Beranda blog Halaman 223

‘Israel’ Hancurkan 1.000 Masjid di Gaza Sejak 7 Oktober

GAZA (Hidayatullah.or.id) – Kementerian Wakaf dan Urusan Agama di Gaza mengumumkan pada hari Ahad, 9 Rajab 1445 (21/1/2024) bahwa pasukan penjajah ‘Israel’ telah menghancurkan lebih dari 1.000 dari 1.200 masjid di wilayah tersebut sejak 7 Oktober 2023.

Menurut kementerian, rekonstruksi masjid-masjid ini akan menelan biaya sekitar $500 juta.

Kementerian mengatakan pasukan ‘Israel’ juga menghancurkan Gereja Ortodoks Yunani dan gedung komite zakat, sekolah pengajaran Al-Qur’an dan kantor pusat Bank Wakaf.

Kementerian menambahkan bahwa serdadu ‘Israel’ membunuh lebih dari 100 khatib, imam, dan muazin sejak perang di wilayah kantong yang terkepung itu dimulai pada 7 Oktober.

Sengaja targetkan masjid untuk sabotase perannya

Sejak awal agresi brutalnya di Jalur Gaza, serdadu penjajah ‘Israel’ telah mengarahkan kemarahan dan kebenciannya terhadap masjid. Menargetkan masjid-masjid itu dengan rudal untuk meratakan mereka, mengabaikan semua pertimbangan kemanusiaan, hak asasi manusia, dan agama yang dijamin oleh konvensi internasional mengenai kesucian tempat ibadah dan simbol keagamaan.

Mungkin hal ini tidak mengherankan karena mereka yang melanggar kehidupan ribuan orang yang tidak bersalah tanpa batasan moral dan etika tidak akan menghormati rumah Allah. Namun, pertanyaannya: mengapa ‘Israel’ sengaja menargetkan masjid?

Ahmed Al-Shahrouri—seorang profesor hukum Islam, dalam jawabannya atas pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh Palestinian Information Center—percaya bahwa penargetan masjid oleh ‘Israel’ merangkum narasi ketakutan yang dimiliki musuh-musuh Islam terhadap masjid-masjid tersebut. Dia menekankan bahwa kampanye jahat terhadap masjid adalah kampanye lama Barat, Tentara Salib, dan Talmud.

Al-Shahrouri menekankan musuh mengetahui peran masjid dan mengetahui bahwa masjidlah yang memupuk barisan perlawanan. “Musuh kita mengetahui bahwa orang-orang yang melaksanakan salat berjamaah di masjid adalah orang-orang yang peduli terhadap bangsa mereka.”

Ia mencatat bahwa “desakan untuk menghancurkan masjid-masjid adalah tindakan langsung yang menyabotase peran masjid.”

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa “musuh-musuh kita telah berusaha untuk menghancurkan peran masjid dalam kehidupan sipil, itulah sebabnya mereka membungkam suara-suara dan memberlakukan undang-undang yang mencegah para khatib untuk mengatakan apa yang mereka inginkan dan mencegah khatib untuk berkhotbah kecuali dengan izin terlebih dahulu dari pemerintah dan negara-negara yang tunduk pada musuh mereka dan tidak punya pilihan selain mendengarkan dan menaatinya.”

Menargetkan jiwa dan raga bangsa

Dia menyimpulkan, “Bahaya ini telah kami peringatkan berulang kali selama bertahun-tahun ketika kita berbicara tentang peran masjid dalam melakukan pembalasan terhadap musuh. Oleh karena itu, musuh ingin menutup masjid-masjid kita. Saat ini, mereka menutup masjid dalam hal signifikansi fisik dan spiritualnya, dan mereka menargetkan masjid tersebut sama seperti mereka menargetkan sekolah dan rumah sakit.”

Al-Shahrouri menggali lebih dalam analisisnya mengenai penargetan ‘Israel’ terhadap simbol-simbol ini, dengan mengatakan, “Perawatan jiwa dilakukan di masjid dan sekolah, jadi menghancurkan masjid sama dengan menghancurkan sekolah, dan perawatan tubuh diwakili oleh rumah sakit, jadi mereka menghancurkan rumah sakit.”

Ia menggarisbawahi bahwa musuh tidak ingin meninggalkan makna kehidupan material maupun spiritual di dunia bangsa Muslim ini.

Rahasianya terletak pada pembentukan semangat individu yang berjuang

Al-Shahrouri mengirimkan pesan kepada ‘Israel’: “Lakukan sesukamu, bakar sesukamu, dan hancurkan sesukamu karena rahasianya tidak ada di tembok, rahasianya tidak ada di semen, dan rahasianya tidak ada di atap. Sebaliknya, rahasianya terletak pada jiwa-jiwa murni yang bangkit melampaui tembok dan bangunan, roh-roh aktif yang tidak dapat Anda bunuh keefektifannya, jihadnya, atau ketabahannya.”

Abu Ubaidah bertanya-tanya, “Apa yang akan dilakukan oleh teknologi rudal, tank-tank yang dibentengi, dan pesawat modern dengan senjata mematikannya melawan kekuatan seorang pejuang beriman yang menghabiskan dua bulan atau lebih di daerah ribathnya, menunggu pasukan yang maju, menunggu kemenangan atas musuhnya, melaksanakan misinya, dan percaya pada keadilan tujuannya?”

Abu Ubaidah mengatakan, “Ini adalah kewajiban Mujahidin untuk memberi tahu dua miliar Muslim di dunia bahwa penjajah Zionis dalam waktu 100 hari menghancurkan sebagian besar masjid di Jalur Gaza, menodai, membakar, menghentikan azan dan salat dalam sebuah perang agama yang nyata, sebagai kelanjutan dari apa yang dimulai oleh geng-geng agama Zionis dalam perang mereka melawan Masjid Al-Aqsha.”

Abu Ubaidah menyerukan dunia Arab dan Islam untuk “membacakan doa Qunut” di semua masjid dan memanjatkan doa untuk kemenangan para pejuang perlawanan. (PIC)

[Khutbah Jum’at] Dunia Tempat Mempersiapkan Bekal Menuju Akhirat

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Dunia ini sebenarnya hanyalah sebatas persinggahan sementara, dan kita diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin di dunia ini, untuk dibawa kepada alam berikutnya, yakni alam akhirat.

Memang tak bisa kita pungkiri, bahwa di dunia ini, kita membutuhkan harta benda untuk memenuhi kebutuhan kita, dan tak ada yang menyalahkan jika kita berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh harta benda tersebut.

Namun, di samping kita berusaha dalam menggapai itu semua, maka jangan pernah lupa bahwa kita juga punya tanggung jawab untuk mengumpulkan amal sebanyak mungkin. Kelak amal yang kita kumpulkan itulah yang akan menjadi penolong bagi kita di akhirat kelak.

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Al Qur’an surah Al-Qashash ayat 77 ini dengan sangat jelas mengajarkan kepada kita, bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat.

Namun, dalam perjalanan menuju akhirat, umat Islam juga diingatkan untuk tidak melupakan kehidupan dunia ini. Carilah harta sebanyak mungkin, namun jangan lupakan amal ibadah. Carilah harta sebanyak mungkin, namun jangan sampai lalai terhadap semua perintah-perintah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini juga memiliki nilai dan tujuan yang penting. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara, namun tetap penting untuk memperhatikan dan menjaga kehidupan di dunia ini.

Kehidupan di dunia ini adalah kesempatan bagi umat Islam untuk mengumpulkan amal kebaikan sebanyak mungkin, maka berbuat baiklah kepada sesama, dan kerjakanlah tugas-tugas yang telah Allah tetapkan, serta jauhi seluruh larangan-larangan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Siapa saja yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik, maka dia akan memperoleh pahala dan keberkahan yang akan membantunya dalam mencapai kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat kelak.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, dengan tetap fokus pada tujuan akhirat namun tidak melupakan tugas-tugas dan tanggung jawab di dunia ini.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Hari ini, banyak orang yang mengaku muslim, bahkan mengaku muslim paling sejati di antara muslim yang lainnya, namun sayang keimanannya tidak diakui oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kenapa demikian? Sebab perilakunya tidak benar-benar mencerminkan diri mereka sebagai muslim. Mengaku muslim, namun menjelek-jelekkan saudara muslimnya yang lain.

Mengaku muslim, namun tak mau mengulurkan tangan kepada saudaranya yang kesulitan. Mengaku muslim, namun mudah memutuskan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya.

Mengaku muslim, namun lebih tunduk kepada manusia dari pada tunduk kepada perintah Tuhannya. Naudzu billahi mindzalik. Mengaku muslim namun perilakunya mencerminkan perilaku orang-orang munafik.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Dalam Al-Quran, Allah menyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 8:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Lantas, kapankah seseorang itu dikatakan sebagai muslim yang sejati? Maka jawabannya adalah ketika seseorang berperilaku sebagaimana perilaku yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketika perilakunya mencerminkan perilaku ajaran Islam, maka pada saat itu dia sudah dikategorikan sebagai muslim yang khaffah, atau muslim sejati.

Adapun ciri-ciri dari perilaku seseorang yang mencerminkan perilaku ajaran Islam tentu sangat banyak. Diantaranya adalah yang paling penting untuk memiliki ketakwaan yang sejati kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Artinya, ia setia menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan kunci kehormatan bagi seorang muslim sejati, sehingga hendaknya terus berupaya memperkokoh ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Penyaluran 170 Kg Beras dan Mushaf Al-Qur’an Untuk 40 Santri di Talisayan

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Bertujuan untuk memberikan dukungan kepada para santri dalam upaya memahami dan menghafal Al-Qur’an, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan bantuan berupa 170 kg beras serta mushaf Al-Qur’an dan Iqra ke Ponpes Al Hakim Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Senin, 10 Rajab 1445 (22/1/2024).

Ustadz Mista Sukamsa dari Rumah Qur’an dan TPA setempat menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas bantuan BMH.

“Alhamdulillah, terimakasih kepada BMH. Kini sebanyak 40 santri menjadi penerima manfaat dari program ini, dengan penyaluran 170 kg beras, 15 mushaf Al-Qur’an, dan 25 Iqro. Kami mendoakan semua donatur BMH, Allah berikan keberkahan dunia dan akhirat,” ungkapnya.

“Bantuan ini sangat membantu para murid baru bisa belajar lebih baik. Mengingat mushaf/Iqro yang sudah ada selama ini memang tidak layak lagi digunakan. Semoga bantuan berupa beras dan mushaf dari BMH ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua,” sambung Ustadz Mista Sukamsa.

Koordinator BMH Gerai Berau, Sabliansyah, mengungkapkan rasa syukurnya atas berjalannya program penyaluran Al-Qur’an.

“Kami berharap program ini bermanfaat bagi para penerima manfaat dan membawa berkah bagi kita semua, terutama menjelang bulan Ramadhan yang akan segera tiba,” jelasnya.*/Herim

Sistematika Wahyu sebagai Metodologi Berislam dan Mengajarkan Islam

0

DALAM mempelajari sesuatu, kita mengenal istilah metode atau bahasa sederhananya adalah cara. Terdapat berbagai macam metode atau cara, misalnya, untuk belajar membaca Al Qur’an, ada metode Tilawati, Qiroati, dan Al Hidayah.

Secara terminologi, metode sendiri merupakan merupakan ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.

Dalam bahasa Inggris kata ini ditulis method dan bangsa Arab menerjemahkannya dengan thariqat dan manhaj. Sehingga dapat dipahami bahwa metode adalah cara yang diyakini dan ditempuh oleh seseorang untuk mempelajari sebuah kebenaran atau ilmu pengetahuan tertentu.

Untuk menentukan sebuah metode yang tepat dalam mencapai sebuah kebenaran, maka diperlukan analisa mendalam tentang proses untuk mengungkap kebenaran tersebut yang berlandaskan pada best experience (pengalaman terbaik) orang orang yang telah melakukannya.

Pembelajaran Bahasa Arab menggunakan metode tikror dan tadrib (pengulangan dan pengayaan), misalnya, merupakan pendekatan yang dilakukan berdasarkan pengalaman para pengajar Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor yang telah berhasil menciptakan sistem pembelajaran Bahasa Arab yang nyaris anti gagal.

Dengan metode ini, Pondok Modern Gontor berhasil melahirkan santriwan dan santriwati yang mahir dalam berbahasa Arab baik lisan maupun tulisan.

Metode ini kemudian digunakan khususnya di banyak pesantren mengacu pada keberhasilan Pondok Modern Gontor dalam mengajarkan Bahasa Arab.

Inilah urgensinya menentukan metode yang tepat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau mencapai sebuah kebenaran dengan belajar pada best experience.

Sistematika Wahyu sebagai Metode Berislam (Tarbiyah)

Bagaimana kaitannya dengan cara (baca; metode) seseorang untuk menemukan kebenaran akan tuhannya yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala? Tentu analisa yang terbaik adalah dengan mengkaji dan mempelajari bagaimana manusia terbaik, yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Muhammad diantar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk melalui tahapan demi tahapan dalam mentarbiyah diri beliau, hingga berhasil menjadi sosok insan kamil dengan bimbingan Allah Ta’ala.

Sosok Rasulullah bukanlah orang yang dilahirkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang mengenal Allah sebagai Tuhan. Bahkan nyaris lebih dari separuh kehidupan beliau dilalui dalam satu tatanan masyarakat yang jahiliyyah dan jauh dari nilai nilai peradaban Islam.

Tetapi, karena kegelisahan yang terus menerus muncul dalam gejolak batinnya yang berlawanan dengan sistem yang dianut Bangsa Arab pada saat itu, dan hasil kontemplasi beliau di sebuah gua yang jauh dari keramaian, hingga Allah memberikan karunia terbesar kepada beliau berupa mukjizat Al Qur’an. Kekuatan Wahyu ini kemudian menjadi starting point terbangunnya pondasi peradaban Islam yaitu kalimat Tauhid, Laa Ilaaha Illallaah.

Pada saat di gua Hira tersebut, Allah Ta’ala tidak menurunkan Al-Qur’an secara utuh kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi secara bertahap dengan surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 sebagai ayat ayat pertama yang mengungkap kekuasaan Allah dan membuka tabir seorang hamba bernama Muhammad bahwa tidak ada dzat yang maha kuasa selain Allah.

Terlepas dari terdapatnya pendapat bahwa ayat yang pertama kali turun adalah surat Al Muddatssir dan surat Al Fatihah, akan tetapi jumhur ulama meyakini bahwa Al ‘Alaq ayat 1 sampai 5 merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Muhammad melalui malalikat Jibril (Uin et al., 2020).

Dengan kekuatan Al ‘Alaq inilah, Nabi Muhammad SAW mentarbiyah dirinya menjadi figur manusia terbaik yang sangat dekat dan bergantung kepada Allah. Al ‘Alaq ayat 1 sampai 5 merupakan sebuah epistimologis dalam mengenal Allah, yaitu proses mempelajari dan menggali kebenaran dengan paradigma “bismirobbikalladzii kholaqa”.

Dan, selama 23 tahun perjalanan hidup Rasulullah berikutnya dilalui dengan kisah kisah yang sarat dengan nilai ketauhidan sebagai sebuah gambaran akan keberhasilan menanamkan keyakinan “Laa ilaaha illallahu” bahwa tidak ada yang Maha Kuasa selain Allah.

Keislaman sosok manusia terbaik ini semakin paripurna dengan peragaan ayat ayat yang turun berikutnya yaitu surah Al Qolam, Al Muzzammil, Al Muddatssir, dan Al Fatihah (Thalib, 1971) sebagai sebuah framework berislam.

Turunnya ayat ayat Al Qur’an ini menjadi pelengkap dari sebuah epistimologi mengenal Allah melalui Al ‘Alaq, dengan memegang teguh panduan hidup berqur’an (Al Qolam), senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah wajib dan nawafil sebagai bukti kecintaan dan ketundukan kepada Sang Maha Pencipta (Al Muzzammil).

Berikutnya, terpanggil untuk mengajak umat dalam berbagai lapisan, dimulai dari keluarga terdekat, tetangga, hingga komunitas masyarakat untuk hidup berislam (Al Muddatssir), hingga mewujudkan tatanan masyarakat dengan sistem nilai berperadaban Islam (Al Fatihah).

Inilah lima surah yang menjadi fondasi memproses seorang hamba menjadi seorang abdullah sekaligus menjadi khalifatullah sebagaimana tujuan dan fungsi penciptaan manusia.

Adapun ayat ayat lain selain 5 surat di atas merupakan ayat ayat yang berafiliasi dengan hal hal yang mengandung perintah dan ajaran tauhid, pedoman hidup (qur’an), ibadah, seruan mengajak kepada kebaikan (dakwah), dan sistem sosial kehidupan termasuk syariah dan muamalah (peradaban).

Sehingga, framework lima surah pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW merupakan sebuah konsep tarbiyah yang bukan hanya berlaku untuk beliau tetapi juga dapat diterapkan pada diri semua pribadi muslim.

Hidayatullah sebagai sebuah lembaga tarbiyah sejak zaman pendirinya allahuyarham KH Abdullah Said sekaligus founder Sistematika Wahyu, secara konsisten melakukan gerakaan tarbiyah berlandaskan pada manhaj Sistematika Wahyu ini.

Seluruh santri, guru, dan warganya ditanamkan fondasi Tauhid yang kuat kepada Allah agar tumbuh kesadaran dan ketergantungan yang kuat hanya kepada Allah.

Berbagai kegiatan dikemas untuk menunjukkan sisi kelemahan seorang hamba agar lahir sebuah deklarasi meminta bantuan dan pertolongan hanya kepada Allah.

Secara sistematis kegiatan ini direkayasa dalam kegiatan yang disebut dengan istilah pra wahyu, dimana setiap orang dikondisikan untuk merasakan fase keyatiman, menggembala, berdagang, bergua hira, hingga berkhadijah sebagai metode tarbiyah yang menapaktilasi perjalanan Rasulullah hingga mendapatkan wahyu dari Allah.

Setelah tumbuh kesadaran dan semakin menancap keyakinannya kepada Allah, aktivitas tarbiyah berikutnya diisi dengan tahapan tahapan yang telah dipaparkan sebelumnya pada framewok berislam dengan manhaj Sistematika Wahyu ini.

Hasilnya, dapat dilihat pada diri santri santri Hidayatullah, khususnya assabiqunal awwaluun serta murid murid langsung allahuyarham KH Abdullah Said yang tersebar di pelosok nusantara, yang memperagakan hidup bertauhid dengan penuh kesungguhan.

Sistematika Wahyu sebagai Metode Menyebarkan Islam (Dakwah)

Selain sebagai sebuah panduan berislam yang diungkap oleh KH Abdullah Said, Sistematika Wahyu juga merupakan framework penting dalam menyebarkan ajaran Islam. Sistematika Wahyu yang dimulai dengan pengenalan terhadap Tauhid (laa ilaaha illaalaahu) merupakan metode berdakwah yang sistematis dan memiliki impact berkelanjutan.

Hal ini selaras dengan pernyataan para Rasul yang diutus oleh Allah bahwa misi utama mereka dalam berdakwah adalah untuk mengajak ummat agar menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan satu dzat pun di alam semesta ini (Q.S. An Nahl: 36).

Hal ini juga menegaskan bahwa Sistematika Wahyu dengan Al ‘Alaq (1-5) sebagai ayat yang pertama turun merupakan konsep yang sangat krusial untuk menjadi pedoman berdakwah bagi umat Islam. Bahwa hal pertama dan utama yang digunakan untuk mengajak manusia tertarik dengan Islam adalah mengenalkan mereka akan kekuasaan Allah.

Maka, wajar kalau kemudian setiap Nabi menyampaikan redaksi kalimat yang sama kepada umatnya, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia” (Q.S. Al A’raaf: 59, 65, 73, 85), sebagai sebuah isyarat bahwa misi utama mereka adalah mengajak umatnya untuk tunduk dan taat hanya kepada Allah.

Fenomena umat manusia yang cenderung hidup dalam kemewahan materi dan mengejar status sosial di masyarakat, faktor utamanya disebabkan karena mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar benarnya.

Diantara manusia yang tenggelam dalam hedonisme (cinta dunia) dan materialisme (cinta harta), adalah dari kalangan umat Islam sendiri, yang, sayangnya, belum mengaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupannya.

Disinilah panduan berdakwah dengan manhaj Sistematika Wahyu diperlukan, karena tahapan tahapan yang disajikan sebagai sebuah metode dakwah mengikuti pola dakwah yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW.

Tepat setelah nabi Muhammad menerima wahyu pertama beliau mengajak istrinya, Khadijah RA, untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai sebuah deklarasi ketundukan kepada Allah. Setelah itu berturut turut beliau mendakwahi Zaid bin Haritsah, Ali Bin Abu Thalib dan Abu Bakar sebagai golongan pertama yang memeluk Islam.

Setelah muncul kesadaran bertauhid, maka umat kemudian diajak untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan ini. Tanpa kesadaran bertauhid, tentu akan sangat sulit bagi seorang manusia untuk menjadikan Qur’an sebagai rujukan kehidupan pada saat terdapat tawaran panduan hidup yang meninabobokan mereka dengan kecanduan terhadap kesenangan kesenangan dunia.

Inilah perbedaan manusia bertauhid dengan manusia yang tidak bertauhid. Ketika ia membaca satu persatu ayat ayat Al Qur’an, akan muncul konektivitas yang kuat antara ayat ayat tersebut dengan kehidupannya, dan akan tumbuh kesadaran untuk menjadikan Qur’an sebagai panduan hidup.

Disinilah peran penting misi dakwah Rasulullah SAW sebagai seorang utusan yang menyampaikan ayat ayat Allah, mengajarkannya, dan menjadikan Qur’an sebagai proses manusia dalam mensucikan jiwanya (Q.S. Al Jumuah: 2).

Maka gerakan dakwah berikutnya setelah menanamkan Tauhid dalam diri manusia adalah dengan mengajarkan Qur’an dan mentransformasikannya ke dalam diri setiap manusia agar Qur’an bisa diperagakan dalam setiap aspek kehidupan.

Para sahabat merupakan bukti otentik mengapa metode Sistematika Wahyu menjadi kunci keberhasilan dakwah. Mereka memiliki konektivitasnya yang kuat dengan Allah, dan setiap kali ayat ayat yang diwahyukan kepada Rasulullah disampaikan kepada mereka, para sahabat akan mempelajari ayat ayat tersebut sampai mereka benar benar mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Pada tahapan dakwah berikutnya, tentu saja untuk membantu seorang hamba agar senantiasa semakin dekat dengan Allah dan memegang teguh prinsip hidup ber-Qur’an, diperlukan sarana yang kuat yaitu ibadah. Maka gerakan spiritual melalui Al Muzzammil menjadi sarana penting untuk membangun interaksi dengan Sang Pencipta.

Framework dakwah berikutnya adalah menumbuhkan spirit beribadah dalam diri umat khususnya melalui gerakan qiyamul lail. Sudah cukup banyak khasiat dan manfaat dari qiyamul lail yang ditegakkan oleh seorang hamba, salah satunya adalah mengangkat derajat hamba pada tingkatan maqooman mahmuudan (Q.S. Al Israa: 79).

KH Abdullah Said semasa hidup beliau selalu menekankan para santri nya agar senantiasa menegakkan qiyamul lail sebagai wujud kecintaan dan ketergantungan hamba kepada Rabbnya. Selain sarat mengandung nilai tauhid, qiyamul lail juga menjadi tempat untuk membaca dan mendengarkan Al Qur’an lebih khusyuk agar dapat terinternalisasi ke dalam jiwa manusia. Selain itu, inilah kesempatan untuk bertabattul, melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia, dan bermunajat kepada Sang Maha perkasa.

Dengan tiga tahapan awal dalam konsep Sistematika Wahyu ini, nyaris bisa diminimalisir benturan kepentingan dengan orang orang yang menjadi objek dakwah. Karena bingkai yang dibangun dengan Sistematika Wahyu adalah mengenalkan Allah, memahami, dan mengamalkan Al Qur’an, beribadah, berdakwah, dan hidup dalam bingkai syariah.

Sebuah konsep kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia, yang dibuktikan dengan 85% manusia di dunia ini adalah umat beragama dengan Islam menjadi agama kedua yang dianut (24,52%) setelah kristen (32,11). Ini berarti pada umumnya manusia di dunia ingin bertuhan, hanya saja belum dan tidak semua memiliki keyakinan bahwa Tuhan yang Maha Satu hanyalah Allah.

Sehingga, dakwah dengan pendekatan Sistematika Wahyu memiliki peluang yang terbuka untuk diterima bukan hanya di kancah nasiona tetapi juga masyarakat internasional, karena muatan dakwahnya berlandaskan kalimat Laa ilaaha illalaahu.

Dan dua tahapan berikutnya menjadi point penting yang membedakan Sistematika Wahyu sebagai manhaj dakwah dengan metode yang lainnya. Seorang hamba yang telah merasakan nikmatnya bertuhan, ber-Qur’an, dan “bermesraan” dengan Allah pada saat beribadah, akan terpanggil dan tergerak untuk menyebarkan kebaikan tersebut kepada orang di sekitarnya.

Sebuah terminologi yang sempat masyhur di kalangan barat yaitu “pay it forward” dapat menjadi gambaran bagaimana seorang mukmin akan berinisiatif secara gigih untuk mengajak keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakatnya untuk juga mendapatkan kebaikan yang sama dengan berislam secara kaffah dengan manhaj Sistematika Wahyu.

Diutusnya Mushab bin Umair oleh Rasulullah SAW untuk berdakwah di Yatsrib (Madinah) menjadi evidence bahwa sosok Mushab yang telah menikmati indahnya berislam rela menanggalkan dan meninggalkan seluruh kenikmatan harta dunia yang dimiliki, untuk mengajarkan Qur’an pada masyarakat di Yastrib.

Begitu juga dengan Muadz bin Jabal yang dikirim ke Yaman dengan misi dakwah, hingga Saad bin Abi Waqqash yang berdakwah hingga ke negeri Cina, bahkan pada saat Rasulullah sudah wafat, sebagai bukti bahwa gerakan dakwah terus berkelanjutan.

Ketika gelombang dakwah ini semakin deras, maka akan muncul sebuah kesadaran untuk membangun komunitas yang memiliki paradigma berpikir yang sama yaitu paradigma “iqra bismirabbik” sehingga terbentuklah masyarakat bertauhid.

Pada masyarakat inilah, sistem nilai kehidupan akan dibangun dengan nilai nilai berlandaskan syariah yang telah diatur dalam Al Qur’an dan diperagakan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat sehingga terwujud masyarakat yang berperadaban Islam.

Hijrah Rasulullah dari Makkah menuju Madinah merupakan strategi jitu untuk membangun komunitas masyarakat berislam yang bertumpu pada well being society sehingga menjadi rujukan higga saat ini.

Pada tahap ini, manhaj dakwah Sistematika Wahyu menebarkan energi yang sangat kuat kepada umat Islam yang sudah tercelup dengan manhaj ini untuk terlibat dalam peragaan nilai nilai Islam yang mencakup pada semua aspek kehidupan.

Sistem pendidikan yang dibangun mengacu pada konsep pendidikan Islam sehingga melahirkan generasi generasi Qur’ani yang beradab dan kompetitif. Sistem ekonomi selalu menekankan prinsip keadilan dalam Islam tanpa adanya dominasi pemerintah (komunis) ataupun figur figur pemilik modal tertentu (kapital).

Begitu juga hukum menjadi tegak dengan menempatkan semua orang sama di mata hukum (equality before the law). Pada masyarakat inilah akan muncul sosok sosok pemimpin yang lahir bukan secara instant dan karena kepentingan sesaat, tetapi pemimpin yang dibentuk karena rasa takutnya kepada Allah.

Kesimpulan

Sistematika Wahyu merupakan warisan penting dari manhaj nubuwwah yang dinapaktilasi oleh Hidayatullah melalui foundernya, KH Abdullah Said, sebagai salah satu solusi terbaik dalam mengenalkan Islam (dakwah) dan membina umat (tarbiyah).

Tentu saja dalam konteksnya hari ini, Sistematika Wahyu perlu dikaji lebih mendalam secara berkesinambungan oleh para kader muda dan para senior lembaga agar terjadi transformasi yang utuh dalam mewujudkan peradaban Islam, sebagai sebuah mujahadah melahirkan kepemimpinan “alaa minhajin nubuwwah”.

Selain itu, Hidayatullah perlu menjadi pioneer dalam memperagakan masyarakat berperadaban Islam dalam semua aspek kehidupan dengan sistem pendidikan, ekonomi, hukum, hingga politik dalam organisasi agar menjadi model dalam menggerakkan potensi umat mewujudkan energi masyarakat berperadaban yang lebih luas dalam skala nasional hingga global.

*) Dr. Muzakkir Usman, M.Ed, penulis adalah Direktur Hidayatullah Institute (HI). Disampaikan pada Halaqah Kader Wustha dengan murobbi Ust. H. Dr. Abdu Aziz, Depok 12 Rajab 1445 H

Pimpinan Baznas Prof Dr Nadratuzzaman Hosen Kunjungi Laznas BMH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI 2020-2025 Prof. Ir. Muh. Nadratuzzaman Hosen, MS., M.Sc., Ph.D, melakukan anjangsana ke Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) di Kalibata Office Park, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa, 11 Rajab 1445 (23/1/2024).

“Saya hadir dalam rangka mengundang kerjasama yang lebih intens, memiliki kesamaan dalam melihat masalah dan jalan solusi, serta sebagai tanggung jawab kerja, karena sebagai Pimpinan Baznas saya punya kewajiban bersilaturrahim dnegan Laz, seperti BMH ini,” ungkapnya.

Lebih jauh, pria yang juga pernah kuliah di Belgia dan Australia itu mendorong Laznas BMH mampu melakukan pendayagunaan yang progresif.

Prof Nadratuzzaman mengatakan pendayagunaan zakat ke depan harus lebih progresif dengan menguatkan sisi penentu, seperti adanya pendampingan yang kuat. Malah kalau perlu, kata dia, ada sekolah pendampingan dari Laznas seperti BMH.

“Sehingga pendayagunaan terkontrol dengan baik. Jika itu terjadi monev (monitoring dan evaluasi) bisa berjalan. Terakhir semua itu harus kita jalankan dengan basis IT,” urainya menegaskan.

Atas kunjungan tersebut Ketua Pengurus BMH Pusat, Firman ZA mengucapkan rasa syukur dan terimakasih.

“Kami dari keluarga besar Laznas BMH mengucapkan syukur, Alhamdulillah. Prof Nadratuzzaman Hosen berkenan hadir ke BMH,” kata Firman.

Pihaknya juga menyampaikan terimakasih atas kunjungan Prof Nadratuzzaman karena begitu banyak ilmu dan insight yang ia bagikan kepada BMHi.

“Dan, kami akan menindaklanjuti perihal urgen untuk kemajuan gerakan zakat di Indonesia, terutama yang berbasis IT untuk transparansi proses dan pendayagunaan yang BMH lakukan di tengah-tengah umat,” jelasnya pasca pertemuan.*/Herim

Angkat Tema Konsolidasi, Rakerwil Papua Selatan Tekankan Dakwah Silaturrahim

0

BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Papua Selatan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama 3 hari digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Titik Nol, Jl. Trans Papua, Persatuan, Kecamatan Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, dibuka pada Selasa, 11 Rajab 1445 (23/1/2023).

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Samsuddin, MM dan Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Boven Digoel dr Viviana Maharani Pradotokoesoemo MM yang mewakili Bupati Boven Digoel Hengky Yaluwo S.Sos.

Tampak pula Ketua DPW Hidayatullah Papua Selatan Muhammad Panji beserta jajaran. Hadir juga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Samsuddin yang hadir sekaligus mendampingi Rakerwil menyampaikan muatan tema Rakerwil dan menyegarkan kembali amanah Silatnas Hidayatullah 2023 yakni melakukan silaturrahim sebagai bentuk konsolidasi guna menguatkan dakwah di kawasan.

Menurut Samsuddin, silaturrahim memiliki peran penting dalam mengembangkan dakwah di Papua Selatan, terutama sebagai kawasan pemekaran baru, untuk membangun daerah dengan semangat persatuan dan kebersamaan.

“Kita harus menjadikan silaturrahim sebagai gerakan dakwah dan rekrutmen jamaah,” kata Samsuddin.

Melalui silaturrahim, para pendakwah dapat menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan cara yang lebih personal dan persuasif. Hal ini kata dia dapat menciptakan pemahaman tentang ajaran Islam dan memberikan kontribusi positif dalam membangun moral dan etika masyarakat.

Disamping itu, dengan menjaga silaturrahim sebagai bagian dari derivasi mainstream gerakan Hidayatullah, kiprah keumatan di bidang dakwah dan tarbiyah dapat terbangun hubungan positif dengan pemerintah daerah (Pemda) dan lembaga lainnya di Papua Selatan.

“Kerjasama yang baik dengan pihak-pihak terkait dapat membantu memperlancar berbagai inisiatif dakwah dan pembangunan sebagai upaya kita dapat bersama-sama membangun daerah ini dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan nilai-nilai keislaman yang kokoh,” imbuhnya.

Lebih jauh Samsuddin juga menekankan pentingnya menjadikan rumah tangga sebagai madrasah Al Qur’an untuk anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Rumah tangga sebagai madrasah Al-Qur’an dapat menjadi pusat pendidikan keimanan bagi anggota keluarga.

Rumah tangga yang menjadi madrasah Al-Qur’an tidak hanya memberi manfaat bagi anggota keluarga, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengadopsi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan mereka.

Rakerwil yang mengangkat tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Sentralisasi, Standardisasi dan Integrasi Sistemik” ini dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD) Merauke dan Boven Digoel, unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat). Hadir pula unsur amal usaha Hidayatullah tingkat wilayah dan juga badan usaha.

Samsudin menyebutkan, tujuan Rakerwil adalah dalam rangka untuk melakukan konsolidasi, koordinasi, sosialisasi dan evaluasi serta merumuskan program satu tahun ke depan. “Semua dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas amal shaleh secara kolektif dan kinerja yang bisa diukur,” katanya.

Berikutnya hal penting sebagai program fokus adalah menggalakan rekrutmen kader dan pembinaan sebagai gerakan mainsream untuk memenuhi kebutuhan sumber daya insani (SDI) di tingkat Propinsi (DPW dan DPD).

Samsuddin menyebutkan, kini jumlah jaringan Hidayatullah telah mencapai 2.436 titik di seluruh Nusantara terdiri dari 38 DPW di Propinsi, 418 DPD di Kota dan Kabupaten, ⁠420 DPC di Kecamatan, 1516 Rumah Quran Hidayatullah, dan telah tersebar hingga ke tingkat Kelurahan dan Desa.

Untuk wilayah administrasi Provinsi Papua Selatan, Hidayatullah baru eksis di dua tempat yakni di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel. Adapun 2 daerah lainnya yaitu Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mappi baru akan ditempatkan petugas pada tahun 2024 ini.

“Sisanya insya Allah tahun 2024 ada pengiman kader. Termasuk juga perlu dipersiapkan sumber daya dai pembangunan untuk mengabdi di 78 Distrik, 24 Kelurahan, dan 686 Kampung di Papua Selatan ini,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Menyongsong Keberpihakan dan Mainstreaming Ziswaf untuk Kemandirian Pangan

0

SEMALAM kita menyaksikan perdebatan pamungkas tiga Calon Wakil Presiden Indonesia tahun 2024-2029. Membahas tema Pembangunan Berkelanjutan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat dan Desa.

Terlepas, pro kontra, tentang adab Gibran yang disorot warganet usai debat. Ada banyak substansi, gagasan yang bisa di-highlight. Contoh, Muhaimin Iskandar menyebut 10 tahun terakhir jumlah petani gurem naik hampir tiga juta.

Data BPS berbicara ada 16 juta lebih petani yang hanya mengelola tanah setengah hektar. Cemas, tapi fakta realitas lapangan begitu. Pun Mahfud Md, berkelakar food estate gagal.

Bayangkan, pemerintah impor beras sampai tiga juta ton sepanjang 2023, naik berkali lipat dari tahun-tahun sebelumnya, sungguh memilukan.

Diksi wong cilik tak sejalan dengan tindakan dan kebijakan. Tampak jelas, tak ada prestasi di bidang pangan. Tinggal tersisa jargon bersama gimmick gimmick.

Pemilihan umum menyisakan beberapa hari. Ungkapan sejahtera petani, nelayan, lumrah berbunyi jelang pergantian pemerintahan. Tak seperti dulu-dulu semoga cita-cita yang nampak mimpi itu menjadi nyata. Ini masalah keberpihakan.

Islam Kasih Solusi

Islam bermakna rahmatan lil alamin mesti ter-update karena ia merupakan risalah agung yang selalu relevan dengan kebutuhan zaman. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) membuktikannya.

Di musim wabah Covid-19 merebak, BMH memanfaatkan lahan seluas satu hektar menjalankan program ketahanan pangan. Bertempat di Pebayuran Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kediri, Merauke juga dilakukan. Semua itu hasil dari manfaat wakaf lahan produktif.

Memang pemahaman mayoritas masyarakat tentang wakaf seolah berkutat pada Masjid, Madrasah, Makam. Dari sanalah lahir istilah 3M. Karena itu, disinilah pentingnya dilakukan pengarusutamaan (mainstreaming) isu wakaf sebagai solusi berbagai masalah kekinian terutama pangan.

Sejatinya, praktik wakaf telah menjadi tradisi Islam. Nabi Muhammad dan para sahabat mewariskan keteladanan dengan konkrit. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) nyaring hanya bulan Ramadan saja. Ada PR besar yang harus bersama diretas. Bagaimana pemahaman Ziswaf dapat dipahami menyeluruh, tentu ditunaikan pula.

Belakangan, kita mengenal wakaf uang. Catatan, Kementrian Keuangan menyatakan lebih dari 180 triliun rupiah potensi yang dimiliki Indonesia dalam setahun. Hanya belum terkelola dengan baik.

Melansir berbagai media, tahun 2022 Badan Wakaf Indonesia (BWI) berhasil mengumpulkan setengah persen dari total potensi yang ada. Kesenjangan antara realita dan potensi.

Sebagai badan amil nasional BMH mengejawantahkan warisan Rasulullah. Berkolaborasi dengan Pengurus Hidayatullah Perwakilan Sumatera Utara, membangun kebun wakaf seluas 42 hektar. Memberdayakan masyarakat setempat di Deli Serdang, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan sekitarnya.

Di masa mendatang, pemerintah bisa merumuskan konsep ini. Tidak mesti sama persis, formulasinya bisa diramu. Mudah dan pasti bermanfaat.

Ketimbang, memberi kewenangan seseorang menguasai ratusan ribu hektar, mending berdayakan petani jelas tidak punya lahan. Di sisi lain, negara perlu memastikan lahan tersebut dikelola dengan baik sesuai dengan peruntukannya.

Alhasil, wakaf memang salah satu fondasi filantropi. Kontribusinya terhadap kepentingan bermasyarakat tidak bisa dipandang remeh. Implementasi lahan wakaf mencerminkan nilai-nilai kesatuan, kepedulian sesama.

Berharap kesejahteraan tidak hanya indah di mulut saja, tapi dapat diaktualisasikan lahir, batin dalam konteks sosial maupun keagamaan.

*) Azim Arrasyid Sofyan, penulis adalah wartawan dan aktif bergiat sebagai kontributor media data insight di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Tutup Rakerwil Malut, Wahyu Rahman Tekankan Soliditas dan Realisasi Program

0

TERNATE (Hiayatullah.or.id)– Setelah berjalan intensif selama 2 hari, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Maluku Utara akhirnya ditutup pada Sabtu, 20 Rajab 1445 H (8/1/2024).

Penutupan kegiata yang digelar di Gedung Pangaji Pondok Tahfizh Hidayatullah Gambesi, Ternate Selatan, dihadiri oleh peserta Rakerwil III Maluku Utara yang terdiri dari unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Penngurus Daerah (DPD), organisasi pendukung, badan dan amal usaha, serta lembaga Hidayatullah tingkat wilayah.

Di saat yang sama, turut hadir dalam acara penutupan tersebut Anggota Dewan Mudzakarah (DM), Ust. Abdul Kholik, Lc., M.HI dan Ketua Bidang (Kabid) Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara, Ust. Nur Kholis, S.Pd.I.

Dalam sambutannya, Ust. Nur Kholis mengajak dan menghimbau untuk sama-sama lebih fokus dan serius lagi dalam menjalankan amanah program dan terus jaga ukhuwwah silaturrahim.

“Kita harus lebih fokus lagi dalam amanahnya agar semua program bisa dijalankan secara maksimal,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Ust. Wahyu Rahman memberikan sambutannya dengan menekankan pada komitmen soliditas pengurus, kader dan jama’ah serta implementasi program.

“Kuatkan jama’ah itu, jangan membiarkan pecah belah, saling menggunjing dan memfitnah. Makanya di Hidayatullah itu ada saudara biologis dan ideologis. Dan, inilah persaudaraan yang luar biasa yang tak ada putusnya,” tegas beliau.

Ia menambahkan, “Jika bangunan persaudaraan ini kita semua dapat menjaganya, maka akan menjadi maghnet power, menarik semua orang untuk datang ke Pondok ini. Semoga Allah mudahkan kita untuk berkomitmen dalam merealisasikan setiap program yang telah disusun tersebut,” tegas Ust. Wahyu Rahman./*Arief Ismail Hanafie

Rakerwil Hidayatullah Maluku Utara Kuatkan Jatidiri dan Kinerja Organisasi

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) —Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama 3 hari digelar di Kampus Tahfizh Qur’an Pondok Pesantren Hidayatullah Gambesi, Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara, dibuka pada Jum’at, 7 Rajab 1445 (19/01/2023).

Tampak hadir dalam kegiatan Rakerwil antara lain dari unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Mudzakarah (DM), Dewan Murabbi Wilayah (DMW) serta diikuti oleh unsur DPW, DPD se-Maluku Utara, Organisasi Pendukung (Orpen) Pemuda dan Muslimat Hidayatullah Maluku Utara, amal usaha BMH, SAR, Pos Dai dan tuan rumah Kampus Madya Hidayatullah Ternate.

Dalam sambutan pembukaan acara Rakerwil, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara, Nur Kholis, menekankan pentingnya kesolidan kader pengurus baik di tingkat DPW maupun DPD agar senantiasa menjalankan amanah kelembagaan dengan penuh semangat, sabar dan rasa tanggung jawab.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan rutin Rakerwil ini adalah dalam rangkan megevaluasi program tahun 2023 dan menyusun program tahun 2024.

“Rakerwil ini adalah hajatan penting untuk evaluasi program-program dan kinerja kita tahun lalu, untuk mengukur sudah berapa persen yang telah berhasil direalisasikan dan yang belum dijalankan, kemudian berupaya menemukan solusi atas kendala-kendala yang dihadapi. Kemudian tak kalah penting adalah bagaimana menyusun program-program baru tahun 2024,” tutur Nur Kholis

Pada saat yang sama, Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Wahyu Rahman, menegaskan bahwa dalam evaluasi program harus secara objektif, agar dapat menilai dan mengukur secara riil implementasi daripada program tahun 2023.

Demikian juga dalam menyusun program-program strategis pada tahun 2024. Kata Wahyu, kita harus jujur dan objekrif dalam menilai hasil kerja tahun 2023 dan laporannya harus secara tertulis, karena itu adalah bagian dari tertib administrasi.

“Laporan Rakerwil harus ada progres dan perubahan. Bersyukurlah bila dapat terimplementasi dengan baik, dan bila belum terimplementasi semuanya maka perbanyak istighfar kepada Allah,” pungkas Wahyu Rahman

Sementara itu, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Malut, H. Riyadi Poniman, menekankan soal perlunya setiap kader harus terus menajaga hati dan ukhuwwah, dan tentu spiritual dengan halaqoh dan program-program perkaderan lainnya yang saling sinergi dengan Departemen Perkaderan DPW.

Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari tersebut akan dioptimalkan pencerahan kelembagaan oleh anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, Ust. H. Abdul Cholik, Lc., M.HI. Semoga kegiatannya berjalan dengan baik dan lancar, aamiin.*/Arif Ismail Hanafi

Lailatul Ijtima NTB Serap Refleksi Politik Silaturrahim Hadapi Pemilu 2024

0

LOMBOK TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menggelar kegiatan pengajian gabungan triwulan dalam suasana helatan Lailatul Ijtima bertajuk “Merawat Harmoni Kebangsaan dengan Politik Silaturrahim”, Sabtu malam, 8 Rajab 1445 (20/1/2024).

Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah menjadi tuan rumah berlangsungnya Lailatul Ijtima Hidayatullah yang diikuti oleh kader dari berbagai daerah se-Pulau Lombok ini.

Kegiatan yang diadakan pertiga bulan ini kian terasa istimewa dengan kehadiran Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ust. H. Muslihuddin Mustaqim, M.Pd.I. Tampak pula hadir membersamai yaitu para perintis dan senior lembaga.

Tak ketinggalan, hadir narasumber memberikan petikan hikmah yaitu unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah NTB yaitu Ust. Ismuji Ibnu Kastiran, S.Pd.I, Ust. Muzakkir Khalil Khayyath, M.HI, dan Ust. Muhammad Syamsul Bahri, M.HI

Pada refleksi malam dalam pembukaan rangkaian agenda ini yang berlangsung hingga Ahad besok, Ust. Muzakkir Khalil Khayyath, menyampaikan perihal politik silaturrahim. Dalam taushiahnya, ia menyoroti pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai silaturrahim dalam dunia politik.

“Silaturrahim bukan sekadar seremonial, ia juga merupakan fondasi yang kuat dalam membangun hubungan antarindividu dan kelompok masyarakat dalam bingkai ukhuwah,” kata Muzakkir Khalil.

Ia menegaskan, silaturrahim sebagai bagian dari ajaran Islam Ini adalah pondasi utama yang harus dijaga dan diperkuat, terutama dalam konteks berpolitik.

Muzakkir juga menekankan bahwa Hidayatullah sebagai elemen penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia terus mendorong para anggotanya untuk memperkuat jalinan silaturrahim dalam menghadapi Pemilu 2024.

Menurutnya, nilai-nilai ini bukan hanya menjadi pijakan moral, tetapi juga strategi yang efektif dalam membangun kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat.

“Politik harus dijalankan dengan integritas dan penuh kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Silaturrahim adalah kunci untuk memahami aspirasi rakyat secara mendalam,” tambahnya.

Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ustadz Muslihuddin Mustaqim, dalam sambutannya, menekankan pentingnya menginternalisasi nilai politik yang luhur dimana setiap kader Hidayatullah hendaknya hadir merangkul dengan nilai nilai silaturrahim.

Disamping itu, Muslihuddin juga menekankan pentingnya peran para kader, ulama, dan tokoh agama dalam memberikan arahan moral dan spiritual dalam dinamika politik.

Dia menambahkan, selain sebagai ajang untuk konsolidasi dalam menguatkan arus utama gerakan di bidang dakwah dan tarbiyah, kegiatan rutin Lailatul Ijtima Hidayatullah NTB kali ini juga sebagai wadah untuk memperkuat ikatan sosial dan politik yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Ia pun berharap Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah sebagai tuan rumah menjadi pusat harmonisasi spiritual dan politik, di mana peserta dapat meresapi nilai-nilai yang menjadi landasan perjuangan Hidayatullah di panggung politik Indonesia.*/Agus Adnan