TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, upaya peningkatan kualitas pendidikan tak boleh berhenti walau sejenak. Kesadaran akan pentingnya dukungan untuk tenaga pendidik mendorong Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara (Kaltara) yang didukung Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk terus mendampingi lembaga-lembaga pendidikan dan mendorong guru-guru agar mampu mempersiapkan generasi emas Indonesia di masa depan.
Komitmen ini diantaranya terejawantah dalam pelatihan yang diselenggarakan BMH bekerjasama dengan Hidayatullah Kalimantan Utara, yang dihadiri oleh 40 guru dari berbagai daerah di provinsi tersebut.
“BMH sangat komitmen untuk pendidikan. Karena itu, pelatihan yang diikuti oleh 40 guru utusan dari seluruh daerah di Kalimantan Utara sangat penting untuk didukung dan dikuatkan,” jelas Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara, dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 9 Jumadil Awal 1446 H (11/11/2024).
Sebagai penyelenggara, Ketua Muslimat Hidayatullah Tarakan, Afiqah Musaddad, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi para guru.
“Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi guru yang hadir guna menyiapkan pendidikan berkarakter berbasis tauhid yang dapat diterapkan di daerah masing-masing,” jelas Afiqah.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber berkompeten dari Surabaya, yakni Rita Sahara dan Wida Al-Maidah, yang memiliki keahlian dalam pendidikan usia dini sekaligus psikologi anak. Kehadiran mereka memberikan wawasan bagi para peserta dalam menghadapi tantangan di lapangan.
Salah satu peserta dari Tulin Onsoi, Nunukan, bernama Hasilna, mengungkapkan bahwa program ini sangat bermanfaat, “Agenda yang mendapat dukungan BMH ini sangat menarik, kami mendapatkan wawasan, pengalaman, dan ilmu yang membuat kami semakin terampil sebagai pendidik.”
Dengan adanya program ini, tambah Afiqah, BMH dan para tenaga pendidik berupaya bersama dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia yang akan membangun bangsa di masa depan.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Satuan Komunitas Nasional (Pinsakonas) Pramuka Hidayatullah resmi mengukuhkan pengurus baru pada hari ini yang bertepatan dengan helatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah yang digelar di Aula Orny Lubis, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 9 Jumadil Awal 1446 (11//11/2024).
Pinsakonas untuk masa khidmat 2024-2028 diamanahkan kembali kepada Kak Syarif Daryono Al Fatih dan didampingi Sekretaris Jenderal Kak Haji Abdul Malik. Pada kesempatan ini Kak Syarif Daryono tak bisa hadir langsung karena masih kedukaan atas wafatnya sang ibu tercinta beberapa waktu lalu.
Pengukuhan Pinsakonas baru ini dilakukan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang juga Ketua Majelis Pembimbing Satuan Komunitas Pramuka (Mabisaka) Hidayatullah, Kak Nashirul Haq.
Acara ini turut dihadiri unsur DPP Hidayatullah lainnya yaitu Ketua Bidang (Kabid) Tarbiyah Kak Abu A’la Abdullah, Anggota Mabisaka Pramuka Hidayatullah sekaligus Ketua Departemen Kepesantrenan (Deptren) DPP Hidayatullah Kak Muhammad Syakir Syafi’i, Wakil Sekretaris Jenderal I Kak Paryadi Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, dan Wakil Sekretaris Jenderal II Iwan Ruswanda, M.Pd.I.
Acara ini tak hanya menandai pengukuhan pengurus baru, namun juga menjadi ajang refleksi nilai-nilai kepramukaan dalam konteks kebangsaan. Ketua Majelis Mabisaka Hidayatullah, Kak Nashirul Haq, menyampaikan harapannya akan peran Pinsakonas dalam membangun karakter pemuda Indonesia.
“Pengukuhan Pinsakonas menjadi momentum bagi para pengurus untuk lebih bersemangat dalam berkarya, berprestasi, dan memberi kontribusi positif kepada masyarakat. Sako Pramuka harus jadi garda terdepan yang membawa nilai-nilai patriotik untuk agama dan bangsa,” katanya.
Kak Nashirul menekankan pentingnya semangat berkontribusi serta menggarisbawahi komitmen Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah sebagai pilar yang menopang idealisme keislaman dan keindonesiaan sekaligus.
Kak Nashirul juga menyinggung tentang Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November kemarin. Kata dia, para pahlawan bangsa telah mempertahankan dan mengusir para penjajah dengan teriakan takbir. Maka, terang Kak Nashirul, Sako Pramuka Hidayatullah harus mengambil ibrah dan spirit dari itu yaitu harus mewarisi semangat perjuangan dan membentuk jiwa patriotik.
Beliau pula menyoroti peran penting Pinsakonas dalam menginspirasi Generasi Z untuk mengedepankan karakter yang kuat.
“Kalau ada bicara disiplin, bela negara, Sako Pramuka Hidayatullah harus jadi terdepan untuk tampil, apalagi di zaman sekarang ini khususnya untuk Gen Z. Adik-adik hadir di sini mengikuti pengukuhan merupakan sebuah karunia besar, karena tidak sedikit generasi sekarang yang mengalami masalah karakter,” tegasnya.
Dalam pesan penutupnya, Kak Nashirul menyampaikan bahwa kehadiran Sako Pramuka Hidayatullah tidak hanya sebagai wadah pendidikan tetapi juga sebagai bentuk “cinta terhadap agama, bangsa, dan negara.”
“Semoga wadah ini melalui Sako Pramuka Hidayatullah bisa menjadi ladang jihad, ladang wasilah serta ibadah, karena semua kita hadir untuk kemaslahatan umat, negara, dan bangsa kita tercinta,” terangnya yang menegaskan harapannya.
Ia menambahkan, momen ini merupakan simbol dari semangat keberlanjutan dan komitmen untuk membangun karakter bangsa yang tangguh, berbudi luhur, dan penuh patriotisme. Kegiatan pembukaan Rakernas dan pengukuhan Pinsakonas kemudian ditutup dengan doa oleh Kak Syakir Syafi’i dan dilanjutkan dengan ramah tamah.*/Mohd Fadhlullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pelatihan nasional kepemimpinan santri bertajuk Training Nasional Kepemimpinan Santri Pengurus Pandu Hidayatullah 2024 merupakan salah satu upaya untuk memupuk dan mencetak kader-kader muda yang siap memimpin, berkomitmen tinggi, serta memiliki visi keindonesiaan dan keislaman yang kuat.
Training ini diselenggarakan selama 4 hari bertempat di Aula Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, yang dibuka pada Kamis, 5 Jumadil Awal 1446 (7/11/ 2024).
Ketua panitia kegiatan, Kak Syarif Daryono Al-Fatih, menekankan pentingnya pelatihan ini sebagai langkah awal dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin muda Hidayatullah yang cerdas, tangguh, dan memiliki visi besar.
“Kehadiran Anda di sini adalah dalam rangka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan, menjadi pemimpin-pemimpin besar di Indonesia, wabil khusus di Hidayatullah,” kata Pimpinan Satuan Komunitas (Pinsako) Pramuka Hidayatullah yang biasa disapa Kak Dion ini, dalam sambutannya pada pembukaan acara.
Kak Dion menunjukkan harapan besar kepada para peserta agar dapat berperan aktif dalam membangun Indonesia yang lebih baik, khususnya dalam membawa misi dan nilai-nilai Islam ke tengah-tengah masyarakat.
Dengan tema “Menjadi Kader Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Visioner,” diterangkan Kak Dion kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Islam dalam diri para santri sebagai bagian dari pengembangan karakter pemimpin masa depan yang berintegritas.
Melalui training ini, besar harapan bahwa para santri yang telah mengikuti pelatihan akan terus berkomitmen dalam menjalankan nilai-nilai Hidayatullah dan menjadi agen perubahan di tengah-tengah masyarakat.
Kak Dion menambahkan, dengan semangat dan komitmen yang telah tertanam melalui Training Nasional Kepemimpinan Santri Pengurus Pandu Hidayatullah 2024, diharapkan para santri ini akan tampil sebagai sosok pemimpin yang berani, bijaksana, dan penuh tanggung jawab, yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam setiap langkahnya.
“Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat dari kegiatan ini bisa mengantarkan antum menjadi pemimpin masa depan menuju Indonesia Emas 2024,” tutur Kak Dion, yang disambut dengan tepuk tangan semangat dari para peserta.
Sejumlah narasumber hadir mengisi dalam pelatihan ini, diantaranya Kak KH. Muhammad Syakir Syafi’i, yang juga merupakan Anggota Mabinas Pramuka Hidayatullah sekaligus Ketua Departemen Kepesantrenan (Deptren) DPP Hidayatullah, serta Kak Dzikrullah W. Pramudya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah.
Kehadiran narasumber memberikan semangat dan pencerahan bagi santri dalam memahami pentingnya nilai kepemimpinan dalam Islam. Serta menyajikan materi mengenai Manhaj dan Jatidiri Hidayatullah untuk mengajak peserta memahami filosofi dasar Hidayatullah sebagai gerakan dakwah yang bertujuan untuk membangun generasi Islam yang mandiri dan berwawasan global.
Selain itu, peserta mendapat materi mengenai pentingnya manhaj (metode) dalam kepemimpinan yang tidak sekadar bertumpu pada kekuasaan, tetapi lebih kepada keteladanan dan tanggung jawab, bersikap adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap orang lain.
Tampak pula hadir Anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Ust. H. Drs. Zainuddin Musaddad, MA, dan Wakil Sekretaris Jenderal II DPP Hidayatullah Iwan Ruswanda.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Para peserta datang dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah yang cukup jauh seperti Provinsi Maluku Utara, Ternate, yang mengirimkan lima orang santri beserta satu pendamping. Total keseluruhan peserta yang hadir berjumlah 72 orang, terdiri atas 52 santri putra, 9 santri putri, dan 11 orang pendamping.
Tidak hanya materi yang kaya ilmu, tetapi para peserta juga diberi kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para narasumber, menggali pengalaman dan pandangan mereka dalam menghadapi tantangan kepemimpinan di lapangan.
Antusiasme peserta terlihat dari kesan-kesan yang mereka sampaikan setelah mengikuti rangkaian acara. Salah satu peserta, Bilal Tri Baihaqi, mengungkapkan rasa syukur dan kepuasan atas kesempatan pelatihan yang diberikan baik indoor maupun materi outdoor selama acara berlangsung.
“Alhamdulillah, banyak wawasan yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Kami jadi lebih mengenal Hidayatullah, organisasi yang menaungi pondok pesantren kami,” ujar Bilal dengan penuh semangat.*/Adam Sukiman
SEPERTI manusia yang perlu rutin menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi gejala awal penyakit dan mencegah masalah serius, organisasi pun memerlukan medical check-up berkala.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa elemen-elemen penting dalam organisasi bekerja dengan sehat dan optimal sesuai dengan visi dan misi organisasi.
Ketika sebuah organisasi tidak menjalani evaluasi berkala, ia berisiko mengalami “penyakit” yang jika dibiarkan, dapat menggerogoti daya tahannya. Bisa jadi sebuah organisasi nampak sehat di luar, namun tidak menutup kemungkinan ada komorbit yang melekat ditubuhnya.
Mari kita bayangkan organisasi sebagai “pasien” yang sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di hadapan dokter. Maka dia akan ditanya dari hal-hal mendasar untuk mindiagnosa kondisi “tubuhnya”. Apa saja yang perlu diperiksa untuk memastikan organisasi ini sehat dan bugar serta siap menghadapi tantangan masa depan?
Kepemimpinan dan Regenerasi: Denyut Jantung Organisasi
Diagnosis: Sebagai langkah awal perlu diperiksa berkenaan kepemimpinan dan regenerasi organisasi. Kepemimpinan adalah denyut jantung organisasi. Apakah pemimpin organisasi saat ini memiliki visi jangka panjang yang jelas? Apakah mereka mampu menyeimbangkan kebutuhan saat ini dengan tantangan masa depan?
Selain itu, penting juga memeriksa aliran regenerasi kepemimpinan dalam organisasi —apakah ada sistem yang baik, tersetruktur dan berkesinambungan untuk menyiapkan kader-kader pemimpin berikutnya?
Resep: Organisasi yang sehat harus berinvestasi dalam keadership development serta perencanaan regenerasi yang matang. Dengan succession planning yang strategis, organisasi akan selalu memiliki pemimpin yang siap mengambil alih kendali tanpa mengorbankan stabilitas.
Pemimpin yang sukses tidak hanya membawa organisasi menuju pencapaian, tetapi juga menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang siap meneruskan dan mengembangkan visi tersebut. Sehingga diperlukan career path yang jelas.
Struktur dan Manajemen Organisasi: Kerangka yang Dinamis
Diagnosis: Struktur organisasi adalah kerangka utama (back bone) yang mendukung keseluruhan operasional. Kerangka yang kaku dan tidak fleksibel, akan mudah ketika ada perubahan, sehingga dapat menghambat inovasi dan kolaborasi.
Selanjutnya, adakah pola hirarki yang membuat komunikasi menjadi lambat? Apakah manajemen mengandalkan metode yang usang, atau sudah beradaptasi dengan kebutuhan era digital?
Resep: Organisasi perlu mempertimbangkan struktur yang lebih agile dan dinamis, yang memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan. Struktur yang fleksibel dan manajemen yang gesit akan memberikan ruang untuk inovasi, menghilangkan hambatan birokrasi, dan mengurangi risiko stagnasi. Pembaruan struktur yang relevan dan adaptif, akan menjaga agar organisasi tetap adaptif dalam menghadapi perubahan.
Keuangan: Aliran Darah yang Stabil
Diagnosis: Kondisi keuangan ibarat aliran darah bagi organisasi. Sehingga alirannya harus proporsional ke seluruh anggota tubuh/organisasi. Sehingga, tanpa pengelolaan keuangan yang sehat, organisasi berisiko menghadapi berbagai “penyakit” yang dapat membahayakan kelangsungan hidupnya.
Pemeriksaan yang cermat mencakup stabilitas arus kas, kepastian dan diversifikasi pendapatan, hingga pengelolaan utang serta kewajiban finansial lainnya.
Resep: Membuat perencanaan keuangan jangka panjang (cash flow) yang transparan dan disertai pengawasan ketat akan menjaga kesehatan finansial organisasi. Selain itu, kepastian dan diversifikasi sumber pendapatan dan kontrol pengeluaran adalah cara untuk memastikan daya tahan organisasi terhadap fluktuasi ekonomi.
Kesesuaian Program dengan Visi dan Misi: Fokus pada Arah
Diagnosis: Keselarasan program dengan visi dan misi organisasi adalah landasan penting yang perlu diperiksa. Ketidaksesuaian antara program dengan tujuan organisasi dapat menyebabkan kehilangan arah.
Apakah program-program yang ada benar-benar relevan dengan visi besar organisasi, atau hanya menghabiskan sumber daya tanpa manfaat dan perencanaan strategis jangka panjang?
Resep: Audit berkala terhadap keselarasan program dengan visi dan misi organisasi akan memastikan bahwa semua kegiatan berkontribusi pada tujuan utama. Jika ditemukan ketidaksesuaian, program-program tersebut perlu dihentikan atau disesuaikan, agar organisasi tidak menyimpang dari jalur yang seharusnya.
Kinerja dan Sustainabilitas: Daya Tahan dalam Menghadapi Perubahan
Diagnosis: Kinerja adalah stamina, sedangkan sustainabilitas adalah kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. Organisasi yang sehat akan terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan. Sama seperti stamina dalam tubuh manusia, kinerja dan sustainabilitas mencerminkan ketahanan organisasi. Kinerja tinggi yang tidak disertai dengan fokus pada keberlanjutan dapat menguras sumber daya organisasi.
Apakah organisasi menunjukkan kinerja yang stabil? Apakah ia mampu bertahan dalam jangka panjang?
Resep: Organisasi harus mengembangkan program sustainabilitas yang mencakup adaptasi teknologi, pelestarian sumber daya, dan inovasi berkelanjutan. Rencana keberlanjutan yang solid akan memastikan organisasi tetap relevan, bahkan ketika kondisi eksternal berubah drastis.
Sumber Daya Insani dan Budaya Organisasi: Keseimbangan dalam Dinamika
Diagnosis: Sumber daya insani adalah “otot” dari organisasi, sedangkan budaya organisasi adalah jiwanya. Tim yang kompeten dan budaya yang sehat akan mendorong produktivitas serta loyalitas.
Apakah anggota organisasi merasa terlibat, termotivasi, dan berkembang? Apakah budaya organisasi mendukung kolaborasi dan inovasi, atau justru menghambat keduanya?
Resep: Membina dan mengbangkan sumber daya insani dengan pelatihan yang berkelanjutan, mentoring/choacing, reward & punishment, promosi danndemosi serta kesejahteraan yang adil, diikuti jalur karier yang jelas adalah kunci untuk mempertahankan talenta berbakat.
Sementara itu, budaya organisasi harus dibentuk agar menciptakan lingkungan yang inklusif, kolaboratif, dan adaptif, di mana semua anggota merasa dihargai dan bersemangat untuk berkontribusi.
Pemanfaatan Management Tools dan Teknologi: Transformasi Digital untuk Efisiensi
Diagnosis: Di era digital, pemanfaatan alat manajemen (management tools) dan teknologi adalah seperti oksigen yang membuat organisasi tetap hidup. Apakah organisasi memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi? Apakah mereka sudah mengimplementasikan sistem digital untuk pengelolaan data, manajemen proyek, pengelolaan keanggotaan, interaksi dengan umat, komunikasi internal dlsb?
Resep: Organisasi harus berani memanfaatkan management tool selayaknya korporasi, mengadopsi teknologi terbaru, seperti manajemen proyek digital, alat analitik, hingga solusi berbasis cloud.
Penerapan management tools dan teknologi yang tepat akan mempercepat proses kerja, memperbaiki pengambilan keputusan, serta menciptakan efisiensi dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan digital.
Budaya Evaluasi: Membangun Kebiasaan Refleksi
Diagnosis: Budaya evaluasi ibarat pemeriksaan kesehatan berkala dalam organisasi. Tanpa budaya evaluasi, kesalahan berulang bisa terus terjadi, dan potensi perbaikan bisa terabaikan. Apakah organisasi memiliki mekanisme monitoring dan evaluasi, self evaluation serta sistem evaluasu yang terbuka untuk evaluasi diri? Apakah ada mekanisme untuk belajar dari kegagalan dan terus memperbaiki diri?
Resep: Membangun budaya evaluasi yang terbuka dan reflektif akan memastikan organisasi senantiasa belajar dan beradaptasi dari pengalaman masa lalu. Tim evaluasi, audit internal, hingga sesi feedback dari setiap anggota organisasi bisa menjadi landasan yang kuat untuk perbaikan yang berkelanjutan.
Penutup : Menghadap Masa Depan dengan Kesehatan yang Optimal
Dengan menjalani “medical check-up” berkala, organisasi akan memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi masa depan yang kompleks dan dinamis.
Medichal check-up dapat berupa audit manajemen kinerja dan finansial. Setiap aspek yang telah diperiksa dan diperbaiki bukan hanya berfungsi untuk mempertahankan eksistensi, namun untuk membawa perbaikan organisasi menuju pertumbuhan yang lebih besar dan lebih bermakna dimasa depan.
Dengan demikian maka, Organisasi masa depan adalah organisasi yang fleksibel, inovatif, dan memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tantangan. Dengan melakukan diagnosa kesehatan secara menyeluruh dan dilakukan secara periodik, organisasi akan memiliki fondasi yang kokoh, visi yang jelas, serta strategi yang tepat untuk menghadapi perubahan zaman. Wallahu a’lam.[]
*) ASIH SUBAGYO,penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring menggunakan handphone karena kendala kesehatan.
SETIAP 10 November, sebagaimana hari ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebuah momen untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Namun, dalam perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar: Di manakah sosok pahlawan masa kini yang bisa memberikan teladan bagi bangsa ini di tengah berbagai masalah yang semakin kompleks?
Realitas bangsa ini, saat ini menghadapi berbagai problematika yang pelik yaitu politik transaksional dan dinasti, korupsi, komersialisasi pendidikan, kerusakan alam, eksploitasi pertambangan yang brutal, serta masalah sosial lainnya seperti judi online, pinjaman online, narkoba, belum lagi terkait dengan ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan hukum semakin menggerogoti tatanan kehidupan bangsa.
Semua ini menciptakan jurang ketidakadilan yang semakin menganga dan kerusakan moral yang semakin dalam, dan bahkan akan mengancam masa depan Indonesia sendiri. Lalu, bagaimana umat Islam bisa bangkit dan menampilkan sosok-sosok pahlawan masa kini yang mampu membawa perubahan nyata?
Bukan Sekadar Pejuang Fisik
Di era modern ini, pahlawan bukan lagi hanya mereka yang berjuang di medan perang dengan mengangkat senjata di tangan, sebagaimana masa revolusi dulu. Pahlawan masa kini adalah mereka yang dengan kesadaran dan keteguhan hati berjuang untuk menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan moralitas dalam berbagai aspek kehidupan.
Pahlawan masa kini harus mampu memberikan solusi nyata terhadap problematika sosial yang ada. Namun, dengan banyaknya tantangan yang dihadapi bangsa ini, sosok pahlawan seolah hilang dalam keramaian politik, ekonomi, dan budaya yang semakin instan dan pragmatis. Dan semua dinilai dan direduksi dalam kalkulasi material semata.
Sehingga, saat ini, seorang pahlawan haruslah individu yang berani melawan praktik tidak adil yang merugikan rakyat, menegakkan keadilan, menjaga akhlak, dan memberdayakan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks Islam, pahlawan tidak hanya sekedar sosok berani dan tangguh, tetapi juga memiliki sifat amanah, jujur, dan cinta pada umat.
Sebagai Agen Perubahan
Di tengah kondisi ini, umat Islam memiliki peran besar dalam menanggulangi kerusakan yang terjadi. Ajaran Islam yang mendalam tentang keadilan, kesejahteraan, dan pelestarian alam memberikan dasar yang kuat bagi umat untuk bangkit dan tampil sebagai agen perubahan. Untuk itu, umat Islam harus kembali kepada esensi ajaran Islam yang menekankan pada amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah keburukan), yang seharusnya menjadi landasan bagi setiap tindakan.
Sosok pahlawan masa kini harus dapat melihat dan merespons dengan bijak masalah-masalah kontemporer ini. Mereka adalah orang-orang yang berani berbicara kebenaran meski dalam keadaan sulit, yang berdiri teguh melawan korupsi dan ketidakadilan, yang mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Mereka bukan hanya mereka yang memimpin di dunia politik atau pemerintahan, tetapi juga mereka yang berdedikasi dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup.
Politik Transaksional dan Dinasti
Salah satu tantangan besar yang mengancam kehidupan bangsa adalah maraknya politik transaksional dan politik dinasti. Di tengah kehidupan politik yang semakin liberal dan cenderung mengarah pada kepentingan pribadi dan golongan, banyak pemimpin yang terjebak dalam perjanjian transaksional yang merugikan rakyat. Mereka bahkan menikmati dan mengambil keuntungan praktik politik kotor seperti ini. Di mana menyebabkan menurunkan kualitas kepemimpinan dan menjadikan rakyat hanya sebagai obyek semata
Pahlawan masa kini harus berani mengangkat suara untuk menentang politik praktis yang hanya menguntungkan segelintir orang dan menjerumuskan bangsa pada ketidakadilan struktural.
Dalam hal ini, umat Islam memiliki peran penting untuk menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan—di dunia politik, dan memilih pemimpin yang berkomitmen untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk memperpanjang kekuasaan atau kekayaan pribadi. Dengan melakukan pendidikan politik kepada rakyat, agar sadar hak-haknya, dan membing mereka menjadi subyek bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
Integritas dan Keberanian
Korupsi adalah salah satu masalah utama yang merusak negara ini, dan menjadi musuh besar sebuah bangsa. Berbagai lembaga negara, mulai dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif, tak lepas dari jeratan korupsi yang menggerogoti fondasi kepercayaan masyarakat. Praktik korupsi seperti dengan kasat mata mudah dijumpai.
Ironisnya, ketidakadilan hukum justru semakin marak di Indonesia, di mana hukum sering kali tajam ke bawah dan tumpul ke atas, hukum berlaku kepada lawan politiknya, tetapi tidak kepada sekutu politiknya, membuat banyak rakyat kecil merasa tertindas dan tak berdaya, selanjutnya hilang kepercayaan.
Pahlawan masa kini harus berani bertindak tegas untuk menuntut keadilan. Mereka yang memiliki integritas moral dan keberanian untuk melawan korupsi dan sistem hukum yang diskriminatif akan menjadi teladan bagi generasi muda. Mereka harus berani melaporkan setiap praktik korupsi hingga dihukum seberat-beratnya. Pemiskinan koruptor perluvterus digaungkan dan didorong menjadi undang-undang.
Kerusakan Alam dan Eksploitasi Brutal
Indonesia, sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, kini menghadapi ancaman serius berupa kerusakan alam yang disebabkan oleh pertambangan liar, deforestasi, dan eksploitasi sumber daya alam secara brutal. Selain itu, polusi dan kerusakan ekosistem semakin memperburuk kondisi lingkungan hidup. Dan hal ini semakin memperparah terjadinya climate change.
Pahlawan masa kini, terutama umat Islam, harus tampil sebagai pelindung alam, yang dengan tegas mengajak masyarakat untuk menjalankan prinsip khalifah fi al-ard (pemimpin di bumi) dengan menjaga kelestarian bumi dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, dan umat Islam harus menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian alam demi generasi mendatang.
Pemuda Sebagai Pilar Perubahan
Pendidikan yang semakin terkomersialisasi juga menjadi masalah besar yang mengancam masa depan bangsa. Di tengah kesenjangan sosial yang besar, pendidikan sering kali hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial. Ini menciptakan jurang ketidaksetaraan yang semakin melebar.
Selain itu, masalah sosial seperti narkoba, perjudian online, dan pinjaman online telah merusak moralitas masyarakat, terutama generasi muda. Ironisnya kementrian yang bertugas memberantas judi online, ternyata menjadi sarangnya.
Dalam konteks ini, pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu menciptakan perubahan dalam dunia pendidikan dan memberi teladan moral yang baik. Pahlawan pendidikan harus menghadirkan sistem pendidikan yang berkualitas dan inklusif, yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis tetapi juga membangun karakter dan akhlak yang mulia.
Pemberantasan dan penutupan situs-situd judi online dan pinjam online mesti dilakukan secara masif. Dilain pihak harus memperkuat pemahaman keislaman generadi muda, selain juga memperluas lapangan kerja untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
Menciptakan Keadilan Sosial
Ketimpangan ekonomi yang semakin mencolok di Indonesia juga menjadi masalah besar. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin lebar, sementara banyak orang yang terjebak dalam kemiskinan tanpa akses yang memadai terhadap pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.
Pahlawan ekonomi adalah mereka yang berani memperjuangkan kesejahteraan rakyat dengan cara yang adil, termasuk melalui kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, pemberdayaan ekonomi umat, serta pembangunan yang merata.
Umat Islam, dengan ajaran Islam yang menekankan keadilan ekonomi dan pembagian kekayaan yang merata, harus memimpin perubahan ini dengan mengembangkan ekonomi yang berkeadilan.
Bangkit Menjadi Pahlawan
Untuk mengatasi berbagai masalah yang ada, umat Islam harus kembali kepada esensi ajaran Islam yang mengutamakan prinsip keadilan, kesejahteraan, dan moralitas. Pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tindakan nyata, bukan hanya dengan kata-kata.
Mereka adalah pemimpin yang adil, pejuang hak asasi manusia, pelindung lingkungan, dan pendidik yang mampu mentransformasi generasi muda. Untuk itu, umat Islam harus berani berperan aktif dalam segala sektor kehidupan—politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lingkungan—dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang sejati.
Kesimpulan
Hari Pahlawan seharusnya bukan hanya menjadi momen seremonial dengan upacara dan kegiatan lainnya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk merenung dan bertindak. Umat Islam di Indonesia harus bangkit dan menjadi pahlawan masa kini yang mampu menghadapi dan mengatasi tantangan zaman.
Melalui komitmen untuk menegakkan keadilan, memperjuangkan kesejahteraan, dan menjaga moralitas, umat Islam dapat menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Jika setiap individu berani untuk bertindak dan menjadi bagian dari solusi, kita bisa menciptakan sosok pahlawan yang nyata dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa ini. Wallahu a’lam.
*) ASIH SUBAGYO,penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kendala Kesehatan.
PADA tanggal 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Penghargaan Pahlawan Nasional adalah gelar tertinggi di Indonesia, yang dianugerahkan oleh pemerintah kepada individu-individu yang menunjukkan keberanian, keteladanan, dan pengabdian yang luar biasa bagi bangsa.
Hingga kini, sebanyak 160 tokoh Indonesia telah mendapat kehormatan ini, berdasarkan kontribusi mereka yang luar biasa dalam berbagai bidang, dari perjuangan fisik hingga sumbangsih intelektual dan sosial yang mendalam.
Gelar ini ditujukan bagi mereka yang tak hanya mengorbankan hidup mereka demi kemerdekaan atau persatuan nasional, tetapi juga mereka yang menghasilkan karya-karya yang meningkatkan kesejahteraan serta martabat bangsa.
Penghargaan ini, yang diberikan secara anumerta, sebagai bentuk penghormatan abadi dari negara dan masyarakat atas kontribusi yang heroik. Dalam hal ini, sosok Ustadz Abdullah Said merupakan salah satu yang pantas untuk dipertimbangkan, berkat kiprahnya dalam bidang dakwah, pendidikan, serta pelestarian lingkungan yang berdampak luas.
Kriteria Pahlawan Nasional
Gelar Pahlawan Nasional memiliki kriteria yang ketat, yang tidak hanya menyaratkan jasa besar dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga kontribusi yang berkelanjutan dan berdampak nasional dalam berbagai bidang kehidupan.
Penerima gelar haruslah tokoh yang semasa hidupnya menunjukkan dedikasi luar biasa, baik melalui gagasan maupun karya nyata, untuk negara dan kesejahteraan bangsa. Selain itu, integritas moral, konsistensi, serta pengabdian yang hampir berlangsung sepanjang hidup merupakan syarat mutlak.
Salah satu tokoh yang memenuhi kriteria ini, meski belum diberi gelar tersebut, adalah Ustadz Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah di Balikpapan. Dedikasinya melampaui sekadar peran sebagai pendidik. Abdullah Said adalah pejuang lingkungan yang mendapat pengakuan nasional hingga internasional, pembentuk karakter kader dakwah yang militan, dan figur yang memiliki kepedulian sosial yang mendalam.
Melalui visi yang kuat, ia telah mengangkat posisi pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama tetapi juga sebagai pusat pergerakan sosial yang berfokus pada lingkungan.
Ustadz Abdullah Said ketika menerima pengarhargaan dari negara yaitu Anugerah Kalpataru diberikan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta, 5 Juni 1984 (Foto: Istimewa/ hidayatullah.or.id)
Abdullah Said dan Pelestarian Lingkungan
Sejak awal mendirikan Pesantren Hidayatullah, Abdullah Said memiliki visi yang menyeluruh tentang pendidikan, di mana kehidupan yang teratur dan lingkungan yang terawat baginya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.
Dengan kepekaan dan kesadaran lingkungan yang tinggi, ia menciptakan suasana pesantren yang bersih dan indah, sehingga menjadi inspirasi bagi banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pada 5 Juni 1984, penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi Indonesia di bidang lingkungan hidup, diberikan langsung kepada Pesantren Hidayatullah. Anugerah Kalpataru bukan hanya lambang penghargaan, tetapi pengakuan resmi atas dedikasi Abdullah Said dalam pelestarian lingkungan.
Pemberian penghargaan ini bahkan diberikan langsung oleh Presiden Soeharto, menunjukkan bahwa Abdullah Said diakui sebagai figur nasional dengan kontribusi yang signifikan dalam lingkungan hidup.
Pada tahun berikutnya, tepatnya 30 Maret 1985, sebuah tim dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Komisi Lingkungan dan Pembangunan (WCED), yang dipimpin oleh Prof. Dr. Emil Salim, mengunjungi Pesantren Hidayatullah.
Tim ini terdiri dari utusan negara-negara yaitu Sudan, Zimbabwe, Jerman Barat, Hongaria, Jepang, Guyana, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina. Selain itu, India, Kanada, Kolombia, Arab Saudi, Italia, Meksiko, Barazilia, Aljazair, Negeria, dan Yugoslavia.
Mr. Jim MacNeil, Sekretaris Jenderal WCED, memuji inisiatif penjagaan lingkungan Abdullah Said dengan mengatakan bahwa “ide Ustadz Abdullah Said dan kreativitasnya, yang didasari semangat kemanusiaan untuk pelayanan masyarakat dan lingkungan, adalah bukti yang indah sekali.”
Satya Lencana Pembangunan
Pada 6 Maret 1997, pemerintah Indonesia kembali mengakui kontribusi Abdullah Said melalui pemberian penghargaan Satya Lencana Pembangunan. Tanda kehormatan ini diberikan atas jasa-jasa Said dalam pelestarian lingkungan, di mana tim khusus dari Sekretariat Militer Presiden mengunjungi Pesantren Hidayatullah untuk mengukuhkan penghargaan ini.
Pada saat itu, Abdullah Said sedang sakit, sehingga penghargaan diterima oleh putranya, Hizbullah Abdullah Said. Satya Lencana Pembangunan adalah simbol dari kontribusi tak kenal lelah Said dalam bidang lingkungan, yang menunjukkan bahwa pengabdian beliau berdampak luas dan berjangkauan nasional.
Namun, kiprah Abdullah Said tidak hanya berhenti pada lingkungan hidup. Sebagai pendiri pesantren, Said memiliki visi untuk mencetak kader-kader dakwah yang militan, dengan karakter kuat, bermental baja, dan siap menghadapi medan dakwah di pelosok-pelosok nusantara.
Said memahami bahwa kader-kader ini perlu dibentuk militansinya dengan pendidikan yang ketat, kerja keras, dan pembinaan karakter yang mendalam. Istilah “militan” dalam konteks dakwah yang digunakan oleh Said bukanlah radikal, melainkan cerminan semangat pengabdian yang konsisten dan tak kenal lelah.
Ustadz Abdullah Said melatih kader-kader dakwah untuk bertahan hidup di kondisi ekonomi terbatas, jauh dari kemudahan, dan di tempat-tempat yang minim fasilitas. Dengan demikian, para kader ini menjadi figur-figur tangguh yang siap menghadapi tantangan dakwah sebagai pelita ditengah gelap di daerah-daerah terpencil.
Untuk menguatkan militansi kadernya, Pesantren Hidayatullah menerapkan beberapa program khusus. Salah satu program unggulan adalah Training Center (TC), yang menjadi pendidikan awal bagi santri baru. TC tidak hanya membentuk keterampilan tetapi juga melatih para santri agar memiliki etos kerja yang tinggi dan kesabaran luar biasa.
Program TC ini juga menjadi fondasi pembentukan karakter kerja keras para santri, dan persiapan untuk menghadapi tugas-tugas dakwah di tempat-tempat yang berat dan terpencil.
Filosofi “Berkampus” di Pesantren Hidayatullah
Konsep pendidikan unik lainnya yang diusung oleh Abdullah Said adalah “berkampus.” Dalam pandangan Said, pesantren bukan hanya tempat untuk belajar ilmu agama, tetapi juga untuk mengamalkan Islam dalam keseharian dan kehidupan bermasyarakat.
Dengan konsep berkampus ini, Said menciptakan lingkungan di mana santri dapat mempraktikkan ibadah, muamalah, pendidikan, hingga sosial ekonomi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Berkampus di Hidayatullah memiliki filosofi bahwa para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan nyata.
Said meyakini bahwa dengan praktik langsung, karakter militan yang penuh ketahanan dan daya juang tinggi akan terbentuk dalam diri para santri. Mereka dididik untuk melayani masyarakat, berani, dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Pengabdian Abdullah Said sebagai pemimpin dan pengajar melebihi batas-batas tugas formal yang diembannya. Sosoknya tidak pernah menyerah dalam melestarikan lingkungan maupun mengembangkan pesantren.
Tak ada dalam sejarah hidupnya ia melakukan perbuatan tercela yang bisa merusak nilai perjuangannya. Justru, segala tindakan dan ide briliannya mewujudkan kemandirian, keuletan, dan keteladanan yang bisa diikuti generasi berikutnya.
Pemenuhan Kriteria Pahlawan Nasional
Jika kita melihat kriteria Pahlawan Nasional Indonesia, tak berlebihan kiranya memasukkan Ustadz Abdullah Said sebagai salah satu nama yang memenuhi semua syarat tersebut. Ia telah memimpin dan berjuang untuk kepentingan bangsa melalui bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan.
Abdullah Said telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan pengembangan sumber daya manusia dapat berjalan seiring dan memberikan kontribusi besar bagi bangsa.
Pemikiran-pemikiran besar Said mengenai lingkungan dan pendidikan telah mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat luas. Karya-karyanya—dari pengembangan pesantren yang bersih dan teratur hingga mencetak kader-kader dakwah yang tangguh—telah meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia.
Dalam hal ini, pengakuan sebagai Pahlawan Nasional bukanlah hal yang berlebihan bagi Abdullah Said. Karya nyatanya telah memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi komunitas santri, tetapi juga bagi bangsa dan lingkungan. Penghargaan Kalpataru dan Satya Lencana Pembangunan yang diterimanya menjadi bukti pengakuan atas dedikasinya yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan.
Keberhasilan mencetak kader dakwah yang tangguh juga memperlihatkan visi jauh ke depan dari seorang Abdullah Said, yang memahami pentingnya pendidikan karakter yang kuat untuk keberlangsungan bangsa. Upaya pengkaderan yang dijalankannya melalui Pesantren Hidayatullah adalah kontribusi tak ternilai bagi bangsa, terutama dalam menghadapi tantangan sosial dan moral.
Kesimpulannya, Abdullah Said adalah figur yang tak hanya layak dikenal, tetapi juga layak dijadikan teladan nasional sebagai Pahlawan Nasional di bidang pendidikan, sosial, dan lingkungan. Keberhasilannya memadukan pendidikan dan lingkungan hidup adalah contoh bagaimana satu individu dapat membuat perubahan signifikan bagi masyarakat dan bangsa.
Ustadz Abdullah Said telah melampaui tugasnya sebagai pendiri pesantren, dan dengan dedikasi serta karyanya, ia telah menunjukkan bahwa seorang pahlawan tidak hanya berjuang di medan pertempuran fisik, tetapi juga di medan sosial, pendidikan, lingkungan hidup, dan sektor lainnya.
Dengan segala pengabdian dan kiprahnya yang nyata, kiranya saatnya kita sebagai bangsa memberikan apresiasi yang tinggi kepada beliau. Tidaklah berlebihan untuk menganggap Ustadz Abdullah Said sebagai sosok yang layak untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional—bukan hanya untuk menghormati jasanya tetapi juga untuk memastikan bahwa generasi masa depan dapat terus mengenang dan meneladani perjuangan serta pengabdiannya yang luar biasa.[]
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat akan menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2024, yang akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.
Acara nasional ini mengusung tema besar “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” sebagai langkah konkret Hidayatullah untuk memperkuat fondasi organisasi dan meningkatkan profesionalitas seluruh elemen dalam tubuhnya.
Dalam mempersiapkan Rakernas, DPW Hidayatullah Jabar secara aktif melakukan koordinasi bersama jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah di Kabupaten dan Kota Bandung, serta organisasi pemuda dan lembaga mitra seperti Pemuda Hidayatullah Jabar, Pos Dai, dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jabar. Pertemuan koordinasi ini dilaksanakan di Kantor DPW Hidayatullah Jabar yang berlokasi di Jalan R. Edang Suwanda 18A, Cimenyan, Padasuka, Bandung.
Ketua DPW Hidayatullah Jabar, Hidayatullah Abu Qory, menekankan bahwa koordinasi lintas elemen ini bertujuan untuk memastikan kesiapan dan kinerja optimal di setiap seksi, khususnya dalam menyambut para peserta Rakernas yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia.
“Kami akan menyambut para peserta Rakernas yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Sebagai tuan rumah, tentunya kami akan berusaha menyambut dengan baik,” ujar Hidayatullah, yang juga ketua pelaksana Rakernas dan Seminar Nasional yang diadakan bersamaan dengan acara ini.
Dia menjelaskan, tema besar Rakernas tahun ini merupakan refleksi dari semangat konsolidasi yang tengah digaungkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Tema ini mencakup tiga pilar penting, yaitu jatidiri, organisasi, dan wawasan.
Dengan demikian, terangnya, Rakernas menjadi momentum strategis untuk meneguhkan kembali identitas Hidayatullah, sekaligus memperkuat struktur organisasi dan memperluas wawasan anggotanya.
Menurut Ketua Pelaksana, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga akan disemarakkan dengan acara Seminar Nasional, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas khidmat Hidayatullah untulk umat.
“Pada acara Seminar Nasional Pendidikan ini, kami akan mengundang pejabat, ulama, ormas Islam, cendekiawan, guru, dosen, mahasiswa, dan tokoh masyarakat,” jelas Hidayatullah.
Sebagai bagian dari agenda besar organisasi, Rakernas Hidayatullah Tahun 2024 tidak hanya bertujuan untuk menuntaskan agenda tahunan, tetapi juga untuk mengonsolidasikan gerak langkah Hidayatullah secara sistematis dan terpadu.
Hidayatullah menjelaskan, semangat standardisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik yang menjadi bagian tema Rakernas ini adalah wujud dari kebutuhan untuk memiliki sistem yang solid, yang dapat diimplementasikan di seluruh jaringan organisasi Hidayatullah, mulai dari pusat hingga daerah.
Kegiatan sentralisasi, di sisi lain, bertujuan untuk menyelaraskan visi dan misi di seluruh unit kerja di bawah payung Hidayatullah, memastikan bahwa semua elemen bekerja menuju tujuan yang sama dengan semangat dan etos kerja yang serupa.
Disamping itu, dijelaskan dia, integrasi sistemik yang diusung dalam tema Rakernas ini adalah upaya untuk menciptakan harmoni dalam hubungan antar-unit kerja, sehingga setiap elemen organisasi dapat berfungsi secara efektif sebagai bagian dari sebuah sistem yang lebih besar.
“Di tengah tantangan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, peran Hidayatullah menjadi sangat penting, terutama dalam memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai Islam dan nilai-nilai keislaman,” terangnya.
Sebagai organisasi dengan mainstream gerakan dakwah dan pendidikan, dia mengimbuhkan, Hidayatullah perlu terus memperbarui pendekatan dan strategi agar tetap relevan di tengah masyarakat modern.
“Rakernas ini menjadi langkah nyata untuk memastikan bahwa Hidayatullah dapat beradaptasi dan memberikan kontribusi yang maksimal bagi bangsa dan umat,” jelasnya.
Melalui tema dan agenda yang ditetapkan, Rakernas Hidayatullah 2024 ini diharapkan dapat menjadi momentum konsolidasi yang berkelanjutan. Tidak hanya sebagai sarana penyatuan visi, tetapi juga sebagai platform untuk menggali potensi-potensi lokal yang dapat disinergikan dalam skala nasional.
“Semangat sinergi dan kolaborasi ini diharapkan akan memberikan dampak positif, baik dalam lingkup internal organisasi maupun dalam kontribusi terhadap pembangunan bangsa,” imbuh Hidayatullah,
Dia menambahkan, dengan Rakernas Hidayatullah 2024 di Bandung ini, diharapkan Hidayatullah dapat semakin matang sebagai sebuah organisasi Islam yang tidak hanya berkontribusi dalam aspek dakwah dan pendidikan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak bagi terciptanya masyarakat yang lebih baik, bermoral, dan beradab.*/Dadang Kusmayadi
PENGHARGAAN kepada mereka yang berjasa besar dalam pembangunan bangsa menjadi elemen penting dalam menjaga jati diri dan harga diri suatu negara. Ucapan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya,” sangat menggambarkan pentingnya mengenang dan menghormati pahlawan.
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan sebagai penghormatan kepada mereka yang telah berkorban untuk kemerdekaan.
Namun, pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang. Ada pula pahlawan dalam arti yang lebih luas, yaitu mereka yang dengan dedikasi dan pengorbanannya telah memberi sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan masyarakat, baik melalui pemikiran, pendidikan, maupun dakwah.
Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, ataupun juga seorang pejuang yang gagah berani. Mereka rela mengorbankan hidup dan matinya demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia
Momentum hari pahlawan harus senantiasa untuk mengingatkan pengorbanan para pahlawan dan berusaha meneladaninya. Para pahlawan yang gugur di medan perang demi memerdekakan Indonesia, nama dan kisahnya tercatat dalam buku sejarah yang selalu dipelajari semasa sekolah.
Konsep Pahlawan
Berakhirnya masa penjajahan tidak lantas menghalangi siapa pun untuk bisa menjadi pahlawan. Di era modern sekarang, ternyata masih banyak ditemukan orang-orang yang rela berkorban mengabdikan diri kepada negeri ini. Meski tidak ikut berperang seperti dulu dengan berdarah dan gugur dalam medan perang.
Sepertinya definisi pahlawan kekinian sedikit dikembangkan. Pahlawan kekinian adalah mereka yang memenangkan di medan perang, namun medan perangnya berbeda dengan masa penjajahan dulu.
Dengan kata lain, pahlawan kekinian adalah yang berjuang di medan perangnya masing-masing dengan tujuan dan hasil untuk kemajuan bangsa, berpengaruh penting bagi kehidupan masyarakat banyak dan mengharumkan nama Indonesia. Mereka memiliki keberaniaan dan rela berkorban untuk kebaikan masyarakat dengan karya-karya dan jasa-jasanya monumental.
Konsep pahlawan modern yang “berjuang di medan perang masing-masing” ini relevan untuk era sekarang, di mana tantangan bangsa Indonesia sudah bergeser dari sekadar mempertahankan kemerdekaan fisik menjadi perjuangan memperkuat identitas, budaya, dan nilai-nilai bangsa dalam masyarakat yang semakin global.
Pahlawan kekinian berperan penting dalam membangun karakter bangsa dan mendidik generasi penerus agar mampu menghadapi tantangan dunia modern. Dengan kriteria tersebut, jasa dan perjuangan Ustadz Abdullah Said sangat layak dipertimbangkan sebagai upaya pencalonan dirinya sebagai Pahlawan Nasional.
Maka dari itu, sebagai setiap warga negara Indonesia wajib untuk selalu menghargai dan menghormati jasa para pahlawan, baik pahlawan perjuangan maupun pahlawan pada masa sekarang di luar medan perang.
Anugerah Pahlawan Empat Tahun Terakhir
Sejak era kemerdekaan hingga kini, pemerintah telah memberikan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh yang berkontribusi besar bagi bangsa, baik dalam memperjuangkan kemerdekaan maupun dalam membangun Indonesia pascakemerdekaan.
Sebagai contoh, tahun 2020 pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh seperti Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Sutan Muhammad Amin Nasution, dan Sultan Baabullah.
Pada tahun 2021, gelar pahlawan juga dianugerahkan kepada Haji Usmar Ismail yang berjasa dalam perfilman nasional, menunjukkan bahwa penghargaan ini diberikan pula kepada mereka yang berkiprah di bidang seni, budaya, dan sosial.
Dalam kurun waktu dari tahun 2020 hingga 2023, ada 21 tokoh dari berbagai daerah yang mendapatkan anugerah sebagai Pahlawan Nasional. Berikut daftarnya:
Tahun 2020:
Almarhum Sultan Baabullah, tokoh dari Provinsi Maluku Utara;
Almarhum Macmud Singgirei Rumagesan – Raja Sekar, tokoh dari Provinsi Papua Barat;
Almarhum Jenderal Polisi (Purn.) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, tokoh dari Provinsi DKI Jakarta;
Almarhum Arnold Mononutu, tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara;
Almarhum Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution, tokoh dari Provinsi Sumatera Utara;
Almarhum Raden Mattaher Bin Pangeran Kusen Bin Adi, tokoh dari Provinsi Jambi.
Tahun 2021
Almarhum Tombolotutu, tokoh Sulawesi Tengah;
Almarhum Sultan Aji Muhammad Idris, tokoh Kalimantan Timur;
Almarhum Haji Usmar Ismail, tokoh dari DKI Jakarta;
Almarhum Raden Aria Wangsakara, tokoh dari Provinsi Banten;
Tahun 2022
Almarhum Dr. dr. H. R. Soeharto, tokoh dari Jawa Tengah;
Almarhum KGPAA Paku Alam VIII dari Daerah Istimewa Yogyakarta;
Almarhum dr. R. Rubini Natawisastra dari tokoh Kalimantan Barat;
Almarhum H. Salahuddin bin Talabuddin dari tokoh Utara,
Almarhum K. H. Ahmad Sanusi dari tokoh Jawa Barat.
Tahun 2023:
Almarhum Ida Dewi Agung Jambe, tokoh dari Bali
Almarhum Bataha Santiago, tokoh dari Sulawesi Utara
Almarhum M Tabrani, tokoh dari Jawa Timur
Almarhum Ratu Kalinyamat, tokoh dari Jawa Tengah
Almarhum KH Abdul Chalim, tokoh dari Jawa Barat
Almarhum KH Ahmad Hanafiah, tokoh dari Lampung
Nama-nama di atas, mungkin sebagian besar belum dikenal luas. Namun para penerima anugerah pahlawan nasional ini telah terbukti kiprah, jasa, dan pengorbanannya untuk masyarakat Indonesia.
Mengusulkan Ustadz Abdullah Said
Dengan demikian, tidak berlebihan rasanya untuk mempertimbangkan pengusulan Ustadz Abdullah Said sebagai pahlawan nasional. Ia adalah pelopor pendidikan agama yang telah berhasil mengembangkan Pesantren Hidayatullah dari modal yang sangat minim hingga menjadi ratusan cabang di seluruh pelosok Indonesia.
Perjuangannya menghadirkan pendidikan yang terjangkau dan berlandaskan nilai-nilai Islam telah membantu membentuk karakter generasi muda yang religius, mandiri, dan berwawasan nusantara. Kehadiran Ustadz Abdullah Said memberikan inspirasi nyata tentang bagaimana keteladanan dan kerja keras dapat mengubah masyarakat.
Pengusulan Ustadz Abdullah Said sebagai calon Pahlawan Nasional dilandasi beberapa alasan yang kuat. Pertama, kontribusinya dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
Pesantren yang ia bangun menjadi pusat pembinaan generasi muda yang siap terjun ke masyarakat dengan membawa pemahaman agama yang kuat serta kecintaan terhadap Indonesia. Dakwah yang beliau jalankan diwujudkan dalam sistem pendidikan yang melibatkan banyak orang untuk turut berjuang dalam penyebaran risalah Islam yang mengakar sebagai gerakan yang mendukung pembangunan moral bangsa.
Kedua, menumbuhkan spirit keberanian dan pengabdian. Dengan jiwa besar, keberanian, dan semangat yang luar biasa, Ustadz Abdullah Said mencontohkan bagaimana seorang pemuda dengan latar belakang biasa dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat.
Beliau telah memenangkan “medan perang” di bidang pendidikan dan dakwah, memberikan dedikasinya untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta mampu menyulut motivasi banyak orang untuk terlibat dalam perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa, suatu sikap yang sejalan dengan semangat kepahlawanan.
Ketiga, kehidupan dan perjuangan Ustadz Abdullah Said menawarkan inspirasi besar bagi generasi muda Indonesia. Beliau menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Berdirinya Hidayatullah dari nol hingga berkembang besar adalah bukti nyata bahwa usaha dan kerja keras akan membuahkan hasil yang besar pula.
Warisan beliau bukan hanya dalam bentuk fisik pesantren, tetapi juga dalam semangat dan prinsip hidup yang beliau wariskan kepada murid-muridnya. Keberhasilannya menjadi sosok yang dihormati menunjukkan bahwa keberanian dalam berjuang bagi kebaikan bangsa akan selalu mendapat tempat di hati rakyat.
Ustadz Abdullah Said bukan terlahir dari tokoh besar tapi guru ngaji dan iman masjid di kampung. Beliau lahir dari pasangan Kyai Abdul Kahar (Cella Ulu) dan Aisyah (Puang Ica). Tepatnya pada 17 Agustus 1945, bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia, setelah hampir dua tahun dalam kandungan ibundanya.
Ustadz Abdullah Said pada awalnya juga bukan tokoh besar tapi hanya sosok anak muda yang memiliki cita-cita besar. Sejak tahun 1970 mengawali dengan membuat kursus-kursus mubaligh dan ceramah dari masjid ke masjid di Balikpapan.
Tahun 1973 dengan jiwa besar, keyakinan, dan semangatnya mendirikan Pesantren Hidayatullah dari modal nol besar dengan menumpang di rumah orang di Gunung Sari dan pernah di gubuk-gubuk di Karangrejo. Akhirnya tahun 1974 baru mendapatkan tanah wakaf di Karangbugis.
Perkembangan sangat pesat sehingga santri tidak muat di Karangbugis maka tahun 1975 mendapatkan tanah lebih luas lagi di Gunung Tembak. Tahun 1976 diresmikan Pesantren Hidayatullah oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, MA.
Mendirikan pesantren di Kota Balikpapan sebenarnya aneh dan berat karena Balikpapan adalah kota yang masyarakatnya adalah pekerja perusahaan besar. Pada saat itu masih minim dakwah Islam bahkan Pesantren Hidayatullah termasuk pesantren pertama di Kota Balikpapan.
Pada umumnya tumbuh kembangnya pesantren hanya jumlah santri dan luasnya areal. Namun Ustadz Abdullah Said dalam rentang waktu yang relatif singkat sekitar 25 tahun, mampu mengembangkan Pesantren Hidayatullah menjadi 100 lebih cabang yang tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Pesantren Hidayatullah Balikpapan secara areal juga sangat luas yaitu 160 hektar.
Biasanya pesantren akan mati dan punah saat ditinggal wafat oleh pendirinya. Banyak orang meragukan keberlangsungan, Alhamdulillah Pesantren Hidayatullah tetap eksis bahkan semakin ekspansif pasca wafatnya Ustadz Abdullah Said
Hidayatullah 51 tahun, tambah berkembang menjadi 418 cabang, 1088 Rumah Qur’an. Karena Pesantren Hidayatullah yang didirikan Ustadz Abdullah Said bukan pesantren pribadi atau keluarga tapi milik umat yang kepemimpinannya juga dipilih oleh umat.
Ustadz Abdullah Said mewariskan nilai, semangat dan keyakinan kepada para santri-santrinya. Inilah yang mahal dan langka bagi seorang tokoh yang tidak mementingkan diri sendiri dan keluarganya.
Karenanya, pengusulan Ustadz Abdullah Said sebagai Pahlawan Nasional memiliki alasan kuat yang bersumber dari kontribusinya dalam mendirikan dan mengembangkan Pesantren Hidayatullah, institusi yang menjadi tempat belajar dan pembentukan karakter ribuan santri di seluruh Indonesia.
Kiprah dan dedikasinya dalam membangun pendidikan berbasis agama telah memberi dampak besar bagi masyarakat dan bangsa, mewujudkan cita-cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan diusulkannya Ustadz Abdullah Said sebagai Pahlawan Nasional, diharapkan semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk mengabdikan diri bagi bangsa dan negara dalam medan perang modern yang penuh tantangan.
Ustadz Abdullah Said memiliki semua persyaratan kelayakan untuk diusulkan menjadi calon pahlawan nasional. Dengan pemikiran, kiprah dan peninggalannya yang masih eksis diteruskan oleh para santrinya, meski beliau sudah wafat 26 tahun lalu.[]
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, menerima kunjungan silaturrahim Wakil Menteri Urusan Keislaman Republik Maldives (Maladewa), H.E. Mr. Ibrahim Asim, yang sekaligus memimpin delegasi Imam dan Da’i dari Maladewa di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Jum’at, 6 Jumadil Awal 1446 (8/11/2024).
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq turut didampingi Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah, Dzikrullah W. Pramudya, dan sejumlah jajaran lainnya.
Pertemuan ini dimulai dengan pengenalan oleh Nashirul Haq mengenai sejarah Hidayatullah, sebagai organisasi dakwah dan pendidikan Islam yang berkomitmen membangun peradaban Islam yang mulia.
Dia menerangkan, Hidayatullah didirikan dengan visi menjadi wadah bagi umat Islam Indonesia untuk memperkokoh akidah, memperkuat ilmu, dan membangun masyarakat berlandaskan nilai-nilai Islam.
Sebagai pilar dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam di era globalisasi yang terus berkembang, Hidayatullah juga fokus pada pengembangan kualitas para dai yang berperan sebagai pemandu spiritual masyarakat.
Sementara itu, Kementerian Urusan Keislaman di Maladewa memainkan peran fundamental dalam menjaga integritas nilai-nilai Islam di tengah masyarakat sekaligus mengawasi pelaksanaan ajaran keagamaan yang sesuai dengan kerangka hukum negara dan prinsip-prinsip syariah.
Kementerian ini mencakup inisiatif seperti mendirikan program-program bimbingan Islami yang komprehensif, mengelola lembaga amal untuk kesejahteraan umat, serta menghadapi tantangan sosial melalui kebijakan yang responsif dan partisipasi aktif masyarakat.
Forum pertemuan ini juga membahas tantangan yang dihadapi umat Muslim di tengah arus globalisasi yang kian pesat. Globalisasi memberikan dampak positif dalam memperluas akses informasi dan mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Namun, hal ini juga membawa tantangan serius terhadap pelestarian nilai-nilai Islam, terutama di negara-negara dengan mayoritas Muslim.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan ini adalah peluang kerja sama antara Hidayatullah dan pemerintah Maladewa dalam memperkuat hubungan diplomatik berbasis nilai-nilai keagamaan.
Kerja sama semacam ini dinilai menjadi landasan bagi diplomasi yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan perdamaian. Sebagai bagian dari masyarakat global, kerjasama yang harmonis dan saling menguntungkan di antara negara-negara Muslim, khususnya Indonesia dan Maladewa, akan berkontribusi dalam menciptakan stabilitas di kawasan masing-masing.
Dalam hal ini, Hidayatullah dapat berbagi pengalaman dan metodologi dalam pengembangan pendidikan Islam. Hal ini termasuk pelatihan dai dan imam yang berorientasi pada penguatan keilmuan dan spiritualitas. Dengan begitu, Hidayatullah dan Maladewa diharapkan dapat membangun kolaborasi yang tidak hanya memberikan manfaat bagi masing-masing negara, tetapi juga bagi umat Muslim secara global.
Dalam pada itu, program kerja sama ini bisa menjadi wujud konkret dari diplomasi berbasis nilai Islam yang berfokus pada solidaritas dan kebersamaan umat yang akan semakin memupuk hubungan persaudaraan antarnegara melalui jembatan dakwah dan pendidikan.[]
JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) — Pembangunan sumur bor dan instalasi air bersih di Pondok Pesantren Tahfidz Cilik Auladi Jeneponto Sulawesi Selatan telah berhasil diselesaikan, memberikan manfaat signifikan bagi operasional dan kesejahteraan penghuni pesantren.
Pada Kamis, 5 Jumadil Awal 446 (7/11/2024), hasil analisis pengeboran menunjukkan bahwa sumber air terbaik ditemukan pada kedalaman 42 meter.
Pengujian lebih lanjut menggunakan mesin submersible berkekuatan 1 HP dan pipa distribusi berdiameter satu inci mengonfirmasi bahwa air dapat mengalir tanpa gangguan selama 24 jam, memenuhi kebutuhan sehari-hari santri dan penghuni pesantren lainnya.
“Air ini juga untuk kebutuhan rumah pengasuh, sekolah, asrama, dan masjid,” ungkap Ustadz Amrin Karim, pemimpin Pondok Pesantren, yang merasakan dampak positif infrastruktur ini bagi lebih dari 188 santri yang berada di bawah naungannya.
Ustadz Amrin pun menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur BMH yang mendukung terwujudnya fasilitas vital ini, seraya menambahkan, “Semoga menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak.”
Kepala Laznas BMH Sulsel, Kadir, juga menegaskan pentingnya kontribusi kolektif ini, seraya mengingatkan bahwa “ini adalah amanah yang harus dimanfaatkan dan dijaga dengan baik,” serta berharap para santri mendoakan para donatur Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).
Tidak hanya memenuhi kebutuhan air bersih, proyek ini diharapkan pula mendukung irigasi tanaman di lingkungan pondok melalui penanaman pohon-pohon endemik Jeneponto seperti mangga, kelapa, dan nane.
Selain itu, pesantren ini mengimplementasikan program “One Pesantren One Product” dengan keberhasilan pada budidaya padi di lahan seluas 0,6 hektare, menghasilkan 35 karung gabah atau sekitar 2,5 ton padi. Capaian ini menjadi kontribusi nyata bagi kemandirian pangan di lingkungan pesantren dan menunjang potensi kemandirian institusi.
Dengan adanya sumur bor ini serta program-program kemandirian lainnya, Pondok Tahfidz Cilik Auladi menunjukkan komitmen dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan dan kesejahteraan bagi generasi muda.*/Herim