JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Setelah berjalan intensif selama 2 hari, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta akhirnya ditutup pada Sabtu, 24 Jumadil Akhir 1445 (6/1/2024).
Penutupan kegiatan yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, dihadiri oleh peserta Rakerwil III DKI Jakarta yang terdiri dari Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), organisasi pendukung, badan dan amal usaha, serta lembaga lembaga Hidayatullah tingkat wilayah.
Penutupan acara didampingi oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yaitu Ust. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom dan Ust. Dr. Abdul Ghaffar Hadi, S.Pd.I, M.Pd.I.
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan ayat suci Al-Quran, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Ust. Muhammad Isnaini.
Dalam sambutannya, Isnaini mengajak seluruh peserta untuk menjalankan program kerja yang telah dimusyawarahkan, dengan keyakinan “Faidza azamta fatawakkal ‘alallah”.
“Artinya, setelah tekad bulat diambil, serahkan semuanya kepada Allah,” terangnya menandaskan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) DKI Jakarta, Ust. H. Muhammadilis Karyadi al-Hafidz turut memberikan sambutannya dengan mengutip ayat Al Qur’an surah Al-Kahfi ayat 57 dengan menekankan pentingnya tidak menjadi orang zalim terhadap program-program yang telah dicangangkan.
“Jangan menjadi orang zalim dari program-program yang sudah dicanangkan. Bertanggung jawab dengan apa yang sudah di programkan,” ujarnya.
Dengan semangat perubahan, Karyadi mengajak semua untuk bersama-sama menuju ke arah yang lebih baik pada tahun yang akan dihadapi ini.
Acara kemudian dipamungkasi dengan arahan penutup dari Ust. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom.
Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyampaikan pesan bahwa doa dari founding father Hidayatullah memiliki kekuatan yang luar biasa yang kemudian juga membawa kemudahan dan keberkahan di Jakarta.
Shaleh juga menekankan bahwa teknologi canggih tidak dapat melampaui kekuatan spiritual.
“Orang yang lahir dengan tarbiyah yang benar siap menghadapi konsekuensi yang ada. Maka harus dimaksimalkan faidza azamta fatawakkal ‘alallah,” ujarnya.
Shaleh menambahkan, kita semya hendaknya selalu berupaya meningkatkan kualitas perjuangan dan menyadari bahwa saat ini masih dalam tahap awal perjuangan dibandingkan dengan generasi terdahulu.
“Kiranya untuk menghargai nikmat di jalan dakwah, menjalani konsekuensi dengan baik, dan memaksimalkan potensi yang dimiliki,” tandasnya. /*Puji Asmoro
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Forum Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta menyerukan pentingnya untuk terus merawat persatuan dan kerukunan bangsa dengan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang damai, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil).
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaini, menekankan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama dalam menghadapi Pemilu yang akan datang.
Ia menyampaikan Luber Jurdil adalah asas penyelenggaraan Pemilu yang telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum sehingga ia hendaknya dijalankan sebaik baiknya.
“Kita perlu sama sama mengawal dan memastikan penyelenggaraan Pemilu 2024 dengan damai yang diharapkan semakin memupuk kerukunan bangsa,” kata Isnaini.
Demikian disampaikan Isnaini dalam Seminar Peradaban bertajuk “Sikap Ormas Islam dalam Menghadapi Tahun Politik 2024” pada rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, Jumat, 23 Jumadil Akhir 1445 (5/1/2024).
Pada kesempatan itu, Isnaini menutup sambutannya dengan menyampaikan komitmen dalam menjaga kerukunan umat beragama dan kerukunan umat seagama, khususnya menghadapi tahun-tahun politik.
Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta menggelar Rapat Kerja Wilayah bertujuan untuk mengevaluasi program kerja yang telah dilaksanakan sekaligus menyusun rencana program kerja yang akan dijalankan dalam setahun ke depan.
Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh antara lain Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A, dan Kepala Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta, Drs. H. Taufan Bakrie serta unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah, organisasi pendukung, badan dan amal usaha, serta lembaga lembaga Hidayatullah tingkat wilayah.
Selain itu, hadir berbagai pimpinan organisasi masyarakat wilayah DKI Jakarta yang tergabung dalam Organisasi Masyarakat Indonesia (OMI). Acara yang berlangsung intensif selama 2 hari ini berjalan khidmat.*/Puji Asmoro
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ditengah kehangatan menyambut agenda hajatan nasional Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta, Taufan Bakri, mengajak semua lapisan masyarakat terutama lingkungan keluarga untuk mensosialisisasikan Pemilu Damai.
Taufan menyebutkan, Provinsi DKI Jakarta memiliki Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebesar 8 juta, dengan 830 ribu diantaranya adalah pemilih pemula dari kalangan pelajar.
Dari data itu, Taufan menyampaikan bahwa keluarga dan lingkungan rumah merupakan elemen penting yang amat signifikan perannya dalam mendukung gerakan bersama untuk Pemilu Damai.
“Harapannya, ibu ibu yang hadir dalam forum ini dapat menjadikan rumah sebagai garda terdepan dalam mensosialisasikan Pemilu Damai dimulai dari rumah,” kata Taufan.
Seruan ajakan itu disampaikan Taufan dalam Seminar Peradaban bertajuk “Sikap Ormas Islam dalam Menghadapi Tahun Politik 2024” pada rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, Jumat, 23 Jumadil Akhir 1445 (5/1/2024).
Taufan lalu menekankan kepada hadirin untuk menjadi garda terdepan dalam mensosialisasikan Pemilu Damai di bulan Februari mendatang.
Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta menggelar Rapat Kerja Wilayah bertujuan untuk mengevaluasi program kerja yang telah dilaksanakan sekaligus menyusun rencana program kerja yang akan dijalankan dalam setahun ke depan.
Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh antara lain Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A, dan Kepala Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta, Drs. H. Taufan Bakrie serta unsur DPD Hidayatullah, organisasi pendukung, badan dan amal usaha, serta lembaga lembaga Hidayatullah tingkat wilayah.
Selain itu, hadir berbagai pimpinan organisasi masyarakat wilayah DKI Jakarta yang tergabung dalam Organisasi Masyarakat Indonesia (OMI). Acara yang berlangsung intensif selama 2 hari ini berjalan khidmat.*/Puji Asmoro
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A, membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, Jumat, 23 Jumadil Akhir 1445 (5/1/2024).
Pada kesempatan itu Nashirul Haq mengajak untuk terus membumikan dakwah di kota metropolitan ini.
Nashirul Haq dalam sambutannya menjelaskan tantangan dan peluang dakwah di DKI Jakarta.
Dia menyebutkan, dengan jumlah penduduk mencapai 10,67 juta jiwa pada tahun 2022, dan 8,5 juta di antaranya merupakan muslim, DKI Jakarta menjadi target dakwah yang strategis.
“Harapannya, dalam forum Rakerwil ini terjadi konsolidasi, sosialisasi, dan evaluasi yang menjadi pijakan untuk menyusun program berikutnya dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah,” katanya.
Menurutnya, diantara tantangan dakwah di Jakarta terletak pada skala yang masif dengan populasi dan segala kompleksitas kota ini.
Karena itu, menyampaikan pesan pesan dakwah agar relevan dan diterima oleh semua lapisan masyarakat merupakan tantangan serius.
Seiring tantangan itu, terdapat peluang yang patut dikejar karena epadatan penduduk yang tinggi menciptakan potensi untuk mencapai banyak individu dalam satu wilayah geografis.
Demikian pula, keberagaman penduduk Jakarta juga memberikan peluang untuk menerapkan pendekatan yang lebih kontekstual dalam menyampaikan pesan dakwah dan menguatkan peran bidang bidang lainnya.
Nashirul pun mendorong agar pada forum Rakerwil ini dapat menghasilkan program program dan terobosan program yang lebih masif dan inoavtif.
“Pencapaian pencapaian sebelumnya akan dijelaskan secara kualitatif dan kuantitatif, sehingga dua tahun ke depan dalam menyelesaikan amanah dakwah di tingkat wilayah dapat maksimal,” tuturnya.
Ia menambahkan, Rakerwil III Hidayatullah DKI Jakarta ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk terciptanya program kerja yang lebih terstruktur dan tersusun rapi dalam rangka memperkuat dakwah di wilayah DKI Jakarta.*/Puji Asmoro
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur menggelar acara Hidayatullah Festival (HI-FEST) 2023, yang bertemakan “Cetak Generasi Qur’ani dengan Prestasi” selama 2 hari, 24-25 Jumadil Akhir 1445 (6-7/1/2024).
Kegiatan yang berlangsung semarak di komplek SD Lukman Hakim Hidayatullah Surabaya ini diikuti oleh murid utusan Sekolah Integral Hidayatullah dari tingkat SD/MI hingga SMA/Aliyah se Jawa Timur.
Ketua Panitia, Akhwan Kumaidi, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme dan partisipasi peserta. Ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan meriah terhadap kegiatan ini.
“Kami sangat bangga melihat animo masyarakat terhadap HI-FEST 2023. Semoga kegiatan ini dapat terus menjadi wahana positif bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang secara holistik,” ucapnya.
Akhwan berharap, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan wadah menjaring para siswa-siswi berprestasi untuk event bergengsi selanjutnya.
HI-FEST 2023 dihadiri oleh ratusan peserta yang bertujuan untuk menggali potensi serta mencetak generasi Qur’ani yang berprestasi di berbagai bidang.
Salah satu peserta aktif, Fathur Rahman, siswa kelas 10A Ar Rohmah Tahfiz Malang, memberikan kesan dan testimoni mengenai kegiatan ini. Ia menyatakan, HI-FEST 2023 benar-benar memberikan wawasan dan pengalaman yang luar biasa baginya.
“Alhamdulillah saya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Kegiatan ini menambah wawasan dan pengalaman saya untuk event event berikutnya menjadi lebih baik,” kata Fathur yang berhasil meraih medali emas Matematika dalam kompetisi HI-FEST 2023 ini.
Selain perlombangan ilmu pengetahuan umum dan sains, HI-FEST 2023 menghadirkan beragam kegiatan, termasuk lomba-lomba Qur’an, seminar, workshop, serta pameran karya-karya kreatif. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni dan budaya Islami yang memukau.
Akhwan selaku panitia berharap semoga keberhasilan HI-FEST 2023 ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi dengan mengedepankan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.*/Jorda Putra Istiawan
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Depok kini memilki pabrik air minum kemasan yang diberi nama “Hida Water” yang diresmikan pada Jum’at, 2 Jumadil Akhir 1445 (15/12/2023).
Pabrik ini dibangun untuk menyediakan air minum kemasan sehat bagi santri dan warga masyarakat sekitar.
Sekretaris Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ustaz Ali Busyro, menyampaikan kegembiraannya atas langkah positif ini yang diambil untuk memberikan akses terbaik kepada santri dan masyarakat sekitar akan air minum berkualitas.
“Pabrik air minum kemasan ‘Hida Water’ merupakan wujud nyata komitmen Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dalam menjaga kesehatan santri dan masyarakat sekitar. Kami berharap produk ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga menjadi sumber keberkahan bagi semua yang mengonsumsinya,” ujar Ali Busyro.
“Hida Water” tidak hanya diproduksi dengan standar kualitas tinggi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan kepedulian lingkungan. Pabrik ini dilengkapi dengan teknologi modern untuk memastikan bahwa air yang dihasilkan memenuhi standar keamanan dan kesehatan yang tinggi.
Dengan adanya pabrik air minum kemasan “Hida Water,” diharapkan kebutuhan akan air minum yang aman dan sehat dapat terpenuhi dengan lebih baik bagi santri dan warga masyarakat Depok.
Peresmian ini menjadi langkah awal dalam menjalankan misi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih luas oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Acara peresmian ini dihadiri oleh Dewan Pembina, Pengawas, Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, juga pihak terkait yang turut memberikan apresiasi atas upaya Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dalam memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Sebelum memasuki pabrik, para tamu diajak untuk mengikuti doa bersama sebagai ungkapan syukur atas kesuksesan pembangunan pabrik “Hida Water” dengan dilanjut pengguntingan pita.
Gunakan Teknologi Modern
Pabrik ini memiliki teknologi modern untuk memastikan kebersihan dan kualitas air yang dihasilkan. Dengan kapasitas produksi yang besar, “Hida Water” diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari seluruh santri dan untuk usaha Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Dalam sambutannya, Gani Alfianto, selaku Ketua Business Development (Busdev) Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, mengungkapkan visi di balik pendirian pabrik air mineral ini.
“Melalui Hida Water kami berharap dapat memberikan layanan terbaik kepada santri kami. Air adalah sumber kehidupan, dan kami ingin memastikan bahwa setiap santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok mendapatkan air minum berkualitas setiap hari,” ujarnya.
Dia menerangkan, pabrik “Hida Water” juga dilihat sebagai langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan finansial Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Sebagian dari hasil penjualan air mineral ini akan dialokasikan untuk pengembangan pendidikan dan kesejahteraan para ustadz dan guru Pondok Pesantren Hidayatullah.
Sejumlah produk “Hida Water” yang diperkenalkan diantaranya adalah botol air mineral ukuran 330 ml dan 600 ml, dengan desain kemasan yang menarik dan ramah lingkungan. Kemasan ini dilengkapi dengan logo khusus yang mencerminkan identitas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Peluncuran pabrik air mineral “Hida Water” di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menjadi tonggak bersejarah yang menandai komitmen lembaga ini dalam menyediakan layanan terbaik dan mendukung kesejahteraan para pendidik.
Kini, “Hida Water” tidak hanya menjadi sumber air minum berkualitas bagi santri, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas dampak positif Pondok Pesantren Hidayatullah Depok di masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)
PERNAHKAH Anda diberi sesuatu yang sangat istimewa yang sudah lama diinginkan namun nyaris mustahil didapat karena harganya yang selangit?
Katakanlah, barang itu dikerjakan dengan ketelitian level master, mutu bahannya diambil dari kualitas tertinggi, jenisnya pun sangat langka dan hanya dibuat dalam jumlah terbatas bahkan satu-satunya.
Tiba-tiba, suatu hari, sebuah paket diantar ke alamat Anda dan benda itu ada di dalamnya, disertai nota singkat: “Hadiah untukmu, nikmati dan bergembiralah!”
Bagaimana perasaan Anda saat itu? Sudah teramat jelas, bukan? Gembira, kaget, takjub, surprise luar biasa. Bahkan, tanpa disuruh bergembira pun Anda akan melakukannya.
Akan tetapi, sudah sangat lama ada suatu pemberian luar biasa di tengah-tengah kita, sementara kita belum juga merasa gembira karenanya. Bahkan, sampai-sampai si pemberinya menyuruh kita untuk bergembira.
Sejauh itu, masih saja kita tidak menampakkan kegembiraan. Biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Pemberian apakah itu? Dialah Al-Qur’an!
Allah berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus: 57-58)
Sedikit renungan bagi kita. Di sini Al-Qur’an disebut dengan 4 sifat dan fungsi, yaitu mau’izhah (nasihat, pelajaran), syifa’ (obat, penyembuh), huda (petunjuk, bimbingan), dan rahmat. Inilah di antara fadha’il (keutamaan-keutamaan) Kitabullah yang paling pokok.
Sesungguhnyalah, tidak ada pemberian yang sesempurna ini. Ia merangkum semua yang kita butuhkan dalam mengarungi kehidupan.
Nasihat dan pelajarannya meneguhkan hati, mengorientasikan pilihan, dan mengoreksi kesalahan. Obatnya menyembuhkan semua penyakit dan gangguan yang meresahkan jiwa, mengeruhkan hati, dan mengacaukan pikiran.
Petunjuk-petunjuk Al Qur’an membimbing kita menuju jalan lurus dan terjamin keselamatannya menuju Allah.
Adapun rahmatnya, ia merupakan bekal serta sandaran yang selalu kita butuhkan di atas seluruh keterbatasan, kekhilafan, dan kekurangseriusan kita.
Kurang apa lagi?
Maka, sudah selayaknya kita bergembira diberi karunia sehebat itu. Tapi, benarkah kita bergembira menerimanya? Atau justru merasa susah mendapatinya?
Sebenarnya, bagi orang yang benar-benar mengimani dan mengerti, Al-Quran itu jauh lebih baik dibanding seluruh harta dan kemegahan duniawi yang mereka kumpulkan. Ya, hanya bagi mereka yang mengimani dan mengerti.
Telitilah lembar-lembar Sirah Nabawiyah, dan akan kita dapati orang-orang yang telah memahami hakikat ini dengan sempurna. Dimulai dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, empat khalifah pertama dan 6 orang lain yang dijamin surga, demikian seterusnya.
Lihat saja Mush’ab bin ‘Umair yang melepas hak warisnya demi akidah ini. Karena iman ditinggalkannya keluarga konglomerat meski diancam tidak diberi warisan sepeser pun.
Maka, pemuda yang semula dikenal necis dan wangi ini, akhirnya gugur di Perang Uhud dalam kondisi tidak memakai pakaian yang cukup lebar untuk sekedar menutup jenazahnya secara sempurna.
Perhatikan pula Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang memilih berhijrah ke Habasyah dibanding berdiam di tengah kaumnya yang kaya-raya namun musyrik. Ayahnya adalah pemimpin kaum kafir dan sangat keras memusuhi Islam.
Ummu Habibah tidak peduli harus melarat di negeri asing, demi menjaga iman. Contoh-contoh lain seperti ini masih teramat melimpah.
Pada ayat di atas, kegembiraan terhadap karunia Allah berupa Al-Quran dinyatakan dalam bentuk fi’il amar (kata perintah).
Dalam bahasa Arab, pola kalimat ini menyatakan sesuatu yang belum terjadi, masih menyimpan kemungkinan “iya” sekaligus “tidak” di dalamnya; dan disebut “jumlah insya’iyyah”. Lawannya adalah “jumlah khobariyah”, yaitu pola kalimat yang isinya menceritakan sebuah fakta.
Mengapa kalimatnya diungkap dengan cara begitu? Demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan kita belum bisa bergembira menerima Al-Quran, sehingga secara eksplisit Allah harus menyuruh kita mewujudkannya.
Ayat tersebut tidak menyatakan: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya mereka bergembira.” Bukan begitu, sebab faktanya belum tentu demikian.
Ayat ini tidak menceritakan sebuah kejadian. Ia menyuruh kita bergembira, atau mengupayakan supaya bisa bergembira, karena kegembiraan itu memang belum ada dan tidak satu paket bersama Al-Quran. Tapi harus diusahakan dan diperjuangkan agar menjadi ada. Maka, di sana dikatakan: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
Bila belum, bagaimana upaya kita agar bisa mewujudkan perintah Allah ini? Bunyinya sangat jelas, tidak ambigu: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
Sungguh Allah tahu bagaimana kita menyikapi kalam-Nya, sehingga secara khusus kita diminta bergembira. Jika saja Allah tahu bahwa kita pasti dan secara alamiah bergembira menerimanya, tentu akan Dia ungkapkan di sini. Namun, karena kita tidak demikian, maka Allah pun harus menyuruhnya.
Sungguh, kita memang tidak menghargai pemberian-Nya dengan sebenar-benarnya penghargaan, sehingga harus disuruh lebih dahulu. Bukankah emas, perak, dan harta benda duniawi seringkali lebih berharga dibanding firman-Nya? Astaghfirullah!
Ayat-ayat ini sekaligus menegaskan apa yang disampaikan dalam surah Al-Qalam, perihal nilai dan harga Al-Quran. Bahwa, dengannya hidup kita menjadi lurus, terarah, bermanfaat, bahagia, dan seterusnya. Kita tidak menjadi gila, resah, bingung, dan dipenuhi kesia-siaan.
Di sana, Allah berfirman: “Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (hai Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS Al-Qalam: 2).
Wallahu a’lam.
*) Ust. M. Alimin Mukhtar,penulis pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Malang
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Warga Gunung Tembak di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, diimbau untuk melakukan penghematan air.
Imbauan itu disampaikan oleh salah seorang tokoh masyarakat Gunung Tembak, H Abdul Latief Usman, dalam kegiatan pekanan di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Ahad, 18 Jumadil Akhir 1445(31/12/2023) usai shalat subuh berjamaah.
H Abdul Latief menyampaikan imbauan itu terkait kondisi air di Kota Balikpapan, khususnya di Teritip.
Warga Gunung Tembak diimbau untuk tidak berlebihan menggunakan air.”(Pakai air) secukupnya dan tidak mubazir,” imbaunya.
Apalagi, tambahnya, tarif air bersih yang tidak lagi murah untuk layanan swasta (pembelian per tandon).
Misalnya, untuk wilayah Gunung Tembak, per tandon ukuran 1200 liter biasanya bertarif Rp 100.000. Ada pula di perkotaan Balikpapan, kata H. Abdul Latief, per tandon dipatok tarif Rp 150.000.
“Betapa mahalnya air,” ujar sosok yang juga Sekretaris Pembina Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro, Gunung Tembak ini.
Air merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan, termasuk bagi umat Islam. Terutama, banyak ibadah yang membutuhkan air bersih.
“Betapa tingginya harganya untuk kita umat Islam untuk kita bersuci,” ujar H Abdul Latief di depan ratusan warga dan pelajar Gunung Tembak.
Sebagaimana diketahui, kondisi air di Kota Balikpapan sedang tidak baik-baik saja.
Salah seorang Ketua RT di Gunung Tembak, Hanif, melaporkan kondisi terkini Waduk Teritip, salah satu dari dua waduk sumber air baku utama di Kota Balikpapan.
“Waduk Teritip semakin kritis airnya,” ujar Pak Hanif di salah satu grup warga di Gunung Tembak, seraya mengirimkan video yang menayangkan kondisi Waduk Teritip, Sabtu (30/12/2023).
Dalam video itu, tampak jelas surutnya debit air Waduk Teritip, sampai-sampai dasar waduk terlihat jelas.* (SKR/Media Center Ummulqura)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Tanggung jawab dakwah harusnya menjadi kesadaran bersama bagi umat Islam, begitu pula warga Hidayatullah.
Hal itu diingatkan oleh Pengurus DPW Hidayatullah Kaltim, Ustadz Fathun Qorib, dalam tausyiah pekanan Ahad subuh di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur, di penghujung tahun lalu, Ahad, 18 Jumadil Akhir 1445 (31/12/2023).
“Kita butuh kerja keras luar biasa,” tegasnya di depan ratusan dai, warga, dan santri.
Kerja keras itu, jelasnya, dalam bentuk kerja kolektif, kerja jama’i, yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan masif.
Ia menegaskan, posisi gerakan dakwah di tengah masyarakat harus betul-betul kuat.
Selain dakwah, gerakan tarbiyah juga harus digalakkan. Lembaga pendidikan Islam harus betul-betul melekat di hati masyarakat.
Sehingga, Ustadz Fathun Qorib berharap, gerakan dakwah dan tarbiyah memberikan dampak positif kepada gerakan Islam lebih luas lagi terkait berbagai hal.
Tentunya, kata dia, dampak positif itu mulai dari ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Apalagi secara khusus dalam menghadapi Pemilu 2024, gerakan dakwah dan tarbiyah harus memberikan dampak positif bagi umat Islam.
Untuk itu, diperlukan kesadaran dari setiap Muslim. Juga diperlukan kebijakan dari para pemegang amanah dakwah dan tarbiyah.
“Sejauh mana sesungguhnya komitmen dan tanggung jawab kita (terhadap) apa yang menjadi amanah dan tanggung jawab kita (sebagai pendakwah dan pendidik)?” ujarnya.*/(SKR/MCU)
Kegiatan Lailatul Ijtima’ di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, selama dua hari, Ahad malam hingga Senin pagi, 19 Jumadil Akhir 1445 H (31/12/2023 – 1/1/2024).* [Foto: Istimewa/MCU]
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menguatkan komitmen berislam, berbangsa, dan berjamaah dalam organisasi, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar Lailatul Ijtima’ selama dua hari.
Acara tersebut berlangsung di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Ahad malam-Senin pagi, 18-19 Jumadil Akhir 1445 (31/12/2023-1/1/2024).
Kegiatan itu bukan digelar untuk memperingati pergantian tahun Masehi. Tapi, di antaranya untuk menjaga kultur di Pesantren Hidayatullah yang tak mengenal perayaan tahun baru Masehi.
Selain itu, kegiatan itu sekaligus untuk mengondisikan warga dan santri Hidayatullah agar tetap berada di lingkungan pesantren pada malam tahun baru 2024 M.
Sebab, sudah lumrah diketahui, di lingkungan luar pada masyarakat umumnya, malam tahun baru Masehi biasanya diisi dengan hura hura.
“(Kegiatan di masjid) ini sebagai bentuk perlawanan kita (terhadap budaya yang tak sesuai tradisi pesantren),” tegas Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad pada tausyiahnya, Senin bakda subuh, 19 Jumadil Akhir 1445 Hijriyah (1/1/2024).
Acara tersebut diikuti ratusan santri, mahasiswa STIS Hidayatullah, serta warga Hidayatullah. Dirangkai dengan berbagai tausyiah, hiburan Islami, shalat berjamaah, tahajud, penampilan santri penghafal Al-Qur’an, serta arahan terkait dakwah, tarbiyah, dan politik jelang Pemilu 2024.
Dalam kesempatan itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Hamzah Akbar, mengingatkan segenap kader Hidayatullah perihal filosofi tugas.
Menurutnya, tugas yang diemban berakar dari amanah yang merupakan hasil syuro. Tentu saja idealnya setiap kader punya semangat, bahkan ambisi kuat dalam menjalankannya.
“Harus ada ‘ambisi’. Kalau orang lain dengan ambisi pribadi tidak terkendali (karena semangat sekali). Kenapa kemudian hal yang bersifat amanah, tugas, konkret, dari sistem kepemimpinan hasil syuro (kita tidak lebih hebat ‘ambisinya’),” terangnya.
Pria yang pernah bertugas di Pesantren Hidayatullah Kutai Kartanegara itu pun memberikan sebuah perbandingan, kaitan dengan tugas dakwah politik di Senayan.
“(Tugas kita sekarang ini) semua berakar pada amanah (yang merupakan hasil syuro kepemimpinan,” tegasnya melanjutkan.
Hamzah Akbar mengingatkan hal yang paling utama dalam hidup berjama’ah yakni visi.
Ia mengimbuhkan, setiap individu dalam jamaah hendaknya memiliki kesadaran berpikir, visi hidup, dan arah gerak yang sama, untuk kepentingan dakwah Islam.* (SKR/MIN/MCU/Hidayatullah.or.id)