AdvertisementAdvertisement

Menselaraskan Aktivitas Kader Melalui Penguatan Kapasitas Kepemimpinan

Content Partner

Anggota bahkan kader ormas (organisasi kemasyarakatan) kerapkali ditemukan sebagai aktivis di ormas tersebut sekaligus pekerja di amal usahanya. Konsekuensinya mereka memiliki amanah/jabatan di dua entitas, ormas dan juga amal usahanya. Terlihat seperti rangkap jabatan, tapi benarkah?

Sebelum terlalu jauh, mari menguraikan kedua entitas, yakni ormas dan amal usahanya. Ormas merupakan entitas pengejawantahan idealisme di atas prinsip pengabdian bahkan pengorbanan. Kompensasi finansial hampir tidak dikenal.

Sementara itu amal usaha merupakan entitas profesional. Di sini setiap orang bekerja atau berprofesi dengan kompensasi finansial tertentu. Terkadang disediakan pula jenjang karier.

Dengan perbedaan kedua entitas tersebut, anggota atau kader yang memiliki jabatan di ormas dan sekaligus amal usahanya tidak bisa disebut sebagai rangkap jabatan. Justru kedua jabatan itu diharapkan mampu saling menguatkan. Aktivitas terkait ormas semoga lebih mudah dijalani, karena ormas dan amal usaha memiliki relasi. Demikian pula aktivitas profesi di amal usaha semoga bisa terus dikembangkan, karena akan berpengaruh positif terhadap perkembangan ormas.

Di sisi lain sebuah pertanyaan justru perlu dijawab, kapasitas apa yang perlu dibangun seorang anggota atau kader ormas agar seluruh aktivitasnya dapat berimbang bahkan sinergis?

Bagaimanapun potensi tidak imbang terbuka lebar. Seorang anggota atau kader ormas bisa terlihat lebih banyak berfokus pada aktivitasnya di ormas atau sebaliknya. Berimbang saja masih sulit, apatah lagi terjadi sinergi aktivitas di antara kedua entitas.

Ada banyak jawaban yang bisa diajukan. Akan tetapi mungkin satu jawaban dapat diajukan sekaligus diujikan. Semoga jawaban tersebut dapat dijadikan basis kajian berikutnya.

Baginda Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam bersabda, “Setiap kalian itu pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Terjemah hadits Bukhari dan Muslim)

Di hadits tersebut, Baginda Rasulullah memberikan konsep umum bahwa setiap orang diamanahi kepemimpinan. Berikutnya setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nah, satu pesan implisit ditemukan di sini, setiap orang berkewajiban memiliki kapasitas kepemimpinan. Semakin besar amanahnya, semakin besar pula kapasitas kepemimpinan yang diharapkan.

Lebih jauh tentang kepemimpinan, sebagaimana diketahui, terdapat dua dimensi kepemimpinan: Pribadi dan sosial.

Kepemimpinan pribadi berkaitan dengan aktivitas seseorang memimpin dirinya sendiri. Sedangkan kepemimpinan sosial berkaitan dengan memimpin orang lain. Dapat dikatakan bahwa kepemimpinan pribadi merupakan awal atas kepemimpinan sosial. Apabila pribadi beres, peranan di kehidupan sosial sangat mungkin untuk sukses.

Kepemimpinan pribadi mencakup sejumlah isu antara lain pengenalan diri dan pembangunan visi hidup. Derivatifnya adalah kemampuan mengelola diri serta berbagai sumber daya yang dimiliki. Kesemuanya diatur agar selaras.

Sementara itu kepemimpinan sosial mencakup sejumlah isu yang lebih luas. Seni berkomunikasi dan berjejaring biasanya menjadi isu utama. Berikutnya ada isu mempengaruhi dan menggerakkan massa.

Memahami urgensi kapasitas kepemimpinan bagi anggota atau kader, suatu ormas akan lebih terdorong untuk menyusun kurikulum. Selain itu implementasinya juga dirapikan. Salah satu caranya adalah mendekatkan pusat-pusat belajar dengan ruang hidup anggota atau kader. Apabila di tahap awal, pusat belajar disentralisasi secara nasional, tindakan ini tidak mengapa. Akan tetapi secara berangsur, pembangunan pusat belajar di tingkat provinsi bahkan kabupaten/kota butuh dirintis.

Dekatnya jarak pusat belajar kepemimpinan dengan ruang hidup anggota atau kader lebih memudahkan dialog. Idealitas-realitas, unsur-unsur organisasional, serta unsur-unsur sosial dapat diketemukan untuk kemudian ditetapkan titik tengahnya. Dengan demikian anggota atau kader memiliki pijakan kokoh untuk membangun kepemimpinannya.

Memang gagasan membangun pusat belajar secara merata di level-level bawah tidaklah mudah. Sumber daya yang dibutuhkan akan sangat besar. Meskipun demikian ikhtiar itu perlu dilakukan. Agar anggota atau kader lebih bersiap menjadi penggerak, baik diri ataupun orang-orang sekitarnya.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Dukung Aspirasi Konstitusional, Serukan Aksi 27 Agustus Berlangsung Damai dan Bermartabat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, merespons rencana aksi penyampaian pendapat di depan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img