SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Pulau Sabuntan, sebuah permata kecil di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi komunitas Suku Bajoe. Di tengah terpaan angin laut yang menjadi ciri khas kepulauan terluar, pembangunan Pondok Pesantren Rahmatul Ulum terus berprogres.
Hingga November 2024, progres pembangunan telah mencapai 55%, dengan para pekerja kini tengah fokus pada pemasangan genteng—langkah untuk melindungi struktur utama dari cuaca ekstrem khas daerah tersebut.
Kehadiran pesantren ini menjadi simbol transformasi sosial dan spiritual bagi masyarakat lokal yang selama ini minim fasilitas pendidikan, terutama pendidikan berbasis agama. Pesantren Rahmatul Ulum diharapkan dapat menjadi titik balik dalam kehidupan Suku Bajoe, membangun generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga kuat dalam keimanan.
“Alhamdulillah, dukungan dari donatur melalui BMH sangat berarti bagi kami. Meskipun kami berada di kepulauan terluar, perhatian umat tetap sampai ke sini,” ungkap Ustadz Sumardi, pengasuh Pondok Pesantren Rahmatul Ulum, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).
Pembangunan Pesantren Rahmatul Ulum tidak terlepas dari dukungan zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).
Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menekankan pentingnya peran instrumen keuangan Islam ini sebagai jembatan sosial yang menghubungkan kepedulian umat dengan kebutuhan masyarakat di pelosok negeri.
“Pesantren Rahmatul Ulum adalah bentuk komitmen BMH untuk mendukung pengembangan pendidikan di wilayah terpencil. Kami berharap kehadiran pesantren ini mampu mencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan menjadi pelita kebaikan di pulau-pulau terluar,” jelas Muslim.
Zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks Pulau Sabuntan, ketiga elemen ini telah menjelma menjadi jembatan yang memungkinkan anak-anak Suku Bajoe meraih pendidikan berkualitas yang sebelumnya nyaris tak terjangkau.
Pesantren Rahmatul Ulum diharapkan menjadi pusat pendidikan dan juga pusat peradaban yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari komunitas lokal.
“Dengan wujud nyata dari kepedulian umat Islam, pesantren ini menjadi jembatan menuju perbaikan hidup yang lebih mulia, baik di dunia maupun akhirat,” ujar Muslim menutup pembicaraan.*/Herim
LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024), menjadi momen bersejarah bagi Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pesantren yang sebelumnya menghadapi kendala serius terkait akses air bersih kini telah memiliki solusi yang nyata, yaitu sumur bor baru yang diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Banten.
Kehadiran sumur ini menjadi tonggak penting dalam mendukung kehidupan santri dan proses pendidikan di wilayah pelosok ini.
Selama bertahun-tahun, santri yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu harus berjalan jauh ke sungai untuk mendapatkan air. Situasi ini cukup menyulitkan aktivitas sehari-hari mereka dan turut memengaruhi kualitas kehidupan mereka, terutama pada musim kemarau. Namun, kondisi tersebut berubah berkat bantuan dari donatur melalui Laznas BMH Banten.
“Alhamdulillah, dengan adanya sumur bor ini, masalah air bersih di pesantren kami sudah teratasi,” ujar Ustadz Hidayatullah, pengurus Pesantren Al-Hidayah, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 24 Jumadil Awal 1446 (26/11/2024).
Salah satu santri, Ikmal Apdila Alawi, turut mengungkapkan kegembiraannya. “Sekarang sudah mudah airnya, dulu mah susah dan jauh harus ke sungai,” katanya penuh antusias.
Kementerian Agama (Kemenag) turut mengapresiasi langkah strategis ini. Yahya Ependi, penyuluh agama dari KUA Kecamatan Cihara, menyatakan, “Kemenag sangat mendukung dan mengapresiasi langkah Laznas BMH Banten. Dengan memberikan bantuan sumur bor untuk pesantren di daerah pelosok dan terpencil, Laznas BMH telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi dunia pendidikan agama.”
Langkah ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan material, melainkan juga bentuk nyata dari kepedulian terhadap kemanusiaan. Air bersih merupakan hak dasar yang mendukung kualitas hidup dan pembelajaran.
Dengan tersedianya akses air bersih, para santri dapat lebih fokus dalam menuntut ilmu, tanpa terganggu oleh tantangan memenuhi kebutuhan mendasar mereka.
Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten, menegaskan pentingnya peran zakat, infak, dan sedekah dalam transformasi sosial. “Kita semua bahagia, dan inilah wujud strategis dari dampak zakat, infak, dan sedekah yang BMH kelola untuk masyarakat,” jelasnya.
Roni berharap dengan adanya sumur bor ini, Pesantren Al-Hidayah tidak hanya memiliki sumber air bersih, tetapi juga semangat dan harapan baru untuk terus mencetak generasi unggul yang berkontribusi bagi masyarakat.*/Herim
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Pendidikan ormas Hidayatullah semakin dekat. Panitia daerah terus giat melakukan silaturahmi dan audiensi.
Rakernas Hidayatullah ke-V tahun 2024 akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.
Kali ini, panitia beraudiensi dengan Direksi BJB Syariah Pusat di Jalan Braga No. 135 Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.
Hadir pada kesempatan itu, hadir Hidayatullah Abu Qary (Ketua DPW Hidayatullah Jabar), Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jabar), dan Hasby Al-Faruqi (Bendahara Rakernas). Mereka diterima oleh Anwar, Direktur Kepatuhan BJB Syariah Pusat.
Panitia menyampaikan rencana kolaborasi program dan suport kegiatan Rakernas dan seminar.
Menurut Hidayatullah Abu Qary, Rakernas secara resmi akan dibuka oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Bank BJB Syariah mendukung kegiatan Hidayatullah yang fokus dalam bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat, termasuk membangun ekosistem ekonomi syariah.
Sementara itu, Anwar menyatakan, “Insya Allah, silaturahmi dan kerjasama kedepannya bisa terjalin dengan melanjutkan MOU antara Hidayatullah dan BJB Syariah,” ujar Anwar.
Sebagaimana diketahui bahwasanya Pesantren Hidayatullah didirikan oleh KH. Abdullah Said (almarhum).
Cikal bakal Hidayatullah dimulai sejak 5 Februari 1973 Masehi/1 Muharram 1393 Hijriyah di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Hidayatullah mempunyai misi yaitu mencari ridha Allah Ta’ala dengan melakukan upaya; melahirkan kader-kader yang berkualitas, membangun komunikasi Islami, menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, dan lain-lain secara profetik dan profesional.
Selain itu, misi Hidayatullah yaitu membangun sinergi dengan segenap komponen umat Islam dalam gerakan amar makruf nahi munkar, berperan secara aktif dalam melaksanakan proses pembaharuan (tajdid) di bidang pemikiran Islam dan mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang unggul dan bermartabat.
Hidayatullah saat ini, telah memiliki 38 Dewan Pengurus Wilayah (setingkat provinsi) dan 425 Dewan Pengurus Daerah (setingkat kabupaten/kota). Dengan demikian Hidayatullah telah memenuhi 100% dari jumlah provinsi di Indonesia dan hampir 83% dari jumlah kabupaten/kota di negeri ini.*/Dadang Kusmayadi
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka membangun sinergi dan kemitraan strategis dengan dunia pendidikan, panitia Rakernas Hidayatullah ke-V berkunjung dan beraudiensi dengan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., belum lama ini.
Panitia Rakernas di antaranya Hidayatullah Abu Qory (Ketua DPW Hidayatullah), Hasby Al-Faruqy (Bendahara Rakernas), dan Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah) diterima di Gedung Rektorat UPI (Villa Isola) Jalan Dr. Setiabudi No. 229, Isola, Kota Bandung.
Sebagaimana diketahui bahwa Hidayatullah Jawa Barat akan menjadi tuan rumah Rakernas Hidayatullah Tahun 2024, yang akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.
Dalam kesempatan itu, Hidayatullah Abu Qory, yang juga ketua pelaksana Rakernas menyampaikan bahwa dalam rangkaian Rakernas akan diadakan Seminar Nasional Pendidikan.
“Kami mengundang Pak Rektor untuk menjadi pembicara di Seminar Nasional Pendidikan,” ujarnya, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Menurutnya, Seminar Pendidikan Nasional yang bertema “Membangun Pendidikan Integral Profetik dan Profesional Menuju Indonesia Emas” ini akan dihadiri internal Hidayatullah dan eksternal.
“Selain internal Hidayatullah, kami juga akan mengundang pejabat, ulama, ormas Islam, cendekiawan, guru, dosen, mahasiswa, pengusaha, tokoh, dan aktivitas dakwah,” kata Hidayatullah.
Sementara itu, Rektor UPI mengatakan, “Kami sepakat bahwa kunci untuk memajukan Indonesia adalah dengan pendidikan,” ujar Rektor.
“Insya Allah, saya akan hadir. Saya juga mengucapkan selamat dan sukses kepada Hidayatullah yang akan melaksanakan Rakernas ke-V tahun 2024 di Kota Bandung. Semoga berjalan lancar dan memberikan keberkahan kepada umat,” ungkapnya.
Perlu diketahui bahwa ormas Hidayatullah didirikan oleh KH. Abdullah Said (almarhum).
Cikal bakal Hidayatullah dimulai sejak 5 Februari 1973 Masehi/1 Muharram 1393 Hijriyah di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pada tahun 1976, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur, diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Mukti Ali. Pesantren seluas 120 hektar ini menjadi pusat kultur Hidayatullah.
Pada tahun 1984, Presiden Soeharto menganugerahkan Kalpataru kepada pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said karena beliau dinilai mampu mengubah kawasan kritis di Gunung Tembak menjadi lingkungan pesantren yang hijau dan asri.*/Dadang Kusmayadi
PPU (Hidayatullah.or.id) — Muhammad David, seorang santri berusia 15 tahun, adalah contoh nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah memiliki kekuatan transformatif dalam membangun generasi muda yang cerdas dan berprestasi.
Sebagai santri kelas 1 Ulya di Pondok Pesantren Tahfidz Ahussuffah, Balikpapan, David telah mencatatkan prestasi gemilang dengan menjadi Juara 1 pada MTQ ke-45 tingkat Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, untuk cabang Tahfidz 10 Juz kategori putra.
Prestasi ini tidak hanya menggambarkan semangat juang David, tetapi juga peran besar Program Beasiswa Berkah yang disalurkan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Program ini memberikan bantuan berupa biaya pendidikan, seragam, alat tulis, hingga uang saku bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di berbagai wilayah, seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Melalui dukungan tersebut, David telah berhasil menghafal 9 juz Al-Qur’an di usia yang masih muda, terlepas dari latar belakang keluarganya yang sederhana sebagai petani di Desa Sesumpu. David mengungkapkan rasa syukur mendalam.
“Bantuan ini sangat meringankan beban orang tua saya dan memotivasi saya untuk terus belajar. Alhamdulillah, saya bisa fokus menghafal Quran hingga mencapai 9 juz dan meraih Juara 1 MTQ cabang Tahfidz 10 Juz. Semoga saya bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dan menjadi manfaat bagi umat,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Prestasi David mendapat apresiasi dari Achmad Rifai, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kalimantan Timur. Menurutnya, keberhasilan David tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga memberikan inspirasi bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, pencapaian ini menunjukkan bahwa dukungan zakat dan infak dari para donatur benar-benar berdampak besar dalam melahirkan generasi Qurani yang unggul,” jelasnya.
Zakat dan infak memiliki dimensi pemberdayaan yang mendalam. Ketika disalurkan secara tepat, keduanya dapat menjadi sarana transformasi sosial yang efektif serta mendukung lingkungan yang mendukung pengembangan karakter religius, ketekunan, dan dedikasi.
Prestasi David memberikan pelajaran universal bahwa investasi dalam pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, adalah salah satu jalan terbaik untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. memimpin dengan kecerdasan, keimanan, dan integritas.*/Herim
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Matahari pagi di Jalan Pipa Utama, Sari Rejo, Medan Polonia, menyinari puing-puing rumah Ibu Salamah yang dilanda musibah kebakaran pada Ahad, 15 Jumadil Awal 1446 (17/11/2024). Tragedi ini memusnahkan separuh rumahnya, peralatan masak, dan motor yang menjadi andalan keluarga.
Namun, di tengah duka tersebut, terpancar secercah harapan melalui aksi solidaritas para santri Rumah Quran An Nur Al-Barokah yang menyerahkan bantuan hasil sedekah mereka pada 23 November 2024.
Penyerahan bantuan dipimpin oleh Lukman, Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara, bersama Ibu Susi Ritonga, guru Rumah Quran An Nur. Dengan penuh semangat, para santri menyerahkan bantuan langsung di lokasi rumah yang terbakar.
“Kami ingin menanamkan semangat peduli kepada santri sejak dini, karena kepedulian adalah bagian dari adab Islam,” ungkap Ibu Susi, menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui keterlibatan langsung dalam aksi sosial.
Ibu Salamah, seorang guru ngaji yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak RA Abdurrahman dan memberikan pelajaran Al-Qur’an di rumahnya, menyambut bantuan ini dengan haru.
“Semoga Allah membalas sedekah adik-adik ini dengan pahala dan keberkahan ilmu,” ucapnya penuh syukur. Bantuan tersebut menjadi langkah awal bagi Ibu Salamah untuk memulihkan rumahnya dan melanjutkan aktivitas mengajarnya.
Lukman, mewakili BMH, menyampaikan bahwa momen-momen seperti ini menegaskan pentingnya peran lembaga sosial dalam merespons kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap bantuan ini tidak hanya meringankan duka Ibu Salamah, tetapi juga membangun semangatnya untuk terus mengajar,” ujarnya.
Sebagai lembaga amil zakat nasional, BMH berkomitmen untuk menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah demi membantu masyarakat yang membutuhkan.
Lebih dari itu, aksi ini membawa pesan moral mendalam bagi para santri Rumah Quran An Nur. Mereka belajar bahwa berbagi adalah wujud konkret kepedulian, bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Islam, sekaligus sarana untuk membangun solidaritas dalam masyarakat. “Kami ingin menanamkan nilai bahwa kepedulian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim,” tambah Lukman.
Di balik duka, musibah ini menjadi pengingat akan nilai sedekah, infak, dan zakat sebagai jembatan untuk membangun kebersamaan. Dalam Islam, tindakan ini tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga manifestasi cinta kasih terhadap sesama.*/Herim
PADA hakekatnya semua perintah Allah dan Rasulullah memiliki banyak faedah bagi orang-orang yang mentaatinya. Termasuk perintah shalat subuh berjamaah di masjid yang sarat dengan faedah, meski faedah di bawah ini tidak menjadi tujuan utama dalam beribadah. Faedah ini bagian dari bonus dari sebuah ketaatan yang berdasar kepada keimanan dan kecintaan.
Pertama,mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat
Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik terutama di wilayah perkotaan, nyaris tidak ada perbedaan siang dan malam karena cahaya listrik menerangi semua sudut-sudut kota.
Cahaya yang Allah janjikan di hari kiamat tentu lebih terang ribuan kali lipat dibandingkan cahaya listrik ataupun cahaya matahari di dunia. Bagi orang-orang yang memenangkan dirinya untuk bangun dan melangkahkan kaki ke masjid dengan menerobos gelapnya malam menjelang pagi maka ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:
عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة
Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kedua, mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya
Sebagaimana dipahami bahwa tidak mudah untuk melakukan shalat malam atau Tahajjud sepenuh malam. Beberapa alasan yang menjadikan shalat Tahajjud berat salah satunya aktivitas siang hari yang melelahkan dan menguras energi.
Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa didapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:
مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه
“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)
Ketiga, berada dalam jaminan AllahTa’ala
Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla.
Dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم
“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)
Keempat,jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat
Bagaimana rasanya sedang rajin-rajinnya kerja dilihat oleh bos? Tentu senang dan bangga diri. Shalat Subuh berjamaah dipesaksikan malaikat dan tentu malaikat sambil mencatat sebagai sebuah kebaikan.
Ketika malaikat sebagai makhluk yang tidak pernah durhaka menjadi saksi kebaikan maka mempermudah di hari pertanggungjawaban di akherat nanti.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون
“Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kelima, keselamatan dari siksa Neraka
Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Subhanallah, ini informasi langsung dari Rasulullah yang memberikan kabar gembira kepada para pejuang shalat Subuh dan Ashar berjamaah.
Mari perhatikan Hadits berikut:
عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم
Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)
Tips Shalat Subuh Berjamaah di Masjid
Dengan berderet banyaknya keutamaan shalat Subuh berjamaah, tentu tidak perlu motivasi lain tapi memerlukan langkah-langkah tehnis untuk bisa melaksanakan shalat Subuh berjamaah dengan istiqomah. Terkadang keinginan atau kemauan kuat tapi masih kesulitan untuk melaksanakannya.
Berikut ini beberapa tips untuk mencari tuntunan tehnisnya:
Berusaha mempelajari dari buku, video kajian, kisah-kisah untuk menguatkan keyakinan tentang keutamaan shalat Subuh berjamaah. Ini penting sebagai iqra’ atau membaca, semakin banyak informasi kebaikan maka semakin menguatkan keyakinan.
Memiliki tekad dalam diri sendiri dan meyakinkan diri untuk bisa melaksanakannya secara konsisten. Niat yang kuat menjadi kunci sebuah amal, karena dengan niat kuat maka ada tekad untuk berusaha sekuat tenaga melaksanakan ibadah tersebut.
Menyampaikan kepada istri dan anak jika telah berkeluarga, atau ayah ibu tentang tekad tersebut, agar mendapatkan doa dan dukungan. Ini bukan lebay, tapi hal yang sederhana ini sangat mendukung niat-niat yang baik. Jika orang-orang atau kultur di rumah mengkondisikan untuk bangun tidur lebih awal dan ada kesepemahaman untuk saling mengingatkan maka menjadi mudah. Sebaliknya jika rumah kulturnya begadang malam dan bangun siang, rasanya berat juga untuk menjadi konsistensi shalat subuh berjamaah.
Mengikuti komunitas atau kelompok pejuang shalat Subuh berjamaah yang ada di sekitar tempat tinggal atau masjidnya. Ini penting untuk mencari lingkungan yang baik dan mendukung.
Jika belum ada komunitas maka cari teman, saudara atau tetangga yang sudah terbiasa shalat Subuh berjamaah, sebagai mentor, menasehati dan memotivasi. Sebagaimana Rasulullah sampaikan bahwa seseorang itu tergantung agama temannya.
Mengubah jadwal tidur untuk tidak terlalu malam, memasang alarm dan memasang tekad yang kuat. Pola tidur yang kemalaman, sering begadang, ngobrol atau kerja hingga larut malam, itu semua perlu ada evaluasi untuk memudahkan bahwa
Jika bangun shalat Subuh berjamaah berat, masih ngantuk dan ingin tidur lagi maka ingatlah bahwa suatu saat nanti akan ditidurkan selamanya. Rezeki paling indah adalah bisa bangun pagi dan melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan shalat subuh beerjamaah.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Suara ceria anak-anak memenuhi ruang kelas SDN 2 Laeya di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).
Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi Tenggara menyelenggarakan acara istimewa yang menghadirkan Kak Rubi, seorang pendongeng terkenal.
Dengan gaya bercerita yang memikat, Kak Rubi membawa anak-anak menyelami dunia dongeng, menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.
Melalui cerita, Kak Rubi mengajarkan penghormatan terhadap guru, yang diibaratkannya sebagai lilin yang “rela membakar dirinya untuk menerangi orang lain.” Pesan tersebut menggugah emosi para siswa dan mengingatkan mereka akan dedikasi para guru yang tak kenal lelah mendidik generasi penerus bangsa.
Acara ini adalah bentuk apresiasi mendalam kepada para guru yang sering disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Kepala Sekolah SDN 2 Laeya, Ibu Nuraidah, menyampaikan rasa syukur atas program ini.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa-siswa kami. Mereka tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Armin, Ketua Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, menegaskan pentingnya menghargai peran guru dalam kehidupan bangsa.
“Guru adalah ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Armin, menggarisbawahi peran vital mereka dalam membangun karakter generasi muda.
Menurut Armin, program seperti ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti luhur. “Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang peduli dan berempati terhadap sesama,” tambahnya.
Kegiatan ini adalah bagian dari program Indonesia Bercerita yang diinisiasi oleh BMH, sebuah upaya untuk mengedukasi dan memperkuat karakter anak-anak melalui pendekatan cerita.
Dongeng adalah media pendidikan yang efektif. Dalam konteks Hari Guru Nasional, dongeng digunakan untuk mengenalkan anak-anak pada nilai-nilai moral seperti rasa syukur, hormat kepada guru, dan kepedulian sosial. Pendekatan ini, yang menggabungkan pendidikan dan seni bercerita, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mendalam.
Selain menyampaikan penghormatan terhadap guru, acara ini juga dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Anak-anak diajak untuk memahami pentingnya berbagi, terutama melalui edukasi tentang sedekah.
Kak Rubi dengan lihai menyisipkan pesan moral dalam dongeng-dongengnya, memberikan inspirasi kepada anak-anak untuk menjadi individu yang peduli dan berempati terhadap sesama.*/Herim
Ilustrasi kegiatan belajar di sekolah dasar (Foto: Dreamlab Ai/hidayatullah.or.id)
MASA sekolah adalah waktu penuh warna—kenangan yang tersimpan erat, berlapis nostalgia. Masa ini adalah kaleidoskop antara keceriaan dan tantangan, antara teman yang membawa tawa dan guru yang terkadang membawa cubitan. Namun, semua itu, dengan cara yang tak selalu mudah dijelaskan, membentuk siapa kita hari ini.
Ketika saya mengingat masa-masa itu, terbayang jelas suasana sekolah dasar sekitar tahun 1969. Kepala sekolah kami, Pak Suharsono, adalah sosok yang gagah.
Posturnya tinggi besar, rambutnya hitam pekat selalu disisir rapi ke belakang, dan keningnya yang lebar seakan menjadi layar tempat kami melihat wibawa seorang pemimpin. Pakaiannya rapi, sepatunya selalu mengilap. Pada setiap upacara Senin pagi, suara besarnya memenuhi udara, namun memberikan rasa nyaman—bukan ketakutan.
Di sisi lain, ada Pak Muji, guru seni menggambar. Ah, siapa yang bisa melupakan beliau? Dengan tubuhnya yang tinggi kurus dan sepeda ontel hitamnya yang mengilap, ia tampak seperti Mr. Bean yang kebetulan tinggal di kampung kami.
Beliau adalah maestro seni dalam cara yang sederhana namun memikat. Teknik menggambarnya? Sederhana saja, tapi membekas. “Untuk menggambar ayam, mulailah dengan dua telur,” katanya.
Satu telur besar untuk tubuh, satu lagi untuk kepala. Hubungkan dengan garis, tambahkan paruh, jengger, dan bulu-bulu, dan lihatlah: seekor ayam muncul di kertas kami! Cara beliau mengajar membuat seni terasa mudah dan menyenangkan, bahkan untuk yang berbakat menggambar tahu isi seperti saya.
Namun, di balik tawa dan kemudahan, ada ketegasan yang datang dari guru seperti Bu Jati. Guru Ilmu Bumi ini adalah sosok mungil dengan semangat sebesar gunung. “Kalau salah jawab, siap-siap ya!” katanya, dan cubitan di pinggang adalah hukuman standar. Sadis? Mungkin. Tapi di balik itu, ada pelajaran tentang ketelitian yang tertanam di hati kami.
Lanjut ke masa SMP, saya pindah ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Mamba’ul Ma’arif yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, sebuah institusi yang penuh kharisma. Saat itu, pondok ini dipimpin oleh KH. Shohib Bisri, pelanjut dan pemangku pondok dzurriyat pendiri pesantren ini, KH. Bisri Syansuri,
Kepala sekolah kami, KH. Muhammad Iskandar, adalah figur yang disegani. Beliau adalah ayah dari Muhaimin Iskandar, yang kini dikenal sebagai Ketua Umum PKB. Muhaimin adalah teman saya selama enam tahun. Di lingkungan ini, guru-guru bukan hanya pengajar, tetapi panutan dengan ilmu agama yang mendalam.
Ada Pak Romli, guru matematika yang mengajarkan logaritma, sinus, kosinus, hingga cara mengukur ketinggian menggunakan busur. Sosok beliau sangat khas: kulit hitam legam, rambut disisir rapi ke belakang dengan minyak, kening mengilap, dan baju safari tebal. Namun, cara mengajarnya sering membuat kami “berkeringat dingin.”
Tidak bisa menjawab soal? Siap-siap wajah dihias bedak debu kapur tulis. Tapi di sisi lain, siapa yang bisa menyaingi beliau dalam keahlian membaca kitab kuning seperti Alfiyah Ibnu Malik? Sosok ini adalah kombinasi unik antara intelektual matematis dan ulama tradisional.
Tidak kalah menarik adalah Pak Fatih, guru seni kaligrafi. Dengan tubuh besar, rambut ikal panjang, dan gaya nyentrik, ia seperti seniman yang tersasar ke pondok pesantren. Saat acara besar, beliau mengarahkan kami membuat dekorasi megah penuh kaligrafi yang memukau.
Atau Pak Abdus Shomad, guru Bahasa Indonesia, yang dengan gayanya yang santai dan menyenangkan, mengenalkan puisi, pantun, dan seni sastra lainnya. “Tulis apa yang kamu rasakan, jangan takut salah,” katanya, dan dari situ kami belajar bahwa sastra adalah tentang ekspresi, bukan sekadar aturan.
Ada pula Pak Hamdan, guru tata bahasa Arab, yang konon sepupu dari penyanyi legendaris Jamal Mirdad. Selain tampan, beliau punya keahlian luar biasa dalam ilmu nahwu dan sharaf. Dari beliau, kami belajar bagaimana satu kata dalam bahasa Arab bisa berubah bentuk dan makna, memberikan fondasi kuat bagi pemahaman Al-Qur’an.
Namun, yang membuat sekolah ini istimewa bukan hanya para guru. Itu juga tentang interaksi di antara kami, para murid. Seperti ketua kelas saya yang kerap mendoakan agar Pak Romli sakit perut, hanya agar pelajaran matematika batal. Atau teman yang lebih senang menggambar “tahu isi” ketimbang ayam, dan tentu saja, obrolan ringan di sela-sela keseriusan belajar.
Kiprah yang Abadi
Mengapa kenangan masa sekolah begitu abadi? Mungkin karena pada masa itu, segala sesuatu terasa lebih intens—baik rasa hormat, tawa, maupun rasa takut.
Guru-guru zaman dulu mengajarkan kita bukan hanya ilmu, tetapi juga karakter. Dengan jeweran, cubitan, atau bedak kapur, mereka mengajarkan disiplin, ketekunan, dan ketangguhan. Tidak ada dendam, hanya rasa syukur yang tertinggal.
Kini, di era modern, cara mengajar tentu berubah. Tidak ada lagi jeweran atau kapur melayang. Guru lebih berperan sebagai fasilitator, dan pendekatan emosional menjadi lebih penting. Namun, semangat mendidik tetaplah sama: membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter.
Seperti kalimat terkenal dari Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.
Guru-guru saya adalah pejuang yang memegang “senjata” ini dengan penuh dedikasi, bahkan jika caranya terkadang terasa keras. Mereka mengajarkan kami untuk tidak menyerah, untuk terus belajar, dan untuk menghormati ilmu di atas segalanya.
Dan jika saya bisa kembali ke masa itu, saya akan berkata pada Pak Romli, Bu Jati, Pak Muji, dan semua guru saya: “Terima kasih telah membentuk kami menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa kalian, tidak ada saya yang hari ini. Selamat Hari Guru!
*) Ust. Drs. Khoirul Anam,penulis adalah guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh di Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka membekali para orang lanjut usia (lansia) untuk menjalani masa senja dengan kebahagiaan dan kebermaknaan, Pesantren Kilat (Sanlat) Birrul Walidain bertema “Bahagia di Usia Senja Bersama Menuju Surga” diselenggarakan oleh Departemen Sosial Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah.
Bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), kegiatan ini berlangsung di Aula Ar-Ribath, Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Sabtu, 21 Jumadil Awal 1446 (23/11/2024).
Sanlat ini dipandu oleh Ustaz Shohibul Anwar, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah. Ia menyampaikan materi secara interaktif dengan pendekatan visual menggunakan slide, metode yang diapresiasi oleh peserta yang mayoritas adalah kalangan lansia.
Ustaz Shohibul menekankan pentingnya untuk menginternalisasi makna kebahagiaan melalui pemikiran positif dan amal kebaikan yang berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Ustaz Shohibul menjelaskan, usia senja adalah masa keemasan untuk memperbanyak amal dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Pikiran yang positif akan melahirkan hati yang tenang, dan dari hati yang tenang akan tumbuh perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah.
Masa tua sering dianggap sebagai fase pasif, namun Sanlat ini menegaskan sebaliknya. Islam memandang usia senja sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui refleksi dan amal.
Menurut ajaran Islam, bahagia di usia senja tidak hanya berarti hidup dalam kedamaian, tetapi juga menyiapkan diri menuju surga melalui amal yang berkesinambungan.
Sanlat ini juga menjadi bukti bahwa lansia tetap memiliki potensi besar untuk berkarya dan berkontribusi di lingkungan keluarga serta masyarakat.
Dengan pendekatan yang humanis dan penuh empati, acara ini membuka cakrawala baru bagi lansia untuk memandang masa tua sebagai fase produktif, baik secara spiritual maupun sosial.
Peserta dengan penuh antusias terlibat dalam setiap sesi, menanyakan hal-hal yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.*/Deden Sugianto