Beranda blog Halaman 203

Rekonstruksi Peradaban Islam Pasca Ramadhan: Menjemput Kejayaan dari Syawal

0

RAMADHAN, bulan penuh berkah dan ampunan, telah sepekan lebih meninggalkan jejak takwa dalam sanubari kita.

Takwa bagaikan benih yang ditanam di bulan Ramadhan, yang kemudian tumbuh dan berbuah di bulan-bulan berikutnya.

Buah dari takwa ini bukan hanya kebaikan individu, tapi juga kontribusi nyata bagi pembangunan peradaban Islam.

Ketakwaan yang hakiki bukanlah pencapaian instan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang terus berkembang seiring waktu.

Bulan Ramadhan yang baru saja berlalu memberikan momentum penting dalam memperdalam ketakwaan, dengan meningkatkan intensitas dan kualitas  ibadah serta refleksi spiritual.

Namun, tantangannya adalah menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah dan prinsip-prinsip ketakwaan bahkan setelah Ramadhan berakhir.

Predikat takwa yang diraih di bulan Ramadhan harus menjadi bekal untuk membangun peradaban yang sesuai dengan tuntutan zaman dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Sehingga, sangat beralasan jika bulan Syawal dijadikan sebagai titik balik untuk membangun peradaban Islam yang gemilang, dengan meneladani Rasulullah dan generasi salaf, dan dengan semangat juang dan kolaborasi antar umat Islam.

Rekonstruksi Peradaban Islam: Menuju Kejayaan Masa Lalu

Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk mempertahankan dan meningkatkan lagi derajat ketakwaan yang telah di raih di bulan seberapapn tingkat pencapaiannya. Hal tersebut sebagai bentuk kesadaran bahwa proses spiritual tidak berhenti begitu saja.

Dengan mempertahankan konsistensi dan semangat yang sama, diharapkan dapat meraih pencapaian spiritual yang lebih tinggi lagi hingga memasuki bulan Ramadhan tahun depan.

Bulan Syawal, seringkali diartikan sebagai bulan kemenangan, sehingga menjadi momentum tepat untuk merekonstruksi kembali eksistensi peradaban Islam yang pernah berjaya di masa lampau.

Ini merupakan saat yang tepat untuk untuk merefleksikan kembali makna Ramadhan, di mana inputnya adalah orang beriman, prosesnya adalah puasa dengan segala perintah, larangan, serta keutamaan di dalamnya, dan outputnya adalah orang-orang yang bertakwa.

Orang-orang bertakwa inilah yang akan menjadi fondasi peradaban Islam yang gemilang. Ketakwaan tersebut bagaikan kompas yang menuntun mereka menuju jalan yang benar, memperkuat iman, dan membangkitkan semangat untuk berkontribusi dalam membangun peradaban yang rahmatan lil ‘alamin.

Konsep Peradaban Islam: Meneladani Era Rasulullah dan Generasi Salaf

Malik Bennabi, seorang pemikir Islam kontemporer dari al-Jazair dalam karyanya Shurūṭ al-Nahḍah, menjelaskan bahwa peradaban (ḥaḍārah) adalah gabungan dari tiga unsur utama, yaitu manusia (insān), tanah (turāb) dan waktu (waqt). Bagaimanapun, semua unsur ini tidak mungkin berpadu untuk menghasilkan peradaban tanpa adanya pemikiran keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) yang “berpengaruh terhadap terjadinya senyawa ketiga unsur” di atas.

Berpijak dari pemikiran di atas, Bennabi menjelaskan lebih detail bahwa suatu peradaban tidak akan muncul dalam suatu ummat di wilayah dan masa tertentu, kecuali dalam bentuk wahyu yang turun dari langit yang menjadi pedoman dan petunjuk ummat manusia. Artinya, wahyu tersebut akan membangun landasan peradabannya dalam memberikan arahan kepada manusia menuju Tuhan dalam pengertian umum.

Sehingga dari proses diatas, mampu mengintegrasikan ketiga unsur yang dirumuskan tersebut. Dengan demikian menjadi tepat adanya jika kemudian disimpulkan bahwa : ‘wahyu membentuk peradaban’.

Jika konsepsi tersebut ditarik sejak era Rasulullah, sahabat, tabi’n dan generasi salafush sholeh merupakan contoh nyata peradaban Islam yang gemilang. Rasulullah saw. membangun peradaban Islam sejak di Makkah hingga ke Madinah berdasar dan berpedoman kepada wahyu yang turun.

Dari guidelines wahyu tersebut, Beliau meletakkan fondasi persaudaraan, keadilan, kesetaraan dan musyawarah sebagai basis masyarakat dan negara yang dibangun.  Demikian pula para sahabat sebagai pelanjut Nabi SAW, dengan keteladanan dan semangat juangnya, menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dan membangun peradaban Isalam yang unggul,  maju dan bermoral.

Menengok Keemasan Peradaban Islam

Pada era ketika bangsa Barat mengalami masa Dark Age (masa kegelapan) yang penuh dengan kemunduran ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia Islam justru mencapai puncak kejayaannya, yang dikenal sebagai Masa Keemasan Islam (golden age). Masa ini berlangsung dari abad ke-8 hingga abad ke-13 Masehi, saat itu terjadi ledakan kegiatan intelektual dan ilmiah yang luar biasa di dunia Islam.

Berbagai disiplin ilmu seperti matematika, astronomi, kedokteran, kimia, dan filsafat berkembang pesat. Pusat-pusat pembelajaran seperti Baitul Hikmah (house of wisdom) di Baghdad dan Cordoba di Spanyol menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan, ilmuwan, dan peneliti dari berbagai latar belakang agama dan etnis.

Karya-karya klasik dari para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina (Kedokteran), Al-Khwarizmi Matematika), Ibnu Al-Haytham (fisika/optik), Al Jazairi (teknologi/robotic), Al-Razi (farmasi), Al Battani dan Al-Biruni (astronomi),  dan masih banyak lagi, memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak sedikit mereka adalah seorang polymath (menguasai berbagai ilmu pengetahuan) dan menjadikan al-Qur’an sebagai basis keilmuannya.

Penemuan dan inovasi mereka, sebagai mana diuraikan diberbagai bidang : astronomi, matematika, astronomi, kedokteran, dan teknologi, dan lain sebagainya tidak hanya membawa manfaat besar bagi masyarakat Muslim, tetapi juga memberikan fondasi yang kuat bagi kemajuan ilmiah dunia secara keseluruhan.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa, masa keemasan Islam, teruutama dalam bidang sains dan teknologi, merupakan bukti nyata bahwa Islam tidak hanya agama spiritual, tetapi juga agama yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontribusi Islam di bidang sains dan teknologi telah memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia, dan menjadi warisan berharga yang patut dilestarikan dan dikembangkan hingga saat ini.

Rekonstruksi Peradaban Islam di Era Modern

Malik Bennabi memahami bahwa peradaban sebagai sebuah rentang kehidupan yang terdiri dari tiga fase. Yang pertama adalah “kelahiran” (al-mīlād ) atau “kebangkitan” (al-nahḍah), diikuti oleh fase puncak (al-awj), dan diakhiri oleh “kemerosotan” (al-ufūl). Dan hampir semua pemikir Islam dewasa ini, menyepakati bahwa posisi umat Islam saat ini berada pada fase terakhir, yaitu kemorosotan.

Sehingga perlu dilakukan upaya serius untuk membangkitkan kembali dan kemuidian berada pada posisi punak lagi. Padahal, model peradaban Islam yang gemilang ini sebagaimana dijelakan di atas akan terus relevan untuk diterapkan dalam berbagai dimensi ruang dan waktu. Kendatipun saat ini berada di tengah gempuran modernitas, liberaslime dan sekularisme, umat Islam perlu kembali kepada nilai-nilai fundamental Islam dan membangun peradaban yang sesuai dengan zaman.

Ini bukan pekerjaan semudah membuka telapak tangan. Namun mesti dimulai dari hal-hal terkecil yang mungkin kita lakukan. Tidak bisa seporadis dan serampanhan. Sudah barang tentu mesti tersetruktur, sistemis dan massif. Beberapa model  rekonstruksi peradaban Islam di era modern membutuhkan langkah-langkah konkret dan kolaborasi antar umat Islam.

Oleh karenanya sudah saatnya umat Islam membutuhkan roadmaps (peta jalan), yang dapat memberikan arah kemana akan menuju, dan bagaimana untuk menuju destinasi itu. Sehingga mereka membentuk satu barisan dan bangunan yang kokoh sebagaimana disinyalir dalam Surat Ash-Shaff ayat 4.

Peta Jalan : Sebuah Tawaran Rekonstruksi Peradaban Islam

Sebagaimana diuraikan di atas, rekonstruksi peradaban Islam menjadi sebuah keniscayaan untuk meraih kembali keunggulan di masa depan. Berikut  kami tawarkan tujuh pilar penting yang perlu diuraikan dalam upaya rekonstruksi ini:

Pertama, Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM)

  • Membangun sistem pendidikan Islam yang berkualitas: Kurikulum pendidikan Islam harus komprehensif, menggabungkan ilmu agama dan pengetahuan umum, serta menumbuhkan nilai-nilai karakter dan kepemimpinan.
  • Meningkatkan akses pendidikan bagi semua: Memastikan setiap individu Muslim memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan berkualitas, termasuk di daerah terpencil dan pelosok.
  • Memperkuat pendidikan tinggi Islam: Mengembangkan universitas dan lembaga pendidikan tinggi Islam yang unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, mencetak SDM yang kompeten dan inovatif.
  • Meningkatkan kualitas guru dan dosen: Memberikan pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan bagi para pengajar di lembaga pendidikan Islam.

Kedua, Penguasaan Sains dan Teknologi

  • Mendorong penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi: Menyediakan dana dan infrastruktur yang memadai untuk para peneliti dan ilmuwan Muslim.
  • Meningkatkan kerjasama antar lembaga penelitian Islam: Membangun jaringan dan kolaborasi antar lembaga penelitian Islam di berbagai negara untuk mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga mampu menguasai berbagai aspek sains dan teknologi
  • Menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari: Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Muslim, seperti di bidang kesehatan, pertanian, dan industri.
  • Menumbuhkan budaya literasi sains dan teknologi: Mendorong budaya membaca dan mempelajari sains dan teknologi di kalangan masyarakat Muslim.
  • Melahirkan green teknologi yang ramah lingkungan : umat Islam perlu melahirlkan teknologi yang ramah lingkungan, sehingga akan menjadi golongan penyelamat lingkungan bukan perusak lingkungan.

Ketiga, Penguatan Ekonomi Umat

  • Membangun sistem ekonomi Islam yang adil dan sejahtera: Menerapkan prinsip-prinsip syariah Islam dalam sistem ekonomi, seperti zakat, wakaf, dan mudharabah.
  • Mengembangkan UMKM dan koperasi syariah: Memberikan dukungan dan pembinaan bagi para pelaku UMKM dan koperasi syariah untuk meningkatkan daya saing.
  • Meningkatkan literasi keuangan syariah: Mendidik masyarakat tentang keuangan syariah dan mendorong penggunaan produk-produk keuangan syariah.
  • Membangun kerjasama ekonomi antar negara Muslim: Meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi antar negara Muslim untuk memperkuat ekonomi umat Islam.

Keempat, Kelembagaan dan Kepemimpinan

  • Membangun organisasi dan lembaga Islam yang profesional dan efektif: Membangun organisasi dan lembaga Islam yang memiliki visi misi yang jelas, tata kelola yang baik, dan sumber daya manusia yang kompeten.
  • Mengembangkan kepemimpinan yang visioner dan inspiratif: Mendidik dan membina para pemimpin Muslim yang memiliki integritas, visi yang jelas, dan kemampuan kepemimpinan yang baik.
  • Memperkuat peran ulama dan intelektual Muslim: Memberikan ruang dan kesempatan bagi ulama dan intelektual Muslim untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.
  • Memperkuat organisasi pemuda Islam: Mendorong partisipasi pemuda Islam dalam berbagai kegiatan positif dan membangun persatuan dan kesatuan umat.

Kelima, Memperetat Persatuan dan Kesatuan antar Umat

  • Menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas antar umat Islam: Meningkatkan dialog dan komunikasi antar kelompok dan mazhab Islam untuk memperkuat persatuan.
  • Menyelesaikan konflik internal dengan damai: Menyelesaikan perselisihan dan konflik antar umat Islam dengan cara-cara damai dan dialogis.
  • Membangun kerjasama antar organisasi Islam: Meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar organisasi Islam untuk mencapai tujuan bersama.
  • Memperkuat peran media massa Islam: Membangun media massa Islam yang profesional dan bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi yang benar dan mencerahkan umat Islam.

Keenam, Dakwah dan Pembinaan Umat

  • Menyebarkan dakwah Islam yang ramah dan inklusif: Menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang mudah dipahami dan diterima oleh semua kalangan.
  • Memperkuat pembinaan generasi muda Islam: Memberikan pembinaan dan pendidikan agama yang komprehensif kepada generasi muda Islam untuk menanamkan nilai-nilai keislaman yang kuat.
  • Memanfaatkan teknologi dalam dakwah: Memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk menyebarkan dakwah Islam dengan lebih luas dan efektif.
  • Meningkatkan kualitas dai dan mubaligh: Memberikan pelatihan dan pengembangan profesional bagi para dai dan mubaligh untuk meningkatkan kualitas dakwah.

Ketujuh, Akses Politik dan Kekuasaan

  • Mendorong partisipasi politik umat Islam: Mendorong umat Islam untuk aktif berpartisipasi dalam politik dan kepemimpinan bangsa.
  • Membangun kader pemimpin muslim: Mendidik dan melatih calon pemimpin muslim yang memiliki integritas, kompetensi, dan visi yang jelas.
  • Memanfaatkan akses politik: Memanfaatkan akses politik untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam dan mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Membangun koalisi dengan kekuatan lain: Membangun koalisi dengan kekuatan lain untuk memperkuat posisi politik umat Islam.

Sekali lagi, merekonstruksi peradaban Islam yang unggul dan relevan disegala ruang dan waktu bukanlah tugas yang mudah, hal ini tidak dapat dikerjjakan oleh orang per-orang ataupun komunitas semata, namun diperlukan  kesadaran Bersama dengan tekad yang kuat dan kerjasama yang solid antar sesame umat Islam, maka  mampu mewujudkannya. Sehingga, masa depan gemilang peradaban Islam ada di tangan kita.

Penutup

Bulan Syawal adalah momentum yang tepat untuk memulai merekonstruksi peradaban Islam. Takwa yang diraih di bulan Ramadhan harus menjadi bekal untuk membangun peradaban yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan generasi sesudahnya, dan kemudian disesuaikan dengan dinamika  tuntutan zaman  dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Ingatlah, peradaban Islam yang gemilang tidak tercipta dengan sendirinya. Ia membutuhkan usaha dan komitmen dari seluruh umat Islam untuk mewujudkannya. Sehingga mumpung masih hangat, menjadikan bulan Syawal sebagai awal kebangkitan peradaban Islam yang membawa rahmat dan kedamaian bagi seluruh dunia, merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar. Dam dari sini kita jemput dan songsong kejayaan Islam kembali. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Perjalanan Dua Mujahid Menuju Syahid (2)

0
Almarhum Ustadz Fery Andi dan Ustadz Muhammad Rusydi (Foto: Ist/ hidayatullah.or.id)

[Baca halaman sebelumnya]

AHAD malam, 14 Maret 2024 itu, Ustadz Nasikin tiba tiba terpikir hendak menelpon adiknya Ustadz Fery Andi yang mengemban tugas dakwah di Lampung. Namun saat mengambil HP di saku celana, ada panggilan Bapak Saltani, salah satu jamaah Hidayatullah Lampung yang dikenal dekat dan baik.

Namun Pak Saltani saat menelpon hanya bisa menangis. Tentu saja Ustadz Nasikin heran dan punya firasat mungkin ada kabar ibunya meninggal dunia karena beberapa waktu lalu sempat ibunya dirawat di rumah sakit. Ustadz Nasikin sempat menasehati untuk sabar dan insyaallah kita semua bisa sabar.

Setelah ditenangkan, barulah Bapak Saltani menceritakan bahwa Ustadz Fery Andi, adik Ustadz Naskin, wafat kecelakaan. Betapa kagetnya Ustadz Nasikin dan langsung terisak menangis yang tak tertahankan.

Tidak ada kabar dan firasat apapun sebelumnya. Permintaan terakhir almarhum kepada kakaknya, minta dikirimkan jaket hitam untuk dakwah di Lampung. Selain itu, ia mengabarkan telah membayar zakat fitrah dan membelikan beras untuk orang tuanya.

Ferry Andi alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Ia lulus tahun 2020 dan langsung tugas ke Lampung. Mengingat Fery Andi anak terakhir dari 5 bersaudara dan ibunya sudah sepuh sakit-sakitan.

Fery Andi baru menikah bulan Desember 2023 dengan Nurul Kamilah putri pertama Ustadz Syaiful. Namun setelah menikah tidak langsung kumpul karena istrinya masih harus menyelesaikan pengabdiannya di Hidayatullah Solo.

Rencananya, setelah Syawal ini Fery baru mau dijemput sang istri. Qadarullah, Allah lebih mencintai untuk memanggilnya. Entah bagaimana perasaan istrinya yang ditinggalkannya dan belum sempat berbulan madu.

Fery Andi sejak mahasiswa STIS dikenal oleh dosen dan teman-temannya sebagai mahasiswa yang taat, rajin, dan tak macam-macam.

Selama tugas di Hidayatullah Waykanan sebagai sekretaris DPD dan merangkap banyak pekerjaan. Pekerjaan rutinnya mengasuh santri kecil dari mengajari ngaji, menemani tidur, membangunkan, memandikan, memasakkan, mencuci dan menjemur pakaiannya. Ferry Andi sudah jadi orang tua sebelum menikah dan punya anak.

Meski pekerjaan itu tidak relevan dengan gelar sarjana hukum yang disandangnya, tapi beliau tetap semangat dan tak sedikitpun pernah mengeluh, apalagi merasa guncang.

Apapun pekerjaan yang diberikan berusaha dilaksanakan dengan maksimal. Tidak pernah membantah ataupun menolaknya.

Saat wafat, mushaf al Qur’an masih utuh di saku bajunya. Ketika dilihat batas akhir tilawahnya surat Al Baqarah lembar yang terdapat ayat 154:

{ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن یُقۡتَلُ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوَ ٰ⁠تُۢۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءࣱ وَلَـٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ }

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”

Semoga Allah memberikan pahala syahid dan masuk syurga tanpa hisab. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan hikmah dan pahala sabar.

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Perjalanan Dua Mujahid Menuju Syahid (1)

0
Almarhum Ustadz Fery Andi dan Ustadz Muhammad Rusydi (Foto: Ist/ hidayatullah.or.id)

SALAH satu program Hidayatullah di mana saja adalah membangun kultur silaturrahim kepada siapapun baik itu pejabat, tokoh, dan berbagai elemen masyarakat. Apalagi di bulan Syawal yang dikenal sebagai bulan silaturrahim.

Sore Ahad, 14 Maret 2024, atau hari lebaran kelima, rombongan pengurus Hidayatullah Waykanan hendak silaturrahim. Bapak-bapak naik motor berboncengan dan rombongan ibu-ibu bersama anak-anak naik mobil.

Silaturahim dari Ashar hingga Maghrib. Setelah selesai silaturrahim diusulkan agar ada yang pulang duluan untuk jaga pondok karena kosong dan rawan.

Awalnya hanya Ustadz Fery Andi yang hendak pulang duluan, tapi Ustadz Muhammad Rusydi berinisiatif untuk menemaninya. Akhirnya keduanya berboncengan pulang duluan.

Dalam perjalanan pulang kondisi gelap, gerimis, dan jalan licin. Ternyata ada mobil truk mogok di tengah jalan, bukan di pinggir. Sehingga, motor yang dikendarai Ustadz Rusydi dan Ustadz Fery tak bisa menghindar menabrak truk tersebut dan keduanya langsung wafat di tempat.

Inna lilahi wa inna ilaihi rojiun

Tulisan pertama ini, merangkai cerita dakwah Almarhum Ustadz Muhammad Rusydi sebagai Ketua DPD Hidayatullah Waykanan.

Muhammad Rusydi sejak Mts hingga Aliyah menjadi santri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Sempat lanjut kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok tapi karena sakit hingga pulang ke Penajam Paser Utara.

Setelah sembuh, Rusydi mengabdikan diri menjadi guru dan pengasuh di Sekolah Alam di Manggar Balikpapan. Sempat beberapa tahun membantu mengawal pendidikan di sekolah alam.

Tahun 2012 ikut pernikahan Mubarakah di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Rusydi mendapatkan istri peserta termuda yaitu Anisatul Alifiah putri dari Bapak Imam Thohari dan Ibu Aisyah.

Muhammad Rusydi anak ke tiga dari 6 bersaudara. Dikenal sangat taat sama orang tua dan rajin.

Meski sudah berkeluarga, apapun yang diperintah ibunya maka tetap dijalankan, tanpa membantah dan mengeluh sedikitpun.

Tahun 2020 akhir atau pasca Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah, Muhammad Rusydi dan keluarga mendapatkan tugas dakwah ke Lampung.

Awalnya berat karena jauh dari Kalimantan ke Sumatera. Anak sudah tiga dan sebelumnya meninggal dua. Tapi karena jiwa santri dan mental kadernya maka beliau tetap berangkat tugas dakwah.

Meski baru pertama tugas dan menjadi ketua DPD Waykanan, tapi beliau bisa menjadi katalisator dakwah. Setiap hari programnya silaturahim ke tokoh dan rumah-rumah masyarakat sekitar. Mengisi kajian di mushola dan masjid sekitar

Wajar beliau sangat dikenal dan dekat dengan masyarakat dan pejabat. DPW sempat berencana memindahkan beliau ke DPD Pesawaran tapi masyarakat keberatan dan tidak setuju sehingga tak jadi dimutasi.

Di mata DPW Lampung, Muhammad Rusydi dan Fery Andi adalah motor penggerak dakwah yang layak dijadikan teladan. Meski kondisi fasilitas dan finansial terbatas tapi tetap semangat dan tidak banyak menuntut.

Banyak kemajuan dan gebrakan dakwah yang dilakukan sejak datang ke Hidayatullah Waykanan. Keuletan dan kegigihannya yang menopang langkah dakwahnya.

Masyarakat, keluarga, dan teman-temannya merasa sangat kehilangan dengan wafatnya Muhammad Rusydi. Beliau dikenal taat, rajin, sederhana, ramah, tekun dan baik dalam bergaul.

Muhammad Rusdi wafat dengan meninggalkan satu istri dan 4 anak.
Anak pertama, Fathun Mubarok, 10 tahun kelas : 4 SD. Beberapa waktu juara tahfidz mewakili desa juara di kecamatan dan seharusnya bulan depan maju ke lomba tingkat kabupaten.

Anak kedua, Na’ilah Althafunnajdah, 7 tahun masih TK besar. Anak ketiga, Muhammad Ammar Mubarok, 4 tahun. Anak keempat, Naura Aulia Salsabila, 3 tahun.

Semoga Allah memberikan ampunan dan pahala kebaikan kepada beliau serta kedudukan yang mulia yaitu syurga kepada Muhammad Rusydi. Keluarga yang ditinggalkan mendapatkan hikmah dan kesabaran yang besar.

[Baca halaman selanjutnya]

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Spirit Halal Bihalal dan Menetapi Ketakwaan Kita

0

ATAS gagasan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah yang merespon dinamika politik yang muram pada masa itu, usai shalat Idul Fitri pada 1948, Bung Karno mengundang silaturrahim sejumlah tokoh politik. Perjumpaan itu kemudian yang populer hingga kini dinamai halal bihalal.

Silaturrahim pasca Ramadhan khas Indonesia halalbihalal itu bisa dimaknai sebagai perayaan umat Islam atas suksesnya meraih predikat yang disiapkan oleh madrasah Ramadhan yaitu insan bertakwa dan tentu saja berharap bagaimana kualitas manusia takwa tetap menjadi amalan harian pribadi muslim.

Sosok insan yang bertakwa telah diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana tertuang dalam ayat berikut:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ. وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”

Jadi, ada lima ciri orang bertakwa yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya pada Al Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 134-135 di atas, yaitu:

Pertama: Orang yang selalu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan sempit/ miskin

Ciri ini menegaskan orang bertakwa selalu mengeluarkan hartanya di jalan Allah meski dalam keadaan miskin atau berkecukupan. Mereka berinfak sesuai dengan kesanggupannya.

Menafkahkan harta itu tidak diharuskan dalam jumlah yang ditentukan sehingga ada kesempatan bagi si miskin untuk memberi nafkah.

Bersedekah boleh saja dengan barang atau uang yang sedikit nilainya, karena itulah apa yang dapat diberikan tetap akan memperoleh pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mukminin bahwa dia bersedekah dengan sebiji anggur, dan di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang bersedekah dengan sebiji bawang. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Bagi orang kaya dan berkelapangan tentulah sedekah dan dermanya harus disesuaikan dengan kesanggupan.

Sungguh amat janggal bahkan memalukan bila seorang yang berlimpah-limpah kekayaannya hanya memberikan derma dan sedekah sama banyaknya dengan pemberian orang miskin. Ini menunjukkan bahwa kesadaran bernafkah belum tertanam di dalam hatinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا ۚ سَيَجْعَلُ ٱللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Sifat kikir yang tertanam dalam hati manusia hendaklah diberantas dengan segala macam cara dan usaha, karena sifat ini adalah musuh masyarakat nomor satu. Tak ada satu umat pun yang dapat maju dan hidup berbahagia kalau sifat kikir ini merajalela pada umat itu.

Sifat kikir bertentangan dengan perikemanusiaan. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menafkahkan dan menjelaskan bahwa harta yang ditunaikan zakatnya dan didermakan sebagiannya, tidak akan berkurang bahkan akan bertambah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ

AIlah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. (QS. Al-Baqarah: 276)

Imam Gazali menjelaskan bahwa memerangi suatu sifat yang buruk haruslah dengan membiasakan diri melawan sifat itu.

Jadi, kalau orang akan memberantas sifat kikir dalam dirinya hendaklah dia membiasakan berderma dan memberi pertolongan kepada orang lain. Dengan membiasakan diri akan hilanglah sifat kikirnya dengan berangsur-angsur.

Kedua: Orang yang menahan amarahnya

Biasanya orang yang memperturutkan rasa amarahnya tidak dapat mengendalikan akal pikirannya dan ia akan melakukan tindakan tindakan kejam dan jahat.

Sehingga, apabila dia sadar telah melakukan tindakan melampaui batas pasti menyesali tindakan yang dilakukannya itu dan dia akan merasa heran mengapa ia bertindak sejauh itu.

Oleh karenanya, bila seseorang dalam keadaan marah hendaklah ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa amarahnya lebih dahulu.

Apabila ia telah menguasai dirinya kembali dan amarahnya sudah mulai reda, barulah ia melakukan tindakan yang adil sebagai balasan atas perlakuan orang terhadap dirinya.

Apabila seseorang telah melatih diri seperti itu maka dia tidak akan melakukan tindakan tindakan yang melampaui batas, bahkan dia akan menganggap bahwa perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya itu mungkin karena khilaf dan tidak disengaja dan ia akan memaafkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa menahan amarah itu suatu jalan ke arah takwa. Orang yang benar-benar bertakwa pasti akan dapat menguasai dirinya pada waktu sedang marah.

Siti Aisyah pernah menjadi marah karena tindakan pembantunya, tetapi beliau dapat menguasai diri, karena sifat takwa yang ada padanya. Beliau berkata, “Alangkah baiknya sifat takwa itu, ia bisa menjadi obat bagi segala kemarahan.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun pernah bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa:

ليسَ الشَّدِيدُ بالصُّرَعَةِ، إنَّما الشَّدِيدُ الذي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah yang dapat membanting lawannya tetapi orang yang benar-benar kuat ialah orang yang dapat menahan amarahnya”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَا غَضِبُوا۟ هُمْ يَغْفِرُونَ

“.. Dan apabila mereka marah segera memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37)

Ketiga: Orang yang memaafkan kesalahan orang lain

Memaafkan kesalahan orang lain sedang kita sanggup membalasnya dengan balasan yang setimpal, adalah suatu sifat yang baik yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Mungkin hal ini sulit dipraktekkan karena sudah menjadi kebiasaan bagi manusia membalas kejahatan dengan kejahatan.

Tetapi, bagi manusia yang sudah tinggi akhlak dan kuat imannya serta telah dipenuhi jiwanya dengan ketakwaan, maka memaafkan kesalahan itu mudah saja baginya.

Mungkin membalas kejahatan dengan kejahatan masih dalam rangka keadilan tetapi harus disadari bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan pula tidak dapat membasmi atau melenyapkan kejahatan itu. Mungkin dengan adanya balas membalas itu kejahatan akan meluas dan berkembang.

Bila kejahatan dibalas dengan maaf dan sesudah itu diiringi dengan perbuatan yang baik, maka yang melakukan kejahatan itu akan sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang sangat buruk dan tidak adil terhadap orang yang bersih hatinya dan suka berbuat baik. Dengan demikian dia tidak akan melakukannya lagi dan tertutuplah pintu kejahatan.

Keempat: Orang yang berbuat baik

Berbuat baik termasuk sifat orang yang bertakwa. Maka, disamping memaafkan kesalahan orang lain, hendaklah memaafkan itu diiringi dengan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ada seorang jariah (budak perempuan) milik Ali bin Husain menolong tuannya menuangkan air dari kendi untuk mengambil wudhu. Kemudian kendi itu jatuh dari tangannya dan pecah berserakan. Lalu Ali bin Husain menatap mukanya seakan-akan dia marah. Budak itu berkata, “Allah berfirman:

وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ

.. Dan orang-orang yang menahan amarahnya … (Ali ‘Imran [3:134]).”

Ali bin Husain menjawab, “Aku telah menahan amarah itu.” Kemudian budak itu berkata pula, “Allah berfirman:

وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ

.. Dan memaafkan (kesalahan) orang lain… (Ali ‘Imran [3:134]).”

Dijawab oleh Ali bin Husain, “Aku telah memaafkanmu.” Akhirnya budak, itu berkata lagi, “Allah berfirman:

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

.. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Ilmran [3:134]).”

Ali bin Husain menjawab, “Pergilah kamu aku telah memerdekakanmu,” demi mencapai keridaan AIlah.

Demikianlah tindakan salah seorang cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap kesalahan seorang budak karena memang dia orang yang mukmin yang bertakwa.

Tidak saja dia memaafkan kesalahan budaknya bahkan pemberian maaf itu diiringinya dengan berbuat baik kepadanya dengan memerdekakannya.

Kelima: Orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri kemudian mereka segera meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulangi lagi perbuatan itu

Para mufasir membedakan antara perbuatan keji (fahisyah) dengan menganiaya diri sendiri (dzhulm). Mereka mengatakan, perbuatan keji ialah perbuatan yang bahayanya tidak saja menimpa orang yang berbuat dosa tetapi juga menimpa orang lain dan masyarakat.

Menganiaya diri sendiri ialah berbuat dosa yang bahayanya hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakan saja. Perbuatan keji seperti berzina, berjudi, memfitnah dan sebagainya. Perbuatan menganiaya diri sendiri seperti memakan makanan yang haram, memboroskan harta benda, menyia-nyiakannya dan sebagainya.

Mungkin seorang muslim telanjur mengerjakan dosa besar karena kurang kuat imannya, karena godaan setan atau karena sebab sebab lain, tetapi ia segera insaf dan menyesal atas perbuatannya kemudian ia memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertobat dengan sebenar-benar tobat.

Serta, ia juga berjanji kepada diri sendiri tidak akan mengerjakannya lagi. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya karena Allah adalah Maha Penerima tobat dan Maha Pengampun.

Bila seseorang berbuat dosa meskipun yang diperbuatnya itu bukan dosa besar tetapi mengerjakan terus menerus tanpa ada kesadaran hendak menghentikannya, tak ada pula penyesalan serta keinginan hendak bertobat kepada Allah, maka dosanya itu menjadi dosa besar. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

ولاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus” (Riwayat ad-Dailami dan dari Ibnu Abbas)

Meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan sekadar mengucapkan kalimat “Aku memohon ampunan kepada Allah”, tetapi harus disertai dengan penyesalan serta janji kepada diri sendiri tidak akan mengerjakan dosa itu lagi. Inilah yang dinamakan taubat nasuha, taubat yang diterima oleh AIlah.

Pahala mereka yang mempunyai sifat-sifat seperti itu, demikian tafsir Prof. Dr. AG. K.H. Al-Habib Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A, atas QS.3: 136, adalah ampunan yang besar dari Tuhan dan surga-surga yang dialiri bermacam-macam sungai di antara pohon-pohonnya. Di sana mereka akan hidup kekal selamanya. Itulah sebaik-baiknya pahala bagi orang-orang yang mengerjakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berhalalbihalal menjadi momentum untuk mengingatkan keutaman nilai nilai takwa ini. Dan, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kekuatan pada kita untuk istiqamah menetapi nilai takwa yang telah kita raih pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu.[]

*) Ust Nursyamsa Hadis, penulis adalah da’i Hidayatullah

[Khutbah Jum’at] Istiqamah Pasca Ramadhan

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Dengan kerendahan hati marilah kita bersama-sama merenungkan nikmat yang tiada terhingga dari Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nikmat-Nya yang melimpah telah mengaruniakan kepada kita kesempatan berharga ini, di mana kita dapat menapaki perjalanan spiritual yang mengasyikkan: bulan suci Ramadhan.

Betapa dalamnya rasa syukur yang tersemat di lubuk hati kita atas izin-Nya untuk bernafas, bergerak, dan merasakan keindahan dunia ini. Betapa besar kasih sayang-Nya yang tak terbatas, yang memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, dan meraih ketinggian spiritual dalam bulan penuh keberkahan Ramadhan yang baru saja kita lewati.

Tak lupa, mari kita haturkan pula shalawat dan salam kepada utusan-Nya, Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah menjadi panutan terang bagi seluruh umat manusia. Teladan mulia yang membimbing kita dalam setiap langkah kehidupan, menunjukkan jalan kebaikan dan kasih sayang.

Kita, umat yang beruntung merasakan indahnya bulan suci ini, memiliki tanggung jawab suci untuk menyebarkan keberkahan kepada yang membutuhkan. Mari kita teruskan spirit berkah Ramadhan dengan membuka pintu hati kita bagi sesama, dengan memberi tangan kepada yang lemah, dan dengan menyalakan cahaya kasih di setiap sudut dunia yang gelap.

Mari kita bersama-sama melangkah, dengan tekad bulat dan hati yang tulus, untuk menjadi perwujudan nyata dari ajaran kasih dan kebaikan yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Usai menjalani dan menikmati ibadah-ibadah kita di bulan suci Ramadhan kemarin, kita tetap meyakini bahwa akhir Ramadhan bukanlah pertanda perjuangan ibadah juga turut berakhir.

Bahkan sebaliknya, sejak berjumpa dengan Syawal sebagai bulan pertama setelah Ramadhan, komitmen beribadah menjadi taruhan apakah ibadah-ibadah yang kita lakoni di bulan Ramadhan sekedar euforia sesaat, terbawa arus suasana Ramadhan ataukah ibadah yang lahir dari komitmen iman yang utuh.

Keistiqamahan yang telah terbentuk jauh sebelum Ramadhan tiba bagai pulpen bertemu tutupnya, Ramadhan tampil sebagai penyempurna semangat beribadah yang telah menghunjam sebelumnya di hati kita.

Olehnya itu Imam Ibnu Rajab al Hambali menegaskan dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif, bahwa Ramadhan adalah bulan menanam benih dan bulan setelahnya adalah untuk memanen hasil dari benih yang ditanam di bulan Ramadhan.

Maka hasil dari kebaikan dan kesempurnaan benih yang tertanam di bulan Ramadhan, pembuktiaan serta peragaannya ada di bulan Syawal dan bulan-bulan setelahnya hingga kita berjumpa dengan Ramadhan di tahun berikutnya.

Jikalau itu terwujud, itulah bukti bahwa taqwa telah menjadi karakter diri kita yang menjadi hasil perjuangan saat Ramadhan kemarin.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Meski kita juga menyadari bahwa istiqamah dalam ibadah atau kebaikan bukanlah hal mudah.

Apatah lagi suasana Ramadhan yang disebut sebagai syahrul ibadah atau bulan ibadah tidak membersamai kita, tidak gampang menjadi sosok yang Mustaqim atau konsisten sebab arus godaan untuk berbelok juga tak kalah derasnya.

Jauh-jauh hari syetan telah memberi warning dan diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al A’raf ayat 17:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian saya akan datangi mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka hingga Engkau tidak akan mendapati banyak dari mereka yang bersyukur (taat)”

Maka wajar jika kita harus meratap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memohon keistiqamahan hati agar irama ibadah yang telah kita bangun saat Ramadhan kemarin tak menjadi istana pasir, hancur dan larut diterpa ombak godaan yang didesain rapi oleh syetan la’natullah ‘alaihi.

Untuk itu, minimal 17 kali kita bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ihdinashshiraatal mustaqiim!. Berikan kami kekuatan hati agar mampu mempertahankan nikmat beribadah yang telah Engkau berikan saat Ramadhan kemarin!

Sebab, jika bukan karena hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kita akan kalah oleh syetan. Kita pasti terkapar, tak mampu melawan jika Allah tidak memberikan pendampingan dan hidayah-Nya.

Dan, akhirnya, ibadah yang kita lakoni sebulan penuh dimomen Ramadhan hanyalah menjadi kenangan musiman bahwasanya kita pernah berpuasa, kita pernah rajin ke masjid, kita pernah akrab dengan al Qur’an yang kemudian semua itu tiada tersisa di 11 bulan selanjutnya. Na’udzu billahi min dzalik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk menjaga konsistensi ibadah yang telah terbangun di bulan Ramadhan kemarin:

Pertama, banyak berdoa atau memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Pemilik hati seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah al Qashash ayat 56:

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ

“…tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..”

Kedua, membangun kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga sebab komitmen ibadah dapat dipengaruhi oleh suasana di rumah.

Jika suasana yang terbangun di rumah adalah suasana ibadah maka besar kemungkinan komitmen ibadah juga tetap terjaga.

Namun, jika suasana ibadah tidak terlihat di rumah, maka kita membutuhkan kerja yang lebih keras untuk membangunnya, alih-alih kita juga akan larut dan komitmen ibadah perlahan akan redup.

Ketiga, menyeleksi segala alur yang bisa membelokkan hati. Teman bergaul, fasilitas teknologi, hobby dan selainnya tidak lagi berbasis kemauan tapi berbasis kebutuhan.

Jika berpotensi dapat meruntuhkan komitmen ibadah maka lakukan screening ketat bahkan blacklist sebab kebutuhan terhadap instrumen keimanan jauh lebih mendasar dibanding instrumen hobby, passion, dan sejenisnya.

Keempat, berkomitmen untuk mau memaksa diri dengan rundown ibadah yang stabil. Istiqamah adalah hasil dari kebiasaan yang terjaga hingga pemaksaan diri.

Ummul Mukminin Aisyah meriwayatkan peringatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَحَبُّ الأعْمَالِ إلى اللهِ أدْوامُهَا وَ إِنْ قَلَّ

“Amalan yang Allah paling cintai adalah yang stabil meski tidak banyak secara kuantitas” (HR. Bukhari Muslim)

Olehnya itu, marilah kita berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan hidayah-Nya dalam bentuk keistiqamahan atau konsistensi beribadah yang menjadi salah satu alat ukur keberhasilan Ramadhan yang baru saja kita lalui beberapa hari lalu.

DOA PENUTUP

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Reuni Akbar Alumni Ar Rohmah, Al-Izzah, dan Luqman Al-Hakim Luncurkan Himmah Foundation

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sejumlah tokoh pendidikan Jawa Timur baru-baru ini menggelar acara Reuni Akbar Alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Ma’had Ar Rohmah Putra-Putri Malang, Ma’had Al-Izzah Batu, dan Ma’had Luqman Al-Hakim Surabaya meresmikan Himmah Foundation, Sabtu (6/4/2024).

Acara yang berlangsung di Masjid al-Madani, Perumahan Pakuwon City, Surabaya itu dihadiri oleh berbagai tokoh terkemuka, di antaranya Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D., mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) periode 2014-2019.

Hadir pula Dr. Ali Imron, pendiri Al-Izzah Boarding School, Batu, Abdul Kodir Baraja, tokoh pendidikan Surabaya, dan Drs. Aep Syaifudin, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya, serta lainnya.

Dalam sambutannya, Dr. Ali Imron sebagai inisiator Himmah Foundation, menjelaskan bahwa berdirinya lembaga tersebut adalah respons terhadap keprihatinan para tokoh Jawa Timur terhadap tantangan globalisasi yang terjadi saat ini.

“Pertumbuhan dunia modern menghadirkan sejumlah tantangan, termasuk perubahan geopolitik yang berdampak pada sistem sosial-budaya,” kata Ali Imron.

Oleh karena itu, peraih gelar doktor pendidikan dari UIN Malang ini menegaskan, diperlukan generasi yang memiliki karakter sesuai dengan ajaran Al-Quran, dengan pendekatan yang holistik dan terpadu untuk menghadapi tantangan ini.

Indra Rouf, S.Pd.I, Ketua Himmah Foundation, menambahkan bahwa di antara program awal organisasi tersebut adalah mendirikan Rumah Peradaban bagi mahasiswa serta aktif dalam penelitian dan kajian strategis, terutama dalam bidang kepemimpinan.

“Kami ingin benar-benar mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045, sehingga para pemimpin di masa depan benar-benar profesional dan berintegritas,” kata Indra.

Inda menyebutkan, langkah tersebut telah dimulai pihaknya saat ini dengan mendampingi mereka dalam Rumah Peradaban, inkubator kepemimpinan, dan penelitian strategis untuk kepentingan nasional serta kemitraan sosial-ekonomi.

Acara peluncuran Himmah Foundation dihadiri oleh ribuan peserta, termasuk alumni pesantren, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Malang, serta jamaah masjid al-Madani, Pakuwon City, Surabaya.

Sirojudin Kholil Muhammad, mahasiswa jurusan Teknik Biomedis UNAIR, menyambut baik acara tersebut sebagai ajang untuk menjalin silaturahim antar generasi alumni dan antar sekolah (ma’had), serta sebagai inspirasi bagi generasi muda mendatang.

Himmah Foundation mengajak seluruh talenta muda Indonesia, terutama mahasiswa, untuk turut serta dalam mencetak pemimpin Indonesia yang berkarakter melalui https://bit.ly/MemberHF atau WA 085706103379. (ybh/hio)

[Khutbah Jum’at] Meraih Kemenangan Hakiki di Penghujung Ramadhan

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Segala pujian dan sanjungan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, pemberi pertolongan dan ampunan kepada hamba-Nya yang mau beribadah kepada-Nya.

Kami memohon perlindungan-Nya dari kejahatan jiwa dan keburukan amal. Dia-lah pemberi petunjuk dan yang mampu menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa seorang pun kuasa menolaknya.

Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, tiada sekutu apapun bagi-Nya. Dan kami bersaksi jua bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah hamba dan utusan-Nya.

Selanjutnya khotib berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada Jama’ah shalat Jumat seluruhnya agar senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berusaha bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat senang dan di saat susah, di kala lapang dan sempit, di waktu sehat dan sakit, di tengah-tengah banyak orang atau pun di saat sendirian dan semasa masih muda dan setelah kita tua.

Sesungguhnya, bekal terbaik untuk pulang ke akhirat sebagai tempat tinggal abadi adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing, memudahkan dan memampukan kita semuanya agar bisa menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sekedar di bibir semata.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Alhamdulillah, hari-hari ini kita telah memasuki penghujung bulan Ramadhan 1445 Hijriyah. Bulan istimewa yang di dalamnya penuh barokah dan ampunan ini akan segera meninggalkan kita.

Oleh karenanya, di penghujung Ramadhan ini, marilah kita merenungkan sejenak, sudahkah syarat-syarat untuk meraih kemenangan di bulan yang mulia ini sudah kita pegang dan miliki? Ataukah kita tidak mampu memaksimalkan potensi Ramadhan yang begitu besar itu?

Kemenangan di bulan Ramadhan bukan hanya diukur secara kuantitatif belaka, seperti seberapa banyak harta yang kita sedekahkan, berapa banyak tarawih yang kita laksanakan, atau berapa banyak juz Al-Qur’an yang telah kita khatamkan.

Kemenangan hakiki dalam konteks ini adalah ketika kita di penghujung Ramadhan ini, berhasil meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya menjadi suri teladan terbaik bagi kita dalam meraih kemenangan di bulan Ramadhan.

Di penghujung Ramadhan seperti ini, mereka justru semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah mereka. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di sepuluh hari terakhir Ramadhan melaksanakan i’tikaf di masjid, lebih rajin shalat malam (qiyamul lail), lebih giat beribadah, lebih banyak tilawah Al-Quran serta lebih dermawan. Beliau bahkan mengikat pinggangnya sebagai tanda keseriusan dalam beribadah.

Para sahabat pun tak mau ketinggalan. Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu berkata, “Telah datang kepada kami bulan yang penuh berkah, kemudian ia pergi meninggalkan kami. Maka, bersedihlah orang yang tidak mendapatkan kebaikan darinya.”

Sementara itu, Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lebih giat beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan daripada di hari-hari lainnya.” Demikian juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat lainnya serta generasi shalafush shaleh.

Mereka menghabiskan malam Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon ampunan dan keberkahan.

Bahkan ada perasaan takut ditinggalkan Ramadhan, sebagaimana disampaikan oleh Ibn Rajab Al-Hanbali, “Mereka menangis ketika Ramadhan berakhir karena mereka menyadari akan keagungan dan keistimewaan bulan tersebut, serta merasa sedih meninggalkannya karena mereka takut bahwa amal ibadah mereka selama bulan itu tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga memiliki harap-harap cemas. Mereka bertanya pada diri sendiri, apakah ibadah mereka selama Ramadhan sudah mencukupi? Apakah amal ibadah mereka telah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan yang paling penting, apakah mereka masih akan diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan berikutnya?

Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama terkemuka, menangis ketika Ramadhan akan berakhir. Beliau berkata, “Ya Allah, Engkau telah mempertemukan kami dengan Ramadhan, dan kami telah beramal di dalamnya dengan kemampuan kami. Ampunilah dosa-dosa kami dan terimalah amal kami.”

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Di penghujung Ramadhan ini, mari kita merenungkan tentang bagaimana kita telah menjalani bulan yang penuh berkah ini. Mari kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi amal ibadah kita, dan memperbaiki diri sebelum bulan Ramadhan berlalu.

Kita tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya, oleh karena itu, manfaatkanlah setiap kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meraih kemenangan hakiki. Kemenangan atas hawa nafsu, dan kemenangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita tingkatkan kualitas dan kuantitas Ramadhan seperti:

Pertama, Memperbanyak shalat malam dan tadarus Al-Qur’an

Shalat malam (qiyamul lail) merupakan amalan yang sangat istimewa di bulan Ramadhan. Di malam-malam terakhir Ramadhan, terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Tadarus Al-Qur’an juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Dengan membaca Al-Qur’an, kita dapat membaca terjemah dan tafsirnya, memahami isi kandungannya dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, Keluarkan zakat maal, zakat fitrah dan sedekah

Zakat maal adalah kewajiban yang harus dikeluarkan dari hart akita yang telah memenuhi nishab dan haul. Sementara zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap umat Islam yang mampu.

Zakat fitrah dapat membantu membersihkan diri dari dosa dan membantu fakir miskin. Sedangkan, sedekah juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan.

Dengan bersedekah, kita dapat membantu orang lain yang membutuhkan dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salurkanlah kepada Lembaga Amil Zakat yang resmi dan terpercaya.

Ketiga, Beriktikaf di masjid

Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itikaf dapat dilakukan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dengan beriktikaf, menciptakan suasana yang kondusif untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah karena berada di masjid.

Keempat, Memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Doa adalah senjata orang mukmin. Di bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu ampunan-Nya selebar-lebarnya. Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima segala amal ibadah kita, mengampuni segala dosa kita, dan memberikan kita kekuatan untuk tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan berakhir. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Marilah kita optimalkan dan maksimalkan sisa sisa Ramadhan kali ini dengan ibadah ibadah yang telah disyariatkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, agar ibadah kita tidak sia-sia, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari” (HR. Ahmad 2: 373)

Sekali lagi, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meraih kemenangan hakiki. Kemenangan yang tidak hanya diraih di bulan Ramadhan, tetapi juga kemenangan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudaraku yang insyaa Allah dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah di penghujung Ramadhan ini kita doakan juga untuk kebaikan bagi bangsa dan negara kita agar lebih adil, makmur, aman dan sejahtera. Serta kita tingkatkan doa-doa kita untuk saudara-saudara kita di Palestina, agar mendapatkan kemerdekaan dan kemenangan yang hakiki.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita kekuatan dan keistiqamahan untuk meraih kemenangan di bulan Ramadhan ini. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Mitra Dai Nusantara Beri Apresiasi untuk Santri Tahfidz asal Filipina

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Di bulan Ramadhan penuh berkah ini Mitra Dai Nusantara (MDN) menguatkan semangat “Berbagi kebaikan tanpa batas” berupa apresiasi dengan menyalurkan program uang saku untuk santri Tahfidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad asal Filipina.

“Semangat berbagi kebaikan tanpa batas digelorakan oleh MDN selama bulan Ramadhan. Berbagai program penyaluran bantuan sebagai wujud kepedulian kepada sesama terus dilakukan,” kata Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan MDN, Ust. Musawwir, S.Pd, dalam keterangannya kepada media ini, Selasa, 22 Ramadhan 1445 (2/4/2024).

Bentuk kepedulian itu mulai dari penyaluran donasi untuk berbuka bersama masyarakat marginal kota Surabaya, takjil keliling, Sahur on the road, santunan di kampung Pemulung, sampai penyaluran program bingkisan untuk dai tangguh.

Pada momen 10 hari terakhir Ramadhan ini, MDN kembali menebar kebaikan sebagai penguat semangat “Berbagi Kebaikan Tanpa Batas” bersama Santri Tahfidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad.

Secara khusus, terang Musawwir, MDN memberikan bantuan berupa uang saku untuk santri Tahfidz 30 Juz Bersanad. Farhat Sutan Unas menjadi salah satu santri tahfidz yang merasakan kebermanfaat dari program tersebut.

Santri asal Desa Bayan, Kota Lungsod, provinsi Lalawigan, Filipina tersebut merupakan santri program Thafidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad yang menjadi binaan MDN.

Semangat dan kesungguhan pemuda cerdas tersebut sangat terlihat selama kegiatan pembelajaran di program Thafidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad. Hal itu dikuatkan dengan pencapaian hafalan Al Qur’an yang telah ia selesaikan yaitu sudah selesai di juz 17.

Farhat merupakan santri program Thafidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad yang berasal dari laur negeri.

Kedatangannya ke Indonesia bukan semata karena keluarganya mempunyai finansial yang lebih. Namun hadirnya ia di Surabaya berproses di program Tahfidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad karena ada beasiswa prestasi yang ia terima.

Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada MDN yang telah berbagi kebahagian sebagai bentuk kepedulian kepadanya. Ucapan tersebut disampaikan dalam bahasa asli Filipina.

“Nagpasalamat sa Mitra Dai Nusantara nga naghatag sa amo ug allowance. InsyaAllah kini dako kaayo nga naka-tabang kanamo. Nahimong gamiton alang sa mga panginahanglan sama sa pagpalit sa sabon, pagsagol- sagol, ug uban pa”.

Sementara itu Ust. Heman Sutaman, Lc selaku direktur program Tahfidz Al Qur’an 30 Juz Bersanad mengucapkan rasa syukurnya karena akhirnya santrinya mendapatkan uang saku di bulan Ramadhan ini.

Mengingat santri yang bersangkutan sangat membutuhkan apalagi juga tidak mudik ke Filipina. Pria asal pulau Garam tersebut berharap program uang saku tersebut bisa rutin diberikan.

“Alhamdulillah akhirnya di Bulan Ramadhan ini bisa dapat uang saku juga. InsyaAllah sangat membantu apalagi dia tidak mudik ke Filipina. Kami berharap program ini bisa rutin dilakukan MDN dan senantiasa mendapat kemudahan dan kelancaran,” tukasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Organisasi itu Connecting the Dots

DALAM perspektif organisasi, konsep “connecting the dots” merupakan sebuah paradigma tentang bagaimana setiap bagian dari organisasi saling terkait dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Konsep “connecting the dots” menjadi sebuah filosofi yang relevan dalam mengoptimalkan peran organisasi. Frasa ini dipopulerkan oleh Steve Jobs, pendiri Apple, yang menekankan pentingnya menyatukan berbagai elemen dan sumber daya yang nampaknya tidak saling terkait, untuk disatukan dalam rangka mencapai hasil yang luar biasa.

Dalam pidatonya di Universitas Stanford tahun 2005, Jobs menjelaskan bahwa menghubungkan titik-titik berarti melihat pola dan hubungan di antara berbagai hal yang tampaknya tidak terkait. Kemampuan ini memungkinkannya untuk menciptakan produk-produk inovatif seperti  Komputer Mac, iPod, iPhone, dan iPad.

Jobs menceritakan bagaimana ia keluar dari perguruan tinggi dan mengikuti kata hatinya, yang membawanya ke berbagai pengalaman yang tampaknya tidak terhubung. Namun, bertahun-tahun kemudian, ia menyadari bahwa pengalaman-pengalaman itu ternyata saling terkait dan membentuknya menjadi seorang inovator  dan inventor yang sukses.

Ia juga berkisah bagaimana saat kuliahnya yang singkat itu, ia di kelas mempelajari kaligrafi dan tipografi, yang pada akhirnya berkontribusi pada desain produk Apple yang estetis dan intuitif. Kemampuannya untuk melihat pola dan menghubungkan titik-titik yang seemingly unrelated inilah yang menjadi kunci kesuksesannya.

Memahamahi Connecting The Dots dalam Perpekstif  Organisasi Islam

Konsep “connecting the dots” juga relevan dengan organisasi Islam. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan merasakan sakit pula dengan demam dan berjaga-jaga.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa umat Islam harus saling terhubung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Seperti tubuh yang utuh dimaksudkan hanya jika setiap anggota tubuhnya bekerja sama dengan baik, demikian juga sebuah organisasi Islam hanya dapat berhasil jika setiap individu dalam komunitasnya berkolaborasi dan bersinergi.

Hal ini menekankan pentingnya kerja sama, kebersamaan, dan keterhubungan dalam mencapai tujuan bersama, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam tentang solidaritas dan ukhuwah. Dalam organisasi Islam, “connecting the dots” bukan hanya tentang mengelola proses bisnis dalam organisasi atau dalam rangka mencapai keunggulan kompetitif, tetapi juga tentang membentuk sebuah ikatan komunitas yang kuat dan harmonis, yang saling mendukung dan memperkuat satu sama lain dalam kebaikan.

Sehingga dalam organisasi Islam, menghubungkan berbagai elemen seperti pengurus, anggota, program-program, dan tujuan-tujuan adalah kunci untuk mencapai visi yang diinginkan. Keterkaitan yang kuat antara anggota organisasi, seperti yang diilustrasikan dalam sabda Nabi di atas, semestinya menjadi landasan yang kokoh untuk kesuksesan dan keberlanjutan organisasi.

Selain itu, “connecting the dots” juga mencakup ide untuk melihat gambaran yang lebih besar dan memahami bagaimana setiap bagian organisasi saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap keseluruhan. Mereka tidak bisa berdiri sendiri, sebab sejatinya saling terhubung dalam sebuah ikatan organisasi itu sendiri.

Hal ini mengharuskan organisasi untuk memiliki kepemimpinan yang adaptif, visi yang jelas, komunikasi yang efektif, serta koordinasi yang baik antara semua bagian. Ketika organisasi mampu menghubungkan setiap titik atau elemen dengan bijaksana, mereka dapat menciptakan jalinan yang kuat, dinamis, dan berkelanjutan yang membawa mereka menuju keberhasilan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bagaimana mengimplementasikannya?

Dengan demikian, menjadikan connecting the dots, dengan mempertemukan titik-titik yang seolah berserak dan tidak saling terkoneksi itu, membutuhkan strategi khusus, guna mendapatkan hasil yang maksimal. Beberapa cara yang dapat ditempuh, setidaknya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, kepemimpinan yang visioner :  Dengan kepemimpinan yang visoner, seorang pemimpin akan dapat memandu organisasinya dengan melihat dan memperediksi apa yang terjadi di masa depan. Sehingga dia dapat mencarikan titik temu berbagai hal yang terserak menjadi saling terkoneksi. Pada saat bersamaan dia mampu mengkapitalisasi berbagai tantangan menjadi peluang dan program-program  yang dapat dicapai.

Kedua, membangun komunikasi yang efektif: Saluran komunikasi yang terbuka dan transparan antar anggota organisasi sangat penting untuk memastikan pemahaman yang sama terhadap tujuan dan strategi. Dengan model komunikasi yang dua arah akan memberikan ruang bagi setiap anggota bahkan mereka yang diluar anggota, dapat mendapatkan informasi yang benar dan utuh, serta dapat menyampaikan ide dan gagasannya. Sehingga menimbulkan ketertarikan untuk menjadi bagian dari organisasi.

Ketiga, mengembangkan program dan kegiatan yang kolaboratif: Sinergi dengan berbagai pihak akan terus digalakkan, termasuk antar organisasi Islam dalam berbagai program dan kegiatan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan bersama. Model seperti ini secara langsung atau tidak langsung, akan memperkenalkan viisi, misi, program dan jatidiri organisasi untuk berinteraksi dengan pihak eksternal, sehingga dapat menemukan common platform yang bisa dikerjasamakan.

Keempat, menumbuhkan budaya belajar dan berbagi cara: Mendorong anggota organisasi untuk saling belajar dan berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dapat memperkuat kapasitas organisasi secara keseluruhan. Pada akhirnya akanmenjadi learning organization (organisasi pembelajar) untuk menerapkan knowledge management (manajemen pengetahuan), di mana tradisi dan budaya keilmuan menjadi bagian penting bagi organisasi. Ini akan menciptakan open mind bahkan critical thinking bagi seluruh pengurus organisasi, sehingga menciptakan organisasi yang egaliter dan inklusif, yang mampu merespon dengan cara yang memadai untuk selanjutnya beradaptasi dengan perubahan. Hal ini akan memungkinkan organisasi menjadi wadah yang menyenangkan berbagai kalangan.

Kelima, memanfaatkan teknologi: Platform digital dan media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk menghubungkan anggota organisasi, menyebarkan informasi, dan menggalang partisipasi dari berbagai pihak. Kemampuan memilah dan memilih teknologi yang tepat, juga akan memberikan kekuatan branding bagi organisasi sekaligus menjadi sarana yang paling efektif dan efisien untuk menghubungkan titik-titik yang berserak.

Keuntungan menerapkan connecting the dots

Dalam konteks organisasi Islam yang menerapkan konsep “connecting the dots,” penting untuk memahami bahwa prinsip ini mengacu pada kemampuan untuk melihat hubungan antara berbagai elemen atau peristiwa, serta untuk menghubungkan mereka secara bijaksana dan berkelanjutan. Pada saat bersamaan juga memiliki kemampuan untuk mengkoneksikan denga hal-hal yang berada diluar organisasi yang nampaknya terserak dan terpisah.

Dengan mengintegrasikan konsep ini ke dalam kegiatan organisasi, ada beberapa keuntungan yang dapat dirasakan.

Pertama, Kepemimpinan yang efektif  dan berbasis nilai, Dalam penerapan konsep “connecting the dots” oleh organisasi Islam akan mengantarkan pemimpin mampu untik menyatukan berbagai elemen kehidupan dengan nilai-nilai Islam, serta memiliki kemampuan untuk memimpin dengan visi holistik dan berbasis nilai. Seorang pemimpin yang efektif dalam kerangka ini akan dapat memahami kompleksitas masalah, memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam terhadap ajaran agama, dan mendorong partisipasi aktif anggota dan umat dalam rangka mencapai tujuan bersama yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Kedua, Pemahaman yang Holistik: Dengan menghubungkan titik-titik informasi dan konteks yang berbeda, organisasi Islam dapat mengembangkan pemahaman yang lebih holistik tentang isu-isu yang dihadapi. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat masalah dari berbagai perspektif, termasuk aspek keagamaan, budaya, sosial, dan politik, yang pada gilirannya membantu dalam merancang solusi yang lebih komprehensif.

Kertiga, Sinergi antar Bagian: Melalui konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat menggabungkan upaya dari berbagai bagian atau divisi internal mereka. Dengan cara ini, mereka dapat menciptakan sinergi yang kuat antara berbagai inisiatif dan program yang mereka jalankan, menghindari tumpang tindih dan memastikan bahwa sumber daya mereka dimanfaatkan secara efisien untuk mencapai tujuan bersama.

Keempat, Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik: Dengan akses yang lebih baik terhadap informasi yang relevan dan hubungan yang lebih kuat antara berbagai aspek, organisasi Islam dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih terinformasi. Mereka dapat mengevaluasi implikasi jangka panjang dari tindakan mereka dan memilih strategi yang paling sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan mereka, sambil mempertimbangkan dampaknya terhadap berbagai pemangku kepentingan.

Kelima, Keterlibatan Komunitas yang Lebih Besar: Konsep “connecting the dots” juga memungkinkan organisasi Islam untuk terlibat lebih langsung dengan komunitas mereka. Dengan menciptakan jaringan yang kuat antara berbagai kelompok dan individu, mereka dapat memobilisasi dukungan yang lebih besar untuk tujuan mereka, memperluas jangkauan dan dampak dari upaya mereka, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan mereka yang mereka layani.

Keenam, Kohesi dan Keterpaduan: Dengan menghubungkan titik-titik atau elemen-elemen yang berbeda dalam konteks Islam, organisasi akan mencapai tingkat kohesi dan keterpaduan yang lebih tinggi. Ini memungkinkan mereka untuk memiliki visi yang lebih utuh dan terintegrasi tentang misi dan tujuan mereka, serta bagaimana setiap kegiatan dan inisiatif berkontribusi pada pencapaian tujuan tersebut.

Ketujuh, Keberlanjutan dan Kesinambungan Program: Dengan menghubungkan informasi dari berbagai sumber, organisasi Islam dapat mengembangkan program-program yang lebih berkelanjutan dan berkesinambungan. Mereka dapat menilai dampak program-program mereka secara menyeluruh, melihat bagaimana program-program tersebut berinteraksi satu sama lain, dan kemudian melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitasnya.

Dengan menerapkan konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat memperoleh manfaat yang signifikan dalam upaya mereka untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya serta lebih dari itu juga membawa perbaikan bagi umat Islam dan membangun masyarakat yang lebih baik secara keseluruhan.

Penutup

Dengan menginternalisasi konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat membangun fondasi yang kokoh untuk kemajuan dan keberlanjutan, baik dalam konteks spiritual maupun materi. Ini adalah panggilan untuk selalu mengingat bahwa setiap tindakan, setiap hubungan, dan setiap keputusan yang diambil oleh organisasi memiliki konsekuensi yang luas, dan bahwa kesuksesan sejati hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan keterhubungan yang kokoh.

Dengan demikian, “connecxting the dots” bukan hanya sekadar istilah kosong, tetapi merupakan konsep yang mendasar dan krusial bagi keberhasilan organisasi, termasuk organisasi Islam. Dengan memahami, menghargai, dan menerapkan konsep ini, organisasi dapat membentuk jalinan yang kuat dan membangun masa depan yang cerah.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)