MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Program pendidikan pesantren tidak hanya menitikberatkan pada ilmu agama, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan fisik santri, terutama gizi. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menginisiasi Program Beras Santri Tahfidz sebagai solusi konkret untuk mendukung kesejahteraan santri di Sulawesi Selatan.
Pada November 2024, Laznas BMH mendistribusikan 1.500 kg beras ke pesantren-pesantren, termasuk Yayasan Ashabul Kahfi di Makassar, Ponpes Ummul Qura di Maros, dan Ponpes Hidayatullah Pangkep.
Ustadz Zainuddin, Ketua Yayasan Madinatul Iqram, menegaskan pentingnya peran gizi dalam keberhasilan pendidikan. Ia menyatakan, dengan kebutuhan beras santri yang terpenuhi, pihaknya bisa menjaga agar mereka tetap sehat dan dalam kondisi optimal untuk belajar.
“Ini penting agar mereka bisa mencapai prestasi yang diharapkan,” katanya, seraya menyebut kesejahteraan fisik adalah salah satu prasyarat utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang ideal.
Basori Shobirin, Kadiv Prodaya Laznas BMH Sulawesi Selatan, menambahkan bahwa program ini didukung oleh kontribusi para donatur yang peduli terhadap pendidikan dan kesejahteraan santri.
“Ini adalah kontribusi para donatur yang ingin bersama-sama berproses menghadirkan beras santri dan memastikan anak-anak tersebut mengenyam pendidikan tanpa khawatir soal pemenuhan kebutuhan pangan mereka,” ujarnya.
Program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga mengurangi beban ekonomi pesantren, memungkinkan alokasi dana untuk aspek lain seperti fasilitas belajar dan aktivitas pembinaan santri.
Zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui program ini memberikan dampak langsung pada kualitas pendidikan di pesantren. Selain memperbaiki kesejahteraan santri, kontribusi ini turut membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan bermoral.
“Pendidikan yang berkualitas, sebagaimana tujuan program ini, bukan hanya tentang buku dan pelajaran, tetapi juga tentang memastikan kesejahteraan santri atau peserta didik,” katanya.
Melalui Program Beras Santri, kata dia, Laznas BMH berupaya menguatkan simpul sinergi antara pendidikan, gizi, dan zakat dapat menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa. “Dengan mendukung kesejahteraan santri, kita turut membentuk calon pemimpin umat yang tangguh dan berintegritas,” ujarnya.*/Herim
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dipenuhi dengan semangat yang berbeda, hari itu, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 atau 26 November 2024. Walau Hari Guru telah berlalu sehari sebelumnya, antusiasme para santri dan dewan guru tak surut untuk memperingatinya.
Acara yang digagas oleh Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Hidayatullah (OP3H) ini disiapkan dengan inisiatif mandiri para santri, menggambarkan rasa syukur atas peran guru sebagai pelita di jalan pendidikan.
Pagi itu, suara tabuhan alat musik mengawali suasana. Tim hadrah membawakan nasyid Man Ana dengan penuh penghayatan, menciptakan harmoni antara suara dan melodi. Lantunan syahdu dari sang vokalis menyentuh hati para peserta, menumbuhkan rasa khidmat sekaligus rasa bangga.
Tepuk tangan pun bergemuruh mengiringi akhir penampilan, seolah menjadi salam pembuka yang hangat untuk seluruh sesi yang akan berlangsung.
Seperti setiap tradisi di Pondok Pesantren Hidayatullah, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kali ini, Surah At-Tin dilantunkan dengan khusyuk oleh salah satu santri yang suaranya menggema di dalam aula.
“Demi buah tin dan zaitun, demi gunung Sinai, dan demi kota yang aman ini…” Ayat-ayat itu terasa seperti pengingat akan pentingnya perjuangan dan pengabdian dalam mendidik generasi. Di tengah hening yang sakral, para hadirin, dari guru hingga santri, larut dalam suasana spiritual.
Salah satu sesi yang tak kalah menarik adalah pemutaran film dokumenter singkat. Film ini merangkum momen-momen Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di pesantren.
Terlihat cuplikan-cuplikan bagaimana guru membimbing santri dengan kesabaran tanpa batas, mengarahkan mereka tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam adab dan akhlak sebagai bekal berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara. Tawa, perjuangan, dan harapan terpancar dalam film itu, meninggalkan kesan mendalam. Para peserta terdiam, beberapa bahkan terlihat menyeka air mata.
Dwi Adi Nugraho, Ketua OP3H, naik ke podium untuk memberikan pidato. Dengan suara yang penuh semangat, ia menyampaikan apresiasi kepada para guru. “Terlepas dari segala kesulitan, para guru selalu memberikan yang terbaik bagi kami, para santri,” katanya, dengan sorot mata penuh rasa hormat.
Ucapan Dwi disambut dengan tepuk tangan. Dalam setiap kalimatnya, tersirat rasa syukur yang mendalam, sekaligus pengakuan atas dedikasi para guru yang tak kenal lelah.
Tak hanya dari para santri, Kepala Sekolah SMA-MA Hidayatullah, Ustadz Amin Fawwaid, M.M., turut memberikan pidato sambutan. “Acara ini merupakan sebuah prestasi, semoga bisa menjadi legacy untuk tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Acara ini mencapai puncaknya ketika para santri tampil di atas panggung, menampilkan beragam kreasi seni yang menggambarkan penghargaan kepada guru. Sebuah puisi bertajuk Isi Hati Seorang Guru dibacakan dengan penuh penghayatan. Puisi itu menggambarkan pergolakan hati seorang pendidik—kebanggaan melihat murid-muridnya tumbuh, kesabaran menghadapi tantangan, dan harapan besar pada masa depan.
Suara pembacaan puisi itu menggema, menggugah emosi. Tak lama kemudian, tim paduan suara melantunkan Hymne Guru. Liriknya yang puitik penuh makna menjadi penghormatan yang menyentuh hati. Para hadirin, termasuk para guru, terlihat menyanyikan khidmat ini bersama-sama, membangun momen kebersamaan yang penuh kehangatan.
Sesi berikutnya menghadirkan salah satu kegiatan yang paling dinantikan—membaca surat-surat dari santri. Surat-surat ini ditulis dengan tangan mereka sendiri, mencurahkan rasa terima kasih kepada guru-guru mereka. Ada surat yang berisi ungkapan terima kasih sederhana, ada juga yang penuh metafora dan keindahan bahasa.
Mengarah pada visi Indonesia Emas 2045, peran guru menjadi kunci dalam membentuk generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri. Dengan bekal ilmu dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru, diharapkan para santri dan pelajar di seluruh negeri dapat menjadi agen perubahan yang membawa bangsa ini ke puncak kejayaannya.[]
(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024 yang juga peserta Super Leader Camp XI 2024)
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Muhammad Saleh Usman, S.S., M.Kom, mencatatkan tonggak sejarah intelektual dalam pendakian akademiknya. Sebagai promovendus dari Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, ia berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan sejumlah penguji yang dipimpin Prof. H. Abustani Ilyas M.Ag yang berjudul “Komunikasi Dakwah KH Abdullah Said dalam Membangun Masyarakat Madani di Balikpapan, Kalimantan Timur”.
“Alhamdulillah proses ini tuntas. Terima kasih atas dukungan dan doa semua pihak khususnya dari keluarga dan asatizh di Hidayatullah. Semoga ini menjadi kebaikan bersama,” kata Saleh, seperti dikutip dari laman hidayatullahmakassar.id, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 H (26 November 2024).
Disertasi ini mengurai kontribusi pemikiran dan praktik dakwah KH Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah, dalam membentuk masyarakat berbasis nilai-nilai Islam di tengah tantangan modernitas. Kajiannya juga menggaris bawahi gagasan Abdullah Said yang yang meletakkan dakwah sebagai alat strategis untuk membangun masyarakat madani—sebuah komunitas yang berlandaskan prinsip keadilan, keseimbangan sosial, dan moralitas.
Saleh mengeksplorasi bagaimana KH Abdullah Said memadukan pendekatan komunikasi dakwah dengan transformasi sosia yang tidak hanya memposisikan dakwah sebagai upaya penyampaian nilai-nilai agama, tetapi juga sebagai medium membangun struktur sosial berbasis nilai Islam.
Salah satu poin penting dari penelitian ini adalah bagaimana KH Abdullah Said mengadaptasi dakwah untuk menjawab realitas sosial Balikpapan, sebuah kota yang menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur.
Dalam disertasinya, Saleh menekankan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah komunikator terbaik sepanjang masa. Beliau tidak hanya menyampaikan pesan secara efektif, tetapi juga memengaruhi dan menggerakkan umat manusia, dari masa hidupnya hingga akhir zaman. Hal ini, menurut Saleh, dimungkinkan karena Rasulullah selalu memprioritaskan hubungan spiritual dengan Allah SWT.
“Salah satu strategi dan kunci berkomunikasi yang baik sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah yakni dengan lebih dahulu memperbaiki komunikasi dengan Allah Ta’ala, di antaranya melalui zikir dan ibadah,” papar Saleh.
Pendekatan ini, terangnya melanjutkan, menjadi dasar bagi setiap langkah komunikasi Rasulullah, sehingga pesan-pesannya memiliki kekuatan moral dan spiritual yang begitu mendalam.
Inspirasi dari Rasulullah ini lantas diteruskan oleh KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam metode dakwahnya yang dikenal sebagai manhaj sistematika wahyu. Menurut Saleh, metode ini tidak hanya mengutamakan penyampaian pesan yang efektif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi kehidupan umat.
KH Abdullah Said menggunakan komunikasi yang berakar pada pendekatan spiritual dan sosial. Saleh mencatat bahwa pendiri Hidayatullah ini berupaya membangun komunitas Qur’ani di Balikpapan, yang kini menjadi model masyarakat madani berbasis nilai-nilai Islam.
“Buah dari komunikasi dakwah yang diterapkan dan diwariskan itu menghasilkan pencapaian dakwah Hidayatullah dengan terbentuknya komunitas Qur’ani di Balikpapan hingga sekarang tersebar pada 600-an pondok pesantren Hidayatullah se-Indonesia,” ungkap Saleh.
Saleh berharap adanya pengayaan akademik lebih lanjut terkait topik penelitian ini serta menekankan pentingnya melanjutkan warisan intelektual KH Abdullah Said untuk memastikan bahwa dakwah tetap menjadi medium perubahan yang inklusif dan berkesinambungan sebagai jalan untuk membangun manusia, masyarakat, dan peradaban.
Hadir membersamai pada ujian promosi tersebut Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah KH Ir Abdul Majid MA, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran, serta Ketua Yayasan Al Bayan kampus utama Hidayatullah Makassar Suwito Fatah MM dan jajaran.*/Adam Sukiman
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi mengatakan perintah iqra’ termaktub dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebuah seruan yang melampaui dimensi literal. Selain sebagai ajakan untuk membaca secara harfiah, ia adalah panggilan untuk mengintegrasikan pengetahuan dengan keimanan.
Menurut Imam, sambungan kata “bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu) setelah lafaz iqra’ dalam surah Al ‘Alaq ayat pertama ini memberikan konteks teologis yang mengarahkan aktivitas membaca menjadi ibadah, sekaligus panduan moral dalam mengelola ilmu.
“Islam menempatkan membaca sebagai gerbang pengetahuan sekaligus fondasi peradaban. Namun, aktivitas membaca yang tidak dilandasi keimanan rentan menjerumuskan manusia ke dalam penggunaan ilmu untuk hal-hal destruktif,” kata Imam, dalam forum diskusi Prospect yang digelar pada Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).
Sejarah telah menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi yang tidak berlandaskan moralitas menciptakan dampak buruk, mulai dari perang hingga eksploitasi lingkungan. Dalam hal ini, sambungan bismirabbik menjadi elemen mendasar yang membedakan aktivitas membaca sebagai ibadah, bukan sekadar akumulasi informasi dan penguasaan teori.
“Ilmu yang dipelajari tanpa melibatkan Allah di dalamnya akan kehilangan arah dan tujuan. Dengan bismirabbik, ilmu tidak hanya untuk kemajuan dunia, tetapi juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia,” jelasnya.
Membaca dengan keimanan ini, jelasnya, berarti memahami bahwa ilmu adalah amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan pribadi atau merugikan orang lain.
Pondasi Kejayaan Umat
Oleh karena itu, lebih lanjut Imam menjelaskan, refleksi dan aktualisasi yang mendalam terhadap iqra’ bismirabbik menjadi kunci kebangkitan umat Islam. Umat yang mengabaikan nilai-nilai ini sering terjebak pada sekadar mengejar kemajuan material, tanpa membangun landasan spiritual.
“Akibatnya, banyak yang memandang dakwah dan perjuangan sebagai beban, alih-alih sebagai kewajiban untuk menegakkan nilai-nilai Islam,” imbuhnya.
Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa kesetiaan kepada ajaran agama yang utuh mampu membawa umat ke puncak kejayaan. Masa keemasan Islam di era Abbasiyah, misalnya, menunjukkan bagaimana tradisi keilmuan yang diintegrasikan dengan iman melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang memberikan kontribusi abadi bagi dunia.
“Tanpa bismirabbik, ilmu bisa menjadi alat untuk menindas dan memanipulasi, seperti yang terjadi pada berbagai rezim otoriter di dunia. Sebaliknya, dengan memahami iqra’ bismirabbik, umat Islam tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai moral yang akan menjaga keberlangsungan peradaban,” tegasnya.
Menghubungkan dengan Konsep Hannah Arendt
Lebih jauh Imam menguraikan bahwa konsep iqra’ bismirabbik juga dapat dijelaskan melalui kerangka filosofis modern, seperti gagasan Hannah Arendt mengenai labor (kerja), work (karya), dan action (tindakan). Ketiga aspek ini, bagi Imam, memberikan perspektif yang relevan dalam mengartikan pentingnya membaca dalam kerangka Islam.
Dia menjelaskan, dalam perspektif kerja (labor), manusia sering terjebak pada rutinitas sehari hari untuk memenuhi kebutuhan biologis belaka. Namun, iqra’ bismirabbik mengajarkan manusia untuk melampaui aktivitas biologis ini dengan mencari makna yang lebih tinggi dalam hidup, yaitu melalui pemahaman tentang Allah dan ciptaan-Nya.
Demikian pula aktivitas produktif yang menciptakan sesuatu yang bermanfaat merupakan bentuk dari kerangka “work” ala Hannah. Namun, dalam Islam, iqra’ bismirabbik memastikan bahwa karya tersebut tidak hanya bernilai material, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial.
“Dengan kata lain, karya manusia haruslah memberikan manfaat luas bagi umat manusia,” terang Imam.
Pada tingkat tertinggi, manusia tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri (action), tetapi oleh wahyu juga dibimbing untuk membangun hubungan substansial dengan orang lain (hablumminannas) dan hubungan vertikal dengan Tuhan (hablumminallah).
Di sinilah, terang Imam, iqra’ bismirabbik memberi arah agar tindakan manusia menjadi bagian dari misi memakmurkan bumi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Perintah iqra’ bismirabbik adalah panduan universal bagi umat Islam untuk membaca, memahami, dan mempraktikkan ilmu dalam kerangka keimanan. Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya mencintai ilmu, tetapi juga menekankan tanggung jawab moral dalam penggunaan ilmu tersebut,” jelas Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023 ini.
Dalam pada itu, di era modern ini, umat Islam perlu membangun tradisi membaca yang progresif, literasi yang tinggi, serta pemikiran yang mengintegrasikan ilmu dengan iman.
Dengan cara ini, dia menambahkan, Islam dapat kembali menjadi pelopor peradaban, membawa kemajuan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga didasari nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang tinggi.
“Saatnya umat Islam menjadikan iqra’ bismirabbik sebagai pijakan untuk bangkit dan memberi kontribusi nyata bagi dunia,” tegasnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Dalam dunia pendidikan, apresiasi terhadap dedikasi guru adalah salah satu cara untuk memotivasi “pahlawan tanpa tanda jasa” ini dalam melahirkan generasi unggul.
Momentum Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini menjadi lebih istimewa dengan penghargaan bergengsi yang diraih oleh Niken Sulistyo Herdini, S.S, Kepala Sekolah Dasar Islam (SDI) Integral Lukman Al Hakim Hidayatullah Lingga, Kepulauan Riau, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Niken dianugerahi gelar “Kepala Sekolah Berdedikasi Tinggi” oleh organisasi profesi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lingga sebagai pengakuan atas komitmen dan kontribusinya yang luar biasa terhadap pendidikan di wilayah tersebut.
Ketua PGRI Kecamatan Lingga, Firdaus, dalam sambutannya menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kinerja para guru dan kepala sekolah selama ini.
“Penghargaan ini juga sebagai motivasi bagi seluruh pendidik di Kecamatan Lingga untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya, seraya menekankan pentingnya pengakuan sebagai langkah strategis untuk menjaga semangat para pendidik yang berperan sebagai pilar utama kemajuan bangsa.
Kata Firdaus, penghargaan yang diterima Niken Sulistyo Herdini juga meneruskan harapan akan pentingnya inovasi dalam proses pendidikan. Sebagai pemimpin institusi pendidikan berbasis Islam, Niken diharapkan mampu memadukan nilai-nilai religius dengan metode pembelajaran modern.
Firdaus menggarisbawahi harapan ini melalui pesannya, yakni agar penghargaan ini memotivasi semua pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimana hal ini berfungsi sebagai pengakuan atas kerja keras sekaligus ajakan untuk terus berkontribusi secara aktif.
Dia pun berharap Hari Guru Nasional tidak hanya dirayakan sebagai bentuk penghormatan kepada guru, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya pendidikan dalam membangun masa depan bangsa.
Menurutnya, komitmen seperti yang ditunjukkan oleh Niken Sulistyo Herdini adalah contoh bagaimana dedikasi seorang pemimpin pendidikan dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Dengan penghargaan ini, diharapkan semakin banyak kepala sekolah dan guru yang terinspirasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan inovasi, dan memperkuat kolaborasi. Semua ini demi cita-cita besar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan generasi yang unggul secara intelektual, emosional, dan spiritual,” katanya.
Sementara itu, Niken menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercaryaan telah terpilih mendapatkan penghargaan ini. Dia menyampaikan, pendidikan adalah tanggung jawab kolektif antara sekolah, guru, dan masyarakat.
Sehingga, jelas Niken, penghargaan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga milik keluarga besar SDI Integral Lukman Al Hakim.
“Ini adalah penghargaan untuk seluruh keluarga besar SDI Integral Lukman Al Hakim. Saya berharap, penghargaan ini bisa memotivasi kami semua untuk terus berinovasi dalam mencerdaskan anak bangsa,” tegas Niken.
Semangat kolektifitas ini, lanjut dia, selaras dengan paradigma pendidikan modern yang menitikberatkan pada kolaborasi berbagai pihak.
Niken menambahkan, lingkungan pendidikan yang optimal hanya dapat tercipta melalui dukungan lintas sektor—antara sekolah sebagai institusi formal, masyarakat sebagai mitra strategis, dan pemerintah sebagai regulator. (ybh/hidayatullah.or.id)
SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Pulau Sabuntan, sebuah permata kecil di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi komunitas Suku Bajoe. Di tengah terpaan angin laut yang menjadi ciri khas kepulauan terluar, pembangunan Pondok Pesantren Rahmatul Ulum terus berprogres.
Hingga November 2024, progres pembangunan telah mencapai 55%, dengan para pekerja kini tengah fokus pada pemasangan genteng—langkah untuk melindungi struktur utama dari cuaca ekstrem khas daerah tersebut.
Kehadiran pesantren ini menjadi simbol transformasi sosial dan spiritual bagi masyarakat lokal yang selama ini minim fasilitas pendidikan, terutama pendidikan berbasis agama. Pesantren Rahmatul Ulum diharapkan dapat menjadi titik balik dalam kehidupan Suku Bajoe, membangun generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga kuat dalam keimanan.
“Alhamdulillah, dukungan dari donatur melalui BMH sangat berarti bagi kami. Meskipun kami berada di kepulauan terluar, perhatian umat tetap sampai ke sini,” ungkap Ustadz Sumardi, pengasuh Pondok Pesantren Rahmatul Ulum, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).
Pembangunan Pesantren Rahmatul Ulum tidak terlepas dari dukungan zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).
Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menekankan pentingnya peran instrumen keuangan Islam ini sebagai jembatan sosial yang menghubungkan kepedulian umat dengan kebutuhan masyarakat di pelosok negeri.
“Pesantren Rahmatul Ulum adalah bentuk komitmen BMH untuk mendukung pengembangan pendidikan di wilayah terpencil. Kami berharap kehadiran pesantren ini mampu mencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan menjadi pelita kebaikan di pulau-pulau terluar,” jelas Muslim.
Zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks Pulau Sabuntan, ketiga elemen ini telah menjelma menjadi jembatan yang memungkinkan anak-anak Suku Bajoe meraih pendidikan berkualitas yang sebelumnya nyaris tak terjangkau.
Pesantren Rahmatul Ulum diharapkan menjadi pusat pendidikan dan juga pusat peradaban yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari komunitas lokal.
“Dengan wujud nyata dari kepedulian umat Islam, pesantren ini menjadi jembatan menuju perbaikan hidup yang lebih mulia, baik di dunia maupun akhirat,” ujar Muslim menutup pembicaraan.*/Herim
LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024), menjadi momen bersejarah bagi Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pesantren yang sebelumnya menghadapi kendala serius terkait akses air bersih kini telah memiliki solusi yang nyata, yaitu sumur bor baru yang diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Banten.
Kehadiran sumur ini menjadi tonggak penting dalam mendukung kehidupan santri dan proses pendidikan di wilayah pelosok ini.
Selama bertahun-tahun, santri yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu harus berjalan jauh ke sungai untuk mendapatkan air. Situasi ini cukup menyulitkan aktivitas sehari-hari mereka dan turut memengaruhi kualitas kehidupan mereka, terutama pada musim kemarau. Namun, kondisi tersebut berubah berkat bantuan dari donatur melalui Laznas BMH Banten.
“Alhamdulillah, dengan adanya sumur bor ini, masalah air bersih di pesantren kami sudah teratasi,” ujar Ustadz Hidayatullah, pengurus Pesantren Al-Hidayah, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).
Salah satu santri, Ikmal Apdila Alawi, turut mengungkapkan kegembiraannya. “Sekarang sudah mudah airnya, dulu mah susah dan jauh harus ke sungai,” katanya penuh antusias.
Kementerian Agama (Kemenag) turut mengapresiasi langkah strategis ini. Yahya Ependi, penyuluh agama dari KUA Kecamatan Cihara, menyatakan, “Kemenag sangat mendukung dan mengapresiasi langkah Laznas BMH Banten. Dengan memberikan bantuan sumur bor untuk pesantren di daerah pelosok dan terpencil, Laznas BMH telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi dunia pendidikan agama.”
Langkah ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan material, melainkan juga bentuk nyata dari kepedulian terhadap kemanusiaan. Air bersih merupakan hak dasar yang mendukung kualitas hidup dan pembelajaran.
Dengan tersedianya akses air bersih, para santri dapat lebih fokus dalam menuntut ilmu, tanpa terganggu oleh tantangan memenuhi kebutuhan mendasar mereka.
Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten, menegaskan pentingnya peran zakat, infak, dan sedekah dalam transformasi sosial. “Kita semua bahagia, dan inilah wujud strategis dari dampak zakat, infak, dan sedekah yang BMH kelola untuk masyarakat,” jelasnya.
Roni berharap dengan adanya sumur bor ini, Pesantren Al-Hidayah tidak hanya memiliki sumber air bersih, tetapi juga semangat dan harapan baru untuk terus mencetak generasi unggul yang berkontribusi bagi masyarakat.*/Herim
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Pendidikan ormas Hidayatullah semakin dekat. Panitia daerah terus giat melakukan silaturahmi dan audiensi.
Rakernas Hidayatullah ke-V tahun 2024 akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.
Kali ini, panitia beraudiensi dengan Direksi BJB Syariah Pusat di Jalan Braga No. 135 Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.
Hadir pada kesempatan itu, hadir Hidayatullah Abu Qary (Ketua DPW Hidayatullah Jabar), Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jabar), dan Hasby Al-Faruqi (Bendahara Rakernas). Mereka diterima oleh Anwar, Direktur Kepatuhan BJB Syariah Pusat.
Panitia menyampaikan rencana kolaborasi program dan suport kegiatan Rakernas dan seminar.
Menurut Hidayatullah Abu Qary, Rakernas secara resmi akan dibuka oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Bank BJB Syariah mendukung kegiatan Hidayatullah yang fokus dalam bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat, termasuk membangun ekosistem ekonomi syariah.
Sementara itu, Anwar menyatakan, “Insya Allah, silaturahmi dan kerjasama kedepannya bisa terjalin dengan melanjutkan MOU antara Hidayatullah dan BJB Syariah,” ujar Anwar.
Sebagaimana diketahui bahwasanya Pesantren Hidayatullah didirikan oleh KH. Abdullah Said (almarhum).
Cikal bakal Hidayatullah dimulai sejak 5 Februari 1973 Masehi/1 Muharram 1393 Hijriyah di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Hidayatullah mempunyai misi yaitu mencari ridha Allah Ta’ala dengan melakukan upaya; melahirkan kader-kader yang berkualitas, membangun komunikasi Islami, menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, dan lain-lain secara profetik dan profesional.
Selain itu, misi Hidayatullah yaitu membangun sinergi dengan segenap komponen umat Islam dalam gerakan amar makruf nahi munkar, berperan secara aktif dalam melaksanakan proses pembaharuan (tajdid) di bidang pemikiran Islam dan mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang unggul dan bermartabat.
Hidayatullah saat ini, telah memiliki 38 Dewan Pengurus Wilayah (setingkat provinsi) dan 425 Dewan Pengurus Daerah (setingkat kabupaten/kota). Dengan demikian Hidayatullah telah memenuhi 100% dari jumlah provinsi di Indonesia dan hampir 83% dari jumlah kabupaten/kota di negeri ini.*/Dadang Kusmayadi
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka membangun sinergi dan kemitraan strategis dengan dunia pendidikan, panitia Rakernas Hidayatullah ke-V berkunjung dan beraudiensi dengan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., belum lama ini.
Panitia Rakernas di antaranya Hidayatullah Abu Qory (Ketua DPW Hidayatullah), Hasby Al-Faruqy (Bendahara Rakernas), dan Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah) diterima di Gedung Rektorat UPI (Villa Isola) Jalan Dr. Setiabudi No. 229, Isola, Kota Bandung.
Sebagaimana diketahui bahwa Hidayatullah Jawa Barat akan menjadi tuan rumah Rakernas Hidayatullah Tahun 2024, yang akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.
Dalam kesempatan itu, Hidayatullah Abu Qory, yang juga ketua pelaksana Rakernas menyampaikan bahwa dalam rangkaian Rakernas akan diadakan Seminar Nasional Pendidikan.
“Kami mengundang Pak Rektor untuk menjadi pembicara di Seminar Nasional Pendidikan,” ujarnya, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Menurutnya, Seminar Pendidikan Nasional yang bertema “Membangun Pendidikan Integral Profetik dan Profesional Menuju Indonesia Emas” ini akan dihadiri internal Hidayatullah dan eksternal.
“Selain internal Hidayatullah, kami juga akan mengundang pejabat, ulama, ormas Islam, cendekiawan, guru, dosen, mahasiswa, pengusaha, tokoh, dan aktivitas dakwah,” kata Hidayatullah.
Sementara itu, Rektor UPI mengatakan, “Kami sepakat bahwa kunci untuk memajukan Indonesia adalah dengan pendidikan,” ujar Rektor.
“Insya Allah, saya akan hadir. Saya juga mengucapkan selamat dan sukses kepada Hidayatullah yang akan melaksanakan Rakernas ke-V tahun 2024 di Kota Bandung. Semoga berjalan lancar dan memberikan keberkahan kepada umat,” ungkapnya.
Perlu diketahui bahwa ormas Hidayatullah didirikan oleh KH. Abdullah Said (almarhum).
Cikal bakal Hidayatullah dimulai sejak 5 Februari 1973 Masehi/1 Muharram 1393 Hijriyah di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pada tahun 1976, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur, diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Mukti Ali. Pesantren seluas 120 hektar ini menjadi pusat kultur Hidayatullah.
Pada tahun 1984, Presiden Soeharto menganugerahkan Kalpataru kepada pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said karena beliau dinilai mampu mengubah kawasan kritis di Gunung Tembak menjadi lingkungan pesantren yang hijau dan asri.*/Dadang Kusmayadi
PPU (Hidayatullah.or.id) — Muhammad David, seorang santri berusia 15 tahun, adalah contoh nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah memiliki kekuatan transformatif dalam membangun generasi muda yang cerdas dan berprestasi.
Sebagai santri kelas 1 Ulya di Pondok Pesantren Tahfidz Ahussuffah, Balikpapan, David telah mencatatkan prestasi gemilang dengan menjadi Juara 1 pada MTQ ke-45 tingkat Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, untuk cabang Tahfidz 10 Juz kategori putra.
Prestasi ini tidak hanya menggambarkan semangat juang David, tetapi juga peran besar Program Beasiswa Berkah yang disalurkan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Program ini memberikan bantuan berupa biaya pendidikan, seragam, alat tulis, hingga uang saku bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di berbagai wilayah, seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Melalui dukungan tersebut, David telah berhasil menghafal 9 juz Al-Qur’an di usia yang masih muda, terlepas dari latar belakang keluarganya yang sederhana sebagai petani di Desa Sesumpu. David mengungkapkan rasa syukur mendalam.
“Bantuan ini sangat meringankan beban orang tua saya dan memotivasi saya untuk terus belajar. Alhamdulillah, saya bisa fokus menghafal Quran hingga mencapai 9 juz dan meraih Juara 1 MTQ cabang Tahfidz 10 Juz. Semoga saya bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dan menjadi manfaat bagi umat,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Prestasi David mendapat apresiasi dari Achmad Rifai, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kalimantan Timur. Menurutnya, keberhasilan David tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga memberikan inspirasi bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, pencapaian ini menunjukkan bahwa dukungan zakat dan infak dari para donatur benar-benar berdampak besar dalam melahirkan generasi Qurani yang unggul,” jelasnya.
Zakat dan infak memiliki dimensi pemberdayaan yang mendalam. Ketika disalurkan secara tepat, keduanya dapat menjadi sarana transformasi sosial yang efektif serta mendukung lingkungan yang mendukung pengembangan karakter religius, ketekunan, dan dedikasi.
Prestasi David memberikan pelajaran universal bahwa investasi dalam pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, adalah salah satu jalan terbaik untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. memimpin dengan kecerdasan, keimanan, dan integritas.*/Herim