BAGAIMANA rasanya menjadi manusia terjajah? Tentu yang akan muncul adalah perasaan terikat, tidak bebas, bahkan teraniaya. Manusia yang terjajah senantiasa terjebak dalam ikatan belenggu rantai yang sangat kuat, yang menghalanginya untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya.
Jangankan untuk beraktivitas sesuai keinginannya, manusia yang terjajah akan sulit untuk mengelola waktu yang dimiliki sesuai dengan agenda kegiatan yang mereka inginkan. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dai yang juga penulis buku produktif bertema keislaman Ust Drs Ahmad Yani meluangkan waktu ditengah kesibukannya menyambangi Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I, No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).
Kehadiran Ust Ahmad Yani bukan tanpa alasan. Ia diundang menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban Syiar Muharram yang digelar secara hybrid. Ia didapuk membawakan materi “Dakwah bil Qalam & Kebangkitan Peradaban”. Bersama dia, hadir juga narasumber lainnya Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, yang mengkaji tema “Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan Peradaban”.
Dengan pembawaannya yang khas, Ahmad membawakan materi dengan tenang, cenderung datar namun sesekali menyentak mengawali uraiannya dengan sebuah kisah. Kisah yang lumayan aneh.
Jadi pernah suatu waktu, seorang dosen dari salah satu universitas islam negeri di Jakarta dengan pendidikan doktoral datang mendekat kepadanya. Keperluannya adalah bertanya, apa rahasia dalam menulis.
Ahmad Yani mengaku sempat kaget, apa benar ia bertanya, sedangkan dirinya belum pernah kuliah sampai doktor.
“Karena dia bertanya, ya, saya jawab,” katanya yang disambut tawa hadirin yang datang sebagai peserta offline.
“Kalau Anda tidak punya niat ke Bandung, kira kira nyampe nggak ke Bandung,” tanya Ahmad Yani ke sang dosen itu.
“Nggak!,” jawab dosen tersebut.
“Nah, itu rahasianya!,” timpal Ahmad Yani tersenyum.
Ia menjelaskan, rahasia menulis adalah niat. “Kalau Anda tidak niat menulis, ya tidak ada tulisan. Kalau saya niat (menulis), sehingga saya berusaha ada sesuatu yang saya tulis. Apa saja bisa ditulis,” katanya.
Jadi, rahasia dapat produktif menulis menurut Ahmad Yani adalah berangkat dari niat.
“Maka kalau Anda niat ke Bandung, kan nggak diam saja di rumah. Anda harus pergi ke terminal, cari bus jurusan Bandung. Berangkat. Nyampe ke Bandung. Beda ama calo, emang dia nggak niat ke Bandung,” selorohnya.
Dengan tamsil tersebut, Ahmad Yani menekankan bahwa menulis hendaklah didahului dengan niat kuat yang dengan itu ia melakukan upaya sungguh sungguh bergerak melangkah untuk sampai pada tujuan yang diniatkannya. Tanpa niat, maka tidak akan pernah ada upaya sungguh-sungguh.
Bagaimana seorang yang sejak belia telah aktif sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) mampu menulis sampai 57 judul buku?
Ternyata itu berangkat dari pengalaman Ahmad Yani yang sangat sederhana. “Saya selalu menulis setiap hari. Kemudian (dalam tempo tertentu) saya himpun dan jadilah buku.”
Buku pertama kali yang ia tulis pun judulnya singkat, “Catatan Ringan.” Karena merupakan kumpulan catatan yang ia lakukan setiap hari.
Karena terbiasa, akhirnya penulis teks khutbah itu pun menjadi sangat senang dengan kegiatan menulis. Sampai-sampai memiliki moto hidup yang menarik. Yaitu, “Tulislah apa yang akan diceramahkan. Dan, ceramahkanlah apa yang ditulis.”
Lebih lanjut, Ahmad Yani mengatakan perihal keuntungan dakwah dengan menulis.
Pertama, pesan bersifat langgeng. Karena tulisan memang akan abadi. Seperti Imam Ghazali dan Imam Nawawi, darimana kita mengenal mereka kalau bukan dari tulisan-tulisan mereka.
Kedua, dakwah dengan menulis pada era sekarang semakin mudah untuk siapapun menerima dan menyebarkan. Memang ada video, tapi menurut Ahmad menyebarkan tulisan jauh lebih mudah dan ringan daripada konten video.
Ketiga, menulis mendorong diri untuk terus belajar dan rajin membaca. Jadi, lakukanlah dakwah dengan menulis, karena ini adalah amal shaleh yang usianya melebihi usia hidup penulisnya sendiri. Inilah dakwah yang sangat panjang eksistensinya.
Dalam rangkaian menyambut dan memeriahkan bulan Muharram 1444 H yang juga bertepatan dengan momentum Dirgahayu HUT RI ke-77 Tahun, Pemuda Hidayatullah bersama Korps Muballig Hidayatullah (KMH) berkolaborasi laksanakan rangkaian acara bertajuk “Literasi dan Kebangkitan Peradaban”.
Acara Kuliah Peradaban yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan disiarkan secara live oleh kanal YouTube Hidayatullah ID ini dimoderatori pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id Mahladi Murni.
Acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah, unsur badan dan amal usaha, organisasi pendukung (orpen), dan digelar atas kerjasama DPP Hidayatullah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Pemuda Hidayatullah yang didukung BMH.*/Ainuddin/Imam
DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka memantapkan kerja kerja penelitian yang dilakukan di akhir semester, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah mengikuti webinar tentang riset bertajuk “Memahami Pohon Ilmu Metodologi Penelitian” yang menghadirkan narasumber pakar yaitu Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).
Profesor yang juga Ketua Dewan Pakar Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia (PDPI) ini mengemukakan bahwa riset merupakan hal mutlak yang harus diketahui dan dipahami oleh mahasiswa dan tentu para umumnya akademisi.
Kemampuan riset yang rendah, menurutnya, mempengaruhi kualitas dan mutu seorang mahasiswa yang dituntut sebagai problem solver di masyarakat. Menurutnya, rendahnya kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh penyelenggaraan dan hasil pendidikan dari berbagai jalur, jenjang serta jenis pendidikan yang belum memadai.
Menurut peraih Rekor MURI sebagai “Penulis Buku Bidang Metode Penelitian Memperoleh Predikat Best Seller Terbanyak” ini, dalam meningkatkan kualitas pendididkan, maka hasil penelitian memegang peranan yang sangat penting.
“Untuk memastikan penelitian dapat menghasilkan informasi yang akurat, maka perlu menggunakan metode penelitian yang tepat,” lanjutnya.
Perbedaan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif ini wajib Anda pahami sebagai pelajar dan mahasiswa. Pasalnya hal ini akan terus berkaitan dalam proses pembelajaran Anda seterusnya.
Profesor pakar ilmu riset ini juga kembali mengemukakan bahwa dua metode penelitian ilmiah, yakni kualitatif dan kuantitatif, harus dipahami dan diejawantah para pelajar dan mahasiswa sebagai insan akademik. Sebab, terangnya, keduanya akan terus berkaitan dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Usai penyajiannya yang gamblang dan lugas, Guru Besar Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta ini mendorong peserta webinar terus berlatih dan tekun dalam melakukan penelitian guna meningkatkan kualitas akademik dalam menjawab persoalan persoalan keseharian masyarakat.
Abdul Karim, salah seorang mahasiswa semester 8 STIE HIdayatullah yang mengikuti kegiatan ini mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru dalam pengelolaan riset untuk kebutuhan penyelesaian tugas akhir.
“Penjelasan pemateri cukup gamblang. Saya mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang pengerjaan penelitian ilmiah yang aktual dan sistematis,” kata Karim.
Diketahui, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggulirkan program Training Center (TC) Lanjutan Mahasiswa Calon Dai dan Wisudawan yang digelar di Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, yang dibuka secara resmi pada Senin (18/7/2022).
Pada 14 hari pertama TC ini mahasiswa diberikan latihan search and rescue dengan beragam materi cakupan di dalamnya.
Pada 14 hari berikutnya, TC 40 hari STIE Hidayatullah mengondisikan peserta untuk melakukan eksplorasi akademik yakni pendalaman materi tentang riset atau peneltian, menyusun karya ilmiah dan jurnal ilmiah.
“STIE Hidayatullah membangun budaya riset selain melahirkan karakter lulusan yang kelak menjadi muharrik dakwah dimanapun berada,” kata Saddam.
Selama masa pemantapan eksplorasi akademik ini, peserta dibimbing langsung oleh tim dari Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STIE Hidayatullah yang berfokus kembangkan dan melaksanakan sistem penjaminan mutu akademik, menyelenggarakan training, konsultasi, pendampingan, dan kerjasama di bidang penjaminan mutu akademik serta mendorong penguatan program studi di lingkungan kampus untuk memperoleh sertifikasi yang terstandar. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban Syiar Muharram yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I, No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).
Membawakan tema “Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan Peradaban”, Tasyrif mengantar materinya dengan memaparkan tentang potensi eksternal yang dimiliki oleh manusia dalam merespon hal fenomenal yaitu indera dan akal.
Menurut Tasyrif, dua potensi inilah yang digunakan manusia untuk “bertarung” mulai dari mendapatkan ilmu, membangun kesadaran, menemukan perspektif, kemudian memiliki worldview dan selanjutnya menjadi ideolog yang membangun peradaban. “Dan itu semua dimulai dari iqra,'” katanya.
Dia menjelaskan, dalam sejarah peradaban dunia termasuk dimasa sebelum Islam, mereka yang memiliki ilmu selalu menjadi terdepan dalam bangunan peradaban. “Belum pernah ada sejarahnya kumpulan orang orang bodoh bisa melahirkan peradaban besar,” imbuhnya.
Dalam peradaban Yunani, misalnya, terang Tasyrif, diketahui sejumlah nama beken seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles, dimana mereka dikenal sebagai pemikir yang melakukan pembacaan tingkat tinggi yang bisa menemukan rumusan rumusan tentang tata nilai kemanusiaan.
“Di Indonesia kita mengenal Mahabrata, atau La Galigo, sebagai karya besar yang lahir dari proses literasi yang sangat dalam,” ujar dia.
Sehinga, lanjutnya, kalau mau bertarung ke depan, tidak ada proses yang bisa melahirkan peradaban kecuali dimulai dari iqra’.
Tapi kemudian, Tasyrif mengggaris bahwa, peradaban peradaban besar yang dibangun manusia di permukaan bumi sebelum Islam hadir hampir semuanya mengenaskan yang “menghancurkan nila nilai kemanusiaan”.
Ia membaca dan mengkonstruk hasil pikirannya, membangun kesadaran, menemukan perspektif, kemudian memiliki worldviews, namun peradaban yang dibangun adalah peradaban yang menghancurkan nilai nilai kemanusiaan.
Menukil pandangan cendekiawan dan filsuf muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tasyrif menjelaskan bahwa peradaban Barat hari ini memang terdepan dalam persoalan hal hal yang bersifat material.
Namun, terangnya, peradaban yang dibangun oleh Barat dalam perspektif kemanusiaan, diumpamakan dengan mengangkat batu dari kali namun belum sampai ke permukaan batunya berguguran yang menimpa manusia yang ada di bawahnya.
“Hal itu baru proses, belum sampai pada tata nilai. Jadi sebenarnya iqra’ itu bukan basis nilai peradaban, melainkan dia adalah proses awal menuju hadirnya nilai,” ungkapnya.
Tasyrif menyebutkan, pemikir dan filosof besar selalu mengedepankan tiga basis epistemologi, yaitu Alam, Manusia, dan Tuhan. Sayangnya, mereka mempersepsi dan menangkap makna Alam, Manusia, dan Tuhan itu hanya sebatas pada kapasitas indera dan akal belaka. “Padahal akal dan indera terbatas,” cetusnya.
Dia lantas menamsilkan hal itu dengan buah jeruk. Kalau misalnya ada pertanyaan “dari mana buah jeruk”, maka (jawabannya) ia dari biji jeruk yang ditanam. Jika bijinya ditanam, maka sekira dua tahun ia berbuah. “Ini namanya proses empiris. Begitulah ilmu yang ditangkap oleh panca indera,” katanya.
Tetapi, lanjutnya, ketika kita bertanya “kenapa biji jeruk ditanam berbuah jeruk”, hal ini tidak bisa dijawab oleh indera. Untuk menjawabnya harus ada instrumen lain yang disebut dengan akal yang meniliti bahwa ternyata di dalam biji itu ada unsur yang disebut dengan gen.
“Tapi kemudian kalau bertanya lagi “dari mana gen itu”, para filosof itu akan menjawab bahwa itu dari Yang Maha Tahu yang disebut Tuhan. Tapi, Tuhan di sini masih persepsi akal, bukan Tuhan dalam perspektif Wahyu,” ulas Tasyrif.
Menurut Tasyrif, para filosof yang berhenti pada pertanyaan tersebut dia sesat. Barulah ia bisa menemukan jawaban ketika dikembalikan kepada sumbernya bahwa yang bisa menjelaskan tentang darimana hukum gen itu adalah sumbernya.
“Makanya, pembacaan yang benar yang diluruskan oleh agama itu turun pada ayat pertama Al Quran yang menjawab persepsi yang benar tentang Alam, Manusia, dan Tuhan,” katanya.
Dia menguraikan, begitu Allah SWT berfirman, “Iqra!”, maka disitu didudukkan Alam (allazi khalaq), Manusia (halaqal insan), dan Tuhan (bismirabbik) yang menjadi basis nilai. “Membaca adalah proses dan bismirabbik adalah basis nilai. Sesuatu bernilai ketika disandarkan pada bismirabbik,” tukasnya.
Dia menekankan pentingnya membaca. Meski demikian membaca barulah gerbang untuk memulai kerja-kerja peradaban. Membaca belum masuk pada esensi peradaban. Nanti ketika telah bertemu dengan Bismirabbik barulah membaca itu memiliki basis nilai yang dapat mendorong lahirnya peradaban Islam.
Lebih jauh Tasyrif menekankan pentingnya budaya ilmu sebagai tradisi literasi yang harus diterus dirawat dan dikembangkan sebagaimana inspirasi Al Qur’an pada bunyi ayat ke-4 surah Al ‘Alaq sebagai surah yang kali pertama turun kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam:Allazi ‘allama bil Qolam.
“Harus ada literasi secara berkesinambungan. Ajaran Islam ini dapat sampai kepada kita karena ada tradisi literasi yang terjaga yang menjadi rujukan kita dalam menemukan kebenaran,” katanya.
Dia menerangkan, makin banyak mengetahui alam, kian banyak mengetahui Wahyu dari Allah SWT melalui para ulama, maka Insya Allah kita semakin menemukan kebenaran itu.
Tasyrif juga menguraikan ayat ke-5 dari surah Al ‘Alaq. ‘Allamal insana ma lam ya’lam, bahwa Allah mengajarkan kepada orang orang khusus apa yang tidak diketahuinya. Pada proses ini lebih berat sebab membutuhkan tazkiah yang luar biasa sebagaimana Allah SWT sinyalir dalam firman-Nya dalam Al Qur’an surah Al-Waqi’ah ayat 79: Lā yamassuhū illal-muṭahharụn, bahwa Al Qur’an (wahyu) berisi tuntunan-Nya dan bacaan yang sangat mulia, suci, dan diterima oleh hati yang suci.
“Al Quran yang suci tidak akan masuk ke dalam hati yang tidak bersih dan suci,” katanya seraya menyebutkan bahwa dalam ilmu yang lain selain Wahyu, cukup 2 alat untuk meraihnya yaitu instrumen indera dan akal. Sementara Wahyu, kata dia, harus dengan memfungsikan instrumen qolbu selain indera dan akal.
“Jadi mata batin itu memang ada, yang disebut dengan ilham atau intuisi. Inilah yang merupakan bagian bagian instrumen dalam epistemologi Islam yang tidak dimiliki epistemologi yang lain,” ujarnya.
Acara Kuliah Peradaban sebagai bagian dari momentum Syiar Muharram 1444 yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan disiarkan secara live oleh kanal YouTube Hidayatullah ID ini juga dihadiri narasumber Ust Drs Ahmad Yani yang merupakan tokoh dai penulis pendiri Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah.
Dimoderatori pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id Mahladi Murni, acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah, unsur badan dan amal usaha, organisasi pendukung (orpen), dan digelar atas kerjasama DPP Hidayatullah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Pemuda Hidayatullah yang didukung BMH.*/Ainuddin
MASYA ALLAH Tabarakallah, luar biasa diskusi peradaban di kantor Pusat Dakwah Hidayatullah pada Selasa sore, 11 Muharram 1444 (9/8/2022). Patut diapresiasi mujahadah panitia di mana dalam menghadirkan dua panelis yang ahli di bidangnya.
Pembicara pertama, Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, adalah pakar peradaban Islam yang mendorong dan mengantar kita untuk menjadi sosok yang memiliki prinsip hidup yang berbasis pada nilai wahyu. Dalam kaitan dengan diskusi ini, seorang penulis dituntut untuk memiliki visi yang jelas, yaitu membangun peradaban Islam.
Kemudian selanjutnya pembicara kedua, Ust Drs Ahmad Yani, mengantar dan memotivasi kita untuk bisa segera menjadi seorang penulis, tanpa tapi tanpa nanti. Tanpa harus menunda-nunda waktu. Harus segera menulis.
Beliau menyatakan bahwa: “Tulislah yang anda ceramahkan dan ceramahkanlah yang anda tulis”. Luar biasa. Terasa ada spirit baru untuk kita segera bangkit, menorehkan pena, dan melahirkan sebuah karya monumental untuk generasi masa yang akan datang.
Visi hidup kita adalah membangun peradaban Islam. Olehnya, bagaimana agar penulis itu tidak sekedar targetnya menulis yang penting menulis. Tetapi, sebagaimana pemateri tekankan, agar kita bisa menjadi penulis yang memiliki visi cita-cita besar. Sesuai dengan tema diskusi pada forum ini adalah bagaimana membangun peradaban Islam.
Maka dari itu, seorang penulis yang hebat adalah mereka yang memiliki visi yang jelas dan misi yang konkret. Selalu berpikir bagaimana mewujudkan bangunan peradaban Islam.
Sebagai kader yang hebat, diharapkan bisa menjadi komunikator yang optimal dalam mengirim pesan tidak hanya melaui lisan, akan tetapi harus bisa menuangkan ide dan gagasan besar melalui tulisan. Sehingga, visi besar ini besar ini bisa ditangkap dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Apatahlagi membayangkan membangun peradaban Islam itu adalah sesuatu yang sangat ideal. Biasanya sebuah idealisme itu membutuhkan waktu yang panjang.
Sehingga, memang, sesuatu yang mutlak harus kita hadirkan pada saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran menulis pada kader-kader yang memiliki visi ideal yaitu membangun peradaban Islam.
Dengan demikian estafeta perjuangan bisa terasa progress-nya dari waktu ke waktu. Akan terasa adanya kemajuan. Ada lompatan-lompatan pada setiap generasi. Secara pelan tetapi pasti pergerakan selalu menuju kepada titik terang, yaitu terbangunnya peradaban Islam yang didambakan.
Apresiasi secara khusus kami sampaikan kepada dua panelis. Kita haturkan jazakumullah khairal jazaa atas keikhlasannya dalam menyampaikan ilmunya kepada kita semuanya.
Semoga para kader bisa segera menangkap pesan yang disampaikan oleh dua komunikator handal kita dan selanjutnya apa yang sudah kita pahami ini bisa menjadi bekal dan acuan untuk melangkah kedepan.
Semoga kita menjadi seorang penulis yang idealis dan insya Allah secara otomatis apa yang kita lakukan ini akan menjadi amal jariyah buat dua pemateri kita, biiznillahi ta’aala.
Kita sangat optimis, diskusi peradaban berikutnya akan semakin menarik dan menggairahkan. Aamiin. Wallahu A’lam.
*)Penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Murabbiyah Pusat Muslimat Hidayatullah (MMP Mushida) sukses selenggarakan Daurah Murobbiyah Nasional II yang mengusung tema: “Meningkatkan Kompetensi dan Meneguhkan Jatidiri Daiyah Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah Untuk Kebaikan Semesta” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta, pada 6-7 Muharram 1444 5-6 Agustus 2022 .
Ketua Panitia Pelaksana Zahratun Nahdhah mengatakan kegiatan ini diikuti oleh daiyah perwakilan dari 34 Provinsi di Indonesia.
Zahra menjelaskan, organisasi Muslimat Hidayatullah adalah aset ummat Islam yang memiliki visi mulia membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam. Mengusung visi besar dan mulia tersebut memerlukan usaha maksimal.
“Dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja yang ikhlas dari semua kader dakwah Muslimat Hidayatullah dalam menyebarkan dan menebarkan nilai-nilai Qur’ani di tengah tengah heterogenitas masyarakat. Untuk itu, digelarlah acara ini,” kata dia.
Zahra menambahkan, tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menstandardisasi daiyah Muslimat Hidayatullah dengan target daiyah mendapat shibghah langsung dari para Instruktur dari Hidayatullah.
“Setelah mengikuti dauroh ini, diharapkan adanya peningkatan kualitas dan kompetensi daiyah Muslimat Hidayatullah, sehingga mereka dapat semakin menguatkan peran dakwahnya di tengah masyarakat dalam membangun masyarakat kebangsaan yang berkarakter Qur’ani,” ujarnya.
Daurah Murobbiyah Nasional II dirangkai dengan kegiatan Jalin Ukhuwah Daiyah Nasional yang bertajuk “Merajut Ukhuwah Meneguhkan Jatidiri Daiyah” pada 07/08/2022.
Kegiatan ini merupakan kesempatan untuk menguatkan jalinan ukhuwah bagi para Daiyah Provinsi di Indonesia, sebagai salah satu modal utama dalam mencapai suatu imamah jamaah yang diridhai Allah Ta’ala.
Dalam kegiatan ini, Muslimat Hidayatullah bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk penyediaan armada bus Trans Jakarta sebanyak 4 bus untuk 150 peserta.
Rangkaian Jalin Ukhuwah Daiyah Nasional diawali dengan berbagi pengalaman daiyah setelah sholat subuh bersama pendamping dari Majelis Murobbiyah Pusat.
Kegiatan dilanjutkan dengan city tour napaktilas situs-situs bersejarah di Jakarta dimulai berkunjung ke Jakarta International Stadium (JIS), selanjutnya Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, hingga Kota Tua Jakarta.
Monumen Nasional atau yang disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter yang terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Sedangkan Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara.
Masjid ini merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Adapun Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama, adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat
“Dengan kegiatan ini, semoga dapat mempererat ukhuwah, membangun komunikasi positif dan menguatkan spirit dalam berdakwah,” ucap Nur Iryani sebagai Steering Comitee Panitia Penyelenggara.*/Arsyis Musyahadah
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar melalui Departemen Dakwah dan Layanan Ummat merilis program Madrasah Orangtua Santri dan Siswa Al Bayan Islamic School Ponpes Hidayatullah Makassar.
Peluncuran program pendidikan dan pembinaan spiritual itu dilaksanakan di sela kegiatan Tabligh Akbar Muharram dan Peresmian Gedung Kelas SMP-SMA Al Bayan Islamic School Hidayatullah Makassar di Masjid Umar Al Faruq Ponpes Hidayatullah, Makassar, Sabtu, 8 Muharram 1444 (6/8/2022) akhir pekan lalu.
Peresmian pelaksanaan program Madrasah Orangtua ditandai penyerahan secara simbolik paket Quran dan paket buku pendidikan quran oleh Ketua Departemen Dakwah Layanan Ummat Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Abd Qadir Mahmud MA kepada seorang perwakilan orangtua santri/siswa.
Turut disaksikan pula oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Ust Dr H Abd Qahhar Mudzakkar MSi dan Ketua Yayasan Al Bayan Ust Suwito Fattah MM.
“Sejak dahulu pembinaan orangtua dan wali santri/siswa sebagai bagian gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah. Namun untuk semakin optimalkan dan akselerasi pembinaan orangtua maka dibentuk Madrasah Orangtua ini,” jelas Ust Abd Qadir.
Melalui Madrasah Orangtua ini, jelasnya, akan ada pengajian rutin yang dipaketkan dengan penjengukan santri, workshop bina aqidah offline dan online diklasterkan berdasarkan orangtua santri/siswa dari unit TK, SD, SMP dan SMA maupun program Tahfish, peltihan Life Rovultion, hingga pembelajaran Qur’an kelas tahsin melalui kajian Dhuha.
JIKA diperturutkan, sebenarnya segala sesuatu bisa saja menjadi sumber dukacita dan kegelisahan. Manusia bisa dicekam kecemasan atas hal-hal yang ia miliki, bahkan yang tidak ia miliki. Lihatlah, orang berduit mengkhawatirkan aset-asetnya: takut dicuri, ditipu, berkurang, habis, rusak, tidak berkembang, atau tertimpa bencana alam.
Tetapi, orang miskin pun bisa mengkhawatirkan ketidakpunyaannya itu. Punya uang bingung, tidak punya pun bingung. Sudah menikah cemas, belum pun cemas. Punya anak khawatir, tidak punya pun khawatir. Berparas cantik resah, berparas buruk pun resah.
Belum sekolah takut tidak bisa masuk; sudah sekolah takut tidak lulus; sudah lulus takut tidak bisa kerja; sudah kerja takut dipecat; demikianlah seterusnya, daftar semacam ini dapat kita perpanjang lagi, sampai nyaris tidak ada perkara yang terhindar darinya.
Oleh karenanya, Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang mudah mengeluh, cepat putus asa, dan pelit. Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan ia mudah putus asa. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Qs. al-Ma’arij: 19-21).
Akan tetapi, pada saat bersamaan, Allah menunjukkan resep-resep jitu menanggulanginya. Karena Dia yang menciptakan manusia, maka Dia pasti lebih tahu bagaimana memperlakukan ciptaan-Nya.
Pada Al Quran surah al-Ma’arij ayat 22-23, Allah melanjutkan firman-Nya, “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu kontinyu mengerjakan shalatnya.”
Jika kalimat ini dibalik, maka sesungguhnya segenap dukacita dan kegelisahan yang melanda hati manusia adalah akibat buruknya ibadah. Ketika shalat seseorang sudah tidak baik, ia telah melepas tali ketergantungannya kepada Allah.
Pada saat itulah syetan menguasai hatinya, dan ia bebas memainkannya kesana-kemari. Semakin lama semakin menggelisahkan, hingga akhirnya ia terjerat keputusasaan, tanpa seorang pun penolong. Qatadah berkata, “Sesungguhnya amal shalih itu mengangkat (derajat) pemiliknya pada saat dia kuat, dan tatkala dia terjatuh maka dia mendapati tempat bersandar.”
Pada ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (ayat 24-25).
Artinya, kesediaan untuk berbagi, membantu sesama, dan memiliki arti bagi orang banyak adalah sumber ketentraman jiwa. Kaidah ini jelas berseberangan dengan cara berpikir kaum materialis-kapitalis, bahwa kebahagiaan itu diraih dengan menumpuk harta sebanyak mungkin dan mempergunakannya untuk mengejar segenap kenikmatan pribadi.
Maka, berbagilah dan Allah akan membahagiakan Anda!
Allah menambahkan resep lainnya, “Dan orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan; Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya; Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)” (ayat 26-28).
Sungguh, tidak ada benteng terkokoh dalam menghadapi seluruh perputaran kehidupan duniawi ini selain beriman kepada Hari Akhir. Dengannyalah harapan manusia tidak pernah putus, walaupun di dunia ini ia dizhalimi dan ditindas.
Hatinya tetap hidup dan semangatnya tetap menyala. Ia yakin dengan sepenuh hati bahwa Tuhannya tidak pernah lalai, dan segala kebaikan maupun kedurjanaan pasti diperhitungkan.
Jika para hakim dunia tidak lagi bisa memberinya keadilan dan perlindungan atas hak-haknya, maka dia tahu bahwa disana masih ada satu pengadilan yang tidak mungkin dicurangi, yakni Yaumul Hisab (Hari Perhitungan).
Allah menunjukkan resep berikutnya lagi, “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya; Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (ayat 29-31).
Kebahagiaan apakah yang bisa diberikan oleh zina, homoseksual, lesbi? Bahkan, riset-riset terkini di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang-orang yang setia dalam pernikahan memiliki resiko serangan jantung lebih kecil, stres lebih rendah, dan usia harapan hidup yang lebih baik.
Sungguh, Allah sangat mengenal kita (manusia), dengan seluruh rahasia dan misterinya. Maka, dalam setiap detil syariat yang Dia tetapkan pasti terkandung kebaikan-kebaikan bagi diri kita sendiri. Patuhilah dan jangan menyeleweng, niscaya ketentraman jiwa akan menyertai.
Masih ada lagi resep yang Allah berikan, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya” (ayat 32-33).
Sudah dimaklumi bahwa amanat, janji, dan kesaksian adalah beban yang sangat berat. Namun, tatkala manusia berhasil menunaikannya dengan sempurna, di wajahnya pasti tersungging senyum kepuasan, kebahagiaan, dan merasa “berharga”. Sebaliknya, lihatlah orang-orang yang mengkhianati amanat rakyat, menyalahgunakan wewenang dan jabatan, mengabaikan janji kampanye, atau membuat kesaksian-kesaksian palsu, bukankah sekarang mereka stres, malu, dan terhina?
Terakhir, Allah kembali mengulang pentingnya shalat dan ibadah, “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan” (ayat 34-35). Penutup ini dengan jelas mencitrakan bahwa sesungguhnya tidak ada kebahagiaan, ketentraman, dan kesejahteraan hakiki yang datang dari selain Allah.
Kebahagiaan seperti sebuah sungai, dan mata airnya berasal dari Allah. Tidak ada pilihan lain kecuali terus memelihara, merawat, dan memperhatikan jalur-jalur yang menghubungkan sungai itu dengan sumbernya.
Darimana segarnya air kebahagiaan memasuki jiwa kita, mengusir dahaga kegelisahan dan dukacita darinya, jika jalur-jalurnya justru kita putuskan atau kita penuhi dengan sampah maksiat dan penyelewengan?! Wallahu a’lam.
NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki pekan pertama Muharram 1444 H, BMH Perwakilan Kalimantan Utara menyalurkan kebutuhan pokok santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Hidayatullah Kelurahan Selisun RT 14 Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).
“Alhamdulillah awal pekan pada tahun baru Muharram 1444 H ini, BMH kembali hadir memberikan bantuan kebutuhan pokok santri berupa beras dan sembako lainnya, guna mendukung aktivitas kegiatan mereka sebagai generasi pelanjut masa mendatang,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Kalimantan Utara, M Nor Komara, Kamis, 6 Muharram 1444 (4/8/2022).
Bantuan itu berupa beras 400 kg, mi instan 8 dus, gula pasir 4 bal, minyak goreng 1,5 dus, susu saset 2 dus, teh dan kopi 2 dus dan sabun detergen 1 dus.
Program ini disambut bahagia oleh para santri yang berjumlah 115 orang terdiri dari 55 putra dan 60 putri. Salah satu di antaranya santri bernama Nur Hijrah asal Malaysia yang menuntut ilmu di pesantren sejak SD dan kini SMP kelas dua.
“Terima kasih BMH. Alhamdulillah saya mewakili para santri di sini sangat bersyukur atas apa yang diberikan. Semoga ini menjadi penyemangat kami untuk terus menuntut ilmu terutama belajar Alquran dan menghafalkannya, dan juga keberkahan senantiasa bagi para donatur,” ungkapnya seperti dikutip dalam rilisnya.
“Insya Allah dalam waktu dekat kami akan kirimkan logistik yang serupa ke pesantren-pesantren yang menjadi binaan BMH di Kalimantan Utara. Ini adalah wujud dedikasi umat melalui BMH untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutup Komara.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dzikrullah W. Pramudya, mengatakan untuk membawa Indonesia unggul, kader muda bangsa, terutama Pemuda Hidayatullah harus memiliki penguasaan yang mendalam tentang wawasan nusantara.
“Pemuda Hidayatullah harus menguasai narasi wawasan kebangsaan, ketahanan nasional, dan konsolidasi teritorial Indonesia, sebaik mungkin,” kata wartawan senior yang biasa disapa Babeh ini saat menjadi narasumber Majelis Online Pemuda (MOP) Pemuda Hidayatullah yang mengangkat topik “Wawasan Nusantara dalam Percaturan Dunia”, disiarkan langsung channel YouTube Hidayatullah ID, Jum’at, 7 Muharram 1444 (5/8/2022).
Kata Babeh, pemuda Hidayatullah mesti tampil sebagai orang yang paling fasih dalam menjaga Indonesia sebagai sebuah bangsa yang tujuan utamanya adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur (negeri yang tentram, subur, aman, nyaman, dan damai).
Dia menjelaskan, dalam Ketetapan MPR Tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN disebutkan bahwa Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara agar masyarakat mencapai tujuan nasional.
Olehnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengutamakan persatuan dan kesatuan kemudian bahu-membahu menciptakan kultur dan lingkungan hidup yang baik untuk kesejahteraan dan keadilan. Demikian pula dalam kancah percaturan dunia.
“Di pentas geopolitik internasional dan hubungan antarbangsa, Pemuda Hidayatullah harus mampu mengajak pemuda pemuda yang lain berinteraksi secara intensif dengan komponen umat Islam khususnya pemuda Islam dari berbagai wilayah dunia yang lain,” katanya.
Pada kesempatan itu Babeh menyampaikan 3 dimensi yang paralel yang perlu menjadi ingatan bagi anak anak bangsa dalam menguatkan wawasan nusantara ke dalam kancah percaturan dunia, yaitu dimensi ideologi pemikiran, penguasaan narasi wawasan nusantara, dan ketiga, berkiprah tanpa batas batas negara.
“Jangan batasi interaksi itu hanya di Indonesia saja. Siapkanlah panggung untuk penerus kalian dimasa depan untuk melangkah borderless. Tanpa batas,” katanya.
Babeh juga membahas relevansi wawasan nusantara dengan sejarah faktual dalam aspek teritorial dimana Indonesia memiliki strategi dan konsep pertahanan pulau pulau yang ada.
Pada kesempatan itu, Babeh juga menyampaikan perbedaan asas geopolitik peradaban lain dan geopolitik Islam. Dia mengatakan asas geopolitik Islam berbeda 180 derajat dengan asas geopolitik peradaban atau bangsa bangsa lainnya.
“Kalau bangsa bangsa lain, asas geopolitiknya itu adalah kepentingan untuk kejayaan politik dan ekonomi. Sedangkan Islam, asas utama geopolitiknya adalah hidayah, rahmah, dan berkah yang sasarannya adalah seluruh dunia. Rahmatan lil ‘alamiin,” tukasnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al-Banna, PhD, menyampaikan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari situasi dan kondisi geopolitik yang terjadi kala itu.
Bung Karno dan banyak tokoh bangsa yang sadar bahwa Indonesia harus jadi bangsa yang seutuhnya membaca dengan sangat jeli, sehingga sekuat tenaga memperjuangkan kemerdekaan.
Shofwan menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia hanya mungkin dan benar-benar diraih karena para pejuang kita adalah pembaca kelas berat. Jadi paham apa yang akan terjadi dan karena itu mampu bertindak cepat.
Menurut Showan, kondisi kekuatan global belakangan dengan sistem liberal order yang menawarkan kesejahteraan tengah sempoyongan menghadapi perubahan kekuasaan yang terus terjadi.
“Pada sistem liberal order itu banyak pembangunan berlangsung namun sedikit manusia yang bisa akses,” katanya seraya menyebut sejumlah negara seperti Srilanka yang terdampak dari sistem ini.
Jadi, kata Shofwan, kita mengalami kelangkaan bukan karena barangnya tidak ada, tetapi karena memang begitulah sistem ekonomi kapitalis.
Ketika kekuatan besar itu mulai sempoyongan, lanjut Shofwan, harusnya muncul kekuatan baru yang mampu mempercepat “shift of power” itu sendiri.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi yang menyampaikan kata penutup dalam acara webinar tersebut menyampakan apresiasi atas pengayaan disampaikan oleh narasumber yang menurutnya sangat penting dan mendasar.
“Kita menemukan kunci dan sandi sandi untuk kawan kawan pemuda lebih produktif lagi dalam membangun masa depan,” katanya.
Dia mengatakan, kalau dulu Soekarno membaca kemudian pidato dan betindak pada saat usia muda, berarti secara siklus spirit itu yang harus menjadi idealisme yang dibangun oleh anak anak muda.
Dalam kata yang lain, lanjutnya, Soekarno, Agus Salim, Natsir, dan guru bangsa Tjokroaminoto adalah sosok pembaca kelas berat, yang itu dalam konteks historis wahyu Al-Quran, benar-benar memanivestasikan perintah membaca (iqra’) secara sempurna, iqra’ bismirabbik.
Menurut Imam, angkatan muda Hidayatullah perlu dan harus terus bergerak membina generasi muda kendati diwaktu yang sama tak sedikit yang nyemplung diri ke kancah pragmatis belaka. Apalagi sejarah selalu menitipkan program perubahan kepada anak muda.
“Tema ini merupakan satu keinginan besar pemuda Hidayatullah untuk bagaimana masa depan bisa digambarkan dan pada saat yang sama melangkah untuk bisa memberi warna,” tandasnya.
Acara yang dipandu oleh Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa ini dihadiri juga oleh Kabid Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo, perwakilan pengurus wilayah Pemuda Hidayatullah dari berbagai provinsi, dan juga peserta mahasiswa dari luar negeri seperti Yaman, Sudan, Turki, dan New Yok, Amerika Serikat.*/Ainuddin Chalik