Beranda blog Halaman 124

Energizing Green Space, Kolaborasi Hijau PLN dan Hidayatullah untuk Masa Depan Berkelanjutan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menjadi tuan rumah program Energizing Green Space yang diinisiasi oleh PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT).

Program ini, bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, bertujuan untuk menciptakan ruang hijau yang produktif serta berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2024.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, KH Hamzah Akbar, menyambut baik inisiatif ini. Dalam sambutannya, Hamzah menyampaikan penghijauan ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang sekaligus menjadi sarana pembelajaran lingkungan yang nyata bagi para santri.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran generasi muda santri akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, khususnya melalui pemanfaatan ruang hijau yang lebih produktif,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 27 Jumadil Awal 1446 (29/11/2024).

Inisiatif penghijauan semacam ini, jelas Hamzah, sangat relevan dalam konteks global menghadapi tantangan perubahan iklim. Dia menyebutkan, menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), reboisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk menyerap karbon dioksida dan mengurangi dampak gas rumah kaca.

Oleh karena itu, imbuhnya, kolaborasi antara sektor korporasi dan entitas sosial keagamaan, seperti yang dilakukan PLN dan Pesantren Hidayatullah, merupakan langkah strategis yang mendukung agenda lingkungan hidup nasional.

Menurutnya, kerjasama ini merupakan wujud nyata dari komitmen multi-pihak terhadap keberlanjutan. Tentu penting sekali kita menjaga kesinambungan program ini untuk generasi mendatang.

“Perawatan ruang hijau, termasuk yang telah lama dijaga di kampus Hidayatullah Gunung Tembak ini tidak hanya menjadi warisan fisik, tetapi juga menciptakan warisan intelektual yang mengakar pada santri, yakni pemahaman akan pentingnya menjaga alam sebagai amanah ilahi,” harap Hamzah.

Pondok Pesantren Hidayatullah, dengan tradisi keagamaannya yang kuat, jelas Hamzah, kini berkesempatan terus menguatkan perannya menjadikan ruang hijau sebagai laboratorium alam bagi para santri.

Dari sinilah, terang Hamzah, santri dapat memahami langsung konsep ekologi, pentingnya pohon bagi penyerapan karbon, hingga cara menjaga keanekaragaman hayati di kawasan pesantren.

Sebagai institusi dakwah dan pendidikan berbasis agama, Hidayatullah selama ini telah berperan aktif dalam pelestarian bumi serta memiliki posisi unik untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan ekologis.

Dia menambahkan, konsep khalifah fil ardh (kepemimpinan manusia atas bumi) yang sering diajarkan dalam Islam mendapatkan aplikasinya melalui aktivitas penghijauan ini.

Tanam 2.000 Bibit Pohon Produktif

Sebanyak 2.000 bibit pohon buah produktif, seperti manggis, jeruk nipis, jeruk purut, jambu kristal, dan nangka, ditanam di lahan pesantren yang terletak di Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan. Upaya ini dirancang untuk menghadirkan manfaat jangka panjang, baik sebagai penyedia udara bersih maupun sumber daya ekonomi lokal.

General Manager PLN UIP KLT, Raja Muda Siregar, bersama jajaran manajemen senior PLN hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutanya, Raja menegaskan bahwa program ini adalah bentuk nyata kontribusi PLN terhadap pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.

“Hari ini kita tidak hanya menanam pohon sebagai simbol, tetapi juga menanam harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Raja menjelaskan bahwa program ini mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 13 tentang perubahan iklim dan TPB 15 yang berfokus pada pelestarian ekosistem darat. Dengan melibatkan institusi pendidikan berbasis pesantren, PLN memanfaatkan ruang kolaborasi untuk membangun kesadaran lintas generasi tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologi.

PLN UIP KLT, melalui Energizing Green Space, tidak hanya memberikan kontribusi lingkungan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat lokal.

Raja menambahkan, inisiatif ini mencerminkan bagaimana pendekatan berbasis kolaborasi dapat menghadirkan solusi nyata bagi isu-isu global, seperti pelestarian lingkungan dan perubahan iklim.*/Adam Sukiman

Crowdfunding Blockchain untuk Transparansi Zakat Inovasi Laznas Baitul Maal Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Hidayatullah (BMH) bersama dengan platform digital iBantu luncurkan platform crowdfunding berbasis blockchain berbagi.bmh.or.id dalam acara bertajuk “Berbagi di Era Digital: Transparansi dan Amanah untuk Masa Depan” di Jakarta, Kamis, 26 Jumadil Awal 1446 (28/11/2024).

Peluncuran ini menandai tonggak baru dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, dengan penerapan teknologi mutakhir guna meningkatkan transparansi dan kepercayaan publik.

Peluncuran ini dihadiri Pimpinan Bidang Koordinasi Nasional Baznas RI KH Achmad Sudrajat dan Prof. Nadratuzzaman Hosen, Pimpinan Bidang Inovasi Teknologi. Sinergi antara BMH dan iBantu dalam menciptakan platform ini menandai era baru transparansi dan kepercayaan dalam dunia filantropi.

Blockchain, teknologi yang menjadi basis platform ini, menawarkan sistem pencatatan terdesentralisasi yang memungkinkan setiap transaksi dicatat secara permanen, aman, dan transparan.

Teknologi ini memberikan keunggulan signifikan, seperti kemampuan memantau alur dana secara real-time hingga mencapai penerima manfaat zakat. Hal ini diharapkan menjawab tantangan transparansi, yang sering menjadi sorotan dalam lembaga filantropi.

“Ini merupakan inovasi,” ujar Achmad Sudrajat dalam sambutannya. Ia menegaskan bahwa pengelolaan zakat tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional. “Tantangan ke depan membutuhkan kreativitas tingkat tinggi. Tidak mungkin kita bermain secara konvensional,” imbuhnya.

Achmad menekankan bahwa jutaan mustahik (penerima zakat) menunggu kontribusi nyata dari lembaga-lembaga amil zakat. Karena itu, inovasi melalui teknologi informasi adalah keharusan.

Kebutuhan akan inovasi di sektor filantropi bukan hanya tuntutan zaman, tetapi juga respon terhadap ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi akan transparansi dan akuntabilitas.

“Kita harus adaptif dengan perkembangan teknologi. Inovasi ini akan memperkuat amanah kita kepada masyarakat,” katanya. Dengan teknologi blockchain, publik kini dapat memastikan bahwa dana yang mereka salurkan akan sampai kepada penerima yang berhak dengan transparan.

Sudrajat menambahkan, zakat memiliki makna yang mendalam, yaitu ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Banyak yang berpikir bahwa zakat mengurangi harta. Padahal, tegasnya, justru sebaliknya. Dalam konsep ilahi, zakat bertumbuh dan membawa keberkahan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima.

“Saat bayar zakat, uang terkurangi dong. Padahal nggak. Karena, yang namanya zakat pasti konsep ilahinya an nubuw wa ziyadatil khair wa tazkir wa tazkiyah. Bertumbuh dan tertambahnya kebaikan,” tandasnya.

Prof. Nadratuzzaman Hosen yang menyatakan pentingnya adaptasi teknologi dalam memperkuat amanah kepada masyarakat.

Langkah Strategis Hadapi Masa Depan

Pada kesempatan yang sama Ketua Dewan Pengurus BMH, Firmanza, menjelaskan bahwa penerapan teknologi ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kemiskinan di masa depan.

“Tahun-tahun ke depan akan menjadi ujian luar biasa. Namun, ini juga menjadi peluang untuk memperkuat sistem filantropi agar lebih efisien dan transparan, sehingga mereka yang berada di bawah garis kemiskinan dapat menerima manfaat secara langsung dan tepat sasaran,” jelas Firmanza.

Dia berharap platform crowdfunding berbasis blockchain ini dapat menjadi model bagi semua pihak, termasuk pemerintah, BAZNAS, masyarakat, dan lembaga amil zakat lainnya. Ia optimistis teknologi ini akan diimplementasikan lebih luas di masa mendatang.

Dengan dukungan teknologi blockchain, Firmanza menambahkan, BMH memastikan bahwa setiap rupiah yang disumbangkan akan dikelola dengan amanah, memberikan manfaat optimal bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus membangun kepercayaan yang lebih besar antara lembaga amil zakat dan masyarakat.

Ciptakan Dampak Lebih Besar

Presiden Direktur iBantu, Damar Hulan Osman, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen kedua lembaga dalam menciptakan inovasi berbasis teknologi untuk memperluas dampak sosial filantropi.

“Dengan kebersamaan, kita bisa mewujudkan mimpi besar, menjadikan setiap langkah kolaborasi ini sebagai amal jariyah yang memberikan manfaat bagi umat sekaligus menjadi warisan berharga di masa depan,” ujar Damar.

Menurutnya, filantropi adalah cerminan cinta dan kepedulian, yang lebih dari sekadar kewajiban. “Filantropi menghubungkan hati yang memberi dengan jiwa yang menerima. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, memiliki kekuatan untuk mengubah dunia,” tambahnya.

Damar juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi dalam mewujudkan ekosistem filantropi yang lebih baik. “Platform ini adalah simbol dedikasi dan inovasi untuk menciptakan filantropi yang lebih transparan, aman, dan berdampak besar,” katanya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Iqra’ Bismirabbik Membangun Peradaban dengan Semangat Perbaikan Diri dan Masyarakat

0

PADA Kamis malam (28/11/2024), saya berkesempatan berbincang daring bersama tiga guru dan seorang pengusaha, menggali makna mendalam dari perintah pertama dalam Islam, Iqra’ Bismirabbik.

Tak hanya tekstual, perintah ini mengajak umat manusia untuk membaca kehidupan dengan perspektif mukmin, yaitu mengaitkan ilmu dengan iman dan amal dengan merefleksi esensi Islam sebagai agama yang mengintegrasikan pengetahuan, spiritualitas, dan tindakan nyata.

Perintah Iqra’ pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam masa awal kenabian di Makkah, sebuah kota yang pada saat itu jauh dari peradaban besar seperti Romawi dan Persia.

Wahyu ini hadir bukan untuk mengadopsi pola pikir bangsa-bangsa besar ketika itu, tetapi untuk memperkenalkan paradigma baru yang menghubungkan ilmu dengan iman.

Dalam kerangka tersebut, perintah iqra’ bukan sekadar membaca dalam pengertian teknis, tetapi membaca dengan penuh kesadaran akan kebesaran Allah SWT, Sang Pencipta.

Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam bukunya Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, epistemologi Islam menekankan cara berpikir yang tulus, jujur, dan lurus berdasarkan iman. Cara berpikir ini berbeda dengan pola pikir diabolik, yang menurutnya diwakili oleh Iblis, yang memahami tanpa mengimani, dan mengetahui tanpa mengamalkan. Dalam diskusi malam itu, pandangan ini menjadi fondasi untuk memahami Iqra’ sebagai ajakan intelektual dan spiritual sekaligus.

Salah satu poin penting dalam diskusi adalah penekanan pada pengamalan ilmu. Indra Azhar Ahmad, seorang pengusaha yang turut serta, menekankan dengan mengajukan pertanyaan, apa yang sudah kita baca, dan bagaimana bisa kita amalkan? Jangan sampai banyak membaca tetapi tak ada niat untuk mengamalkannya.

Islam menekankan keterpaduan antara ilmu dan amal. Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menyebutkan “orang-orang yang beriman dan beramal saleh,” menegaskan bahwa keimanan yang tidak disertai amal akan kehilangan substansinya. Amal yang berdasarkan ilmu juga menjamin bahwa tindakan yang dilakukan memiliki landasan yang benar.

Infantri, seorang guru yang hadir dalam diskusi, berbagi pengalaman pribadinya. “Saya membaca buku dan mencoba mengubah perilaku dari hal-hal kecil. Itu cara saya menjadikan diri lebih bermanfaat,” katanya.

Dia mencontohkan bagaimana perubahan kecil, yang dilakukan secara konsisten, dapat membawa dampak besar dalam hidup dan lingkungan sekitar.

Apa yang dikemukakan Infantri selaras dengan konsep tazkiyah dalam Islam, yaitu proses penyucian jiwa yang dilakukan melalui perbaikan diri secara terus-menerus.

Maka, membaca, dalam hal ini, bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menjadi sarana introspeksi diri. Setiap informasi yang diperoleh dari bacaan harus mendorong seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Irham, guru lain yang turut berbicara, menambahkan, iqra’ itu membaca dengan target pengamalan. Membaca yang baik seharusnya mendorong diri untuk beramal. Perspektif Irham ini menegaskan bahwa membaca dengan nama Tuhan (bismirabbik) tidak hanya bertujuan untuk menambah wawasan, tetapi untuk memotivasi perubahan diri dan perbaikan masyarakat.

Membangun Peradaban Berbasis Iqra’

Diskusi malam itu menegaskan bahwa Iqra’ adalah fondasi bagi pembangunan peradaban. Sebuah peradaban yang berlandaskan Islam tidak hanya mengagungkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Dalam tradisi Islam, kontribusi ilmu terhadap peradaban terlihat nyata, misalnya dalam kontribusi ulama klasik seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Khawarizmi. Mereka membaca dan memahami dunia melalui kacamata iman, menjadikan ilmu mereka bermanfaat bagi umat manusia.

Sejalan dengan itu, Iqra’ Bismirabbik adalah ajakan untuk membaca dengan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Ilmu bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk memberikan manfaat bagi kehidupan. Proses ini dimulai dengan niat yang benar, berlanjut dengan pengumpulan pengetahuan, dan diakhiri dengan pengamalan yang nyata.

Pesan dalam perintah iqra’ bismirabbik memiliki relevansi yang universal. Dalam masyarakat modern yang sering kali terjebak dalam dualisme antara agama dan ilmu, Iqra’ mengajarkan integrasi.

Agama tidak anti terhadap ilmu, tetapi justru menjadikan ilmu sebagai pilar untuk membangun individu dan masyarakat yang unggul. Dengan semangat Iqra’ inilah, manusia dapat mencapai keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan sosial.

Membaca dengan niat yang benar, sebagai mukmin, berarti menghubungkan ilmu dengan pengamalan, menjadikannya bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah.

Melalui iqra’ bismirabbik, manusia diajak untuk menjadi lebih baik, menyerap ilmu, dan meneguhkan kontribusi dalam membangun peradaban yang berakar pada iman dan bertujuan pada kemaslahatan dunia dan akhirat.[]

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Membangun Generasi Qur’ani Ditengah Tantangan Infrastruktur di Pondok Panjang

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Nurus Salam, yang berdiri di Kampung Pasir Mantang, Desa Pondok Panjang, Kabupaten Lebak, telah menjadi pusat pendidikan agama sejak 2015. Meski menjadi mercusuar pendidikan bagi masyarakat sekitar, pesantren ini menghadapi tantangan besar, yaitu ketiadaan sumber air bersih yang layak, yang berdampak signifikan pada keseharian dan kualitas pendidikan para santri.

Pengasuh pesantren, Ustaz Lindanugraha, yang kini berusia 37 tahun, telah berjuang keras untuk memastikan kebutuhan dasar pesantren terpenuhi. Namun, keterbatasan infrastruktur membuat perjuangan itu tidak mudah.

Dua kali usaha penggalian sumur, dari 2016 hingga 2018, gagal akibat kondisi tanah berbatu yang keras. Akibatnya, pesantren hanya mengandalkan tadah air hujan dan air kubangan sawah yang harus diambil dari lokasi jauh. Jalanan terjal dan berbatu memperparah upaya mendapatkan sumber air.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Tanpa itu, kami sulit menjaga kesehatan dan kenyamanan santri dalam belajar,” tutur Ustaz Lindanugraha.

Ia, yang berasal dari keluarga sederhana—ayah seorang tukang kayu dan ibu seorang buruh kebun—menunjukkan tekad luar biasa untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi generasi muda meski di tengah keterbatasan.

Kesulitan ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat proses belajar mengajar. Santri yang belajar mengaji harus melakukannya dalam kondisi yang kurang ideal. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah maupun masyarakat agar para santri bisa belajar dan tinggal di lingkungan yang layak,” tambahnya.

Kesulitan yang dialami Ponpes Nurus Salam mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pesantren di daerah terpencil. Infrastruktur dasar, seperti akses air bersih, masih menjadi kendala yang sulit diatasi. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak menjadi sangat penting.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) turut memberikan perhatian kepada Ponpes Nurus Salam. Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, mengatakan pihaknya memahami betapa pentingnya air bersih bagi kelangsungan pendidikan dan kesehatan santri.

“Melalui zakat, infak, dan sedekah, kami berkomitmen membantu pesantren ini menemukan solusi jangka panjang,” ungkap Roni Hayani.

Kontribusi dari zakat, infak, dan sedekah tidak hanya meringankan beban operasional pesantren, tetapi juga memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik.

Dalam kasus Ponpes Nurus Salam, dukungan ini membantu memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, yang pada akhirnya mendukung kesehatan dan kenyamanan santri dalam belajar. Selain itu, bantuan ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.*/Herim

Gelisah di Jumat Berkah

0

“MAS, saya gelisah kalau tiba hari Jumat,” kata seorang sopir ojek online

Loh, Jumat penuh berkah kok malah gelisah sih, Pak?

“Iya, Mas, justru saya gelisah karena kesulitan mendapatkan Jumat berkah,” katanya dengan nada kesal

“Maksudnya bapak gimana, saya belum paham?”

“Setiap Jumat, jam pulang anak sekolah mepet kadang bersamaan dengan adzan Jumat. Saya harus menjemputnya, sehingga seringkali ketinggalan sunnah sunnah sebelum Jumat. Kenapa kebijakannya tidak pulang lebih awal atau sekalian dikondisikan shalat Jumat di sekolah,” bapak itu menerangkan sekaligus memberikan solusi.

Subhanallah, bapak gelisah yang positif. Tapi, solusinya sudah pernah disampaikan ke sekolah?”

“Belum mas, mana mungkin didengar, saya wali santri biasa dan orang kecil”

Entah sejak kapan kebijakan jam sekolah hari Jumat kepulangannya mepet hingga pukul 12.00. Padahal sebelumnya hari Jumat, jam kepulangan lebih awal yaitu pukul 10.30 atau 11.00 untuk memberikan kesempatan murid-murid dan guru-guru muslim bisa persiapan ibadah shalat Jumat.

Sebenarnya pengaturan Jumat lebih awal pulang sekolah sudah menjadi kompromi untuk umat Islam. Karena di sebagian sekolah muslim, libur sekolah itu hari Jumat untuk memuliakan dan mengkondisikan umat Islam bisa beribadah dengan tenang dan maksimal.

Bisa dibayangkan berapa ribu umat Islam yang terganggu ibadah shalat Jumatnya jika terus menerus pulang anak sekolah mepet waktu Jumat. Bukan hanya murid dan guru yang terganggu, tapi orang tuanya, penjemputnya, para sopir angkut, ojek online, satpam, penjual makanan dan semua yang terkait anak sekolah.

Padahal shalat Jumat itu sakral dan hukumnya wajib. Ketika kewajiban tidak dilaksanakan secara massif dan terus menerus karena terhalang oleh sistem maka akan ada degradasi spritual masyarakat.

Semoga ini bukan karena sebuah kesengajaan dari regulasi untuk tujuan tujuan tertentu yang sengaja menyulitkan umat Islam menunaikan ibadah shalat Jumat dengan sempurna. Tapi karena ketidaktahuan urgensi dari ibadah shalat Jumat.

Jumat berkah perlu dirasakan dan dinikmati oleh semua muslim dengan sistem sosial kemasyarakatan yang mendukung. Maka kebijakan pemerintah dan instansi dalam menetapkan regulasi sangat penting untuk menjemput Jumat berkah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Program Beras Santri Tahfidz di Sulsel Pilar Gizi untuk Masa Depan Indonesia

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Program pendidikan pesantren tidak hanya menitikberatkan pada ilmu agama, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan fisik santri, terutama gizi. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menginisiasi Program Beras Santri Tahfidz sebagai solusi konkret untuk mendukung kesejahteraan santri di Sulawesi Selatan.

Pada November 2024, Laznas BMH mendistribusikan 1.500 kg beras ke pesantren-pesantren, termasuk Yayasan Ashabul Kahfi di Makassar, Ponpes Ummul Qura di Maros, dan Ponpes Hidayatullah Pangkep.

Ustadz Zainuddin, Ketua Yayasan Madinatul Iqram, menegaskan pentingnya peran gizi dalam keberhasilan pendidikan. Ia menyatakan, dengan kebutuhan beras santri yang terpenuhi, pihaknya bisa menjaga agar mereka tetap sehat dan dalam kondisi optimal untuk belajar.

“Ini penting agar mereka bisa mencapai prestasi yang diharapkan,” katanya, seraya menyebut kesejahteraan fisik adalah salah satu prasyarat utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang ideal.

Basori Shobirin, Kadiv Prodaya Laznas BMH Sulawesi Selatan, menambahkan bahwa program ini didukung oleh kontribusi para donatur yang peduli terhadap pendidikan dan kesejahteraan santri.

“Ini adalah kontribusi para donatur yang ingin bersama-sama berproses menghadirkan beras santri dan memastikan anak-anak tersebut mengenyam pendidikan tanpa khawatir soal pemenuhan kebutuhan pangan mereka,” ujarnya.

Program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga mengurangi beban ekonomi pesantren, memungkinkan alokasi dana untuk aspek lain seperti fasilitas belajar dan aktivitas pembinaan santri.

Zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui program ini memberikan dampak langsung pada kualitas pendidikan di pesantren. Selain memperbaiki kesejahteraan santri, kontribusi ini turut membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan bermoral.

“Pendidikan yang berkualitas, sebagaimana tujuan program ini, bukan hanya tentang buku dan pelajaran, tetapi juga tentang memastikan kesejahteraan santri atau peserta didik,” katanya.

Melalui Program Beras Santri, kata dia, Laznas BMH berupaya menguatkan simpul sinergi antara pendidikan, gizi, dan zakat dapat menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa. “Dengan mendukung kesejahteraan santri, kita turut membentuk calon pemimpin umat yang tangguh dan berintegritas,” ujarnya.*/Herim

OP3H Depok Gelar Refleksi Peran Guru dalam Menyalakan Asa Pendidikan Bangsa

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dipenuhi dengan semangat yang berbeda, hari itu, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 atau 26 November 2024. Walau Hari Guru telah berlalu sehari sebelumnya, antusiasme para santri dan dewan guru tak surut untuk memperingatinya.

Acara yang digagas oleh Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Hidayatullah (OP3H) ini disiapkan dengan inisiatif mandiri para santri, menggambarkan rasa syukur atas peran guru sebagai pelita di jalan pendidikan.

Pagi itu, suara tabuhan alat musik mengawali suasana. Tim hadrah membawakan nasyid Man Ana dengan penuh penghayatan, menciptakan harmoni antara suara dan melodi. Lantunan syahdu dari sang vokalis menyentuh hati para peserta, menumbuhkan rasa khidmat sekaligus rasa bangga.

Tepuk tangan pun bergemuruh mengiringi akhir penampilan, seolah menjadi salam pembuka yang hangat untuk seluruh sesi yang akan berlangsung.

Seperti setiap tradisi di Pondok Pesantren Hidayatullah, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kali ini, Surah At-Tin dilantunkan dengan khusyuk oleh salah satu santri yang suaranya menggema di dalam aula.

Demi buah tin dan zaitun, demi gunung Sinai, dan demi kota yang aman ini…” Ayat-ayat itu terasa seperti pengingat akan pentingnya perjuangan dan pengabdian dalam mendidik generasi. Di tengah hening yang sakral, para hadirin, dari guru hingga santri, larut dalam suasana spiritual.

Salah satu sesi yang tak kalah menarik adalah pemutaran film dokumenter singkat. Film ini merangkum momen-momen Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di pesantren.

Terlihat cuplikan-cuplikan bagaimana guru membimbing santri dengan kesabaran tanpa batas, mengarahkan mereka tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam adab dan akhlak sebagai bekal berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara. Tawa, perjuangan, dan harapan terpancar dalam film itu, meninggalkan kesan mendalam. Para peserta terdiam, beberapa bahkan terlihat menyeka air mata.

Dwi Adi Nugraho, Ketua OP3H, naik ke podium untuk memberikan pidato. Dengan suara yang penuh semangat, ia menyampaikan apresiasi kepada para guru. “Terlepas dari segala kesulitan, para guru selalu memberikan yang terbaik bagi kami, para santri,” katanya, dengan sorot mata penuh rasa hormat.

Ucapan Dwi disambut dengan tepuk tangan. Dalam setiap kalimatnya, tersirat rasa syukur yang mendalam, sekaligus pengakuan atas dedikasi para guru yang tak kenal lelah.

Tak hanya dari para santri, Kepala Sekolah SMA-MA Hidayatullah, Ustadz Amin Fawwaid, M.M., turut memberikan pidato sambutan. “Acara ini merupakan sebuah prestasi, semoga bisa menjadi legacy untuk tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Acara ini mencapai puncaknya ketika para santri tampil di atas panggung, menampilkan beragam kreasi seni yang menggambarkan penghargaan kepada guru. Sebuah puisi bertajuk Isi Hati Seorang Guru dibacakan dengan penuh penghayatan. Puisi itu menggambarkan pergolakan hati seorang pendidik—kebanggaan melihat murid-muridnya tumbuh, kesabaran menghadapi tantangan, dan harapan besar pada masa depan.

Suara pembacaan puisi itu menggema, menggugah emosi. Tak lama kemudian, tim paduan suara melantunkan Hymne Guru. Liriknya yang puitik penuh makna menjadi penghormatan yang menyentuh hati. Para hadirin, termasuk para guru, terlihat menyanyikan khidmat ini bersama-sama, membangun momen kebersamaan yang penuh kehangatan.

Sesi berikutnya menghadirkan salah satu kegiatan yang paling dinantikan—membaca surat-surat dari santri. Surat-surat ini ditulis dengan tangan mereka sendiri, mencurahkan rasa terima kasih kepada guru-guru mereka. Ada surat yang berisi ungkapan terima kasih sederhana, ada juga yang penuh metafora dan keindahan bahasa.

Mengarah pada visi Indonesia Emas 2045, peran guru menjadi kunci dalam membentuk generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri. Dengan bekal ilmu dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru, diharapkan para santri dan pelajar di seluruh negeri dapat menjadi agen perubahan yang membawa bangsa ini ke puncak kejayaannya.[]

(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024 yang juga peserta Super Leader Camp XI 2024)

Promosi Doktor, Saleh Usman Gali Pikiran KH Abdullah Said Membangun Masyarakat Madani

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Muhammad Saleh Usman, S.S., M.Kom, mencatatkan tonggak sejarah intelektual dalam pendakian akademiknya. Sebagai promovendus dari Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, ia berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan sejumlah penguji yang dipimpin Prof. H. Abustani Ilyas M.Ag yang berjudul “Komunikasi Dakwah KH Abdullah Said dalam Membangun Masyarakat Madani di Balikpapan, Kalimantan Timur”.

“Alhamdulillah proses ini tuntas. Terima kasih atas dukungan dan doa semua pihak khususnya dari keluarga dan asatizh di Hidayatullah. Semoga ini menjadi kebaikan bersama,” kata Saleh, seperti dikutip dari laman hidayatullahmakassar.id, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 H (26 November 2024).

Disertasi ini mengurai kontribusi pemikiran dan praktik dakwah KH Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah, dalam membentuk masyarakat berbasis nilai-nilai Islam di tengah tantangan modernitas. Kajiannya juga menggaris bawahi gagasan Abdullah Said yang yang meletakkan dakwah sebagai alat strategis untuk membangun masyarakat madani—sebuah komunitas yang berlandaskan prinsip keadilan, keseimbangan sosial, dan moralitas.

Saleh mengeksplorasi bagaimana KH Abdullah Said memadukan pendekatan komunikasi dakwah dengan transformasi sosia yang tidak hanya memposisikan dakwah sebagai upaya penyampaian nilai-nilai agama, tetapi juga sebagai medium membangun struktur sosial berbasis nilai Islam.

Salah satu poin penting dari penelitian ini adalah bagaimana KH Abdullah Said mengadaptasi dakwah untuk menjawab realitas sosial Balikpapan, sebuah kota yang menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur.

Dalam disertasinya, Saleh menekankan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah komunikator terbaik sepanjang masa. Beliau tidak hanya menyampaikan pesan secara efektif, tetapi juga memengaruhi dan menggerakkan umat manusia, dari masa hidupnya hingga akhir zaman. Hal ini, menurut Saleh, dimungkinkan karena Rasulullah selalu memprioritaskan hubungan spiritual dengan Allah SWT.

“Salah satu strategi dan kunci berkomunikasi yang baik sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah yakni dengan lebih dahulu memperbaiki komunikasi dengan Allah Ta’ala, di antaranya melalui zikir dan ibadah,” papar Saleh.

Pendekatan ini, terangnya melanjutkan, menjadi dasar bagi setiap langkah komunikasi Rasulullah, sehingga pesan-pesannya memiliki kekuatan moral dan spiritual yang begitu mendalam.

Inspirasi dari Rasulullah ini lantas diteruskan oleh KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam metode dakwahnya yang dikenal sebagai manhaj sistematika wahyu. Menurut Saleh, metode ini tidak hanya mengutamakan penyampaian pesan yang efektif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi kehidupan umat.

KH Abdullah Said menggunakan komunikasi yang berakar pada pendekatan spiritual dan sosial. Saleh mencatat bahwa pendiri Hidayatullah ini berupaya membangun komunitas Qur’ani di Balikpapan, yang kini menjadi model masyarakat madani berbasis nilai-nilai Islam.

“Buah dari komunikasi dakwah yang diterapkan dan diwariskan itu menghasilkan pencapaian dakwah Hidayatullah dengan terbentuknya komunitas Qur’ani di Balikpapan hingga sekarang tersebar pada 600-an pondok pesantren Hidayatullah se-Indonesia,” ungkap Saleh.

Saleh berharap adanya pengayaan akademik lebih lanjut terkait topik penelitian ini serta menekankan pentingnya melanjutkan warisan intelektual KH Abdullah Said untuk memastikan bahwa dakwah tetap menjadi medium perubahan yang inklusif dan berkesinambungan sebagai jalan untuk membangun manusia, masyarakat, dan peradaban.

Hadir membersamai pada ujian promosi tersebut Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah KH Ir Abdul Majid MA, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran, serta Ketua Yayasan Al Bayan kampus utama Hidayatullah Makassar Suwito Fatah MM dan jajaran.*/Adam Sukiman

Membaca dalam Kerangka ‘Iqra’ Bismirabbik’ untuk Menjadi Pelopor Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi mengatakan perintah iqra’ termaktub dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebuah seruan yang melampaui dimensi literal. Selain sebagai ajakan untuk membaca secara harfiah, ia adalah panggilan untuk mengintegrasikan pengetahuan dengan keimanan.

Menurut Imam, sambungan kata “bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu) setelah lafaz iqra’ dalam surah Al ‘Alaq ayat pertama ini memberikan konteks teologis yang mengarahkan aktivitas membaca menjadi ibadah, sekaligus panduan moral dalam mengelola ilmu.

“Islam menempatkan membaca sebagai gerbang pengetahuan sekaligus fondasi peradaban. Namun, aktivitas membaca yang tidak dilandasi keimanan rentan menjerumuskan manusia ke dalam penggunaan ilmu untuk hal-hal destruktif,” kata Imam, dalam forum diskusi Prospect yang digelar pada Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).

Sejarah telah menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi yang tidak berlandaskan moralitas menciptakan dampak buruk, mulai dari perang hingga eksploitasi lingkungan. Dalam hal ini, sambungan bismirabbik menjadi elemen mendasar yang membedakan aktivitas membaca sebagai ibadah, bukan sekadar akumulasi informasi dan penguasaan teori.

“Ilmu yang dipelajari tanpa melibatkan Allah di dalamnya akan kehilangan arah dan tujuan. Dengan bismirabbik, ilmu tidak hanya untuk kemajuan dunia, tetapi juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia,” jelasnya.

Membaca dengan keimanan ini, jelasnya, berarti memahami bahwa ilmu adalah amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan pribadi atau merugikan orang lain.

Pondasi Kejayaan Umat

Oleh karena itu, lebih lanjut Imam menjelaskan, refleksi dan aktualisasi yang mendalam terhadap iqra’ bismirabbik menjadi kunci kebangkitan umat Islam. Umat yang mengabaikan nilai-nilai ini sering terjebak pada sekadar mengejar kemajuan material, tanpa membangun landasan spiritual.

“Akibatnya, banyak yang memandang dakwah dan perjuangan sebagai beban, alih-alih sebagai kewajiban untuk menegakkan nilai-nilai Islam,” imbuhnya.

Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa kesetiaan kepada ajaran agama yang utuh mampu membawa umat ke puncak kejayaan. Masa keemasan Islam di era Abbasiyah, misalnya, menunjukkan bagaimana tradisi keilmuan yang diintegrasikan dengan iman melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang memberikan kontribusi abadi bagi dunia.

“Tanpa bismirabbik, ilmu bisa menjadi alat untuk menindas dan memanipulasi, seperti yang terjadi pada berbagai rezim otoriter di dunia. Sebaliknya, dengan memahami iqra’ bismirabbik, umat Islam tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai moral yang akan menjaga keberlangsungan peradaban,” tegasnya.

Menghubungkan dengan Konsep Hannah Arendt

Lebih jauh Imam menguraikan bahwa konsep iqra’ bismirabbik juga dapat dijelaskan melalui kerangka filosofis modern, seperti gagasan Hannah Arendt mengenai labor (kerja), work (karya), dan action (tindakan). Ketiga aspek ini, bagi Imam, memberikan perspektif yang relevan dalam mengartikan pentingnya membaca dalam kerangka Islam.

Dia menjelaskan, dalam perspektif kerja (labor), manusia sering terjebak pada rutinitas sehari hari untuk memenuhi kebutuhan biologis belaka. Namun, iqra’ bismirabbik mengajarkan manusia untuk melampaui aktivitas biologis ini dengan mencari makna yang lebih tinggi dalam hidup, yaitu melalui pemahaman tentang Allah dan ciptaan-Nya.

Demikian pula aktivitas produktif yang menciptakan sesuatu yang bermanfaat merupakan bentuk dari kerangka “work” ala Hannah. Namun, dalam Islam, iqra’ bismirabbik memastikan bahwa karya tersebut tidak hanya bernilai material, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial.

“Dengan kata lain, karya manusia haruslah memberikan manfaat luas bagi umat manusia,” terang Imam.

Pada tingkat tertinggi, manusia tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri (action), tetapi oleh wahyu juga dibimbing untuk membangun hubungan substansial dengan orang lain (hablumminannas) dan hubungan vertikal dengan Tuhan (hablumminallah).

Di sinilah, terang Imam, iqra’ bismirabbik memberi arah agar tindakan manusia menjadi bagian dari misi memakmurkan bumi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Perintah iqra’ bismirabbik adalah panduan universal bagi umat Islam untuk membaca, memahami, dan mempraktikkan ilmu dalam kerangka keimanan. Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya mencintai ilmu, tetapi juga menekankan tanggung jawab moral dalam penggunaan ilmu tersebut,” jelas Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023 ini.

Dalam pada itu, di era modern ini, umat Islam perlu membangun tradisi membaca yang progresif, literasi yang tinggi, serta pemikiran yang mengintegrasikan ilmu dengan iman.

Dengan cara ini, dia menambahkan, Islam dapat kembali menjadi pelopor peradaban, membawa kemajuan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga didasari nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang tinggi.

“Saatnya umat Islam menjadikan iqra’ bismirabbik sebagai pijakan untuk bangkit dan memberi kontribusi nyata bagi dunia,” tegasnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Peringatan Hari Guru, Kepsek SD Integral Lukman Al Hakim Raih Penghargaan PGRI

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Dalam dunia pendidikan, apresiasi terhadap dedikasi guru adalah salah satu cara untuk memotivasi “pahlawan tanpa tanda jasa” ini dalam melahirkan generasi unggul.

Momentum Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini menjadi lebih istimewa dengan penghargaan bergengsi yang diraih oleh Niken Sulistyo Herdini, S.S, Kepala Sekolah Dasar Islam (SDI) Integral Lukman Al Hakim Hidayatullah Lingga, Kepulauan Riau, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Niken dianugerahi gelar “Kepala Sekolah Berdedikasi Tinggi” oleh organisasi profesi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lingga sebagai pengakuan atas komitmen dan kontribusinya yang luar biasa terhadap pendidikan di wilayah tersebut.

Ketua PGRI Kecamatan Lingga, Firdaus, dalam sambutannya menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kinerja para guru dan kepala sekolah selama ini.

“Penghargaan ini juga sebagai motivasi bagi seluruh pendidik di Kecamatan Lingga untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya, seraya menekankan pentingnya pengakuan sebagai langkah strategis untuk menjaga semangat para pendidik yang berperan sebagai pilar utama kemajuan bangsa.

Kata Firdaus, penghargaan yang diterima Niken Sulistyo Herdini juga meneruskan harapan akan pentingnya inovasi dalam proses pendidikan. Sebagai pemimpin institusi pendidikan berbasis Islam, Niken diharapkan mampu memadukan nilai-nilai religius dengan metode pembelajaran modern.

Firdaus menggarisbawahi harapan ini melalui pesannya, yakni agar penghargaan ini memotivasi semua pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimana hal ini berfungsi sebagai pengakuan atas kerja keras sekaligus ajakan untuk terus berkontribusi secara aktif.

Dia pun berharap Hari Guru Nasional tidak hanya dirayakan sebagai bentuk penghormatan kepada guru, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya pendidikan dalam membangun masa depan bangsa.

Menurutnya, komitmen seperti yang ditunjukkan oleh Niken Sulistyo Herdini adalah contoh bagaimana dedikasi seorang pemimpin pendidikan dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat.

“Dengan penghargaan ini, diharapkan semakin banyak kepala sekolah dan guru yang terinspirasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan inovasi, dan memperkuat kolaborasi. Semua ini demi cita-cita besar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan generasi yang unggul secara intelektual, emosional, dan spiritual,” katanya.

Sementara itu, Niken menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercaryaan telah terpilih mendapatkan penghargaan ini. Dia menyampaikan, pendidikan adalah tanggung jawab kolektif antara sekolah, guru, dan masyarakat.

Sehingga, jelas Niken, penghargaan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga milik keluarga besar SDI Integral Lukman Al Hakim.

“Ini adalah penghargaan untuk seluruh keluarga besar SDI Integral Lukman Al Hakim. Saya berharap, penghargaan ini bisa memotivasi kami semua untuk terus berinovasi dalam mencerdaskan anak bangsa,” tegas Niken.

Semangat kolektifitas ini, lanjut dia, selaras dengan paradigma pendidikan modern yang menitikberatkan pada kolaborasi berbagai pihak.

Niken menambahkan, lingkungan pendidikan yang optimal hanya dapat tercipta melalui dukungan lintas sektor—antara sekolah sebagai institusi formal, masyarakat sebagai mitra strategis, dan pemerintah sebagai regulator. (ybh/hidayatullah.or.id)