AdvertisementAdvertisement

Komunitas Ojol Mengaji Susun Arah Gerakan Wujudkan Cita-cita Bangun Masjid

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komunitas Ojol Mengaji didorong untuk menyusun arah gerakan yang lebih terencana sekaligus mewujudkan cita-cita besar mereka, termasuk membangun masjid bagi para pengemudi ojek online. Dorongan tersebut mengemuka dalam forum buka puasa bersama dan diskusi yang digelar di Poltangan Southgate, markas Hidayatullah Jakarta Selatan.

Pengurus Komunitas Ojol Mengaji, Virqi Khebot menyampaikan kegiatan komunitasnya sudah berjalan sejak tahun 2019. Meski sempat terhambat pertumbuhannya karena Covid 2020.

“Alhamdulillah kami juga melewati badai pandemi itu, dulunya kegiatan ini berjalan setiap hari yang dibina sama pengurus DPD Hidayatullah Jaksel. Kami berharap ke depan bisa lebih eksis dan programnya lebih optimal ke depan,”ujar Virqi dalam suasana Focus Group Discussion FGD, Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).

Sebulan lalu, lanjut Virqi, mereka mengunjungi Masjid Sejuta Pemuda. Perjalanan kesana bagian dari salah satu program komunitas yakni Tadabur Alam. Nah dari sana pihaknya punya mimpi bersama, bagaimana mewujudkan masjid untuk Ojol Mengaji. “Masjid Sejuta Pemuda itu buka 24 jam. Sangat ramah terhadap pekerja harian seperti kami,” tegas Virqi.

Direktur Prodaya Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Syamsudin, menilai gerakan Ojol Mengaji memiliki dampak positif yang nyata bagi para anggotanya, khususnya dalam membentuk karakter melalui kegiatan belajar Al-Qur’an dan pengajian.

“Kalau kita lihat dari pengalaman yang disampaikan tadi, dampak dari belajar mengaji itu luar biasa. Orang bisa menjadi lebih sabar, lebih tenang, dan lebih kuat menghadapi kehidupan,” ujar Syamsudin.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat membawa perubahan sosial yang lebih luas jika semakin banyak pengemudi ojek online yang terlibat dalam kegiatan serupa.

Syamsudin menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mendikte arah gerakan komunitas, melainkan membantu memfasilitasi gagasan dan harapan yang lahir dari para anggotanya sendiri.

“Saya percaya yang paling tahu kebutuhan komunitas Ojol Mengaji adalah teman-teman sendiri. Kami hadir hanya untuk memfasilitasi agar harapan-harapan itu bisa terwujud,” katanya.

Ia juga mendorong komunitas tersebut mulai merumuskan visi yang lebih jelas, setidaknya untuk tiga tahun ke depan, agar gerakan yang telah berjalan selama enam tahun itu dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Saya belum tahu Ojol Mengaji ini ingin dibawa ke mana ke depan. Tadi ada ide menarik, misalnya membangun masjid untuk para ojol. Secara branding juga keren. Tapi apakah itu hanya bercanda atau benar-benar serius?” ujarnya.

Menurut Syamsudin, keberlanjutan sebuah gerakan tidak mungkin bergantung pada satu pihak saja. Kolaborasi antara komunitas, lembaga, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan dampak yang lebih besar.

“Tidak mungkin hanya dari DPD saja, tidak mungkin hanya dari BMH saja, dan tidak mungkin hanya dari Ojol Mengaji saja. Tapi kalau potensi itu kita satukan, insyaAllah kita bisa menghadirkan gerakan yang lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Rahmat Ilahi Hadist, mengajak anggota komunitas untuk tidak ragu mewujudkan cita-cita besar tersebut.

Rahmat menyampaikan bahwa gagasan membangun masjid bagi komunitas ojek online merupakan niat baik yang patut diperjuangkan bersama.

“Hari ini hari terbaik, hari Jumat. Bulan ini juga bulan terbaik, bulan Ramadan. Dan tempat ini adalah yang terbaik, sebab tidak ada tempat terbaik di muka bumi selain disitu juga kita bersujud kepada Allah. Maka niat baik ini insyaAllah memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menceritakan pengalaman hidupnya yang pernah bekerja sebagai tukang ojek, penjual koran, hingga berdagang donat ketika menempuh pendidikan di Jakarta. Pengalaman tersebut membuatnya merasa dekat dengan para pengemudi ojek online yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Saya pernah jadi tukang ojek waktu kuliah di Jakarta. Jadi saya merasa tidak ada jarak dengan bapak-bapak sekalian,” katanya.

Menurut Rahmat, sebuah cita-cita besar tidak perlu ditakuti hanya karena terlihat sulit diwujudkan. Bahkan jika masih berupa mimpi, niat tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah. “Kita boleh bermimpi setinggi langit. Kalau pun jatuh, kita akan jatuh di antara bintang-bintang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, niat baik sudah bernilai ibadah meskipun belum terwujud. Jika kemudian niat tersebut benar-benar terlaksana, maka nilainya menjadi lebih besar lagi.

Karena itu, Rahmat mengajak anggota komunitas Ojol Mengaji untuk mulai mengambil langkah kecil namun konsisten, seperti menyisihkan sebagian rezeki untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut.

“Misalnya dari rezeki yang kita dapatkan setiap hari, kita sisihkan sedikit untuk niat membangun masjid. Dari yang kecil itu bisa menjadi magnet yang menghadirkan kebaikan yang lebih besar,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kekuatan utama komunitas terletak pada kebersamaan dan semangat persaudaraan. “Kita semua ini seperti bintang. Ada yang terang, ada yang redup. Tapi ketika kita bersatu, semuanya akan bersinar. Itulah ukhuwah Islamiyah,” ujarnya.

Melalui pertemuan tersebut, berbagai pihak berharap komunitas Ojol Mengaji dapat terus berkembang sebagai gerakan dakwah berbasis komunitas yang tidak hanya memperkuat spiritualitas anggotanya, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas bagi masyarakat.

Reporter: Azim Arrasyid
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pemuda Diajak Memaknai Ramadhan sebagai Ruang Refleksi dan Perbaikan Diri

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) -- Pentingnya pemuda memaknai Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk semakin progresif dan beradab menjadi pesan utama dalam...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img