
Hari-hari ini, perbincangan mengenai pernikahan dipenuhi oleh dua kutub yang sama-sama ekstrem. Di satu sisi, kita disuguhi oleh angka-angka gugat cerai yang meninggi, melahirkan fenomena fobia pernikahan di kalangan anak muda. Ada ketakutan yang menjalar bahwa ruang rumah tangga hanya akan berisi drama dan air mata. Namun di sisi lain, saat pintu ibadah ini dijauhi, pintu-pintu kemaksiatan dan pergaulan bebas justru terbuka lebar, dikampanyekan secara berani, dan mengancam masa depan generasi kita.
Di sinilah letak keanehannya. Ketika ada anak-anak muda yang memiliki niat luhur untuk menjaga kehormatan diri melalui jalur ibadah, tatanan sosial kita justru mempersulit mereka. Muncul standar baru yang artifisial: pernikahan harus estetis, harus mewah, dan wajib Instagramable. Pesta yang menelan biaya puluhan hingga ratusan juta seolah-olah bergeser menjadi rukun nikah yang baru. Akibatnya, pemuda-pemuda yang jujur, bertanggung jawab, namun berkantong tipis, terpaksa gigit jari. Pintu ibadah menjadi mahal, sementara pintu maksiat menjadi begitu murah dan mudah diakses.
Saat Akad Kalah oleh Angka
Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan adalah: Di mana letak kekeliruannya?
Jika kita mau jujur, yang mahal hari ini bukanlah mahar yang ditetapkan oleh syariat, melainkan ongkos gengsi yang didikte oleh tradisi dan validasi media sosial. Hal ini mengingatkan pada kritik mendalam yang pernah dilontarkan oleh pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said. Beliau dengan sangat jernih membaca kegelisahan umat yang terjebak pada standar fisik dan materi.
“Mempersulit pernikahan sama dengan membuka lebar-lebar pintu perzinahan.”
Beliau memotret empat sindrom akut dalam masyarakat kita yang hari ini justru semakin relevan dan parah: Pertama, sindrom budaya barat (full copy) dengan menjamurnya gaya pacaran bebas pra-nikah yang dianggap lumrah, meniru mentah-mentah nilai yang bukan milik kita. Kedua, pesta sebagai simbol status sehingga munculnya rasa malu yang luar biasa jika pelaminan tidak megah. Energi habis untuk mengoreografi estetika luar, demi memuaskan pandangan kalangan atas dan mengincar isi amplop yang setara.
Ketiga, “tarif” yang melangit yaitu orang tua menetapkan standar biaya pesta yang tinggi untuk anak gadisnya, yang seketika meruntuhkan harapan pemuda-pemuda mandiri yang baru merangkis karier. Keempat, standar fisik “bintang film” yaitu memilih jodoh yang hanya bersandar pada aspek visual. Terkait hal ini, Ustadz Abdullah Said pernah memberikan kelakar yang segar namun menohok: “Kalau di rumah tidak ada beras, apa hidung mancung bisa menyelesaikan masalah?”
Merangkai Esensi: Menata Niat
Mari kembalikan perspektif ini pada tempatnya yang benar. Mengapa kita begitu lelah mengejar pengakuan manusia? Akad pernikahan adalah mitsaqan ghalizha sebuah perjanjian yang kokoh dan sakral di hadapan Allah, bukan pertunjukan di hadapan netizen. Ketika langkah pertama dimulai dengan kepasrahan pada perintah-Nya, maka Allah yang akan melapangkan jalan berikutnya.
Bayangkan, bagaimana ketenangan (sakinah) bisa hadir di malam-malam pertama sebuah rumah tangga, jika energi pasangan muda habis untuk menghitung utang sisa vendor dekorasi? Pernikahan yang berkah adalah pernikahan yang persiapannya paling memudahkan, karena fokus utamanya adalah membangun ketaatan pasca-akad, bukan kemewahan saat akad.
Secara psikologis, kita memahami bahwa ego seorang suami dan struktur otak seorang istri membutuhkan ruang yang tenang dan teduh untuk saling memahami. Jika sejak awal bahkan sebelum melangkah ke pelaminan. Ruang itu sudah diintervensi oleh tekanan eksternal, tuntutan keluarga, dan gengsi sosial, maka pondasi rumah tangga tersebut menjadi rapuh dan rentan memicu keretakan di kemudian hari. Kuncinya ada pada keteguhan niat. Anak muda tidak boleh takut miskin karena menikah. Niatkanlah sebagai ibadah, sebagai langkah tatsbitan min anfusihim (memperkokoh jiwa). Siapa yang berniat menjaga kehormatannya, Allah sendiri yang menjamin kelancaran rezekinya.
Pernikahan Mubarakah: Terobosan Sosial Membangun Peradaban
Sebagai jawaban konkret atas lingkaran setan biaya sosial yang tinggi ini, sejarah mencatat sebuah gerakan yang sangat progresif yang telah memotong jalur birokrasi gengsi sejak puluhan tahun lalu: Pernikahan Mubarakah yang digagas oleh Hidayatullah.
Ini bukan sekadar acara “nikah massal” untuk efisiensi biaya. Kata Mubarakah berakar dari sari doa Rasulullah ﷺ: “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair.” Ini adalah sebuah gerakan berburu berkah, menyatukan keserasian (kufu) iman, dan memantapkan visi bahagia dunia hingga akhirat.
Dalam kacamata literasi kepemimpinan Islam, kita harus melihat bahwa rumah tangga adalah unit peradaban terkecil. Seorang Muslim akan pincang kontribusinya di ruang publik dan masyarakat luas jika urusan domestik kepemimpinannya belum selesai. Menikah adalah ruang pertama untuk memaparkan kemampuan memimpin diri sendiri (self-leadership) sebelum seseorang memimpin umat. Gerakan ini membuktikan bahwa Islam selalu memiliki solusi konkret atas tantangan zaman.
Kembali ke Khittah: Sebuah Ajakan
Ada sebuah pesan mendalam yang perlu kita renungkan bersama: “Carilah pasangan yang merindukan surga, agar perjalanan bersamanya tidak selesai di dunia.” Pesta mewah yang menguras energi dan materi itu hanya berlangsung beberapa jam, namun perjalanan membangun keluarga menuju surga adalah ikhtiar seumur hidup.
Di tengah badai flexing pelaminan yang melelahkan ini, kisah Pernikahan Mubarakah hadir sebagai oase sekaligus sebuah teguran lembut bagi kita semua. Menikah itu sejatinya mudah dan indah; yang membuatnya menjadi rumit adalah standar-standar buatan manusia yang berlebihan dan haus akan pujian.
Mari kita kembalikan institusi pernikahan pada khittahnya. Kita permudah jalannya, kita runtuhkan tembok gengsi yang semu, kita tutup rapat-rapat pintu kemaksiatan, dan kita jemput keberkahan dari-Nya bersama-sama.
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah






