita ajarkan pula kepada anak-anak dan murid-murid kita.

Perkara Utama dan Penting

Mengapa pembicaraan seputar masalah ini dirasa penting? Sebab, ada banyak fenomena memprihatinkan yang terjadi. Misalnya, anggapan bahwa profesi dan pekerjaanlah yang menjamin rezeki seseorang, sehingga masyarakat beramai-ramai menyerbu lowongan pekerjaan tertentu, atau pendidikan yang bisa mengantarkan kepada pekerjaan tertentu.

Sebagian mereka bahkan bersedia membayar “biaya siluman” hingga ratusan juta rupiah, hanya untuk memastikan dirinya diterima.

Sungguh, fenomena seperti ini tidak mungkin lahir kecuali dari lemahnya fondasi akidah tauhid, bahwa Allah-lah yang memberi rezeki, menentukan hidup dan mati, dan satu-satunya andalan bagi segala sesuatu. Bukan pemerintah, bukan universitas, bukan bank, bahkan bukan siapa pun atau apa pun selain Allah!

Sebetulnya, memilih pekerjaan apa saja bukanlah sebuah dosa, sepanjang tidak mengandung maksiat di dalamnya. Yang menjadi persoalan adalah keyakinan-keyakinan keliru yang tertanam di balik pilihan tersebut.

Dengan tanpa bermaksud untuk buruk sangka atau menggeneralisir, samar-samar sebenarnya kita bisa mencium aroma ketidakberesan akidah itu ketika membaca berita penipuan dan kasus suap-menyuap dalam seleksi pegawai negeri atau penerimaan siswa/mahasiswa baru.

Diceritakan bahwa dulu setiap kali memberi pembekalan tugas ke suatu daerah, Allahu-yarham Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) sering berpesan kepada para santri, kurang lebih demikian: “Allah di Papua adalah sama dengan Allah di Gunung Tembak!”. Nama daerah yang disebut terakhir adalah lokasi tempat Kampus Pusat Hidayatullah di Balikpapan (Kaltim) berada.

Artinya, jika doa-doa kita didengar serta dikabulkan oleh Allah di suatu tempat, maka di tempat lain pun demikian. Sebab, Dia adalah Tuhan di sini, juga Tuhan di sana. Bukankah seluruh jagad raya adalah milik-Nya semata?

Keyakinan inilah yang melecut semangat para santri untuk menembus rimba belantara, menyusuri sungai-sungai berliku, dan berupaya mendakwahkan Islam ke mana pun mereka ditugaskan.

Bekal keyakinan seperti inilah yang sesungguhnya tertanam dalam jiwa para da’i muslim di masa silam, semisal Wali Songo. Bayangkanlah bagaimana Wali Songo tertua, yaitu Syaikh Ibrahim Samarqandi yang berasal dari Uzbekistan (Asia Tengah) datang ke Tanah Jawa, lalu mengajarkan Islam kepada penduduknya yang mayoritas menganut Hindu, Buddha, atau Animisme.

Bayangkanlah kendala-kendala bahasa, budaya, makanan, iklim, dsb. Tetapi, bukankah Allah yang beliau sembah di Asia Tengah adalah Tuhan yang juga menguasai Tanah Jawa? Jadi, beliau tidak pernah merasa sendirian dan terasing, karena Allah selalu menyertainya, mendengar permohonannya, mengawasi gerak-geriknya, bahkan seandainya beliau mengembara hingga ke lubang semut sekali pun!

Oleh karenanya, betapa pentingnya menyemai serta mengukuhkan keyakinan semacam ini dalam jiwa kita, kemudian mewariskannya kepada generasi di belakang kita. Warisan harta bisa dengan mudah berakhir, entah karena dipergunakan, rusak, dicuri, diberikan, dibagi, dan seterusnya.

Warisan pekerjaan pun bisa saja tamat seiring pergantian zaman. Kita semua pasti mengerti, betapa banyak jenis pekerjaan atau usaha yang dulu ada namun kini telah punah atau di ambang kepunahan, seperti usaha wartel, atau tukang patri dan penjual minyak tanah. Pekerjaan dan bisnis yang kini mentereng bisa saja diabaikan suatu saat nanti.

Namun, jika anak-anak itu mewarisi keyakinan yang kukuh dari pendahulunya, maka kehidupan mereka tidak berguncang oleh ketiadaan orangtua, entah karena meninggal atau terpisah jarak dan tempat.

PHK atau mutasi pun tidak akan pernah menciutkan nyalinya, sebab mereka masih memiliki Allah yang tidak pernah mati dan selalu hadir.

Sampai kapan pun mereka hidup, sejauh mana pun mereka berkelana, sesulit apa pun persoalan yang membelit, mereka selalu bisa menengadahkan tangan dan seketika itu pula Allah mendengar doanya. Bukankah demikian? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Jadilah Khalifah Allah di Muka Bumi

0

SUDAH dimaklumi bahwa Allah menurunkan Nabi Adam ‘alaihis salam dan anak keturunannya ke muka bumi dengan satu amanah, yaitu menjadi “khalifah” (Qs. al-Baqarah: 30). Secara bahasa, “khalifah” artinya pengganti, atau yang datang setelah pendahulunya pergi.

Atas dasar ini, manusia diberi kepercayaan untuk melaksanakan aneka tugas mewakili Allah dalam menebarkan maslahat dan kebaikan kepada seluruh alam raya.

Di sisi lain, tugas tersebut juga diwariskan secara berantai, karena mereka adalah makhluk yang ditakdirkan tumbuh dari generasi ke generasi dimana angkatan yang lebih muda pasti terbit setelah pendahulunya terbenam.

Hanya saja, manusia ternyata juga memiliki potensi laten dalam dirinya. Potensi ini seringkali tidak terlihat, namun selalu muncul dalam aneka manifestasi. Salah satu potensi manusia adalah menjadi jahat, juga sebaliknya menjadi baik.

Allah telah menginformasikan hal ini dalam surah asy-Syams: 7-10:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya); Maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”

Dengan kata lain, walau pun manusia berstatus sebagai khalifah Allah di muka bumi, pada kenyataannya mereka tidak selalu melaksanakan amanah tersebut.

Potensi jahat

Ketika potensi jahat dalam diri manusia dibiarkan tumbuh, sudah pasti kerusakan akan merajalela di muka bumi, entah di daratan, lautan, ruang angkasa, bahkan di relung-relung jiwa sesama mereka sendiri.

Oleh karenanya, Allah mengirim para Nabi dan Rasul secara beruntun, mulai dari zaman Adam ‘alaihis salam hingga utusan terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka terus-menerus menegur dan meluruskan kebengkokan manusia dari amanah asasinya itu, sehingga kebaikan tetap terpelihara.

Bayangkanlah ketika satu generasi melakukan tindakan yang bertentangan dengan keadilan dan kebajikan, apakah kerusakan yang diakibatkannya hanya terbatas bagi generasi mereka sendiri? Ternyata, tidak demikian.

Kisah berikut ini akan menjelaskannya. Diceritakan bahwa penduduk Makkah pada mulanya menganut agama yang diajarkan oleh nenek moyang mereka, yakni Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihima as-salam.

Mereka mentauhidkan Allah dan menjadi penjaga Tanah Suci selama berabad-abad, hingga pada suatu masa tampillah seseorang bernama ‘Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah. Tokoh ini sangat dihormati oleh kaumnya, karena kedermawanan dan perilakunya yang mulia.

Bahaya membiarkan kemunkaran

Suatu ketika, ‘Amr mengunjungi negeri Syam dan menyaksikan penduduknya menyembah berhala-berhala. Dia menilai hal itu sebagai perbuatan baik, sehingga meminta satu berhala bernama Hubal untuk dibawanya ke Makkah. Ia lalu meletakkannya di dalam Ka’bah dan menganjurkan semua orang untuk menyembahnya.

Tindakan ‘Amr ini tidak dicegah siapa pun, dengan berbagai alasan, sehingga kemudian dianggap benar dan baik. Tidak lama kemudian, seluruh Jazirah Arab terjerumus dalam penyembahan berhala, dari generasi ke generasi, hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lihatlah, betapa kesalahan satu orang manusia seringkali sangat mengerikan akibatnya.

Contoh-contoh lain dapat kita berikan dalam bidang lingkungan hidup. Sebagai misal, ketika sekelompok kecil anggota masyarakat menebang pohon sembarangan, membuang sampah di saluran air umum, atau mengotori udara dengan asap pabrik, ternyata akibatnya bisa sangat luas dan berkepanjangan.

Rusaknya ekosistem, punahnya spesies flora dan fauna tertentu, terganggunya keseimbangan alam, dan banyak tragedi lingkungan lain pada era kita dewasa ini juga diakibatkan oleh ulah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab, yaitu mereka yang mengikuti kecenderungan jahatnya.

Untuk itulah Islam mensyariatkan amar ma’ruf nahi munkar, juga jihad fi sabilillah. Dengan amar ma’ruf nahi munkar maka kebaikan dipertahankan agar dominan, tidak terbalik menjadi keburukan yang terpojok dan nista.

Dengannya pula keburukan disingkirkan sehingga tidak dipersepsi sebagai kebaikan yang lazim dan mulia. Jihad juga menjamin bahwa kekuatan-kekuatan jahat yang memusuhi kebenaran tidak mungkin eksis, sehingga orang-orang baik bisa hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.

Wilayah amar ma’ruf nahi munkar sangatlah luas. Kebaikan yang dicakup oleh istilah ma’ruf bisa mencapai segala bidang, seperti akidah, ibadah, mu’amalah, adab, akhlak, dll. Demikian pula dengan istilah munkar.

Adapun jihad fi sabilillah, Al-Qur’an sendiri berulang kali menunjukkan medannya yang beragam, tergantung tuntutan situasi dan kondisi, yaitu dengan harta dan jiwa (bi amwalikum wa anfusikum). Mengapa hal ini sangat penting? Ya, sebab diantara fungsi utama khalifah adalah menjamin eksistensi kebaikan dan menolak kemudharatan. Jika keduanya tidak dijalankan, pasti timbul kekacauan dan kehancuran.

Dalam konteks inilah al-Hasan al-Bashri pernah berkata, “Allah senantiasa memiliki para penasehat diantara hamba-hamba-Nya di muka bumi, dimana mereka selalu mengarahkan amal-amal sesamanya kepada Kitabullah. Jika umat manusia menuruti nasehat itu, mereka memuji Allah. Namun jika manusia menentangnya, maka dengan Kitabullah itu mereka bisa mengenali kesesatan orang yang tersesat dan hidayah orang yang mendapat hidayah. Mereka itulah para khalifah Allah.” (Dinukil asy-Syathibi dalam al-I’tisham).

Dengan kata lain, jika kita ingin memenuhi amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi, maka jalankanlah fungsi “penasehat Allah” itu. Jangan segan menyiarkan kebaikan dan menegur keburukan. Bila manusia mengikutinya, berterima kasihlah kepada Allah yang telah membuka pintu-pintu hidayah-Nya. Jika mereka menolak, kita segera tahu siapa sebenarnya yang tersesat atau mendapat petunjuk. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Bupati Halbar James Hadiri Wisuda Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku Utara

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Bupati Halmahera Barat, Maluku Utara, James Uang, menghadiri acara wisuda akbar tahfizh qur’an 30 juz santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Ternate di Gedung Duafa Center, Sabtu, 14 Dzulqa’idah 1444 (03/06/2023).

James juga memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 25 juta kepada wisudawan.

James menyampaikan, wisuda bagi para santri merupakan suatu penghargaan terhadap prestasi dan keberhasilan yang telah dicapai. Wisuda juga merupakan pembuktian bahwa mereka telah pandai membaca dan menulis Alquran.

“Ini perlu diberikan penghargaan salah satunya dengan mengabadikannya melalui acara wisuda sekaligus untuk menjadikan kenangan yang tak terlupakan bagi para santri,” ungkap politikus Partai Demokrat itu.

Duta Orang Tua Hebat Halbar ini juga mengatakan, prosesi wisuda memiliki arti penting dalam kaitannya dengan upaya menyiapkan generasi muda bangsa yang berkarakter dan qurani dalam rangka menyongsong masa depan yang gemilang.*/Fadhlul Anshari

Hidayatullah Jaksel Gelar Upgrading Guru Rumah Qur’an

JAKARTA SELATAN (Hidayatullah.or.id) — Departemen Dakwah dan Tarbiyah DPD Hidayatullah Jakarta Selatan menggelar upgrading guru ngaji Pesantren dan Rumah Quran (RQ). Pelatihan yang berlangsung selama lima jam ini di ikuti perwakilan unsur RQ binaan dan Pesantren Tahfidz Fathan Mubiina (PTFM) putra-putri.

Diantara materi yang dibawakan yakni micro teaching pengajaran Iqra matode Alhidayah, pengajaran hafalan atau tahfidz dan sosialisasi halaqah rutin Guru-guru RQ dengan pembelajaran Grand MBA (Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Alquran).

Ketua DPD Hidayatullah Jaksel, Muhammad Amin Insani, menyampaikan pentingnya pelaksanaan pelatihan semacam ini. Menurutnya hal ini menjadi tanggungjawab bersama dalam menyukseskan belajar mengajar di Pesantren dan Rumah Quran.

“Selain update ilmu, silaturrahim antar Guru RQ termasuk sharing pengalaman mengajar satu sama lain,” ujar Amin saat memberi pengarahan ke para Asatidz, di RQ Edensor, Perum Tanjung Mas, Sabtu, 14 Dzulqa’idah 1444 (03/06/2023).

Lebih lanjut, Amin turut mengapresiasi seluruh RQ binaan yang sudah mengirim utusan, dan mengikuti dengan antusias. Ia berharap, para peserta ini, benar-benar dapat mempratikkan materi yang disampaikan ke santri dan siswa RQ.

Tidak berhenti belajar

Sementara itu, Ustadz Afif Nur Aziz sebagai pemateri mengajak para peserta mengevaluasi motede pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan selama ini, apakah sudah sesuai target. Ia lantas menanyakan kendala dan tantangan apa saja dalam mencapai target tersebut.

Pengurus Pusat Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) ini menjelaskan sekaligus memperkenalkan metode pembelajaran Alhidayah ke para pengajar RQ.

Secara singkat metode pengajarannya sangat mudah untuk digunakan. Mengingat metode ini di setiap hurufnya memiliki warna berbeda dan nada khusus yang memudahkan dalam belajar.

“Banyak yang langsung pesan bukunya, penasaran karena mau langsung diajarkan di RQ,”ucap Afif sambil tersenyum.

Tak kalah penting Afief menekankan pentingnya para guru ini tak cepat berpuas diri, dengan demikian selalu berkenan menambah keilmunnya terutama dalam proses belajar mengajar Alquran. “Jangan berhenti belajar, apalagi ini Alquran,”pesannya ke para guru.

Upgrading sendiri, dibagi menjadi beberapa sesi, yang ditutup dengan langsung praktik setiap peserta.

Ustadzah Ragil dari RQ Nurul Hikmah mengakui coaching seperti ini sangat bermanfaat bagi para pengajar, ia bersyukur terpilih mengikuti kegiatan ini. “Sangat berarti upgrading ini dan terimakasih ilmunya ustadz,” ungkap Ragil usai mengikuti pelatihan.

Sebagaimana diketahui, kegiatan ini juga ditandai dengan sosialisasi halaqoh RQ dan launching Asuransi Syariah Keluarga Indonesia (ASyKi).

Artinya setiap santri dan guru otomatis terdaftar layanan asuransi dan mendapat jaminan berupa kesehatan dan perlindungan. Adapun untuk Halaqah, seluruh RQ sepakat diadakan dua kali dalam sebulan pada hari Sabtu.*/Azim Arrasyid Sofyan

Empat Pemimpin Daerah Malut Terima Apresiasi sebagai Tokoh Peduli Pendidikan Islam

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak empat pemimpin daerah di Provinsi Maluku Utara (Malut) mendapat plakat anugerah apresiasi sebagai Tokoh Peduli Pendidikan atas perannya pada pengembangan dan memajukan pendidikan Islam di kawasan itu terutama dalam perkembangan pembelajaran Al Qur’an di Maluku Utara, Sabtu, 14 Dzulqa’idah 1444 (03/06/2023).

Apresiasi itu diserahkan oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Drs. Wahyu Rahman, ME yang diberikan masing masing kepada Walikota Tidore Kepulauan Capt. H. Ali Ibrahim, M.H, Walikota Ternate Dr. M. Tauhid Soleman, M.Si., Bupati Halmahera Barat James Uang, S.Pd., M.M dan Wakil Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba.

Penyerahan plakat apresiasi itu diberikan dalam rangkaian Wisuda Akbar Santri Tahfidz Qur’an Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Maluku Utara bertempat di gedung Dhuafa Center Kota Ternate.

“Piagam Tokoh Peduli Qur’an Maluku Utara ini adalah sebuah apresiasi yang diberikan oleh Hidayatullah Maluku Utara kepada para penggiat, promotor, serta sponsor dalam menyuarakan dan memberikan kepedulian terhadap perkembangan pembelajaran Al Qur’an di Maluku Utara,” kata Wahyu.

Mewakili DPP Hidayatullah dan Hidayatullah Maluku Utara berharap dengan adanya penghargaan dan apresiasi kepada para tokoh yang peduli Qur’an ini semakin menjadikan pembelajaran Qur’an di Maluku Utara ini dapat berkembang pesat sehingga niatan mewujudkan Maluku Utara sebagai negeri hafidz Qur’an dapat terealisasi.

Gelaran Wisuda Akbar Santri Tahfidz Qur’an Hidayatullah Maluku Utara dihelat oleh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Maluku Utara berjalan sangat hikmat dan penuh haru.

Sebanyak 189 santri tahfidz baik putra maupun putri mengikuti prosesi wisuda ini terdiri dari hafidz dan hafidzah 5 juz hingga 30 juz Al Qur’an.

Dalam kegiatan ini, selain dihadiri oleh orang tua wali santri wisudawan, turut hadir pula beberapa kepala daerah, Forkopimda, Para Tokoh dan masyarakat umum yang antusias menyaksikan prosesi wisuda para sahabat dan pecinta Al Qur’an sekaligus menjadi keluarga Allah SWT di bumi.*/Fadhlul Anshari

Wakili DPP Hidayatullah, Ust Wahyu Rahman Hadiri Wisuda Akbar Tahfidz Qur’an Hidayatullah Malut

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Perekonomian Ust. Drs. Wahyu Rahman, ME, mewakili Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menghadiri Wisuda Akbar Santri Tahfidz Qur’an Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Maluku Utara bertempat di gedung Dhuafa Center Kota Ternate, Sabtu, 14 Dzulqa’idah 1444 (03/06/2023).

Kegiatan mengusung tema “Menjadi Keluarga Allah di Bumi, Hafidz Qur’an pun Terkagumi” ini dihadiri oleh lebih kurang 2.000 undangan dari kota kabupatan se Maluku Utara.

Diantara yang hadir adalah para kepala daerah, pejabat tinggi daerah, unsur forkopimda, ketua MUI propinsi, para tokoh, orang tua wali santri dan masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Ust. Wahyu Rahman sampaikan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh kepala daerah, pejabat tinggi, forkopimda dan seluruh pendukung suksesnya kegiatan wisuda ini.

“Apresiasi dan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh kepala daerah, pejabat tinggi, dan forkopimda yang telah mendukung dan mensupport keberadaan Pondok Pesantren Hidayatullah di Maluku Utara ini,” kata Wahyu.

Dengan berbagai dukungan tersebut, jelas dia, sehingga kegiatan pondok bisa berjalan maksimal dan menghasilkan santri, termasuk yang pada hari ini mengikuti prosesi Wisuda Akbar Tahfidz Qur’an Hidayatullah Maluku Utara.

Lebih lanjut Ust. Wahyu menyampaikan tentang tingkatan dalam mempelajari Al-Qur’an. Ia menyampaikan syukur Alhamdulillah sebab para santri telah sampai pada tahap kedua dalam mempelajari Al-Qur’an.

“Pada tahap pertama adalah tilawah atau membaca dan pada tingkatan akhir adalah tadabbur agar menangkap maknanya untuk kemudian mengamalkan isi Al-Qur’an,” lanjut Ust. Wahyu.

Selain itu juga, beliau mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an pada suruh Al Hasyr ayat 21 sebagai bentuk kekuatan dan kedahsyatan Al Qur’an dimana tidak ada kekuatan lain yang mampu memikul beban berat dari wahyu Allah SWT ini.

Bahkan gunung terbesar yang ada di dunia ini pun akan hancur ketika Al-Qur’an diberikan kepada gunung tersebut.

“Al-Qur’an adalah sumber inspirasi, sumber pedoman, dan tuntunan hidup yang akan melahirkan kesadaran dan keberadaan manusia sebagai khalifah yang harus memiliki keunggulan dibanding makhluk lainnya,” katanya.

Sebagai penutup sambutannya, Ust. Wahyu tak lupa menyampaikan kata bijak dalam kegiatan kali ini.

“Dengan Al Quran kita unggul, dengan Al-Qur’an kita jaya, dengan Al Qur’an kita sejahtera, dengan Al Qur’an akhlak kita agung, dan dengan Al-Qur’an kita bahagia dunia dan akhirat,” tandasnya.*/Fadhlul Anshari

Pemuda Hidayatullah Hadiri Forum RDC 2023 di Malaysia

PERLIS (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy. MIRK, menjadi salah satu undangan pemapar dalam forum Leadership Conference Region Dakwah Center (RDC) 2023 yang digelar di Hotel Seri Malaysia, Perlis, negara bagian di pantai barat Semenanjung Malaysia.

Kehadiran Rasfiuddin yang didampingi Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Bustanol Arifin ini merupakan tindak lanjut relasi pemuda untuk sinergi dakwah internasional yang sebelumnya dihubungkan melalui Departemen Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur bisa menghadiri kegiatan ini,” kata Rasfiuddin di forum RDC yang diinisiasi oleh MyGuide Malaysia dan Hidayah Center Malaysia ini.

Forum berlangsung dalam dua sisi yaitu pada tanggal 27-30 Mei untuk Sesi I dan tanggal 31 Mei – 2 Juni 2023 untuk Sesi ke-II.

Di momen istimewa tersebut, Rasfiuddin berkesempatan memperkenalkan Hidayatullah kepada forum yang dihadiri para tokoh, dai, dan dihadiri oleh sedikitnya 39 perwakilan negara muslim Asia Tenggara dan Pasifik.

Ia juga mengemukakan pentingnya kolaborasi dan menguatkan persaudaraan antar berbagai elemen umat di kawasan dalam meretas dakwah internasional khususnya di Asia-Pasifik.

“Kami amat bersyukur bisa bersilaturrahim dan mendapatkan banyak informasi tentang kondisi kaum muslimin saat ini langsung dari para dai antarbangsa,” katanya menandaskan.

Satukan Langkah

Mufti Negeri Perlis Sahibus Samahah Profesor Dato’ Arif Perkasa Prof. Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin (DR. Maza) hadir membuka acara RDC 2023 ini yang dihadiri oleh 39 perwakilan negara muslim Asia Tenggara dan Pasifik.

Dalam sambutannya DR. Maza berharap pertemuan ini semakin meneguhkan persaudaraan seraya berpesan bahwa dakwah menuntut kesabaran dan kesanggupan untuk meneruskan perjalanan yang tidak mudah.

Hal senada dikemukakan President Myguide Malaysia Haji Nicholas Sylvester. Direktur Kadazan Dusun Murut Muslim se-Malaysia (KDMRS) menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan hati dan langkah para dai antarbangsa.

“Kegiatan ini diharapkan semakin menyatukan hati dan menyatukan langkah kita dalam dakwah,” kata Nicholas Sylvester yang juga seorang muallaf ini.

Pada seminar kepemimpinan ini para perwakilan negara diberikan waktu untuk menyampaikan kondisi dakwah di negaranya masing-masing.

“Kita ingin tau bagaimana kondisi dakwah di negara masing-masing agar kita bisa mengatur langkah kedepan, apa yang menjadi keperluan saudara kita dan apa yang bisa kita bantu,” kata Presiden Hidayah Center Malaysia (HCM) Joannes Lukas.

Pada kesempatan itu juga hadir Dr. Shabir Ally, seorang dai internasional sebagai pemateri undangan. Presiden Islamic Information & Dawah Center International Toronto ini diberi waktu khusus menyampaikan materi pentingnya seorang dai memahami perbandingan agama secara utuh.

Dr. Shabir Ally membahas fiqhud dakwah khususnya berkenaan kiat berdakwah di negara minoritas muslim dan ingin mengajak orang lain untuk memeluk Islam. Selain Dr. Shabir Ally, juga turut hadir beberapa masyayikh dari Saudi, Qatar, Bahrain, Mesir, dan Yaman.

Dalam rangkaian sesi tersebut juga ada pertemuan khusus yang membicarakan apa yang bisa saling disinergikan dalam menopang gerakan dakwah di berbagai belahan dunia. Forum memandang Indonesia dan Malaysia bisa menjadi penopang utama dalam dakwah antarbangsa ini.*/Yacong B. Halike

Silaturrahim Majelis Ormas Islam Bahas Isu Kebangsaan Terkini

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 11 ketua umum dan pimpinan ormas tergabung di Majelis Ormas Islam (MOI) bersilaturahim membahas isu keumatan dan kebangsaan yang digelar di kantor Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Jalan Bambu Wulung, Cipayung, Jakarta Timur, Jakarta, Rabu, 11 Dzulqa’idah 1444 (31/5/2023).

Dalam silaturrahim tersebut, Ketua Umum PP Persis KH. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag, sebagai tuan rumah menyampaikan ucapan terima kasihnya atas atensi semua pimpinan ormas yang tergabung di MOI untuk menghadiri undangan silaturahmi di kantor PP Persis Jakarta yang baru diresmikan pada bulan November tahun 2022 lalu.

“Tentu dengan silaturahmi ini akan banyak manfaat, terutama sharing informasi tentang isu-isu keumatan dan kebangsaan,” kata Jeje Zaenudin.

Diantara isu keumatan dan kebangsaan terkini yang dibahas adalah terkait agenda rutin kebangsaan lima tahunan, mulai dari pilpres, pileg, dan pilkada.

“Bagaimana ormas ormas Islam mampu berperan aktif dalam mengawal pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil, rukun, dan damai,” tuturnya.

Kedua, lanjutnya, isu tentang peran ormas Islam di tingkat nasional dalam program pembangunan, pengembangan dan pemberdayaan umat di sektor pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga politik dan hukum.

“Yang ketiga adalah bagaimana memperkuat kelembagaan MOI sebagai forum silaturahim, koordinasi, dan kerja sama antar ormas dengan merumuskan program program bersama,” jelas Jeje seperti dilansir laman resmi Persis.

Pada kesempatan tersebut setiap ketua dan pimpinan ormas menyampaikan pandangan dan usulan berbagai program strategis bersama.

Mereka juga menyepakati pentingnya komitmen untuk menyediakan waktu dalam pertemuan pertemuan rutin bulanan secara bergiliran di kantor pusat ormas anggota MOI.

Selain PP Persis, hadir pada pertemuan tersebut DPP Hidayatullah, MA, PP Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), PP Alwashliyah, PP Ikatan Dai Indonesia (IKADI), PP Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), PP Wahdah Islamiyah, PP Mathlaul Anwar, PP Persatuan Ummat Islam (PUI), dan Pesantren Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN).

Adapun PP Al Irsyad Al Islamiyah dan PP Syarikat Islam berhalangan hadir. Acara diakhiri dengan shalat magrib dan makan malam dengan menu khas Papua.*/Muhammad Fadhlullah

[Download Khutbah Jumat] Tujuh Keinginan yang Mustahil

BERAPA kali sepanjang hidup ini, kita memiliki keinginan, mimpi, cita-cita, harapan, yang karena pentingnya cita-cita itu kita bekerja keras berusaha mencapainya. Kadang kita langsung berhasil meraihnya, dengan izin Allah. Kadang kita gagal. Tapi kita tidak putus asa. Kita evaluasi, di mana letak salah dan kurangnya sehingga kita gagal. Kita perbaiki.

Tapi di dalam Al-Quran ada 7 ayat di mana Allah menjelaskan kepada kita bahwa ada 7 keinginan yang mustahil kita raih. Karena waktu dan kesempatan kita sudah habis.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Muh. Dzikrullah

Unduh sekarang: