Beranda blog Halaman 127

Komitmen untuk Pendidikan Qur’ani dengan Bangun Ruang Tahfidz di Towuti

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali membuktikan dedikasinya dalam mendukung pengembangan generasi muda yang berkarakter Qur’ani. Kali ini, Laznas BMH memulai pembangunan ruang kelas tahfidz di Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Danau Tondano, Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.

Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan juga simbol sinergi antara lembaga zakat, masyarakat, dan para pendidik.

Proyek ini mencakup pembangunan gedung dua lantai seluas 210 meter persegi yang dirancang sebagai ruang belajar yang nyaman bagi santri. Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan bahwa pembangunan fisik gedung ini guna menghadirkan sarana untuk mendukung proses belajar-mengajar secara maksimal.

“Diawali dengan basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah. Semoga dengan sinergi semua pihak, pembangunan ini bisa berjalan lancar,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Mukhsin, Kepala Sekolah SMP-SMA Daarul Ilmi Towuti, mengungkapkan rasa syukur atas perhatian Laznas BMH terhadap kebutuhan pendidikan pesantren. Selama ini, para santri harus menghadapi keterbatasan fasilitas, namun semangat belajar mereka tetap tinggi.

Kehadiran ruang kelas baru diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga memacu motivasi santri untuk lebih giat mendalami ilmu agama. “Santri sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi, meski fasilitas yang ada masih terbatas,” katanya.

Sinergi dan Harapan

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti, Ust. H. Irwan Mujahid, menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH atas kontribusinya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. Ia juga mengingatkan para santri untuk memanfaatkan peluang ini secara maksimal.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,”* ujarnya, penuh harap agar ruang kelas baru menjadi pemantik semangat belajar dan berprestasi bagi santri.

Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti adalah salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara lembaga zakat, pendidik, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan signifikan.

Dengan dimulainya pembangunan ini, optimisme pun menguat bahwa generasi Qur’ani yang dilahirkan di pesantren ini akan menjadi pilar penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam.*/Herim

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Lokal melalui Budidaya Lobster dan Lele

0

PATI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali meneguhkan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui program inovatif yang berbasis pada potensi lokal.

Di Pati, Jawa Tengah, BMH memulai inisiatif budidaya lobster dan lele yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat sekaligus menjadi teladan pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Muhammad Bahri, Koordinator BMH Gerai Pati, menjelaskan bahwa langkah ini didasarkan pada potensi besar sektor perikanan di wilayah tersebut.

“Kami melihat potensi besar di bidang perikanan, khususnya budidaya lobster dan lele. Dengan memberikan bantuan benih dan pendampingan, kami berharap masyarakat bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Bahri, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Program ini dimulai dengan penebaran 2.000 benih lobster dan lele di kolam milik Bapak Dio, seorang warga Pati yang menjadi penerima manfaat pertama.

Dengan penuh syukur, Dio mengungkapkan bantuan BMH ini menjadi titik terang baginya untuk memulai usaha yang telah lama diimpikan. “Saya sudah lama ingin mengembangkan usaha budidaya ini, tapi terkendala modal,” katanya.

Program ini tidak berhenti hanya pada penyerahan bantuan. Pendampingan berkelanjutan menjadi aspek penting dalam memastikan keberhasilan para penerima manfaat. Pendekatan ini mencakup pelatihan pengelolaan keuangan, teknik pemasaran, hingga pengolahan produk turunan.

Menurut Bahri, pihaknya ingin para penerima manfaat tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku usaha yang mandiri. Dengan nilai tambah dari produk olahan, diharapkan pendapatan mereka bisa meningkat.

Dia menambahkan, pendekatan holistik yang melibatkan pelatihan keterampilan, pengembangan wawasan bisnis, dan peningkatan kapasitas produksi menjadi ciri khas program ini. Dalam jangka panjang, pendekatan semacam ini dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan bantuan konvensional.

Budidaya perikanan, seperti lobster dan lele, selain menawarkan peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat. Disamping itu, jika ini diintegrasikan dengan program pengolahan produk turunan seperti abon lele atau lobster beku, dampaknya dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Pendekatan ini selaras dengan visi pembangunan ekonomi inklusif berbasis lokal yang dicanangkan oleh banyak lembaga penggerak ekonomi sosial. Melalui program ini, BMH berharap dapat menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan,” ujar Bahri memungkasi.*/Herim

Rumah Qur’an Jannatul Firdaus Oase Pendidikan Qur’ani di Tengah Harapan Besar

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Di sudut kecil Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Cikasungka, berdiri sebuah lembaga yang menjadi titik terang pendidikan agama, yakni Rumah Qur’an Jannatul Firdaus. Tempat ini telah menjadi oase bagi anak-anak yang ingin mendalami dan menghafal Al-Qur’an.

Namun, di balik semangat dan perjuangannya, rumah Qur’an ini menyimpan tantangan besar untuk terus bertahan dan berkembang. Didirikan pada tahun 2020 oleh seorang dai tangguh bernama Muhammad Naim, Rumah Qur’an Jannatul Firdaus beroperasi dengan dukungan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Pria kelahiran Cilacap ini telah mengabdikan dirinya untuk dakwah sejak 1990, menghabiskan sebagian besar waktunya di Kalimantan Timur sebelum akhirnya ditempatkan di Banten.

“Keberadaan rumah Qur’an ini sangat diharapkan masyarakat,” ujar Naim, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Namun, lanjutnya, kapasitas rumah Qur’an yang terbatas menjadi kendala utama. Saat ini, hanya 30 santri yang dapat ditampung, sedangkan minat masyarakat sangat besar. Banyak orang tua harus menelan kekecewaan karena anak-anak mereka tidak bisa bergabung akibat keterbatasan tempat.

“Kami sebenarnya sudah memiliki lahan untuk membangun asrama baru,” jelas Naim. Namun, kendala utama adalah kurangnya dana. Harapan ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan infrastruktur, tetapi juga visi besar Naim untuk menciptakan generasi muda yang Qur’ani dan berakhlak mulia.

“Kami ingin rumah Qur’an ini menjadi pusat pendidikan agama yang berkualitas,” tambahnya. Dengan visi tersebut, ia berharap dapat memberikan pendidikan Al-Qur’an yang tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang mendalam pada generasi penerus.

Dalam keterbatasannya, mereka tetap berupaya memberikan yang terbaik. Seperti yang diungkapkan Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, “Mari bersama BMH kita dukung kiprah dai tangguh ini. Semoga harapannya untuk memperluas rumah Qur’an segera terwujud.”

Dengan pendidikan yang memadukan hafalan dan pemahaman nilai-nilai agama, anak-anak yang lahir dari Rumah Qur’an Jannatul Firdaus diharapkan menjadi generasi penerus yang berkontribusi positif bagi umat dan bangsa.

Rumah Qur’an Jannatul Firdaus adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, meski penuh tantangan. Dukungan masyarakat, baik dalam bentuk materi maupun moral, adalah kunci untuk membuka masa depan yang lebih cerah bagi para santri yang penuh harapan ini.

“Mari bersama-sama kita dukung perjuangan ini,” ujar Roni Hayani.*/Herim

Jalan Kebaikan Membangun Generasi Qur’ani Melalui Dauroh Tahfidz

0

PANDEGLANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam membangun bangsa yang berakar pada nilai-nilai kebaikan, jalan kebajikan selalu terbuka lebar. Salah satu institusi yang tak henti berkontribusi dalam upaya ini Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Dengan komitmen kuat, BMH terus mendukung program-program yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya melalui pendidikan berbasis Qur’an.

Salah satu wujud konkret dari komitmen ini adalah dukungan BMH terhadap pelaksanaan Dauroh Santri Tahfidz Darul Futonah di Kampung Mangkubumi, Desa Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Program ini telah berjalan sejak 11 November 2024 dan akan berakhir pada 11 Desember 2024.

Dauroh ini merupakan program ketiga yang diadakan oleh Pesantren Tahfidz Darul Futonah dalam satu tahun terakhir. Tujuan utama kegiatan ini adalah percepatan hafalan Al-Qur’an melalui metode intensif, memberikan kesempatan kepada para santri untuk fokus memperdalam hafalan dalam waktu yang relatif singkat.

“Tujuan utama dari dauroh ini adalah percepatan hafalan para santri. Dan, bagi kami dukungan dari BMH sangat berarti bagi keberlanjutan program ini,” ujar Ustadz Zulfikar Subang, pengurus pesantren tersebut, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Pemilihan Pondok Pesantren sebagai lokasi kegiatan ini juga didasarkan pada alasan strategis. Dengan memanfaatkan fasilitas pesantren, program ini menjadi lebih hemat anggaran, sehingga dana yang tersedia dapat dialokasikan secara optimal untuk kebutuhan inti program. Pendekatan ekonomis ini merupakan salah satu bentuk akuntabilitas BMH dalam mengelola dana umat.

BMH memandang pentingnya membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi dengan berbagai institusi pendidikan, termasuk Pesantren Tahfidz Darul Futonah.

“Semoga Dauroh ini memberikan manfaat yang besar bagi para santri dan masyarakat luas,” ungkap Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten.

Menurut Roni, program ini diharapkan dapat mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang unggul dan berdaya saing di masa depan. Dengan bekal spiritual yang kuat, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik sebagai pemimpin maupun sebagai panutan.*/Herim

Harmoni Rihlah Pesmadai di Kaki Gunung Integrasikan Akademik dan Spiritual

0

GOWA (Hidayatullah.or.id) — Saat kebanyakan mahasiswa memilih menghabiskan akhir pekan dengan bersantai di kafe atau pusat perbelanjaan, sekelompok mahasiswa Pesmadai (Pesantren Mahasiswa Dai) justru memilih cara yang berbeda.

Mereka memutuskan untuk “kabur” sejenak dari hiruk pikuk kota dan menginap di Masjid Nurul A’la, Pondok Pesantren Ashabul Jannah-Bolangi Gowa.

Selama dua hari, para mahasiswa ini ikut merasakan kehidupan sehari-hari di pesantren.

Mereka bangun sejak dini hari untuk shalat berjamaah, mengikuti majelis taklim, dan terlibat dalam kegiatan membersihkan masjid.

“Kegiatan rutin mabit dan bersih bersih masjid ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Rachmat Ghafur Hamran, Sekretaris Pesmadai Makassar.

“Selain bisa mendekatkan diri kepada Allah, kami juga bisa belajar banyak hal dari para santri,” lanjutnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Ketenangan di Kaki Gunung

Pemilihan Pondok Pesantren Ashabul Jannah-Bolangi Gowa sebagai tujuan wisata religi bukan tanpa alasan. Letaknya yang berada di ketinggian membuat suasana di sekitar pondok pesantren menjadi sangat tenang dan nyaman.

“Dari sini, kita bisa melihat pemandangan kota Makassar yang indah di malam hari,” kata Ghafur. Para mahasiswa juga melalukan pembersihan di lingkungan masjid.

Kegiatan membersihkan masjid yang dilakukan oleh para mahasiswa ini melampaui sekadar tindakan fisik membersihkan tempat ibadah. Aktivitas ini dapat dimaknai sebagai manifestasi nilai-nilai kebajikan yang mencerminkan tanggung jawab sosial, kesadaran spiritual, dan komitmen moral.

Dalam kerangka filosofis, tindakan ini menunjukkan harmoni antara etika individual dan kewajiban kolektif, di mana kebersihan fisik masjid menjadi simbol dari upaya menjaga kesucian ruang spiritual.

Lebih jauh, partisipasi mahasiswa dalam kegiatan semacam ini mengindikasikan adanya internalisasi nilai-nilai luhur, seperti solidaritas, keikhlasan, dan penghormatan terhadap tempat ibadah sebagai pusat kehidupan religius komunitas.

“Dengan demikian kita harapkan kegiatan ini tidak hanya memperkuat hubungan sosial antarindividu, tetapi juga meneguhkan identitas moral yang berakar pada prinsip-prinsip pengabdian dan pelayanan,” katanya.

Kegiatan dilakukan oleh para mahasiswa Pesmadai yang didukung BMH ini sejalan dengan tujuan utama dari komunitas ini, yaitu menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan spiritual.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memperhatikan pengembangan diri secara spiritual,” ujar Ghafur.*/Herim

Solidaritas di Kampung Baru dan Argosari Gembirakan Lansia dan Dhuafa

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Udara pagi di Balikpapan dan Kutai Kartanegara (Kukar) terasa hangat pagi itu, Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024). Bukan hanya karena mentari mulai bersinar, tetapi juga karena wajah penuh syukur para lansia dan dhuafa di Kampung Baru dan Argosar.

Hari itu Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Gerakan Nikmatnya Berbagi (GNB) menghadirkan secercah harapan melalui distribusi 70 paket sembako.

Kampung Baru dan Argosari dipilih bukan tanpa alasan. Kedua wilayah ini dihuni masyarakat yang sebagian besar hidup dalam keterbatasan. Bantuan berupa paket sembako ini menjadi jawaban atas kebutuhan dasar mereka yang sering kali sulit terpenuhi. Tiap paket berisi bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula, yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat kurang mampu.

Amrullah, koordinator lansia binaan di Kampung Baru, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Menurut Achmad Rifai, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan (Prodaya) BMH Kaltim, inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat rentan. “Kami melihat semangat luar biasa di mata mereka. Ini bukti bahwa sedikit kepedulian bisa mengubah banyak hal,” jelas Rifai.

Program ini menyuntikkan harapan baru dan menjadi oase yang menyegarkan di tengah gersangnya tantangan hidup. BMH, dia menambahkan, terus berupaya menjembatani kesenjangan sosial dengan menghadirkan program-program berbasis kemanusiaan. Distribusi sembako ini adalah salah satu dari sekian banyak program mereka yang dirancang untuk memberdayakan masyarakat.*/Herim

Shalat Subuh Berjamaah sebagai Barometer Kebangkitan Umat Islam

0
Ilsutrasi shalat subuh berjamaah di masjid (Foto: Ai/ Hidayatullah.or.id)

SAHABAT Khalid bin Walid seorang paling perang Islam yang tidak pernah merasakan kekalahan dalam perang. Salah satu rahasianya adalah beliau tidak mau memulai perang kecuali setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hal itu ia lakukan agar tidak tertinggal shalat subuh. Ia sangat paham bahwa shalat subuh memiliki keutamaan yang begitu besar bagi umat Islam.

Sahabat Umar bin Khatab berkata, “Sungguh, ikut serta dalam shalat subuh berjamaah itu lebih baik bagi saya dari pada shalat malam.” Beliau menyatakan hal tersebut karena ada sahabat yang shalat lail semalam suntuk tapi akhirnya tertidur sehingga tidak shalat subuh berjamaah di masjid.

Ada pengalaman menarik dari seorang ulama besar Pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil ketika pergi berdakwah di negeri Jordania, tepatnya di daerah perbatasan Jordania-Israel.

Sampai di daerah perbatasan, ketika rombongannya Syaikh Maulana Tariq Jamil selesai menunaikan shalat subuh di salah satu masjid di dekat perbatasan, tiba-tiba seorang tentara Israel dari luar melihat ke arah dalam Masjid.

Setelah melihat sebentar lalu tentara Israel itu langsung pergi. Maka Syaikh Maulana Tariq Jamil menghampiri tentara Israel itu dan bertanya apa yang dia tadi lakukan.

“Apa yang sedang kalian perhatikan dari kami?” Tanya Syekh

“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir shalat subuh di Masjid,” kata tentara Israel itu.

Syaikh Maulana Tariq Jamil sambil keheranan bertanya kembali “kenapa dengan shalat subuh kami?” 

Tentara Israel pun menjawab “di dalam kitab kami tertulis ‘Jika diseluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk shalat subuh berjamaah di masjid sama banyak dengan jumlah jamaah shalat Jumat, maka saat itu Israel akan hancur.’ tetapi ketika tadi saya lihat di masjid jumlah orang Islam yang datang untuk shalat subuh berjamaah masih sedikit, maka hati saya tenang, karena umat Islam pasti tidak bisa kalahkan kami.” 

Perdana Menteri Negara Israel  illegal yang Bernama Golde Meir tahun 1948 menyatakan, “kami tidak takut kepada kaum muslimin. Kami takuti adalah ketika kaum muslimin shalat subuh berjamaah di mesjid sama jumlah jamaahnya dengan jamaah shlat Jumat”.

Begitulah, ternyata shalat subuh berjamaah di masjid itu sumber utama kekuatan umat Islam.

Orang zionis saja mengakui dan meyakini tentang kehebatan shalat subuh berjamaah sehingga menjadikan mereka khawatir bahkan ketakutan.

Shalat subuh berjamaah di masjid menjadi barometer yang jelas dan pasti dari sebuah kekuatan umat Islam yang akan bisa mengalahkan musuh sekuat apapun, termasuk Zionis Yahudi Israel.

Palestina hingga hari ini masih bertahan dari penjajahan Yahudi Israel, meski sudah puluhan tahun dijajah, diboikot, diintimidasi, serta mengalami penghancuran dan genosida. Bahkan, 400 hari terakhir ini masih bertahan dari gempuran negara-negara yang mendukung zionis.

Salah satu rahasia pertahanan Palestina adalah pola seleksi tantara Brigade Al Qassam yang ketat. Yaitu, salah satu syaratnyanya mendapat izin dari ketua masjid di tempat tinggalnya dengan pengesahan individu itu tidak meninggalkan shalat subuh berjamaah minimal selama tiga bulan terakhir berturut-turut.

Orang orang yang konsisten melaksanakan shalat subuh berjamaah memiliki kekuatan spiritual lebih atau di atas rata-rata. Mereka juga memiliki gairah dan kekuatan yang mampu mengalahkan kemalasannya untuk memenangkan panggilan ketaatan kepada Allah.

Jika umat Islam banyak konsisten melaksanakan shalat subuh berjamaah maka akan tersusun kekuatan yang luar biasa. Inilah yang menakutkan musuh-musuh yang ingin menghancurkan Islam.

Namun, anehnya, sebagian besar umat Islam masih tidak menyadari dan dininabobokan dengan tidur nyenyaknya sehingga lalai shalat subuh berjamaah. Sebagian masih berpolemik terhadap perbedaan hukum fikih sunnah dan mubahnya shalat berjamaah di masjid.

Sebagian umat Islam memang kesulitan mengalahkan rasa kantuk dan dingin. Karena belum memprioritaskan shalat subuh berjamaah sebagai ibadah yang dipersiapkan dan diutamakan untuk dilaksanakan secara konsisten.  

Shalat subuh berjamaah di masjid adalah standar tinggi dari keimanan seseorang dan sebuah komunitas. Tidak semua orang bisa menjalankannya secara istiqamah karena memerlukan perjuangan yang tidak mudah untuk shalat subuh berjamaah.

Buktinya tidak banyak yang hadir, ada yang hadir tetapi tidak setiap hari, bahkan ada yang tidak hadir sama sekali. Ini membuktikan bahwa shalat subuh berjamaah termasuk ibadah yang sangat berat.

Kenikmatan Shalat Subuh Berjamaah

Bisa bangun shalat subuh berjamaah adalah kenikmatan yang luar biasa karena berarti kita terpilih dari sekian banyak hamba Allah yang tertidur terlelap tidak bangun untuk shalat subuh berjamaah. Bersyukur bisa memilih terbaik, di antara hamba-hamba yang bangun di waktu subuh tapi hatinya tidak memilih dan tergerak hatinya untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.     

Padahal shalat subuh berjamaah hanya dua rakaat dan tidak ada kegiatan tambahan yang harus diikuti seperti khutbah di shalat Jumat. Namun, faktanya, jumlah jamaah shalat subuh berjamaah relatif lebih sedikit dibandingkan dengan salat fardu lainnya, apalagi dengan shalat Jumat.

Keutamaan shalat Subuh berjamaah, salah satunya dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al Isra’ ayat 78 sebagai berikut:

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)

Subhanallah, betapa bahagianya ketika melaksanakan kebaikan dan ketaatan dipersaksikan oleh malaikat. Tentu bukan hanya dipersaksikan tapi dicatat sebagai amal kebaikan. Begitulah kedudukan shalat subuh berjamaah, seharusnya itu menjadi motivasi yang kuat untuk konsisten.  

Alhamdulillah, saat ini mulai marak gerakan shalat subuh berjamaah dalam beberapa tahun terakhir ini. Komunitas subuh berjamaah, pejuang subuh, ada juga subuh berjamaah keliling juga banyak terbentuk di kota-kota besar.

Tentu gerakan dan komunitas tersebut berangkat dari kesadaran dan motivasi untuk mengajak masyarakat bisa menghidupkan shalat subuh berjamaah. Istilahnya memasyarakatkan shalat subuh berjamaah. Banyak kreatifitas yang dilakukan oleh komunitas shalat subuh berjamaah, menyiapkan sarapan, kopi, kue dan bersepeda bersama ke masjid.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Hidayatullah Songsong 2025 dengan Strategi Prioritas dan Sistem Berdaya Guna

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sidang Pleno Hidayatullah tahun 2024 telah ditutup pada Rabu sore, 18 Jumadil Awal 1446 (20/11/2024) oleh Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah drg. Fathul Adhim, M.KM. Sejumlah program untuk tahun 2025 telah disusun, sedang program tahun 2024 telah dievaluasi. Ini adalah sidang pleno terakhir tahun 2024.

Dalam sambutan penutupnya, Fathul Adhim mengungkapkan rasa syukur karena sidang pleno selama dua hari berjalan lancar. Semua bidang, mulai dari tarbiyah, dakwah dan pelayanan umat, pembinaan dan pengembangan organisasi, perekonomian, kebendaharaan, dan kesekretarian, telah memaparkan rencana programnya.

Hanya saja, Fathul mengingatkan, sisa pengabdian pada periode 2020-2025 ini tinggal satu tahun lagi. Karena itu, program-program yang perlu mendapat perhatian lebih adalah program prioritas.

“Setiap bidang harus menentukan program prioritas apa yang harus dilakukan pada 2025 mendatang dan fokus untuk menyukseskan program tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya legacy (warisan) yang bisa diberikan untuk kepengurusan periode berikutnya.

Salah satu warisan yang penting, kata Nashirul, adalah sistem yang baik.

“Jika sistem yang baik sudah berhasil kita susun dan mampu kita terapkan, maka sistem tersebut bisa dilanjutkan oleh pengurus pada periode berikutnya,” jelas Nashirul.

Memang, infrastruktur bisa menjadi salah satu legacy yang bisa dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Namun, jelas Nashirul, infrastruktur yang tidak dikelola dengan sistem yang baik, bisa menjadi “berhala” baru yang akan menghambat gerakan organisasi.

Sidang pleno terakhir di tahun 2024 ini diikuti oleh seluruh pengurus DPP Hidayatullah, baik bidang, departemen, biro, dan badan, serta seluruh anggota Majelis Mudzakarah Hidayatullah.

Sehari sebelum Sidang Pleno, tepatnya pada Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024), digelar pula Rapat Pleno yang dihadiri seluruh pengurus DPP Hidayatullah yang berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta.*/Adam Sukiman

[KHUTBAH JUM’AT] Bahaya Judi Online dan Tanggung Jawab Kita sebagai Umat Islam

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga hari akhir.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini kita membahas persoalan yang kian meresahkan umat, yaitu judi. Judi, baik online maupun offline, merupakan masalah serius yang merusak moral individu, keluarga, dan bahkan tatanan sosial.

Data terbaru yang disampaikan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bahwa mereka telah melakukan pemblokiran terhadap 5,1 juta situs atau konten perjudian sejak 2017, termasuk sebanyak 3,5 juta yang diblokir sepanjang tahun 2024. Namun setiap harinya ratusan situs baru bermunculan, membuktikan bahwa masalah ini lebih dari sekadar tantangan teknologi; ini adalah krisis moral.

Perjudian ini memupuk budaya ketergantungan pada keberuntungan, bukan usaha. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kerja keras, doa, dan tawakal.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa judi adalah perbuatan setan. Kerugian dan kehancuran pasti mengikuti siapa saja yang terjerumus ke dalamnya.

Tafsir Al-Muyassar menegaskan, sesungguhnya semua itu merupakan perbuatan dosa dan tipu daya yang dibuat indah oleh setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan dosa tersebut, mudah-mudahan kalian akan meraih keberuntungan dengan memperoleh surga.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti memblokir situs-situs judi online.

Namun, ini saja tidak cukup. Satu situs diblokir, seribu situs baru bermunculan. Persoalannya bukan hanya soal teknologi, tetapi mindset dan moralitas individu.

Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto baru-baru ini mengungkapkan bahwa 4.000 prajurit TNI terlibat dalam judi online.

Menurut beliau, salah satu faktor penyebab utama mereka terjerumus ke dalam praktik ini adalah kebiasaan mereka menggunakan gawai atau handphone secara berlebihan selama waktu luang.

Kebiasaan tersebut membuka peluang untuk mengakses berbagai platform perjudian online yang semakin mudah dijangkau. Ini menjadi bukti nyata bahwa masalah sebenarnya ada pada kerapuhan mental dan lemahnya spiritualitas.

Temuan ini juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dalam menangani masalah perjudian yang sangat merusak.

Fenomena ini sekaligus menjadi alarm bagi upaya peningkatan pengawasan serta edukasi terkait dampak negatif judi online.

Betapa buruk judi dan betapa kita harus segera kembali kepada Allah telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ

“Barangsiapa yang berkata kepada temannya, ‘Mari kita berjudi,’ maka hendaklah ia bersedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa bahkan ajakan untuk berjudi sudah dianggap sebagai dosa yang harus ditebus dengan sedekah.

Lebih baik sedekah daripada berjudi. Judi hasilnya pun meresahkan. Sedangkan sedekah sudah pasti baik bagi dunia dan akhirat kita.

Oleh karena itu, membaca yang dapat menjadikan hati kita tunduk kepada kehendak Allah, termasuk menjauhi judi adalah kebutuhan mendasar kita semua.

Terlebih kalau kita ingat bahwa setiap pilihan pikiran, ucapan dan tindakan kita, kelak akan Allah minta pertanggungjawabannya dari kita semua.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Islam memandang pentingnya membangun mindset berbasis nilai-nilai spiritual. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal.” (HR. Tirmidzi)

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah bagaimana kita menggunakan waktu dan harta. Judi, baik online maupun offline, adalah pemborosan keduanya.

Oleh karena itu, menangani judi online harus dilakukan secara komprehensif. Pemerintah, lembaga zakat, dan dai harus bersinergi.

Dai memiliki peran strategis dalam membangun mindset umat dan menyampaikan pesan-pesan agama. Dengan menyadarkan masyarakat, mereka dapat menjauhi perilaku buruk seperti judi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Mari kita jauhi judi dalam bentuk apapun, termasuk judi online.

Mari kita perkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sebagai pondasi utama kita dalam mengarungi kehidupan yang sementara ini.

Selanjutnya, mari kita kembangkan budaya literasi yang kokoh di berbagai lingkungan—mulai dari rumah tangga, komunitas sekitar, hingga masjid—sebagai pusat pembelajaran dan transformasi sosial.

Di samping itu, mari bersama sama kita tingkatkan kualitas ibadah kita, baik dalam bentuk ritual maupun amal sosial, dengan tujuan memperkuat ketakwaan dan kontribusi nyata bagi sesama.

Semoga kita dapat mempergubakan waktu dan harta yang telah dianugerahkan dengan bijaksana untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat, baik secara individu maupun kolektif.

Semoga dengan langkah-langkah ini, Allah ﷻ senantiasa melindungi kita dari berbagai keburukan dan menganugerahkan keberkahan yang melimpah dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik darinya.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Jawab Tantangan Zaman, Hidayatullah Bentuk Tim Penyelaras Buku Tarbiyah dan Sistem Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menguatkan relevansi lembaga pendidikan yang berkesesuaian dengan manhaj Sistematika Wahyu, baik kurikulum, sistem, pola asuh, guru, dan pengasuhnya, serta sarana dan pra sarana penunjangnya, Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah membentuk Tim Penyelaras Buku Tarbiyah dan Buku Sistem Pendidikan.

Inisiatif ini merupakan lanjutan dari usaha yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam menyusun pedoman tersebut secara lengkap.

Koordinator Tim Penyelaras Buku Sistem Pendidikan Hidayatullah Dr. Nanang Noerpatria menekankan pentingnya penyelarasan ini, sebab, tarbiyah yang dilakukan hendaknya mampu menjawab tantangan zaman.

Karena itu, cakupan di dalam pedoman ini mulai dari kurikulum pendidikan dan sarana penunjangnya harus menjawab tantangan zaman. Karena itu, kehadiran tim ini dalam rangka menguatkan upaya tersebut.

“Secara periodik memang ini selalu ditinjau ulang untuk memastikan bahwa muatannya aktual, relevan, dan berkesesuian. Telaah atau peninjauan misalnya setiap 10 tahun. Bahkan, bisa lebih cepat sesuai kebutuhan zaman,” kata Nanang yang ditemui media ini disela sela Rapat Pleno DPP Hidayatullah di Jakarta, Rabu, 18 Jumadil Ula 1446 (20/11/2024).

Nanang menyebutkan, konsep buku tarbiyah dan sistem pendidikan ini dulu namanya Buku Induk Pendidikan Hidayatullah. Setelah lebih dari satu dekade penerapannya, pada tahun 2022 buku ini kembali diperkuat melalui proses brainstorming. Kini, penyelarasan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan untuk memastikan keberlanjutan konsep ini.

“Dan untuk tiga bulan ini dibentuk tim penyelarasan untuk memastikan bahwa konsep ini selalu relevan dan berkesesuaian dengan manhaj Sistematika Wahyu, baik kurikulum, sistem, pola asuh, guru, dan pengasuhnya, serta sarana dan pra sarana penunjangnya,” katanya.

Kata Nanang, ketika berbicara sistem pendidikan maka kita bicara mengenai manajemen dan pembelajaran. Adapun sistem inti (core system) dalam proses ini adalah kurikulum.

“Kurikulum harus mampu menjawab tantangan yang ada. Maka, fokus kita dalam penguatan sistem ini adalah menyoroti degradasi moral, karakter peserta didik, dan kemampuan output dari peserta didik dalam berdaya saing,” terang Nanang.

Dalam kerangka kerja tim ini, penyelarasan buku pendidikan mencakup empat kecerdasan utama, yauitu Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adversity Quotient (AQ).

Yang menarik, Nanang menekankan pentingnya AQ, atau kecerdasan menghadapi kesulitan. Menurutnya, kurikulum pendidikan harus dirancang untuk membangun resiliensi, optimisme, dan kemampuan bertahan dalam tekanan. Hal ini, lanjutnya, akan membentuk daya saing yang kokoh pada diri peserta didik.

“Konsep ini menekankan sekali pada adversity dimana kurikulum pendidikan perlu untuk melihat lebih luas pada aspek personal dari peserta didik seperti bagaimana ia harus optimis, survive, memiliki kecakapan resiliensi, jujur, dan lainnya. Melihat juga aspek bahwa pesrta didik harus kuat menghadapi tekanan, nanti ini yang membentuk daya saing,” jelasnya.

Nanang memperkenalkan konsep prophet optimism sebagai karakter utama yang diharapkan dari hasil tarbiyah ini. Ia menjelaskan, prophet optimism ini seperti dicontohkan para Nabi yang teguh dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dengan menyandarkan dirinya pada Allah.

“Prophet optimism ini karakter dasar dalam Islam dan ini yang berupaya diaktualisasikan Hidayatullah untuk melahirkan sumber daya manusia yang cemerlang, kita menyebutnya insan rabbani,” imbuh ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Kadepdikdasmen) DPP Hidayatullah ini.

Optimisme kenabian ini tidak hanya sekadar sikap mental, tetapi menjadi landasan bagi insan pendidikan untuk terus berusaha dan tidak pantang menyerah dalam menghadapi perubahan dan tantangan global. Karakter ini, menurut Nanang, merupakan refleksi dari knowledge dan values yang menyatu dalam diri individu.

Selain mengedepankan nilai-nilai spiritual dan moral, Hidayatullah juga merancang sistem pendidikan yang memenuhi kebutuhan abad ke-21. Dalam konsep tarbiyah ini, tatanan kurikulum mengintegrasikan empat kemampuan utama yang dikenal dengan istilah 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (cakap kerjasama).

Nanang menjelaskan, penerapan 4C ini menempatkan sistem pendidikan Hidayatullah sebagai model yang tidak hanya berorientasi pada nilai-nilai spiritual, tetapi juga pada keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan dunia modern.

“Dengan demikian, peserta didik mampu memahami prinsip-prinsip Islam dan juga memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikannya dalam konteks global sekaligus.” imbuhnya.

Lebih jauh Nanang menjelaskan langkah penyelarasan Buku Tarbiyah dan Sistem Pendidikan Hidayatullah merupakan ikhtiar sungguh sungguh menjaga relevansi dan keberlanjutan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam.

Hal itu, lanjut dia, karena sistem pendidikan yang dibangun Hidayatullah berupaya untuk melakukan pembentukan karakter yang kuat, resiliensi, bekal daya saing tinggi, dan yang tak kalah penting berorientasi hasil akademik yang baik.

“Dengan konsep yang berkesesuaian dengan prinsip manhaj Sistematika Wahyu, kita berupaya memajukan pendidikan Islam yang selalu relevan, mampu menjadi solusi atas tantangan global, serta pembinaan untuk mencetak generasi insan rabbani yang unggul dan kompetitif,” pungkasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)