AdvertisementAdvertisement

Meraba Hati Kita dan Mengintip Cerminan Jiwa dari Lisan

Content Partner

PERNAH melihat orang memasak? Di hadapannya tergelar kompor yang menyala dan panci-panci yang mendidih isinya. Satu per satu bahan dan bumbu dimasukkannya, hingga ia merasa perlu untuk memastikan bagaimana rasanya: apakah sudah cukup asin, manis, asam, gurih, atau lainnya.

Ia menciduk sedikit, kemudian mencicipinya. Boleh jadi sesaat kemudian ia akan mematikan kompor dan mengangkat panci, karena rasanya sudah pas. Tapi boleh jadi juga ia akan menambahkan lagi sedikit bumbu, karena ada yang kurang.

Tahukah Anda, bahwa demikian pulalah perumpamaan hati manusia? Sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz ar-Razi (w. 258 H):

“Hati itu seperti periuk-periuk di dalam dada yang mendidih isinya. Sendok-sendok penciduknya adalah lisan. Tunggulah sampai seseorang bicara, sebab lisannya akan mencidukkan apa yang ada di dalam hatinya untukmu: antara manis dan asam, tawar dan asin. Cidukan lisannya akan memberitahumu citarasa hatinya.” (Hilyatul Auliya, X/63)

Maka, sebenarnya tidak sulit mengenali isi hati seseorang. Tunggulah dia bicara, dan Anda akan mengerti bagaimana isi hatinya. Mereka yang berlisan pahit, sudah tentu berhati pahit pula.

Siapa saja yang lidahnya suka mencela dan meremehkan orang lain, maka jangan ragukan lagi adanya kesombongan di hatinya. Orang yang sebentar-sebentar lisannya “misuh” dan melontarkan sumpah serapah, tidak bisa mengelak bahwa isi hatinya jauh lebih kotor dan menjijikkan.

Sebaliknya ucapan tahlil, tahmid, tasbih, takbir, istighfar hanyalah refleksi dari apa yang memakmurkan hati. Ketika dzikir menyelimuti nurani, ilmu bersemayam di dalam jiwa, dan akhlak mulia berakar di dada, sudah tentu aroma keharumannya akan menyebar melalui seluruh bagian tubuhnya yang lain. Buah-buahnya akan lebat dan bergelayut, mudah dipetik dan dinikmati siapa saja yang ada di dekatnya.

Akan tetapi, bagaimana jika seseorang dikenal sebagai ahli ilmu dan faqih, akan tetapi lisannya pahit dan sering menyakiti? Mudah saja, berarti ilmunya tidak berdiam di hati, akan tetapi hanya sekedar menempel di lisan dan mampir di pikiran.

Sebab, sudah menjadi tabiat ilmu bahwa jika menyentuh hati maka ia akan memperbaikinya. Jika seseorang diketahui memiliki banyak ilmu, namun perilakunya buruk dan menyebalkan, kita pun mengerti di mana sebenarnya ilmunya bersemayam.

Al-Hasan al-Bashri berkata:

“Dulu, bila seseorang telah mempelajari satu bab ilmu, maka tidak lama kemudian (pengaruhnya) akan terlihat pada kekhusyu’annya, tatapan matanya, lidahnya, tangannya, kezuhudannya, keshalihannya, dan seluruh tubuhnya. Bila seseorang benar-benar mempelajari satu bab ilmu (yang seperti itu), maka sungguh itu lebih baik dari dunia seisinya.” (Riwayat Ibnu Batthah dalam Ibthalul Hiyal).

Bila tidak seperti itu, maka penyebabnya sudah jelas. Sebagaimana dikatakan pula oleh al-Hasan al-Bashri, “Ilmu ada dua macam: ilmu yang bersemayam di hati, itulah ilmu yang bermanfaat; dan ilmu yang hanya di lidah, itulah hujjah Allah (untuk menuntut) anak Adam.” (Riwayat ad-Darimi).

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kita agar pandai-pandai menjaga lisan. Pada awalnya, kata-kata adalah tawanan kita, selama belum diungkapkan. Namun, begitu terucap seketika kondisinya berbalik. Kitalah yang menjadi tawanannya.

Maka, betapa banyak seseorang yang diseret ke mana-mana oleh kata-katanya sendiri. Tidak sedikit tokoh yang terjatuh martabatnya akibat salah bicara, dan tidak jarang pula yang tiba-tiba disanjung setinggi langit akibat komentarnya yang terpuji.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan sejumlah perkara kepada Mu’adz bin Jabal. Lalu beliau bertanya, “Maukah engkau aku beritahu hal yang paling kokoh dan pondasi dari semua itu?” Mu’adz menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”

Rasulullah pun memegang lidahnya dan bersabda, “Kendalikanlah ini!” Mu’adz keheranan dan bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dihukum (oleh Allah) akibat ucapan yang kita katakan?” Beliau menjawab, “Aduh kasihan ibumu, hai Mu’adz! Bukankah yang membuat manusia tersungkur ke neraka itu hanyalah buah dari lisan-lisan mereka sendiri?” (Riwayat at-Tirmidzi, dari Mu’adz. Hadits hasan shahih).

Dalam konteks modern, di antara perkara yang mesti diwaspadai adalah posting dan komentar di medsos (media sosial). Betapa banyak kata-kata buruk yang bertebaran dalam kolom-kolom komentar di berbagai situs, yang isinya hanya caci-maki dan sumpah serapah.

Mungkin pelakunya bisa dengan mudah menyembunyikan identiasnya, sehingga tidak seorang pun dari kita yang tahu. Akan tetapi, malaikat Raqib dan ‘Atid tidak pernah lalai, senantisa siaga, dan terus-menerus mencatat perbuatan serta kata-kata manusia. Tunggulah hingga kelak Allah menggelar pengadilannya. Siapa yang bisa mangkir dan melarikan diri?

Demikian pula, postingan-postingan yang tidak bermanfaat di Medsos, mestinya dihindari semaksimal mungkin. Apalagi jika menjurus kemaksiatan dan dosa bagi kita pribadi, atau mendatangkan kemaksiatan dan dosa bagi orang lain.

Rasulullah bersabda, “Tidak boleh menimpakan bahaya (kepada orang lain) dan tidak boleh pula saling menimpakan bahaya satu sama lain.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit dan Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).

Maka, seorang mukmin akan berbicara yang baik atau diam, sebagaimana hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Ia juga menghindari hal-hal yang tidak urgen bahkan membahayakan dirinya.

Beliau bersabda, “Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah: dia meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah dan ‘Ali bin al-Husain. Hadits shahih). Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Anugerah Zakat Award untuk BMH atas Dedikasi Pendidikan Dai Tangguh Pelosok Negeri

PADANG (Hidayatullah.or.id) -- Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 Forum Zakat (FOZ) dengan mengangkat tema "Gerakan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img