
Sebagian orang menilai bahwa kompetisi itu baik, tapi sebagian lainnya tidak. Mereka yang prokompetisi menyatakan bahwa kompetisi merupakan satu cara memotivasi untuk bertumbuh. Stagnasi tidak terjadi. Di sisi lain mereka yang antikompetisi menyatakan bahwa kompetisi memperbesar potensi tumbuhnya perasaan kalah bahkan citra pecundang, sesuatu yang mungkin sangat mengganggu di kemudian hari.
Meskipun terkesan berlawanan, kedua pihak masih berpotensi untuk bersatu, yakni lewat kolaborasi.
Salah satu wujud praktisnya, orang-orang dibagi dalam beberapa kelompok untuk membangun kapasitas kelompok masing-masing. Kemudian kelompok-kelompok tersebut bisa dikolaborasikan lebih jauh. Menariknya bisa juga kelompok-kelompok tersebut dikompetisikan.
Intinya ada kolaborasi. Satu orang berkontribusi lalu digenapi dengan kontribusi orang lainnya. Penyempurnaan kolektif terjadi, menghasilkan karya kebanggaan bersama.
Kebanggaan bersama ini diharapkan mengantarkan seseorang untuk memiliki berbagai perasaan positif. Salah satunya perasaan saling sayang, sesuatu yang membantu seseorang menguapkan kehampaan dan kesendirian di dalam dirinya. Sehingga hidup terasakan nyaman bahkan penuh gairah.
Harus diakui kolaborasi tidak mudah dijalankan. Pemahaman, kesadaran, dan keterampilan dibutuhkan. Pemahaman mengantarkan seseorang untuk mengerti kerangka dan tujuan kolaborasi. Kesadaran mengantarkan seseorang untuk termotivasi dalam kolaborasi. Sedangkan keterampilan mengantarkan seseorang untuk bergerak sesuai urutan agar tujuan bersama dapat tergapai.
Di antara tiga kebutuhan yang telah disebutkan, mungkin kesadaran merupakan hal paling mendasar: Apa yang paling memotivasi?
Ada banyak jawaban, masing-masing dengan argumentasinya. Akan tetapi seiring kematangan pengetahuan dan perkembangan realitas, spiritualitas dapat dijadikan satu jawaban utama. Lainnya dapat dipinggirkan.
Spiritualitas, sebagaimana dipahami, memberikan gambaran yang jelas kepada manusia tentang esensi berbagai hal. Pandangannya meluas sekaligus mendalam. Sehingga manusia bisa lebih adaptif sekaligus progresif.
Dengan spiritualitas yang baik, seseorang akan berusaha berbuat terbaik, saat sendiri ataupun bersama. Bukan untuk mencari validasi, karena baginya kebahagiaan hati jauh lebih utama. Di situasi kesadaran seperti ini, potensi konflik mengecil. Sebaliknya ruang toleransi membesar.
Nah, semoga spiritualitas yang baik juga bisa menjadi motivasi kuat untuk seseorang menambah pengetahuan serta keterampilan berkolaborasi. Salah satu targetnya adalah membangun fleksibilitas. Sehingga kolaborasi lanjutan ataupun kompetisi antarkelompok bisa disikapi proaktif berbasis nilai, jauh dari tindakan nir-adab.
Wallah a’lam.
FU’AD FAHRUDIN






