Beranda blog Halaman 221

Meneguhkan Komitmen Dukung Kemerdekaan Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kondisi terkini di jalur Gaza masih sangat memprihatikan. Setidaknya 48 jam setelah Mahkamah Internasional (ICJ) mengeluarkan putusan, Israel terus membunuh warga Palestina di Gaza sama banyaknya dengan yang terjadi sebelum sidang digelar.

Hal itu diungkap oleh sebuah kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM) Euro-Meditetani pada Senin (29/1/2024).

Sebagaimana diberitakan Al Jazeera, kelompok yang berbasis di Jenew aitu melaporkan bahwa tantara Israel telah membunuh sedikitnya 373 warga Palestina, termasuk 345 warga sipil dan melukai 643 orang lainnya dalam dua hari setelah putusan ICJ atas dugaan tindakan genosida.

Israel juga telah meningkatkan upayanya untuk membuat warga Palestina kelaparan serta secara paksa mengusir mereka dari rumah-rumah mereka di jalur Gaza, kata kelompok tersebut.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) meneguhkan komitmennya untuk terus membantu Palestina.

Kali ini BMH akan mengirimkan delegasi untuk mengawal bantuan kemanusian untuk Palestina yang didistribusikan melalui pintu Rafah di Mesir.

Pelepasan digelar di Kantor Pusat BMH di Jakarta Selatan pada Senin, 17 Rajab 1445 (29/1/2024). Dalam kesempatan konferensi pers pengiriman relawan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina itu, BMH juga melaporkan beberapa agendanya ke depan dalam rangka membantu perjuangan rakyat Palestina.

Delegasi kemanusiaan BMH akan diberangkatkan pada Selasa, 30/01/2024 melalui jalur Mesir yang juga akan mengunjugi pengungsi Palestina yang ada di Yordania.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi mengatakan, “Gerakan kemanusiaan ini senafas dengan spirit Indonesia melalui Kemenlu yang akan terus membela Palestina sampai meraih merdeka sepenuhnya”.

Imam juga mengatakan, bahwa bantuan umat Islam tidak akan pernah berhenti, karena orang-orang Palestina selalu tegar, teguh dan yakin kemenangan semakin dekat.

Laznas BMH telah mengirimkan bantuan hingga Desember 2023 senilai Rp.3.514.000.000 dengan jumlah 8.659 penerima manfaat. Bantuan kemanusiaan ini merupakan tahap ke 10 yang dikirim oleh BMH untuk warga Palestina yang sudah dimulai sejak tahun 2014.

Kepala Implementator Program BMH Pusat, Syamsuddin, menyebutkan, ini adalah tahapan ke-10 dari penyaluran bantuan yang BMH fasilitasi. Alhamdulillah, berkat dukungan kaum muslimin semua, BMH telah terlibat aktif membantu Palestina sejak 2014 dengan berbagai program.

“Program itu seperti beasiswa pendidikan kedokteran untuk mahasiswa di Palestina, armada ambulance, mendirikan rumah Qur’an, santunan yatim dan janda dari syuhada Palestina, serta bantuan perbaikan rumah korban perang,” kata Syamsuddin.

Dhiyauddin yang mendapat amanah untuk mengawal bantuan kemanusian untuk Palestina memohon do’a agar dalam misi kemanusiaan selalu dalam lindungan dan pertolongan Allah SWT.

“Semoga amanah yang dititipkan umat Islam di Indonesia dapat dirasakan manfaatnya oleh warga Palestina yang membutuhkan,” katanya.

Tercetusnya program ini sebagai wujud komitmen BMH dalam memberikan dukungan terhadap warga Palestina yang masih dalam kondisi terjajah oleh tentara zionis Israel.

Seiring meningkatnya kepercayaan umat kepada BMH sebagai perantara (fasilitator) dalam menyalurkan bantuan kemanusian.*/Adam Sukiman

Semarak Ramadhan 1445, BMH Galang Bantuan dan Spirit Kemenangan untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) telah melakukan berbagai program dan upaya dalam rangka menggalang kekuatan umat Islam dan warga dunia secara umum untuk membantu rakyat Palestina meraih kemenangan dan kemerdekaannya. Upaya tersebut akan diperkuat pada bulan Ramadhan 1445 mendatang.

Dalam kesempatan konferensi pers di Kantor Pusat BMH di Jakarta Selatan pada Senin, 17 Rajab 1445 (29/1/2024), kepada awak media terkait pengiriman relawan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina, BMH juga melaporkan beberapa agendanya ke depan dalam rangka membantu perjuangan rakyat Palestina.

Kepala Departemen Implementator Program BMH, Syamsudin, menyebutkan bahwa salah satu agenda BMH yang akan dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun ini ialah keliling ke seluruh Indonesia untuk menggalang bantuan bagi Palestina.

“Insyaallah dalam waktu dekat ini, di bulan Ramadhan nanti kita akan mengadakan safari Ramadhan bersama imam-imam dari Palestina, yang akan terlaksana di seluruh provinsi di tanah air. Alhamdulillah kini sedang kita siapkan ada 5 imam Palestina yang akan jaulah,” kata pria yang akrab disapa Syam ini.

Selain itu, di bulan Ramadhan nanti juga, BMH akan menyiapkan paket sahur dan buka puasa serta paket lebaran bagi rakyat Palestina agar bisa menikmati bulan suci dan hari kemenangan.

“Kita juga akan terus menguatkan ikhtiar mendukung Palestina dengan mengirimkan bantuan paket makanan pokok yang harapannya ini akan menjadi bekal untuk sahur dan buka puasa saudara-saudara kita selama Ramadhan di sana serta juga paket bantuan untuk mereka bisa merayakan lebaran di tahun ini,” jelasnya.

Syam berharap apa yang dilakukan oleh BMH dan orang-orang yang menitipkan bantuan kepada BMH ini bisa menjadi persembahan bagi perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam kesempatan konferensi pers itu juga, ia berterima kasih kepada masyarakat Indonesia.

“Tentu kita sama-sama berharap, apa yang bisa kita berikan dan perbuat ini bisa sampai Palestina merdeka sepenuhnya,” ujarnya.

Pihaknya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia yang telah berpuluh tahun mendukung saudara kita di Palestina, entah itu dengan do’a, aksi damai, dan juga bantuan kemanusiaan melalui banyak lembaga dan salah satunya ialah BMH.

Sebelumnya, dalam agenda konferensi pers tersebut juga, Kepala Humas BMH, Imam Nawawi, telah menegaskan komitmen BMH untuk terus membantu umat Islam Palestina dan yakin bahwa kemenangan Palestina kian dekat.

Imam menegaskan, Laznas BMH tidak akan pernah berhenti membantu saudara-saudara kita di Palestina.

“Yang paling unik, di saat tren bunuh diri merebak, orang-orang di Gaza dengan kondisi yang tidak menentu dan sedikit harapan secara rasional, justru mereka semakin yakin bahwa kemenangan semakin dekat. Inilah energi yang harus kita ambil,” kata Imam.*/Rizki Ulfahadi

Laznas BMH Hadirkan Sumur Bor di Kampung Zakat Kota Serang

0

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Kementerian Agama Kota Serang menginisiasi pembentukan Kampung Zakat sebagai wadah kolaborasi pemberdayaan dana zakat, infak, shadaqah, wakaf dan lainnya dari Baznas dan Laznas.

Kampung Zakat Kota Serang berlokasi di Link. Katepeng, Kelurahan Lebakwangi, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Provinsi Banten, dengan Pesantren Daarun Najah Walantaka sebagai kantor sekretariatnya.

Pada hari Jumat, 26 Januari 2024, Kemenag Kota Serang mengadakan pertemuan dengan seluruh lembaga zakat berizin resmi di aula majlis Pesantren Daarun Najah Walantaka.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kasi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Kota Serang, perwakilan camat Walantaka, Lurah Lebakwangi, penyuluh agama se-kecamatan Walantaka, dan beberapa lembaga zakat.

Masing-masing lembaga zakat memaparkan program-program yang akan direalisasikan di Kampung Zakat.

“Laznas BMH Perwakilan Banten telah merealisasikan program bantuan sumur bor dan sedekah beras santri untuk Pesantren Daarun Najah Walantaka,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani.

Selain itu menanggapi tingginya angka anak-anak putus sekolah di Katepeng, BMH juga menawarkan program beasiswa untuk anak-anak yang siap menjadi santri di pesantren binaan BMH.

Retno Damayanti, Lurah Lebakwangi, mengapresiasi langkah BMH sebagai lembaga zakat pertama yang merealisasikan programnya di Kampung Zakat.

“Saya sangat berterimakasih kepada BMH atas bantuannya untuk warga kami di sini. Semoga program yang lain bisa menyusul agar masyarakat semakin terbantu,” harapnya.*/Herim

Siapakah “Orang Baik” itu?

0

PERNAH dengar omongan semacam ini? Ada yang bilang, “Gak penting agamanya apa! Yang penting dia baik, bisa kerja, gak nipu, dan emoh korupsi”.

“Mau bertato, gondrong, pake anting, kalo baik, emangnya kenapa? Masalah buat elo?! Daripada berpenampilan rapi, jidatnya gosong, celananya cingkrang, pake baju koko, ternyata maling!”

Di tengah-tengah masyarakat yang semakin terbuka, ditambah akses media dan informasi yang relatif mudah, banyak lontaran lontaran seperti itu yang beredar.

Kadang di-forward begitu saja secara berantai dalam medsos (media sosial) semisal FB maupun Whatsapp. Adakalanya diperdebatkan sedemikian panas dalam grup-grup tertentu, dan acapkali memancing reaksi-reaksi yang liar serta sarat pelecehan.

Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Untuk memulai diskusi ini, salah satu yang terpenting adalah memahami apa definisi “baik” itu sendiri.

Sebagai muslim, tentu saja kita merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya, sebelum yang lain-lain. Dengannya pula kita akan menimbang kategori dan definisi yang dikemukakan siapa pun.

Dalam bahasa Arab sendiri, ada banyak kosakata yang maknanya merujuk kepada kebaikan, seperti “al-khair, “al-hasanah”, “al-ma’ruf”, dan “al-birr”. Di antara keempatnya, “al-birr” adalah induk seluruh kebaikan.

Dalam kamus Lisanul ‘Arab disitir pernyataan Abu Manshur, bahwa “al-birr” adalah kebaikan dunia dan akhirat. Istilah ini secara tepat dipilih dalam surah al-Baqarah: 177 ketika Allah menjelaskan tentang kebaikan:

لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan (al-birr), akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemiskinan, sakit dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Disebutkan dalam Tafsir Zadul Masir (yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha, adh-Dhahhak, dan Sufyan), ayat ini menjelaskan bahwa shalat bukanlah kebaikan satu-satunya. Akan tetapi, yang dimaksud kebaikan adalah semua yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Shalat hanyalah satu diantaranya, bukan satu-satunya. Padahal, shalat adalah pilar terpenting dalam Islam setelah Syahadat.

Apabila shalat tidak bisa dijadikan kriteria tunggal untuk menyebut seseorang sebagai sosok yang baik, lantas bagaimana dengan yang lain?

Maka, menilai seseorang itu baik hanya karena ia sopan, atau tidak korupsi, atau gemar berderma, jelas sangat parsial. Sama halnya dengan menilai kebaikan seseorang hanya dari shalatnya, ini juga parsial.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Bukanlah kebajikan itu bila kalian shalat dan tidak beramal (yang lainnya). Ini terjadi sejak (Rasulullah) pindah dari Makkah ke Madinah, kewajiban-kewajiban diturunkan, dan batasan-batasan ditetapkan. Allah memerintahkan hal-hal yang wajib itu dan menyuruh mengamalkannya.”

Alhasil, orang-orang yang rajin beribadah sampai hitam jidatnya tidak bisa disebut sebagai orang baik jika tidak berlaku amanah dalam bisnis, suka ingkar janji, dan pelit.

Menurut Ibnu Katsir, dulu sebagian muslim dan Ahli Kitab merasa berat menerima kenyataan bahwa menjadi orang baik tidak cukup dengan shalat saja, sebab Allah telah menurunkan berbagai kewajiban dan meminta mereka untuk melaksanakannya.

Sebagaimana diketahui, ayat tersebut turun di Madinah, sementara shalat merupakan kewajiban pertama yang diturunkan di penghujung Periode Makkah. Lalu, pada masa-masa awal Periode Madinah kewajiban demi kewajiban turun menyusulnya seperti puasa Ramadhan, zakat, dan jihad.

Logika ini bisa dibalik, bahwa tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan atribut “baik” dalam perspektif Islam bila seseorang hanya rajin bekerja, jujur, atau santun; sementara ia tidak beriman kepada Allah, tidak mengerjakan shalat, dan enggan menunaikan zakat. Allah mengajari kita untuk berpikir dan menilai seseorang secara utuh, dari segenap sudut.

Bila kita perhatikan baik-baik, ayat 177 dari surah al-Baqarah di atas mencakup kaidah-kaidah mendasar dalam akidah, ibadah, dan mu’amalah sekaligus.

Ada aspek-aspek keyakinan seperti beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat, Kitabullah, dan para Nabi. Ada pula aspek-aspek ibadah seperti shalat dan zakat.

Ada lagi aspek mu’amalah dan akhlak seperti menyantuni karib kerabat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, peminta-minta, memerdekakan budak, menepati janji, dan bersabar dalam segala kondisi.

Islam tidak menerima pemisahan-pemisahan, karena hal itu mencirikan cara berpikir sekuler. Allah menghendaki kita menjadi orang-orang yang memiliki keimanan yang baik, ketekunan beribadah, akhlak yang indah, sekaligus bisa diandalkan ketika bermu’amalah dengan sesama. Inilah orang-orang baik dalam arti sebenarnya.

Dengan demikian, sekarang kita dapat menilai secara mantap lontaran-lontaran yang berseliweran di sekitar kita. Sederhana saja logikanya, bahwa yang disebut orang baik itu bukan hanya yang rajin shalat.

Orang baik adalah yang dalam kehidupannya terlihat segenap sifat-sifat yang ditunjukkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Sudah pasti pula tidak bisa disebut orang baik bila dia hanya profesional, pekerja keras, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, namun pada saat bersamaan akidahnya menyimpang dan ibadahnya berantakan.

Untuk itu, mari berupaya keras memenuhi seluruh karakteristik yang Allah sebutkan, dan mari kita tinggalkan perdebatan-perdebatan liar itu. Kelak, biar Allah sendiri yang menyematkan gelar “orang baik” itu kepada kita. Amin. Wallahu alam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Sejarah Singkat Kebijakan ‘Israel’ Selama 33 Tahun untuk Membuat Gaza Kelaparan

Oleh Zachary Foster*

SUDAH 5 minggu sejak Human Rights Watch (HRW) melaporkan bahwa ‘Israel’ membuat warga Palestina kelaparan “sebagai senjata perang”; 5 minggu sejak PBB mengatakan lebih dari 1 dari 4 orang di Gaza kelaparan; 5 minggu sejak 1 dari 2 orang di Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan tingkat “Darurat” atau “Bencana”; 5 minggu sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa risiko kelaparan “meningkat setiap hari.”

‘Israel’ membuat lebih dari satu juta warga Palestina kelaparan hingga meninggal. “Semua orang di Gaza kelaparan,” lapor PBB pekan ini. “Jika kondisi seperti ini terus berlangsung,” kata Alex de Waal, Direktur Eksekutif World Peace Foundation, kelaparan akan terjadi di Gaza pada awal bulan Februari.”

Menurut sejumlah kesaksian, masyarakat menggiling pakan kelinci menjadi bubuk untuk membuat roti karena tepung tidak dapat ditemukan. Kini, Al Jazeera memberitakan bahwa pakan ternak pun telah habis. Jangan salah, Gaza berada di ambang kelaparan.

Kelaparan yang terjadi di depan mata kita tidak dimulai 5 minggu yang lalu atau bahkan 3 setengah bulan yang lalu.

Asal mula kelaparan di Gaza saat ini dapat ditelusuri hingga bulan Januari 1991, ketika ‘Israel’ mewajibkan semua warga Palestina di Gaza (dan Tepi Barat) untuk mendapatkan izin memasuki wilayah Palestina yang kini disebut ‘Israel’.

Selama beberapa dekade, pada tahun 1970-an dan 1980-an, ‘Israel’ telah memberikan insentif kepada warga Palestina di Gaza untuk bekerja di ‘Israel’. Idenya adalah mereka akan mendapatkan lebih banyak uang sehingga menerima penjajahan militer yang dikenakan kepada mereka.

Namun, pada akhir tahun 1980-an, penjajahan tersebut menimbulkan kebencian. Tampaknya masyarakat ingin mengungkapkan pendapat terhadap pemerintah yang mengendalikan kehidupan mereka. Keinginan warga Palestina itu ditolak, jadi mereka bangkit pada akhir tahun 1987 yang dikenal dengan Intifadhah.

‘Israel’ membutuhkan strategi baru untuk membungkam warga Palestina. Oleh karena itu, lahirlah rezim izin kerja. Semua warga Palestina di wilayah-wilayah terjajah sekarang perlu mengajukan izin bekerja di ‘Israel’.

Hak universal diubah menjadi hak istimewa yang didambakan. ‘Israel’ mengancam mata pencaharian 40% warga Gaza yang bekerja di ‘Israel’ pada saat itu, kemudian memanfaatkan hak untuk bekerja di ‘Israel’ untuk menundukkan perlawanan Palestina. Perlawanan apa pun terhadap penjajah, termasuk perlawanan tanpa kekerasan, dan aktivitas politik apa pun, akan mendiskualifikasi warga Palestina untuk menerima izin kerja.

Rezim izin kerja gagal meyakinkan warga Palestina untuk menerima penaklukan, jadi ‘Israel’ memberlakukan lebih banyak pembatasan, khususnya, lockdown: militer ‘Israel’ mendirikan penghalang jalan dan pos pemeriksaan masuk dan keluar dari kota-kota dan desa-desa Palestina yang mencegah kebebasan bergerak di dalam atau keluar Gaza selama periode 64 hari pada tahun 1994, 84 hari pada tahun 1995 dan 90 hari pada tahun 1996. Selama periode lockdown total, tingkat kehilangan pekerjaan mencapai angka yang mengejutkan sebesar 70% di Jalur Gaza.

Inilah saat kerawanan pangan pertama kali mencapai tingkat darurat di Gaza. Krisis ini menjadi sangat buruk sehingga Program Pangan Dunia (WFP) meluncurkan operasi darurat pada tahun 1996, yang menargetkan 10.000 keluarga di Jalur Gaza yang kesulitan untuk mendapatkan cukup makanan.

Segalanya membaik pada akhir tahun 1990-an, namun pada awal tahun 2000-an, ketika kekerasan antara ‘Israel’ dan Palestina mencapai tingkat tertinggi hingga saat ini, ‘Israel’ kembali memberlakukan lockdown.

Dengan adanya lockdown, muncullah kehilangan pekerjaan massal, dengan kehilangan pekerjaan massal, muncullah kerawanan pangan. Lockdown pada awal tahun 2000-an menyebabkan tingkat kehilangan pekerjaan sebesar 40% di Jalur Gaza, menyebabkan satu juta warga Palestina mengalami kerawanan pangan.

Sebuah studi pada tahun 2004 menemukan prevalensi malnutrisi dan defisiensi nutrisi di Gaza. Program Pangan Dunia (WFP) kembali meluncurkan “operasi darurat” pada tahun 2002–2004, kali ini tidak hanya membantu puluhan, melainkan ratusan ribu orang yang membutuhkan bantuan pangan darurat.

Situasi di Gaza semakin memburuk, dan kita masih berada di awal tahun 2000-an.

Pada tahun 2005, Perdana Menteri ‘Israel’ Ariel Sharon memutuskan untuk mengencangkan jerat di sekitar Gaza sekali lagi, namun ia menggunakan trik licik untuk membenarkan hal tersebut. Ia menyingkirkan 6.000 pemukim ilegal ‘Israel’ yang tinggal di Gaza, lalu mendeklarasikan “berakhirnya kendali dan tanggung jawab ‘Israel’ atas Jalur Gaza.” Di mata ‘Israel’, apa pun yang terjadi di Gaza setelah September 2005 “bukanlah tanggung jawab mereka.”

Pakar hukum internasional menolak argumen tersebut, karena ‘Israel’ masih menguasai 6 dari 7 perbatasan darat, pencatatan penduduk, rezim perpajakan, air tanah, wilayah udara, perairan pesisir, jaringan telekomunikasi dan listrik, hal-hal yang memberikan ‘Israel’ kekuasaan yang sangat besar atas Gaza. Itu berarti ‘Israel’ masih menjadi kekuatan penjajahan di Gaza menurut sebagian besar pakar hukum internasional.

Kemudian, pada bulan Januari 2006, Hamas memenangkan pemilu demokratis yang bebas dan adil. Enam bulan kemudian, mereka menangkap seorang serdadu ‘Israel’, Gilad Shalit. ‘Israel’ menerapkan lockdown yang paling parah hingga saat ini. Pelintasan Rafah ditutup selama 148 hari pada tahun 2006 sehingga mendorong tingkat kehilangan pekerjaan kembali sebesar 40%. PDB per kapita turun sebesar 30% dalam satu tahun.

Setelah Hamas memenangkan pemilu tahun 2006, Amerika Serikat dan ‘Israel’ mendanai dan mendukung saingan Hamas, Fatah, meskipun mereka kalah dalam pemilu. Hal ini memicu perang saudara, di mana Hamas mengambil alih Gaza pada bulan Juni 2007.

Militer ‘Israel’ sekali lagi mengencangkan jeratnya di sekitar Gaza untuk menghukum rakyat Gaza karena telah memilih Hamas. Grafik berikut menunjukkan jumlah orang yang keluar dari Gaza dari tahun 2000 hingga 2022:

Dalam setahun, Federasi Industri Palestina memperkirakan bahwa 98% bisnis terpaksa tutup. Tidak termasuk pengiriman uang ke luar negeri dan bantuan makanan, tingkat kemiskinan di Gaza dengan cepat meningkat menjadi 79%, sedangkan 66% berada dalam “kemiskinan parah”.

“Diet”

Pada akhir tahun 2000-an, ‘Israel’ ingin membuat rakyat Gaza menderita, namun tidak kelaparan. Pada saat itu, para pemimpin ‘Israel’ tidak berpikir dunia akan membiarkan kematian akibat kelaparan terjadi di Gaza. (Ternyata mereka salah tentang hal itu.)

Oleh karena itu, untuk memastikan tidak terjadi kelaparan, Kementerian Kesehatan ‘Israel’ mulai menghitung kebutuhan kalori penduduk Gaza, dan hanya mengizinkan makanan sebanyak itu masuk. Dov Weisglass, penasihat mantan Perdana Menteri Ehud Olmert, menyimpulkan kebijakan ‘Israel’ seperti ini: “Idenya adalah untuk membuat orang-orang Palestina melakukan diet, namun tidak membuat mereka mati kelaparan.”

Pada tahun 2023, penduduk Gaza telah menjalani “diet” selama 16 tahun, dan berada di ambang kehancuran. Laporan PBB tahun 2022 menemukan bahwa 76% rumah tangga khawatir tidak memiliki cukup makanan; 54% warga Gaza harus meminjam uang untuk membeli makanan; 52% harus mengurangi biaya kesehatan dan 46% harus mengurangi atau menghentikan pembayaran utilitas, seperti listrik demi menyediakan makanan yang cukup. Sementara itu, rumah tangga menghabiskan rata-rata 56% uangnya untuk makanan.

Begitulah keadaan Gaza jauh sebelum 7 Oktober. Penduduk yang terkepung sangat bergantung pada bantuan pangan untuk bertahan hidup.

Setelah hampir empat bulan melakukan perang genosida di Gaza, ‘Israel’ telah memberlakukan lockdown paling parah hingga saat ini, mencegah makanan apa pun masuk ke Gaza selama hampir sebulan, dan sejak itu hanya sebagian kecil dari kebutuhan pangan Gaza.

Pada saat artikel ini ditulis, diperkirakan 95% orang yang kelaparan di dunia kini berada di Gaza.[]

*) Zachary Foster, penulis adalah sejarawan Palestina. Artikel ini dikutip dari Palestine Beehiiv yang diterjemahkan oleh Sahabat Al Aqsha

Islamic Medical Service bareng Prudential Syariah Baksos Kesehatan di Pesisir Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga swadaya kesehatan nasional Islamic Medical Service (IMS) yang didukung Prudential Syariah melakukan bakti sosial (baksos) kesehatan untuk masyarakat pesisir Jakarta, tepatnya di Rumah Tahfidz Apung, Muara Kamal, Jakarta Utara, Ahad, 16 Rajab 1445 (28/1/2024).

Kegiatan program ini menyasar 120 peserta yang bertempat tinggal di sekitar lokasi baksos kesehatan.

Staf Program dan Emergency IMS, Muhammad Sathuri, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Hidayatullah, Prudential Syariah, dan IMS sebagai implementator, yang bertujuan untuk memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat pesisir.

“Kami berharap kerjasama ini terus terjalin dengan baik untuk memberikan dampak positif yang lebih besar kepada masyarakat pesisir,” ujar Sathuri dalam keteranganya.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah relawan dan tenaga medis dari IMS yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Layanan yang disediakan meliputi pemeriksaan kesehatan umum seperti medical check up (MCU) dokter, general check up (GCU) mencakup pemeriksaan lab gula darah, kolesterol, dan asam urat. Ada juga layanan konsultasi medis, serta pembagian obat-obatan secara gratis.

Selain itu, kegiatan tersebut juga melibatkan para ahli kesehatan mental untuk memberikan dukungan psikologis kepada masyarakat.

Rumah Tahfidz Apung dipilih sebagai lokasi kegiatan bakti sosial ini karena merupakan pusat aktivitas pendidikan dan keagamaan di pesisir Jakarta.

Melalui acara ini, IMS dan Prudential Syariah berkomitmen untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya yang tinggal di daerah pesisir yang mungkin sulit mengakses layanan kesehatan.

Sathuri menambahkan, acara bakti sosial kesehatan ini tidak hanya berfokus pada pemberian layanan kesehatan, tetapi juga sebagai wujud kepedulian sosial dan kebersamaan antara berbagai pihak.

“Kami berharap kolaborasi ini terus terjalin untuk berkontribusi positif dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sathuri menandaskan.

Antusiasme Masyarakat Pesisir

Acara ini mendapat sambutan meriah penuh antusias dari masyarakat. Rizwan, salah seorang tokoh masyarakat di Muara Kamal, mengatakan warga amat senang dengan adanya kegiatan kegiatan bakti sosial kesehatan ini.

“Saya mewakili masyarakat pesisir Muara Kamal mengucapkan banyak terimakasih kepada Prudential Syariah serta tim IMS selaku pelaksana medis dari Hidayatullah, yang telah mewujudkan program ini berjalan di sini,” kata Rizwan menutup, seraya berharap program ini bisa terlaksana secara berkesinambungan.

Dalam kesempatan yang sama, Sulaiman, Pengurus RW 1 Muara Kamal mengatakan memang di wilayahnya tak sedikit warga yang sangat rentan terhadap penyakit.

“Dengan adanya program ini, masyarakat bisa menjadi lebih baik dalam mengantasipasi penyakitnya serta bisa mengatasi minimal secara mandiri untuk bisa hidup sehat,” imbuhnya.

Kegiatan baksos kesehatan ini berjalan semarak yang dipimpin langsung oleh dr Desrita.

Pada sesi akhir dari kegiatan, dr Desrita melaporkan bahwa masyarakat pesisir Muara Kamal, Jakarta Utara, yang telah mengikuti baksos kesehatan ini paling banyak penyakit yang diidap yaitu hipertensi dan tingginya kolesterol.

“Tingginya pasien hipertensi dan kolesterol ini tidak terlepas dari pola makan yang kurang baik seperti memakan ikan asin dan lain sebagainya,” kata dr Desrita.

Karenanya, dr Desrita menyarankan dan berharap masyarakat setempat bisa lebih memperhatikan pola makan yang baik demi menjaga kesehatan bagi tubuh mereka.*/Ridho Fateh Ahmed

Tabligh Akbar Rangkaian Rakerwil Sulut Angkat Tema Muslim Rahmatan Lil ‘Aalamiin di Era 4.0

0

BITUNG (Hidayatullah.or.id) — Kota Bitung menjadi ruan rumah penyelenggaraan agenda Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang dibuka pada Ahad, 16 Rajab 1445 (28/1/20240).

Dalam sambutannya saat mengantar Rakerwil yang digelar selama 3 hari di Kota Bitung ini, Ketua Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat (DPP), KH. Muhammad Syakir Syafi’i, Lc, MA, membacakan sambutan Ketum Umum DPP Hidayatullah.

Syakir juga menekankan tentang perlunya dua sikap serius bagi setiap kader terlebih pengurus terhadap manhaj Sistematika Wahyu (SW) sebagai ajaran untuk dipahami dengan baik dan SW sebagai amalan yang benar benar dilaksanakan dengan baik.

Ditekankan bahwa penerapan Sistematika Wahyu, baik sebagai konsep pemahaman maupun amalan sehari-hari, merupakan upaya untuk mencapai keselarasan antara ajaran Islam dan kehidupan nyata, sehingga memungkinkan setiap muslim, terutama bagi kader Hidayatullaj, untuk berkembang dalam spiritualitas dan menghadapi tantangan zaman dengan bijak.

Dalam pada itu, Sistematika Wahyu merupakan suatu pendekatan yang memadukan aspek pemahaman dan implementasi ajaran Islam yang melibatkan pemahaman dan pelaksanaan wahyu Ilahi yang terkandung dalam Al-Quran dan hadis sebagai panduan utama bagi umat Muslim.

Perhelatan Rakerwil DPW Hidayatullah Sulut ini merupakan bagian dari agenda tahunan organisasi yang memiliki posisi sangat penting sebagai upaya untuk merefresh kembali program program kerja tahun sebelumnya dan merencanakan program strategis Hidayatullah Sulawesi Utara setahun mendatang.

Menjadi Muslim Rahmatan Lil ‘Aalamiin di Era 4.0

Sebagai bagian dari syiar untuk menggabungkan agenda Rakerwil ini, DPW Hidayatullah Sulut bekerjasama dengan Kampus Madya Hidayatullah Bitung melaksanakan kegiatan Tabligh Akbar yang dihadiri oleh orangtua murid, kelompok majelis majelis taklim dan Badan Kontak Majelis Taklim (BMKT) Kota Bitung.

Tabligh akbar ini mengangkat tema “Menjadi Muslim Rahmatan Lil ‘Aalamiin di Era 4.0” yang dibawakan oleh penceramah dari Jogjakarta KH. Muhammad Syakir Syafi’i, Lc, MA.

Tabligh akbar ini juga dirangkaikan dengan penggalangan dana pelunasan pembayaran tanah Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung yang dipimpin oleh Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Bitung, Letkol Inf. H. Ruslan Abdul Gani, S.Sos, MM dan berhasil terkumpul dana sebanyak 12 juta rupiah.

Selesai kegiatan tabligh akbar di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung, semua peserta Rakerwil diarahkan untuk bergeser ke lokasi kegiatan Rakerwil yang dilaksanakan di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Kota Bitung.

Tepat Pukul 16.00 WITA kegiatan Pembukaan Rakerwil dimulai dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Umum MUI Provinsi Sulut Prof. DR. Nasruddin Yusuf, S.Ag, M.Ag.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa untuk tataran program dakwah dan pesantren, maka Hidayatullah Sulut merupakan pemenangnya karena hampir di setiap daerah di Sulawesi Utara ini telah hadir Pesantren Hidayatullah yang berkhidmat untuk masyarakat.

Pada kesempatan tersebut hadir juga Ketua Dewab Murabbi Wilayah (DMW) diwakili oleh Anggota DMW Ust. Nuryadin Majid. Dalam sambutannya, ia menitikberatkan pada peningkatan kualitas aspek ibadah baik mahdhah maupun gerakan nawafil Hidayatullah.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Sulut, Ust. Samsul Arifin, menyampaikan tentang peran ormas Hidayatullah dalam program mainstream tarbiyah dan dakwah di Sulawesi Utara.

Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Utara yang mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi” ini dihadiri antara lain dari unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Mudzakarah (DM), Dewan Murabbi Wilayah (DMW).

Forum juga diikuti oleh unsur DPW, DPD se-Sulawesi Utara, Organisasi Pendukung (Orpen) Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah Sulut, unsur amal usaha BMH, Search & Rescue (SAR), Pos Dai dan tuan rumah Kampus Hidayatullah Kota Bitung.*/Ahmad Taufik

Laznas BMH Berangkatkan Delegasi Kemanusiaan untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) merasa butuh untuk terus melakukan berbagai upaya agar empati umat Islam Indonesia untuk rakyat Palestina di Gaza dapat tersalurkan dengan baik dan berkelanjutan.

Oleh karena itu pada 30 Januari 2024, delegasi Laznas BMH siap berangkat mengawal bantuan umat Islam melalui Mesir. Langkah kemanusiaan ini sebagai upaya mendukung Palestina yang kini masih terus dijajah.

“Gerakan kemanusiaan ini senafas dengan spirit Indonesia melalui Kemenlu yang akan terus membela Palestina sampai meraih merdeka sepenuh-penuhnya,” kata Corcomm Laznas BMH Pusat, Imam Nawawi, dalam sambutannya pada pelepasan delegasi di Kantor BMH Pusat, Kalibata Office Park, Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Senin, 17 Rajab 1445 (29/1/2024).

Imam menyampaikan, kita patut mengambil inspirasi dari rakyat Gaza yang dalam derita mampu menampakkan teguhnya imam sehingga banyak orang tergugah dan mendapat hidayah.

“Bantuan ini tidak akan pernah berhenti, karena umat Islam akan terus membantu orang-orang Palestina yang selalu tegar, teguh dan yakin kemenangan akan dekat,” imbuhnya.

Ia menambahkan, delegasi Laznas BMH akan mengawal bantuan umat Islam melalui Mesir. Hal ini karena untuk langsung ke Gaza, situasinya tidak dapat diprediksi dan nyaris seluruh lembaga kemanusiaan juga berhimpun di Mesir.

“Sejauh ini Laznas BMH telah membangun kerjasama pengiriman bantuan melalui berbagai pihak, termasuk Duta Besar Palestina untuk Indonesia, bahkan dengan pemerintah Indonesia,” katanya.

Laznas BMH telah mengirimkan bantuan hingga Desember 2023 senilai Rp. 3.514.000.000 yang memberi manfaat kepada sejumlah 8.659 jiwa.

Selama delegasi di Mesir, Imam menyebutkan, beberapa hal akan dilakukan yaitu pengiriman winter pack & hygiene kit truck/container dari Mesir ke Gaza, pengiriman paket logistik pangan truck/container dari Mesir ke Gaza, dan pengiriman flour truck/container dari Mesir ke Gaza.

Adapun untuk program Ramadhan di Palestina Laznas BMH telah menyiapkan beberapa jenis program, yakni winter pack & hygiene Kit truck/container, paket logistik pangan truck/container, flour truck/container, dan bingkisan lebaran Palestina. (ybh/hidayatullah.or.id)

Gelar Rakerwil, Hidayatullah Jawa Barat Kuatkan Visi Berjamaah

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama 2 hari, 15-16 Rajab 1445 (27-28/1/2024).

Raker yang bertema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi, Dan Integrasi Sistemik” ini bertempat di Villa Haji Saidi, Cilengkrang, Bandung, Jawa Barat.

Acara ini dibuka oleh M.D. Syahrul Ramdhani yang mewakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Faiz Rahman, S.STP, M.A.P.

Dalam sambutannya, Syahrul Ramadhani menyampaikan apresiasi kepada ormas Hidayatullah. “Kami sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan Hidayatullah di bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan,” ujarnya.

“Saya mewakili Kabiro Kesra Setda Provinsi Jawa Barat menyampaikan selamat melaksanakan Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat, semoga acaranya berjalan lancar,” katanya.

Lebih lanjut ia menyampaikan beberapa program di Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Barat di antaranya program 1 desa 1 hafidz Qur’an, jaminan sosial, dan ulama juara.

“Silahkan pintu kami terbuka dan semoga bisa bersinergi dan berkolaborasi dengan Hidayatullah,” pungkasnya.

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, MM, dan Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota, Iwan Abdullah, M.Si hadir sebagai pendamping Rakerwil.

Menurut Wahyu Rahman, dalam sambutannya, raker kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena ada pergantian antar waktu (PAW). Namun lanjutnya, “Raker ini sebagai momentum untuk konsolidasi dan evaluasi. Ini penting dalam sebuah organisasi yang terus berkembang,” katanya.

Wahyu memaparkan, bahwa evaluasi yang dilakukan harus objektif, mana program yang berhasil dan tidak berhasil di tahun 2023, “dengan demikian kita akan melakukan perbaikan dan mampu melihat akar masalahnya.”

Wahyu menekankan bahwa Hidayatullah adalah lembaga perjuangan dan berjamaah. “Kalau ada program yang tercapai, maka itu prestasi bersama, bukan individu karena kita ini berjamaah dan pasti ada keterlibatan Allah,” tegas Wahyu.

“Ini ada doa jamaah, ada doa perintis bahkan doa pemimpin umum. Mental ini harus dibangun oleh para kader agar kita tidak riya’, tidak sombong, karena itu kita kuatkan visi berjamaah,” pungkasnya.

Sementara Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat Ust. Hidayatullah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para peserta rakerwil yang hadir.

“Alhamdulillah, kami pengurus wilayah menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang hadir dari berbagai daerah di Jawa Barat dan juga para sponsor, donatur dalam mensukseskan acara ini,” ujarnya.

“Saat ini kepengurusan DPW Jawa Barat bukan saja ketuanya yang PAW, tetapi juga ada beberapa departemen yang berganti amanahnya. Semoga ini tidak mengurangi semangat dalam menjalankan program-program satu tahun kedepan,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, juga dilaunching Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH), Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), dan Hidayatullah Travel (HiTrav).

Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat ini dihadiri sejumlah unsur; Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), Muslimat Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Pemuda Hidayatullah, Pos Dai dan Search & Rescue (SAR). Selain itu, juga ada badan usaha, tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat.

Semarak Lailatul Ijtima’

Sehari sebelum acara rakerwil, diadakan pula kegiatan Lailatul Ijtima’ dengan menghadirkan anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Ust. Drs. Zainuddin Musaddad, MA, atau yang akrab dipanggil Abah Zain.

Unsur DMW yaitu Ust. Dadang Abu Hamzah, Lc, Ust. Nanang Hanani, MA, dan Ust. Anton Al Jundi, S.Pd.I memimpin sejumlah aktivitas ruhiyah selama rakerwil antara lain shalat Tahajjud berjamaah.

Bahkan, DMW memberi apresiasi kepada para murrabi ‘ula dan wustha dengan kriteria; murabbi terajin infaq GNH, murabbi teraktif majelis Reboan dan murabbi teraktif laporan harian GNH.

“Jangan dilihat nilai hadiahnya, tetapi ini bukti perhatian dan suport kami kepada para murabbi yang serius dan bersungguh-sungguh,” ungkap Ust. Dadang Abu Hamzah, Ketua DMW Jawa Barat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dampingi Rakerwil DPW Kalteng, Nursyamsa Hadis Tekankan Kader Harus Berhalaqah

0

KOTAWARINGIN BARAT (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Tengah (Kalteng) berlangsung selama dua hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Acara tersebut resmi didampingi sekaligus dibuka oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Nursyamsa Hadis, pada Sabtu, 15 Rajab 1445 (27/1/2024).

Dalam sambutan dan arahannya saat membuka acara, Nursyamsa Hadis menekankan pada pentingnya peran Islam sebagai penerang jalan dalam kehidupan sehari-hari.

“Islam tidak membutuhkan kita, demikian pula Hidayatullah tidak membutuhkan kita. Tetapi kitalah yang membutuhkan Islam,” ujarnya dengan tegas.

Ia juga menegaskan bahwa setiap kader Hidayatullah memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan pemahaman mereka akan ilmu, iman, dan amal. Nursyamsa Hadith menekankan pentingnya berhalaqah. “Kader harus berhalaqah”, tegas beliau.

Nursyamsa menjelaskan, fungsi halaqah adalah internalisasi nilai-nilai jati diri. Menyatukan hati sesama anggota, saling taffahum sesama anggota, saling merindukan untuk bertemu. Maka organisasi akan berjalan dengan baik.

Nursyamsa menyampaikan pentingnya berhalaqah sebagai medium penempaan tersebut. “Kader Hidayatullah harus aktif berhalaqah untuk memperdalam pengetahuan agama, memperkuat iman, dan meningkatkan amal ibadah,” tambahnya.

Rakerwil Hidayatullah Kalteng yang mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi” ini dihadiri antara lain dari unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Mudzakarah (DM), Dewan Murabbi Wilayah (DMW).

Forum juga diikuti oleh unsur DPW, DPD se-Kalteng, Organisasi Pendukung (Orpen) Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah Kalteng, unsur amal usaha BMH, Search & Rescue (SAR), Pos Dai dan tuan rumah Kampus Hidayatullah Kabupaten Kotawaringin Barat.

Selama dua hari, peserta Rakerwil akan mengikuti berbagai kegiatan, seperti diskusi kelompok, halaqah, laporan perjalanan, dan taushiyah bakda shalat Magrib yang bertujuan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kualitas dakwah di wilayah tersebut.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Kalteng, Ust. H. Muhiddin Nur Robbani, menyatakan harapannya bahwa acara ini akan memberikan kontribusi positif dalam memajukan dakwah Islam di Kalimantan Tengah.

“Kami berharap Rakerwil ini dapat menjadi momentum bagi para kader Hidayatullah untuk semakin mengeratkan persatuan, berkolaborasi, dan bersinergi dalam upaya peningkatan kualitas dakwah di wilayah ini,” ungkapnya.

Dia menambahkan, Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalteng diakhiri dengan semangat kebersamaan dan tekad untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui dakwah dan pelayanan umat.*/Usamah Sudiono