Beranda blog Halaman 646

Ditegaskan Kader Hidayatullah Wajib Berhalaqah Taklim

Halaqah sebagai wadah pengutana iman dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Tampak halaqah kader Hidayatullah Medan / CHA
Halaqah sebagai wadah pengutana iman dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Tampak halaqah kader Hidayatullah Medan / CHA

Hidayatullah.or.id — Salah satu cara menghindari kelesuan (futur) dalam berdakwah adalah dengan giat mengikuti halaqah. Sebab bagi seorang dai atau pegiat dakwah, halaqah tidak sekedar ajang kumpul-kumpul saja bersama orang lain.

Halaqah taklim yang di dalamnya ada proses transformasi ilmu dan kultur sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban mutlak bagi setiap Muslim, terlebih bagi para dai atau seorang kader Hidayatullah.

Demikian yang tersimpul dalam pencerahan yang disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya (24-25/05/2014) lalu.

Dalam pemaparan yang bertajuk “Urgensi Halaqah Dalam Tarbiyah Umat” Nashirul menjelaskan peran penting halaqah sebagai sarana pembinaan.

Menurutnya, evaluasi diri seorang dai dan kewajiban dakwah kepada umat adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

“Seorang dai tidak boleh hanya asyik berdakwah kepada orang lain tapi ia sendiri lupa membina dan mengevaluasi kesehariannya,” terang pria jebolan Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah ini.

Hal itu bisa tercapai, masih menurut Nashirul, jika setiap dai atau pegiat dakwah punya kesadaran yang benar tentang peran penting kegiatan halaqah tersebut. Sebab halaqah bagi seorang kader adalah sarana tarbiyah yang mencakup tilawah al-Quran, muhasabah diri (tazkiyatun nafs), dan taklim serta transformasi nilai-nilai manhaj Sistematika Nuzul Wahyu (SNW).

“Halaqah juga bisa berfungsi sebagai media muakhah (persaudaraan) yang menguatkan ikatan jamaah,” imbuh kandidat doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia ini.

Acara Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya yang bertempat di kampus Hidayatullah Lambara Harapan, Luwu Timur ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Luwu Raya, Sulsel.

Hingga kini, tercatat telah ada 4 Pengurus Daerah (PD) dan 5 Pengurus Cabang (PC) yang menjadi titik sentral dakwah Hidayatullah di wilayah Luwu Raya dan akan terus dikembangkan di masa mendatang.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Sumaryadi, Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulsel. (Masykur)

Komitmen Hidayatullah Lahirkan Ilmuan Muslim

Bertempat di Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, 323 Wisudawan/i UIKA Bogor resmi dilantik / PPS UIKA
Bertempat di Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, 323 Wisudawan/i UIKA Bogor resmi dilantik / PPS UIKA

Hidayatullah.or.id — Kabar gembira menghampiri dunia pengkaderan Hidayatullah khususnya bagi perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Herianto Muslim, salah seorang kader Hidayatullah Gunung Tembak, berhasil meraih gelar master dalam acara wisuda yang digelar oleh Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, pertengahan Mei lalu.

Capaian tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi STIHID yang sedang concern mengembangkan aspek studi selain bidang hukum Islam (ahwal asysyakhsiyah) yakni ekonomi syariah yang mensyaratkan tenaga akademik berkualitas di bidangnya.

Bersama wisudawan lainnya, Muslim, demikian sapaan akrabnya, berhasil menyelesaikan pendidikan di UIKA program studi (Prodi) Magister Ekonomi Islam. Untuk itu, Muslim berhak menyandang gelar Master Ekonomi Islam atau yang biasa disingkat dengan sebutan gelar M.E.I.

Secara umum, hal ini tentu menjadi kesyukuran bagi Hidayatullah sebagai salah satu organisasi massa (ormas) Islam yang mainstream gerakannya fokus pada bidang dakwah dan tarbiyah. Terlebih, Muslim, saat ini tercatat sebagai salah seorang pengajar di almamaternya dahulu, STIS Hidayatullah, Balikpapan.

“Alhamdulillah, semua capaian ini kami dapatkan atas dukungan doa dari semuanya,” ujar Muslim yang meraih predikat cum laude (dengan kehormatan) dalam pengukuhannya tersebut.

Untuk program pengembangan kualitas SDI, STIS secara berkala mengirim kader-kader terbaiknya melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang ada. Hal ini dimaksud sebagai respon terhadap dinamika tantangan dan harapan dalam dunia pendidikan sekarang.

“Ini salah satu cara STIS bersyukur lewat peningkatan kualitas Sumber Daya Insani (SDI) dosen,” ujar Abdul Ghofar Hadi, Ketua STIS Hidayatullah.
“Tantangan dan harapan tersebut hanya bisa dijawab dengan bekerja dan berdoa secara sungguh-sungguh,” imbuh Abdul Ghofar.

Selain Universitas Ibn Khaldun di Bogor, selama ini STIS Hidayatullah juga berinvestasi kader di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan bahasa Arab (LIPIA) Jakarta dan Ma’had ar-Rayah, Sukabumi, Jawa Barat.

Di luar itu, puluhan kader Hidayatullah saat ini juga tengah menyebar menuntut ilmu di berbagai universitas di luar negeri. Sebut saja misalnya, Universitas al-Iman, Yaman, Universitas Islam Madinah, Universitas al-Azhar, Kairo, Universitas Islam Afrika Internasional di Khartoum, Sudan, dan Universitas Islam Internasional Malaysia.

Sedianya, khusus kerjasama dengan UIKA Bogor, STIS Hidayatullah berupaya secara rutin menempatkan utusannya kuliah di kampus yang beralamat di Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 2 Bogor ini. Tercatat, Azhari (lulusan STIS angkatan (2011) menjadi duta pertama STIS yang menempuh pendidikan di UIKA, Bogor.
Kini Azhari telah bergabung mengajar di STIS dan mengampu mata kuliah Metodologi Penelitian. Sebelumnya ia berhasil menggondol gelar M.Pd.I pada prodi Pendidikan Islam.

Sebagai informasi, Universitas Ibn Khaldun, Bogor kini membuka peluang bagi kader-kader muda Muslim untuk mendalami berbagai bidang terkait pendidikan dan pemikiran Islam. Menariknya selain tawaran beasiswa pendidikan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), para mahasiswa yang mengikuti proses perkuliahan tersebut wajib mondok berasrama di Pondok Pesantren Mahasiswa dan Pasca Sarjana (PPMS) Ulil Albab Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor selama satu tahun.

Selanjutnya para mahasiswa itu wajib mengikuti sejumlah kegiatan pembinaan dan penunjang di pesantren. Mulai dari shalat berjamaah di masjid. qiraah al-kitab (text reading), hafalan al-Qur’an, pelatihan jurnalistik, dan berbagai diskusi dan kajian ilmiah lainnya.

Seiring waktu, kini UIKA yang merupakan kampus Islam tertua di wilayah Bogor ini telah menghasilkan sejumlah tokoh Pendidikan dan Pemikiran Islam. Beberapa di antaranya bahkan menjadi tokoh nasional dan ahli di bidangnya masing-masing.

“Mohon doa, semoga kami semua bisa istiqamah di jalan dakwah dan perjuangan ini,” pungkas Muslim meminta dukungan. (Masykur)

Pemerintah Harus Awasi Lembaga Pendidikan Asing

Ketua Presidium BMOIWI Pusat Sabriati Aziz saat berorasi menolak eksploitasi seks terhadap wanita di Bundaran HI Jakarta / SUARA ISLAM
Ketua Presidium BMOIWI Pusat Sabriati Aziz saat berorasi menolak eksploitasi seks terhadap wanita di Bundaran HI Jakarta / SUARA ISLAM

Hidayatullah.or.id – Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai federasi dari 32 ormas muslimah mendesak pemerintah menertibkan segala bentuk penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan dasar, prinsip, dan tujuan pendidikan nasional.

Penertiban itu tak terkecuali terhadap penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara lain, dan harus tetap menjaga rasa keadilan masyarakat, kedaulatan negara yang bermartabat.

Desakan BMOIWI itu menyusul adanya sejumlah aksi kekerasan seks terhadap anak yang terjadi lembaga pendidikan Jakarta International School (JIS) yang dilakukan oleh orang dalam sendiri.

Disebutkan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melaporkan bahwa kurikulum Jakarta International School memiliki fokus internasional yang kuat.

“Kita prihatin maraknya kasus kejahatan kekerasan seksual terhadap anak terutama yang terjadi di lembaga pendidikan. Sangat memprihatinkan kita semua,” kata Presidium BMOIWI Sabriati Aziz kepada hidayatullah.com, Sabtu (24/05/2014).

Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di institusi pendidikan menimbulkan keresahan bagi para orang tua dan munculnya rasa was-was terhadap anak ketika berada di sekolah.

Untuk itu, terang Sabriati, lembaga pendidikan manapun dan khususnya penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara lain di Indonesia harus mendasari kegiatannya sesuai dengan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Ia menegaskan, pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 dengan terang mengamanatkan kepada negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Negara tidak boleh absen mengawal spirit tujuan pendidikan nasional yang berakar pada nilai-nilai agama,” tegas Sabriati yang juga Ketua Majelis Petimbangan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah ini.

Seperti diketahui, pada April 2014 lalu dilaporkan bahwa seorang siswa Jakarta Internatiobal School berusia lima tahun telah berulangkali diperkosa oleh karyawan bagian kebersihan saat sedang pergi ke toilet.

JIS adalah sebuah sekolah internasional swasta di Jakarta yang telah berdiri sejak ahun 1951 untuk anak-anak ekspatriat yang tingal di Jakarta dan merupakan sekolah dasar dan menengah internasional terbesar di Indonesia.

Sekolah ini mengikuti model kurikulum Amerika Utara dari prasekolah sampai kelas 12 dan telah diakreditasi oleh Western Association of Schools and Colleges dan Council of International Schools. Kurikulum Jakarta International School memiliki fokus internasional yang kuat.

Sementara dalam Pasal 2 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta dalam ketentuan umum disebut berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia. (ybh/hio)

Jangan Pernah Sepelekan Pendidikan Anak Usia Dini

pawai paud 01
Kegiatan main peran sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan / MASYKUR
pawai paud 02
Para ustazah dengan telaten menampingi kegiatan main peran sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Suasana masih pagi di kampus Hidayatullah Gunung Tembak. Ketika puluhan kendaraan tumpah menyesaki halaman sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Masing-masing murid tampak mengendarai sebuah kendaraan sepeda. Ada pula yang menarik kereta api atau mobil-mobilan. Sedianya pagi itu murid-murid PAUD menggelar pawai mengitari kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Kali ini PAUD mengusung tema pawai “Mengenal Sarana Transportasi”.

Untuk diketahui, kegiatan pawai tersebut adalah agenda rutin PAUD yang bersifat rihlah alamiyah. Selain menyusuri perumahan warga yang bermukim di lokasi pesantren, biasanya murid-murid PAUD juga dipersilakan menikmati dari dekat keindahan danau yang tepat berada di jantung kompleks pesantren tersebut.

“Selain belajar di kelas, kami juga ingin murid-murid PAUD mampu menimba ilmu dari lingkungan sekitarnya.” Ujar Sulmiati Shaleh, seorang guru senior di PAUD Al-Aulad.

Meski terlihat sederhana, kegiatan-kegiatan outdoor seperti yang dilakukan Al-Aulad tersebut dipandang sebagai proses stimulasi efektif untuk pengembangan karakter dan potensi anak yang tak boleh dianggap sepele.

Pakar pendidikan anak menjelaskan bahwa fungsi main peran baik indoor maupun outdoor akan menunjukkan kemampuan berpikir anak yang lebih tinggi. Sebab anak mampu menahan pengalaman yang didapatnya melalui pancaindra dan menampilkannya kembali dalam bentuk perilaku berpurapura.

Main peran dalam kegiatan di luar ruang membolehkan anak memproyeksikan diri ke masa depan lalu menciptakan kembali ke masa lalu dan mengembangkan ketrampilan khayalan.

Meski digelar sekali setahun, namun ia tak mengurangi antusias murid-murid PAUD dalam mengikuti acara pawai “Sarana Transportasi” tersebut. Setidaknya hal itu terlihat dari usaha mereka menghias kendaraan masing-masing.

Bahkan, tak sedikit murid-murid PAUD yang menyulap kendaraan mereka berubah menjadi pesawat tempur, kereta api, atau mobil balap Formula Satu.
“Sebenarnya PAUD tidak pernah membebani apalagi mewajibkan murid-murid kami agar menghias kendaraan mereka,” terang Muliati, Kepala Sekolah PAUD al-Aulad. “Cuma biasanya murid-murid kami sangat senang mengikuti acara pawai ini,” imbuh Muliati semringah.

Selain kegiatan pawai, PAUD Al-Aulad juga aktif dalam berbagai kegiatan yang bersifat sosial lainnya. Menjelang bulan Ramadhan ini misalnya, PAUD Al-Aulad sudah menyiapkan program bakti sosial. Yaitu pengumpulan dan pembekalan sembako kepada orang tua lanjut usia (lansia) dan janda tua yang tinggal di lingkungan sekitar sekolah PAUD.

Berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya, PAUD Al-Aulad punya metode tersendiri dalam membina murid-muridnya. Yaitu dengan cara melibatkan secara aktif orangtua/ wali murid dalam membina anak-ananya. Hal itu ditandai dengan adanya komitmen bersama dewan guru dan seluruh orangtua/ wali murid untuk sama-sama memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya.

Mujahadah ini ditempuh sebab tak sedikit orangtua murid yang menyekolahkan anaknya lalu merasa urusan pendidikan anaknya telah selesai di sekolah. Seolah-olah orangtua tak lagi punya kewajiban mendidik anak-anaknya di rumah.
Untuk itu di antara bentuk komitmen bersama tersebut, para orangtua/ wali murid wajib mengikuti kegiatan pencerahan parenting yang digelar sebulan sekali di Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Untuk kegiatan pencerahan parenting tersebut, biasanya PAUD Al-Aulad bekerja sama dengan Muslimah Hidayatullah (Mushida) dengan menghadirkan Zainuddin Musaddad, seorang pakar parenting dan tokoh masyarakat di Balikpapan.

“Kami bersyukur dengan adanya acara pencerahan parenting itu. Banyak ilmu yang kami dapatkan di sana,” ujar Fitriani (32), orangtua Sulaim, salah seorang murid PAUD.

Kini seiring perjalanan PAUD Al-Aulad mulai mendapatkan kepercayaan dalam membina anak usia dini (Play Group). Berdiri sejak tahun 2005, PAUD Al-Aulad telah menamatkan ratusan murid.

Untuk saat ini, bahkan murid-murid PAUD Al-Aulad tak lagi sebatas anak warga Pesantren Hidayatullah yang bermukim di kawasan Kampus Gunung Tembak. Tidak sedikit murid yang berasal dari masyarakat luar sekitar pesantren. Mereka rela antar jemput anak-anak mereka dengan satu harapan sederhana. Semoga anak-anak mereka menjadi generasi anak yang shalih dan shalihah. (Masykur)

Pesantren Harus Mendukung Santrinya Aktif Menulis

Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR
Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR

Hidayatullah.or.id — Banyak cara untuk jadi wartawan atau penulis, termasuk bagi para santri. Salah satunya seperti yang diungkapkan Pemimpin Redaksi (Pemred) Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi. Mau tahu?

Mahladi mengungkap, setiap pesantren sebaiknya membuat situs internet (website) internal. Lalu menggalakkan tulis-menulis di kalangan santri dan ustadz. Tulisan mereka nantinya ditayangkan di website tersebut.

Pesan ini disampaikannya saat mengunjungi Yayasan An-Nasr Hidayatullah Brebes, Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (22/05/2014).

Selain itu, ungkap Mahladi, pesantren juga perlu menerbitkan media cetak seperti buletin. Atau memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook.

“Kita perlu media untuk mempublikasikan tulisan kita. Kita kalau sudah menulis, kalau tidak ada media biasanya cepat bosan (menulis),” ujarnya, sebagai pengisi pelatihan jurnalistik yang diikuti puluhan santri se-Cirebon (Jawa Barat), Brebes, dan Tegal.

Kemudian, untuk semakin membuka peluang jadi wartawan, Mahladi berpesan, penulis harus rajin mengirim tulisannya ke media massa.

Semua itu harus dimulai dengan langkah awal, yaitu menumbuhkan minat menulis, kata Mahladi. Hal ini, menurutnya, perlu agak dipaksakan.

Lalu, langkah selanjutnya, “Adakan pelatihan jurnalistik untuk semua warga sekampus (pesantren),” ujarnya.

Jika rangkaian itu telah dilalui, dia meyakini akan lahir penulis-penulis pilihan. Orang pilihan itulah yang diyakininya kelak bisa dilirik media massa untuk dijadikan koresponden di daerah.

“Kalau sudah jadi koresponden, akan terkait reportase. Itulah jurnalistik,” ujarnya.

-Dakwah Bil Qalam-

Mahladi menjelaskan, tulis-menulis sangat berperan dalam dakwah pesantren. Sebab dakwah bisa lewat tulisan, disebut “dakwah bil qalam (dengan pena)”. Para dai pun disarankan agar pandai menulis.

“Selain berkomunikasi (kepada umat) secara lisan di atas mimbar, tapi juga berkomunikasi di atas kertas,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa pengaruh tulisan di media luar biasa.

“Dakwah itu mengajak, dakwah lewat tulisan juga begitu. Mengajak orang lewat tulisan. Sangat erat sebenarnya dakwah dengan tulisan,” lanjutnya.

Mahladi menjelaskan, dakwah bertujuan mempengaruhi orang lain. Maka tujuan dakwah dengan tulisan juga begitu.

Bagaimana cara mempengaruhi orang lewat tulisan? Menurut Mahladi, sebuah tulisan harus berbobot informasinya dan menarik susunan tata bahasanya.

Hal senada disampaikan Pembicara lainnya, Dadang Kusmayadi, Pemred majalah Suara Hidayatullah. Dia mengungkap, para ulama terdahulu banyak yang berdedikasi dengan “dakwah bil qalam”.

Bahkan, katanya, dalam penjara pun ada ulama yang tetap menulis. Disebutlah Sayyid Quthb, ahli tafsir dari Mesir sebagai contohnya.

“Dalam rangka apa (menulis)? Dalam rangka ‘amar ma’ruf nahi mungkar’,” ujarnya.

Contoh lainnya, sebut Dadang, adalah pendiri Persatuan Islam (Persis), A Hassan. Tokoh ini melawan tulisan Presiden Soekarno yang mengagumi pemikiran Mustafa Kemal Atatürk soal sekularisme di Turki. A Hasan, ujar Dadang, rajin membantah tulisan Soekarno juga dengan tulisan di media yang sama kala itu.

“Sekarang banyak komunitas penulis. Ada ibu-ibu doyan menulis, anggotanya dua ribuan yang aktif lewat email, Facebook,” pungkasnya.* (Skr Aljihad)

Pengurus Hidayatullah DIY-Jateng Ikuti Konsolidasi Rutin

Pengurus PW Hidayatullah DI Yogyakarta - Jawa Tengah, Suwahya Tommi Djanto, saat menyampaikan sambutannya / HDGK
Pengurus PW Hidayatullah DI Yogyakarta – Jawa Tengah, Suwahya Tommi Djanto, saat menyampaikan sambutannya / HDGK

Hidayatullah.or.id — Pengurus Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah mengikuti kegiatan upgrading dan konsolidasi rutin dua bulanan selama 2 hari di Masjid Jogokariyan, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum lama ini (10-11/05/2014).

Kegiatan yang berlangsung intensif ini diikuti oleh Pimpinan Daerah Hidayatullah se-DI Yogyakarta, PD Cilacap, PD Purworejo, PD Kebumen, PD Magelang, PD Solo, PD Karanganyar, PD Klaten, dan PD Wonogiri. Acara penuh kekerabatan ini dipandu oleh pengurus DPD Hidayatullah Kodya Yogyakarta.

Setelah pembukaan dilanjutkan sambutan shohibul bait Masjid Jogokariyan dan sambutan ketua DPW Hidayatullah DI Yogyakarta yang diwakili oleh Suwahya Tommy Janto. Pada kesempatan tersebut ketua PW Hidayatullah Ustazd Drs Budi Gunawan berhalangan hadir karena baru mendapatkan ujian dari Allah Ta’ala dan sedang dirawat di Rumah Sakit PKU Yogyakarta.

Selesai sambutan dilanjutkan tausiah oleh ustazd Fathurrohman dari Yayasan Pondok Pesantren Pesantren Al-Kahfi Hidayatullah Solo. Dalam tausiahnya Fathurrohman menekankan para kader untukk terus membangun budaya kerja yang dilandasi dengan pengabdian kepada Allah.

“Setiap amal dan perbuatan harus dilandasi dengan etos kerja Ilahiyah yaitu semata-mata karena Allah, ikhlas, dan ittiba’,” kata Ustadz Fathurrohamn mengingatkan.

Fathurrahman mengimbuhkan bahwa pengabdian Hidayatullah di masyarakat dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial harus selalu melakukan revitalisasi program yang bersenyawa dengan akulturasi lokal di mana Hidayatullah berada agar senantiasa sejalan dengan kebutuhan umat dimasa yang akan datang.

Selain itu, beliau menyampaikan bahwa memegang agama di akhir zaman memang berat ibarat seperti memegang bara api. Bila dipegang panas tetapi bila dilepaskan bara api itu akan mati. Untuk itu, kata dia, segenap pengurus Hidayatullah agar terus meningkatkan kualitas Ibadahnya agar pertolongnya Allah selalu menyertainya.

Selesai tausiah para peserta istirahat dan pagi dini hari dilanjutkan shalat Lail berjama’ah yang diimami oleh ustazd Fathurrohman yang dilanjutkan sholat Subuh.

Selesai sholat Subuh pengurus Masjid Jogokaryan meminta kepada pengurus Hidayatullah agar mengisi Kultum pagi. Ustazd Suwahya Tommi Djanto akhirnya mewakili Hidayatullah menyampaikan kultum yang didahului pengantar pengenalan Hidayatullah kepada para jamaah sholat Subuh.

Selesai sholat Subuh para peserta kembali ke ruang pertemuan untuk melanjutkan acara konsolidasi pengurus. Ustazd Muhammad Sukamto, Ustadz Slamet dan pengurus pimpinan daerah lainnya menyampaikan beberapa program dan evaluasi program kepada para peserta. Setelah konsolidasi pengurus dan MCK pagi dilanjutkan materi Mudzakaroh yang disampaikan oleh ustazd Syakir. (ybh/hio)

“Saya Panggil Sampeyan Melalui Shalat Tahajjud”

Oleh Alimin Mukhtar*
Oleh Alimin Mukhtar*

SUATU KALI, beberapa tahun silam, ustadz-ustadz di Hidayatullah Malang bersilaturrahim ke rumah Mister Kalend di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Beliau yang nama aslinya Kaelani itu merupakan pionir di sana, dan beliau membagi kiat-kiatnya kepada kami tentang bagaimana merintis suatu amal yang kemudian menasional bahkan mendunia. Saat itu kami masih mengawali perintisan Sekolah Ar-Rohmah Putri.

Kami memang biasa bersama-sama mengunjungi para tokoh di mana-mana untuk banyak belajar dan membangun jaringan, dan ini sudah lazim di lingkungan Hidayatullah. Saya kebetulan tidak ikut ketika itu dan cerita ini saya dapat dari Ustadz Zaenal Mustofa. Saya share di sini, semoga ada manfaatnya.

Banyak hal yang kami tanyakan dan beliau pun menceritakan berbagai hal. Tapi, ada satu yang berkesan dan sangat menarik. Kata beliau: “Saya tidak pernah membuat brosur selembar pun. Saya panggil sampeyan-sampeyan ini melalui shalat tahajjud!”.

Dalam obrolan santai, diskusi, dan rapat sampai sekarang, cerita itu kerap muncul kembali. Dan, itu pasti mengingatkan pada “ilmu lama” yang diajarkan Ustadz Abdullah Said kepada kita semua, yang pada dasarnya adalah tuntunan Allah kepada Nabi-Nya di awal-awal dakwahnya, yang terangkum dalam surah al-Muzzammil.

Bila saya refleksikan pada diri saya sendiri, sampai sekarang saya masih belum betul-betul paham bagaimana caranya saya kemudian bisa sampai ke Hidayatullah Surabaya.

Info yang saya terima ketika itu samar-samar, tapi saya kok bisa yakin dan percaya. Entah bagaimana juga ayah-ibu saya yang semula meminta saya mondok di Lirboyo Kediri bisa merestui saya masuk Kampus Kejawan.

Saya juga heran karena di angkatan saya jumlah mahasiswa barunya sekitar 60 orang, lebih malah; meski yang bertahan sampai wisuda hanya 26 orang. Entah bagaimana mereka masing-masing bisa sampai ke kampus di balik kuburan di tengah rawa di pinggiran Surabaya itu. Mereka pasti punya kisahnya masing-masing.

Asramanya pun jelek ketika itu. Kami menyebutnya bivak; sebuah bangunan kayu knock-down dua lantai yang berlantai plester dilapisi perlak plastik. Yang lantai atas berlantai multiplek dengan perlak juga, yang terdengar glodak-gloduk dari lantai bawah jika ada yang berjalan di atas.

Airnya sulit, dan itu pun payau (setengah asin). Yang susah adalah jika harus bersih-bersih saat malam karena air terkadang samasekali tidak mengalir dan bak mandi pun kosong. Terpaksa menunggu, atau –jika ada duit– mandi di tandon kampung sebelah. Tapi, asal tahu saja, mandi air tawar itu kemewahan bagi kami saat itu. Tidak setiap hari, tentu saja; sehingga rambut kami kebanyakan agak kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Soal nyamuk dan panas, jangan tanya. Masih ada banyak kera di pohon-pohon belakang bivak selatan yang saat ini jadi ruang makan/dapur itu. Kadang kera-kera itu mencuri makanan atau memberantaki dapur kami sehingga yang kebagian piket pasti sewot.

Kelasnya? Ah, jadi malu menceritakannya. Dulu, menempati ruang setengah jadi di balik mihrab masjid yang sekarang dipakai perpustakaan. Tapi, dulu belum ada dinding penutup terpaan angin dan hujan, tembok timur (bagian dari masjid) belum dipelur rapi, belum dicat, belum dikeramik juga. Kursinya pun seadanya.

Gedung tiga lantai di depan itu, belum jadi. Baru selesai pondasi dan pengecoran dak lantai dua. Kami masih ikut kerjabakti melepas bagasting, angkut pasir, menyerok koral, mengaduk semen, ditemani gorengan Cak Li yang kadang dibeli dari uang hasil menjual paku-paku bekas bagasting corcoran.

Kondisi lahiriahnya memprihatinkan. Tapi, kok banyak juga yang datang dan berminat? Banyak juga yang tetap bertahan, walau banyak pula yang berguguran. Saya tetap merasa takjub sampai sekarang. Entah bagaimana saya bisa sampai ke sana dan mengapa tetap bertahan meski keadaannya tidak nyaman dari sègi fasilitas.

Sekarang, bagaimana dengan cabang-cabang dan amal-amal usaha Hidayatullah di tempat kita màsing-masing? Bangunan ada, guru banyak, fasilitas lebih bàik, manajemen lebih profesional, cetak brosur gampang, beriklan di majalah Suara Hidayatullah juga menjangkau nasional/internasional, bikin websites di internet juga murah.

Memikirkan masalah ini, saya teringat kata-kata Mister Kalend itu, juga “ilmu lama” yang diwariskan Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said. Sepertinya, ini yang bèlum kita lakukan, atau kita abaikan, atau kita anggap tidak penting dan relevan lagi.

______________
ALIMIN MUKHTAR, Penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Hidayatullah Purwodadi Bekali Wali Murid Smart Parenting

Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Yayasan Amanah Pondok Pesantren Hidayatullah Purwodadi mengadakan workshop sehari bertajuk Smart Parenting dengan tema “Peran Orangtua dalam Membangun Adab Anak”berlangsung di Gedung Reptaloka Kompleks Setda Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (18/05/2014) lalu.

Workshop berlangsung semarak ini diikuti oleh 160 calon wali murid KB-TK-SD dan SMP Integral Hidayatullah Purwodadi.

Ketua Yayasan Amanah Pesantren Hidayatullah Purwodadi, Ustadz Ahmad Tsaqif dalam sambutannya, mengatakan bahwa kegitan Smart Parenting ini merupakan kegiatan rutin digelar untuk membangun silaturrahim dan membangun kesepahaman antara orangtua dan sekolah dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Harapannya, terang dia, agar ada kesamaan persepsi dalam menangani pendidikan anak.

Sementara itu, tampil sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yaitu pakar parenting dari Yogyakarta, Muhammad Fauzil Adhim, menjelaskan tentang bagaimana membangun kepercayaan anak terhadap orangtua sehingga mereka mampu menghormati sebagaimana orangtua terdahulu.

“Orang terdahulu sangat ditaati oleh anak-anaknya karena mereka mampu memberikan teladan yakni apa yang diucapkan sesuai dengan tindakannya di hadapan anak-anak,” imbuh Fauzil mengingatkan.

Acara yang berlangsung setengah hari ini dimoderatori oleh Achmad Bashori yang juga kepala SMP Integral Luqman al Hakim Hidayatullah Purwodadi. Peserta nampak antusias menyimak pemaparan pemateri selama 60 menit dan dilanjutkan tanya jawab 120 menit.

Pada sesi dialog tanya jawab yang berlangsung 3 sesi, para calon wali murid “berebut” curhat dan menanyakan masalah-masalah dalam pengasuhan anak. Ada yang menanyakan tentang anaknya yang malas untuk bersekolah sampai kekhawatiran anak-anak SMP yang tidak taat pada orangtua.

Lebih lanjut Fauzil Adhim dalam kesempatan tersebut, menjelaskan bahwa tanggung jawab orangtua dan pihak sekolah adalah bagaimana mampu membangun orientasi hidup anak agar bertaqwa pada Allah Ta’ala dan membangun adab mereka berdasarkan keimanan.

Pendidikan adab ini, tegas Fauzil, harus diberikan sekolah sejak 3 bulan awal anak-anak masuk sekolah dengan kontol dari orangtua. Karena saat ini dengan pengaruh media massa utamanya TV yang memasuki rumah-rumah ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak-anak.

“Mereka kadang lebih mendapatkan contoh negatif dari dari idola yang mereka tonton. Sebab itu, orang tua berusaha sebaik mungkin menjadi contoh utama bagi anak-anaknya,” tandas Fauzil (Achmad Bashori, Purwodadi).

Tokoh Sorong Papua Barat Apresiasi Peran Hidayatullah

Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT
Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT

Hidayatullah.or.id — Tokoh masyarakat Sorong, Papua Barat, Muhammad Ja’far, mengapresiasi peran ormas dan Pesantren Hidayatullah dalam menopang pembangunan di wilayah tersebut. Hal itu dikatakan Ja’far saat membuka acara Marhalah Ula yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong, baru baru ini.

Tokoh agama yang mewakili Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong ini, mengungkapkan mewakili seluruh elemen umat Islam di Sorong, pihaknya mengaku bersyukur atas kehadiran Hidayatullah di berbagai titik dakwah, khususnya yang ada di Sorong.

“MUI merasa sangat terbantu dalam membina masyarakat khususnya para pemuda Islam,” kata Ja’far.

Menurut Ja’far, pemuda sebagai generasi pelanjut hendaknya menyadari peran strategisnya sebagai pelanjut risalah dakwah dan pelopor pembangunan umat dan bangsa. Tidak justru larut dalam dunia gemerlap dan tindakan sia-sia lainnya.

“Akan dibawa ke mana agama Islam ini jika pemuda-pemuda Muslim justru telah kehilangan arah duluan,” papar Ja’far menyayangkan sikap sebagian pemuda yang ada.

Dalam kesempatan yang sama, MUI Sorong juga mengingatkan pemuda Islam akan bahaya laten pemikiran liberal yang tengah berkembang di berbagai perguruan tinggi di negara ini.

Masih menurut Ja’far, virus yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut benar-benar harus diwaspadai.

“Kita semua harus waspada terhadap JIL, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan logika yang baik, namun akidah mereka rusak,” terang Ja’far di hadapan puluhan peserta Daurah.

“Jika para pemuda Islam tidak dibentengi dan diselamatkan, maka alamat negara dan agama ini bisa hancur oleh ulah mereka nantinya,” lanjut Ja’far menegaskan.

Selama dua hari, para peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang diisi secara bergantian oleh dua orang pemateri yaitu Sultan, S.Pd.I dan Sanusi,S.Pd.I. Mereka berdua tak lain adalah instruktur khusus wilayah Papua Barat sekaligus pemangku amanah di Departemen Dakwah Hidayatullah Papua Barat.

Untuk diketahui wilayah tersebut meliputi cabang Hidayatullah Manokwari, Fak-Fak, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong.

“Kalau boleh berharap acara semacam ini diperbanyak buat kami para pemuda. Meski tinggal di pelosok Papua, tapi kami juga punya semangat untuk berdakwah Insya Allah,” ungkap Arman Kelirey, mewakili harapan peserta Daurah marhalah Ula.

Arman Kelirey sendiri adalah putra asli Sorong yang kini duduk di bangu kelas III Madrasah Aliyah (MA) Sorong, Papua Barat. (Miftahuddin, Sorong)

Inilah Mengapa Tradisi Hidayatullah Hidup Berkampus

hidayatullah di papua
Masyarakat dan warga dalam sebuah kegiatann di Pondok Pesantren Hidayatullah Papua Barat / SELLY SETY

Hidayatullah.or.id — Kehadiran Hidayatullah dengan pola gerakan dakwah “berkampus” di seluruh penjuru nusantara tentu memiliki alasan tertentu.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sudirman Ambal, salah seorang santri awal Hidayatullah Gunung Tembak yang kini berdakwah di Sorong, Papua Barat.

Kesan itu terungkap dalam sambutan Sudirman pada acara Daurah Marhalah Ula yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Papua Barat, pertengahan Mei lalu.

“Berislam itu harus dilandasi oleh dasar yang benar dan kuat. Ibarat bangunan, ia harus punya pondasi yang kokoh. Inilah alasan mengapa pola dakwah Hidayatullah harus berkampus di mana-mana. Sebab Allah memerintahkan untuk berislam secara kaffah (total),” ungkap Sudirman yang kini memangku amanah sebagai Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Hidayatullah di Papua Barat.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya, acara yang bertempat di Kampus Hidayatullah Kabupaten Sorong tersebut mengkhususkan para peserta dari generasi kader pemuda. Umumnya mereka berasal dari santri dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah se-Papua Barat.

Diharapkan, lewat kegiatan Daurah Marhalah Ula tersebut, para peserta mendapat wawasan dan bekal keilmuan Islam sebelum melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Peran pemuda tak dapat dinafikan dalam berdakwah. Mereka bahkan menjadi tulang punggung dakwah di masa para sahabat Nabi Muhammad,” ucap Miftahuddin, Ketua Panitia Daurah menjelaskan.

“Syababul yaum, zu’amaul ghad,” imbuh Miftahuddin mengutip sebuah pepatah Arab seraya tersenyum menutup perbincangan. (ybh/hio)